Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
PKS 16: Alma Kirim Pasukan


__ADS_3

*Pasukan Kerajaan Siluman (PKS)*


Pasukan Genggam Jagad dan rombongan Kadipaten Sengat diistirahatkan untuk sementara, tidak mau selamanya.


Sementara itu, Ratu Siluman dan para petinggi pasukannya berkumpul bersama Pangeran Sugang Laksama dan dua panglimanya, serta Adipati Patok Anggara dan Komandan Are Are, plus Bayu Garang yang ganteng.


Pihak Adipati tidak menyangka bahwa pemimpin pasukan pendekar itu adalah seorang gadis belia yang begitu cantik, sampai-sampai Bayu Garang tidak berkedip setiap memandang Alma Fatara satu putaran. Ketika dia berkedip, berarti ganti putaran berikutnya.


Namun, pelalapan mata yang dilakukan oleh Bayu Garang harus terputus, ketika Mbah Hitam yang lebih ganteng juga menatapi Bayu Garang dengan tajam. Tatapan mata siluman Mbah Hitam membuat putra Adipati itu diam-diam merasa ciut nyalinya.


“Hahaha!” Alma Fatara yang sejak tadi kalem dan tidak tertawa tiba-tiba tertawa.


“Hah!” pekik Bayu Garang terkejut dengan tubuh refleks tersentak ke belakang. Ia begitu terkejut melihat keompongan Alma Fatara.


“Hahaha!” tawa Komandan Are Are setelah terkejut melihat kecantikan yang berubah menjadi kelucuan.


Adipati Patok Anggara yang juga terkejut, tidak berani tertawa. Dia hanya tersenyum melihat keanehan itu.


Sementara Bayu Garang yang sejak tadi menaruh hati terhadap kecantikan Alma Fatara, hanya terdiam karena dia syok. Reaksi Bayu Garang itu justru kian membuat Alma Fatara tertawa, dan kali ini Pangeran Sugang Laksama dan para panglima Pasukan Genggam Jagad ikut tertawa.


“Hihihi! Dia ti-ti-tidak tertawa!” kata Gagap Ayu cekikikan sambil menunjuk wajah Bayu Garang.


Tunjukan Gagap Ayu membuat Bayu Garang jadi merengut seperti gadis ganteng.


“Kau menertawakan apa, Gusti Ratu?” tanya Panglima Ragum Pangkuawan setelah tawa mereka reda.


“Aku sejak tadi ingin tertawa karena putra Adipati menciut ketika dipandangi oleh Mbah Hitam, padahal dia sedang menikmati kecantikanku, Paman. Hahaha!” jawab Alma Fatara lalu tertawa lagi, tapi sedang-sedang saja.


“Jangan lancang kau kepada Gusti Ratu, Bayu!” Adipati Patok Anggara menghardik putranya.


“Kau belum tahu, Bayu. Selain suka menghancurkan hati lelaki ganteng sepertimu, Gusti Ratu juga suka memakan sukma lelaki,” kata Anjengan membual.


Terbeliak Bayu Garang mendengar itu. Dia menganggap Panglima Besar itu berkata benar.


“Maafkan hamba, Gusti Ratu. Hamba tidak berani lancang,” ucap Bayu Garang sembari menjura hormat.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara. Lalu sebutnya, “Kakang Arung!”


“Hamba, Gusti,” sahut Arung Seto selaku Panglima Sayap Laba-Laba.


“Bawa lebih dulu pasukanmu ke Kadipaten Sengat. Jika warga di sana menderita, culik mereka. Jika pasukan kerajaan menghambat, bunuh secukupnya. Para prajurit itu hanya mengikuti kejahatan pimpinannya,” perintah Alma Fatara. “Bayu Garang akan ikut pasukan Sayap Laba-Laba sebagai pemandu agar korban dari prajurit lebih sedikit.”


“Baik, Gusti,” ucap Arung Seto. “Tapi, itu artinya aku dan pasukanku pergi tanpa kuda?”


“Bagaimana kalian bisa bergerak sembunyi-sembunyi jika berkuda semua?” tanya balik Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Arung Seto. Dia lalu menjura hormat dan kemudian berbalik pergi.

__ADS_1


Dia mengajak Bayu Garang juga.


“Kita akan tetap di sini sampai Adipati Gantisempa datang bersama pasukannya,” kata Alma Fatara memutuskan.


“Baik, Gusti!” ucap mereka patuh.


“Pasukan kadipaten harus berperang, Kakang Pangeran, Paman Adipati. Untuk menggembleng keberanian mereka. Baru berhadapan dengan musuh saja sudah berkeringat,” ujar Alma Fatara.


“Benar. Kita akan banyak memakai jasa pasukan kadipaten untuk berperang melawan pasukan Kerajaan. Meski jumlah kita seribu prajurit, akan tetap kalah melawan lima ratus prajurit Kerajaan jika pasukan kita prajurit kadipaten,” kata Panglima Riring Belanga.


“Jika begitu, kita biarkan saja pasukan kadipaten maju paling depan. Anggap saja itu pelatihan untuk meningkatkan keterampilan tempurnya,” kata Alma Fatara, sengaja memancing ikan.


“Mohon maaf, Gusti Ratu. Hamba rasa itu strategi yang tidak baik, karena hanya akan membuat para prajurit kadipaten cepat mati dan sia-sia,” sanggah Adipati Patok Anggara.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara datar. “Tenang saja, Paman, aku dan Putra Mahkota tidak akan menumbalkan pasukanmu.”


