Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
Akarmani 43: Murka Senopati


__ADS_3

*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*


 


Blar blar blar ...!


Pendapa Agung Sejagad seolah-olah ingin hancur ketika puluhan ledakan terjadi di berbagai titik di dalamnya.


Akibat dari ledakan massal yang menghancurkan sejumlah bagian lantai, tiang, dinding, langit-langit, bahkan merusak tahta raja, beberapa orang prajurit jaga harus tewas dan terluka.


Suara ledakan itupun terdengar sampai ke luar sekitaran pendapa.


Ledakan itu adalah ekspresi dari kemarahan Senopati Gending Suro setelah mendapat sejumlah laporan yang menunjukkan bahwa ada pengkhianatan di dalam kubunya.


“Lapor, Gusti! Panglima Utama Surap Bentala, Panglima Gigir Sluduk, Panglima Gagang Lembu gugur di lembah Alas Tiga Air, bersama ribuan pasukan kita. Semuanya gugur hanya di tangan seorang pendekar wanita!” lapor prajurit yang ikut langsung menyaksikan pembantaian di lembah Alas Tiga Air.


“Lapor, Gusti! Panglima Pulung Seket dan sekitar seribu pasukan kita kini tunduk sebagai pasukan Ratu Warna Mekararum!” lapor prajuri telik sandi lainnya pada waktu yang berbeda.


“Pasukan Khusus yang ikut dengan Pasukan Pengawal Raja habis oleh beberapa pasukan. Aku hanya mengenal Pasukan Pengawal Raja yang justru turut menghabisi Pasukan Khusus,” lapor Macan Brewok, orang yang mengintai kemalangan Pasukan Khusus yang dijebak dan dikeroyok di depan Istana Keprabuan.


“Lapor, Gusti! Komandan Sikut Karam dan Pasukan Khusus yang bersamanya dibantai di luar benteng Istana oleh pasukan musuh!” lapor prajurit telik sandi lain.


“Lapor, Gusti! Jumlah pasukan musuh lebih banyak dari Pasukan Benteng!”


“Lapor, Gusti! Benteng barat Ibu Kota kini ditutup oleh Pasukan Keamanan Ibu Kota!”


“Lapor Gusti! Panglima Rakean dan pasukannya telah berkhianat. Mereka justru memindahkan anggota Keluarga Kerajaan ke Ruang Singa, bukan membawanya ke penjara!”


“Lapor, Gusti! Penjara telah diserang dan tahanan Kelompok Lutung Pintar telah dibebaskan!”

__ADS_1


“Lapor, Gusti! Pasukan khusus yang dibawa Macan Elang telah dibantai oleh seorang pendekar wanita. Macan Elang dan Macan Beringas gugur!” lapor prajurit yang datang melapor paling terakhir.


Laporan-laporan yang datang silih berganti pada malam itu sungguh menyakiti hati Senopati Gending Suro. Semua laporan buruk yang penuh kekalahan itu akhirnya membuat Senopati Gending Suro melampiaskan kemarahannya dengan mengerahkan ilmu Hancur Sekampung. Meski nama ilmu itu kampungan, tetapi kekejamannya sungguh dahsyat.


Semua prajurit yang ada di pendapa itu jadi takut, kalau-kalau ada ledakan berjemaah gelombang kedua, yang bisa membuat mereka bernasib seperti rekan-rekan yang mati dan terluka serius, bahkan yang terluka dibiarkan menderita begitu saja tanpa ada yang berani menolongnya.


Puncaknya adalah laporan tentang kematian dua Macan. Tidak hanya membuat Senopati Gending Suro pamer kedahsyatan ilmu Hancur Sekampung, tapi juga membuat Macan Brewok dan Macan Batu murka.


“Prajurit, siapa yang membunuh kedua saudara seperguruanku?” tanya Macan Brewok dengan sorot mata yang memerah mengandung dendam kesumat.


“Seorang pendekar wanita muda, satu pihak dengan Panglima Rakean,” jawab prajurit pelapor itu.


“Sepertinya suara ledakan keras yang tadi kita dengar berasal dari pertarungan Macan Elang dan Macan Beringas, Gusti,” kata Macan Batu.


“Sungguh aku tidak menyangka Ratu Tua bisa memiliki pasukan yang hebat dalam waktu singkat. Jika dia bisa sembuh dari racunnya, berarti orang yang membantunya memang berkesaktian tinggi. Tapi ... bagaimana bisa tiga panglima dan ribuan pasukan kerajaan dibantai hanya oleh seorang pendekar wanita dan menundukkan sisanya?” kata Senopati Gending Suro yang dibuat pusing sepuluh keliling.


“Siapkan semua pasukan yang tersisa, kita pergi ke Ruang Singa!” perintah Senopati Gending Suro. “Akan aku bantai habis Keluarga Kerajaan Jintamani dan kerajaan baru akan lahir!”


Maka Gampar Seblak segera memobilisasi pasukan yang tunduk langsung di bawah perintah Senopati Gending Suro. Ternyata tinggal ada tiga ratus prajurit jumlah pasukan Senopati Gending Suro yang tersisa. Namun, itu tidak akan jadi masalah jika yang memimpin langsung adalah sang senopati.