“Gusti Pangeran, bagaimana dengan Kadipaten Balongan? Apakah ayahku baik-baik saja?” tanya Kembang Bulan memberanikan diri, sebab dia sejak awal tidak bersuara, tapi ada beban yang berkecamuk di dalam pikirannya.


“Kadipaten Balongan sudah dikuasai oleh pasukan Pangeran Derajat. Adapun nasib Adipati Adya Bangira kami tidak tahu,” jawab Sugang Laksama.


Jawaban itu membuat Kembang Bulan menjadi sedih karena cemas.


“Tenangkan hatimu, Kakak. Paman Adya Bangira tidak akan apa-apa. Kini Paman Adya berlindung di Perguruan Jari Hitam di Kademangan Dulangwesi,” kata Alma Fatara.


“Tapi, bagaimana Gusti bisa tahu?” tanya Kembang Bulan lagi.


“Yang benar, Gusti Ratu? Kau belum pernah mengirim utusan ke Balongan sejak jadi ratu,” kata Anjengan.


“Kau ja-ja-jangan meragukan Gu-gu-gusti Ratu di de-de-depan Pa-pa-pangeran, Anjengan. Ku-ku-ku....”


“Kutu?” terka Anjengan memotong kata-kata Gagap Ayu yang sedang berjuang menyelesaikan kata-katanya.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara dan yang lainnya.


“Ku-ku-kutumu!” bentak Gagap ayu kesal dipotong di depan orang banyak.


“Hahaha!” tawa mereka, termasuk Anjengan.


“Ku-ku-kualat kau nanti!” bentak Gagap Ayu.


“Aku sudah menguasai ilmu Titah Mimpi. Jadi, aku bisa memberi perintah kepada Kakek Rereng Busa. Aku mendapat kabar melalui mimpi bahwa Paman Demang Baremowo dan Nyi Bungkir juga berlindung di Perguruan Jari Hitam. Pasukan Kerajaan sepertinya berpikir sebelas kali untuk berurusan dengan Kakek Rereng, terlebih di sana ada pula Nenek Balito Duo Lido,” kata Alma Fatara menjelaskan.


“Waaah!” desah Anjengan, Gagap Ayu, Kembang Bulan, dan Nining Pelangi takjub.


“Tidak usah terpukau seperti itu. Bukankah aku selalu membuat orang terpukau? Bukan hal baru itu. Hahaha!” kata Alma Fatara sombong.


“Sombong sekali ratu kita sekarang,” kata Anjengan dengan tatapan sinis, tapi sinis-sinisan.

__ADS_1


“Hahaha!” Alma Fatara justru tertawa kencang dengan ompong yang meresahkan khalayak.


Adipati Patok Anggara dan Komandan Are Are hanya tersenyum-senyum getir. Ingin tertawa lepas, tapi khawatir justru kebablasan.


Tampak Arung Seto telah berlari pergi bersama sebelas anggota Sayap Laba-Laba plus Bayu Garang sebagai petunjuk jalan. Mereka meninggalkan daerah itu menuju Kadipaten Sengat.


“Panglima Tampang Garang, bawa pasukanmu sebagai pelindung jarak jauh bagi pasukan Sayap Laba-Laba!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Tampang Garang patuh.


“Komandan Are Are, berikan anak panah pasukanmu kepada pasukan Panglima Tampang Garang!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti,” ucap Komandan Are Are.


“Jangan lupa pasukanmu diberi makan lebih dulu, Panglima. Tenaga dari makanan juga penting,” kata Alma Fatara.


“Baik, Gusti,” ucap Tampang Garang.


Setelah menjura hormat, Tampang Garang dan Komandan Are Are segera bangkit dan pergi menemui kesepuluh bidadari Sayap Panah Pelangi.


Kesepuluh wanita cantik berpakaian warna warni itu menyambut kedatangan panglimanya dengan senyum manis dan lembut. Bagaimana tidak bahagia Tampang Garang jika memiliki anak buah yang selalu memanjakan perasaan?


Komandan Are Are yang mendampingi Tampang Garang pun kecipratan rasa berbunga-bunga diberi senyum dari sepuluh wanita cantik. Seketika hilang sudah lelah dan beban pikiran.


“Kita akan menyusul pasukan Sayap Laba-Laba ke Kadipaten Sengat sebagai pasukan bayangan dan pelindung,” ujar Tampang Garang.


“Aku suka ini,” kata Senyumi Awan sembari tersenyum.


“Janda Belia dan Bayu Semilir ikut Komandan Are Are untuk mengambil anak panah. Persediaan anak panah kita harus penuh,” kata Tampang Garang.


“Baik, Panglima,” ucap Janda Belia dan Bayu Semilir.


“Mari!” ajak Komandan Are Are.


Janda Belia dan Bayu Semilir pergi mengikuti Komandan Are Are.


“Aren Jingga dan Sekar Mekar, siapkan makanan sebelum berangkat. Kita makan dulu,” perintah Tampang Garang.


“Baik, Panglima,” jawab Aren Jingga dan Sekar Mekar sembari tersenyum. Catat! Makan adalah perkara yang bisa membuat orang bahagia dan tersenyum.


“Gusti Ratu, pasukan Sayap Panah Pelangi kau beri makan lebih dulu sebelum berangkat, tapi pasukan Kakang Arungku tidak,” komplain Nining Pelangi di tempat musyawarah.


“Aku lupa. Hahaha!” jawab Alma Fatara enteng. Jawaban yang harus diterima oleh Nining Pelangi dengan wajah merengut. (RH)


********


Jangan lupa kunjungi juga karya baru Om!

__ADS_1



__ADS_2