Sebenarnya Senopati Gending Suro yang menguasai balatentara Kerajaan Jintamani masih memiliki sepuluh ribu pasukan yang berbasis di wilayah barat kerajaan, tetapi butuh waktu tiga hari perjalanan untuk sampai ke Ibu Kota.


Sementara itu di Ruang Singa.


Ruang Singa adalah sebuah bangunan besar tempat raja dan keluarganya berlatih berbagai keahlian beladiri dan militer. Ruang Singa sangat jarang dimasuki oleh pejabat lain, kecuali guru latih.


Berbeda dengan raja-raja Kerajaan Jintamani dahulu, Prabu Marapata lemah dalam bidang beladiri dan kemiliteran, berbeda dengan saudara-saudara lelaki lainnya seperti Pangeran Bugar Bawah dan Pangeran Bugar Jantung. Namun, hak tahta memang adalah milik Prabu Marapata.


Pada malam menuju fajar itu, seluruh anggota Keluarga Kerajaan Jintamani berkumpul di Ruang Singa yang luas. Anggota keluarga kalangan orang tua dan kalangan anak-anak beserta para abdi dalam ikut hadir di tempat itu.

__ADS_1


Putra Mahkota Pangeran Jakirwogo sudah mendapat tempat khusus dan didampingi oleh tabib dan abdinya. Dia hanya bisa mendengar apa yang dibahas dalam pertemuan akbar dan genting itu.


Semua orang dewasa dari Keluarga Kerajaan yang berjumlah lebih dua puluh orang itu duduk semua di satu bagian lantai yang bersih. Mereka menghadap kepada sebuah kursi besar yang diduduki oleh Ratu Warna Mekararum.


Di belakang kursi itu berdiri Sudigatra dan sepuluh murid pilihan Perguruan Pisau Merah. Ning Ana bahkan dengan bangga diri bergabung bersama Sudigatra. Sebagai sahabat Alma Fatara, Ning Ana cukup mendapat perlakuan istimewa, apalagi dia termasuk salah satu orang yang mengawal sang ratu tua selama perjalanan. Wajahnya sudah bersih dari darah, tetapi bibirnya monyong karena bengkak.


Di sisi kanan kursi berdiri Putri Manila Sari, cucu kesayangan Ratu Warna Mekararum.


Sesi keterkejutan dan lepas rindu sudah berlalu. Mereka semua sudah yakin seribu persen bahwa Ratu Warna Mekararum yang akrab mereka sebut Ratu Tua, belumlah mati. Mereka sedikit pun tidak tahu, mayat siapa yang setahun lalu mereka kuburkan bersama-sama sebagai Ratu Warna Mekararum setelah menghilang nyaris dua tahun lamanya.


Jadi, sejak hilangnya Ratu Warna Mekararum dari Istana hingga mayatnya didatangkan dari negeri antah berantah, sudah jelas adalah ulah Senopati Gending Suro dan orang-orangnya.


Ratu Warna Mekararum pun sudah menjelaskan secara jelas apa yang dialaminya selama menghilang hingga kini bisa muncul kembali di Istana. Dia juga membongkar niatan busuk Senopati Gending Suro.


Anggota Keluarga Kerajaan yang dekat dengan Ratu Tua ataupun yang tidak karena suatu sebab, kini harus satu suara demi menyelamatkan Kerajaan dari kudeta.


Tentunya Ratu Warna Mekararum tidak lupa mengabarkan berita ter-update tentang Prabu Marapata dan Permaisuri Palilin agar mereka semua tidak cemas.


“Aku berani meyerang dengan bermodal pasukan aliansi kadipaten dan pasukan Perguruan Pisau Merah, bukan semata-semata mengandalkan penguasaan jalan-jalan rahasia di dalam Istana, tetapi aku memiliki seorang pendekar yang akan menjadi kunci kemenangan kita, namanya Alma Fatara. Jika tidak, meski aku dan pasukanku unggul dalam taktik perang, tetap saja tidak akan bisa mengalahkan kesaktian Senopati Gending Suro. Jadi hanya Alma Fatara yang bisa membunuh Gending Suro ....”


“Hidup Kak Almaaa!” teriak Ning Ana tiba-tiba penuh semangat sambil mengangkat kepal tangan kanan ke atas. Teriakannya memotong kata-kata Ratu Warna Mekararum.


Namun, tidak ada orang yang ikut berteriak mendukungnya. Bahkan semua mata anggota Keluarga Kerajaan menatap tajam kepadanya. Jelas banyak yang tidak suka dengan kelancangan gadis remaja itu.


Kondisi itu seketika membuat Ning Ana syok sendiri. Dia menelan salivanya lalu segera mundur bersembunyi di belakang Sudigatra.


“Diamlah dulu, Anak Cantik!” perintah Ratu Warna Mekararum sambil menengok sedikit ke samping, memberi tahu maksud perkataannya kepada siapa ditujukan.


“I-i-iya, Nek,” ucap Ning Ana ciut. (RH)

__ADS_1


__ADS_2