
*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*
Prabu Marapata dan Permaisuri Palilin memasuki Ruang Singa dengan kawalan langsung oleh Komandan Buto Sisik yang sudah jinak. Selain dikawal oleh sepuluh prajurit Pasukan Pengawal Raja, rombongan itu juga diiringi oleh sepuluh dayang yang mengikuti di belakang.
Prabu Marapata pergi duduk di kursi singgasananya, berdamping dengan Permaisuri Palilin. Komandan Buto Sisik berdiri tidak jauh di belakang kursi raja. Prajurit dan para dayang mengambil posisinya sendiri dengan rapi di sisi belakang.
Seperti pasangan hendak menikah lagi, Prabu Marapata dan permaisurinya mengenakan pakaian yang sewarna kuning-kuning keemasan.
“Waaah!” desah Ning Ana terpukau takjub, dia mengangkat wajahnya dan melihat langsung kedatangan Prabu Marapata.
“Tundukkan wajahmu jika kau tidak mau dipancung, Ana!” bisik Magar Kepang menghardik.
Terkejut Ning Ana mendengar alarm dari Magar Kepang. Langsung dia masukkan wajahnya ke bawah.
Para abdi itu hanya bisa mendengar suara langkah selagi mereka bersimpuh dan menjura hormat dalam ketertundukan.
Setelah rombongan Prabu Marapata, masuklah rombongan Ratu Warna Mekararum. Dia dikawal oleh Panglima Perang Pasukan Pembebas Jintamani Alma Fatara, yang tampil begitu cantik dalam busana warna belahan telur rebus.
Selain Alma, Ratu Warna Mekararum juga dikawal oleh enam dayang perempuan. Sang ratu pergi duduk di satu kursi yang menyendiri agak memisah dari kursi sang prabu.
“Bangunlah kalian semua!” seru Prabu Marapata.
Maka serentak semuanya bangkit dan berdiri, termasuk para penari yang juga turun bersimpuh sebelumnya.
Drap drap drap ...!
Tiba-tiba puluhan prajurit datang berlari dari arah belakang para pejabat. Mereka tidak membawa senjata, tetapi membawa bantal. Satu prajurit satu bantal. Bantal-bantal itu lalu diletakkan di belakang kaki para pejabat dan hadirin yang lain. Setelah itu mereka pergi, tidak ikut ngopi bareng.
Para pejabat lalu kembali turun, kali ini mereka duduk bersila dengan bokong beralaskan bantal.
Namun, sebelum mereka semua turun duduk, perhatian mereka sejenak tertarik untuk fokus memandang ke arah Ratu Warna Mekararum, tepatnya kepada sosok yang berdiri di sisi kanan kursinya, yaitu sosok Alma Fatara.
Mereka terkesima takjub melihat kejelitaan Alma Fatara. Mereka yang sudah pernah melihat Alma pada malam hari, baru menyadari bahwa Alma lebih cantik di kala siang, apalagi saat ini dia begitu menggugah selera karena mirip belahan telur rebus, bahkan lebih cantik.
Terlebih-lebih bagi mereka yang baru kali ini melihat penampakan Alma Fatara, bahkan belum kenalan. Ada pepatah yang berbunyi “tidak kenal maka ingin kenal”. Lelaki mana yang tidak ingin mengenal gadis secantik Alma Fatara yang masih hijau merona? Jangan dijawab!
“Kak Almaaa!” teriak Ning Ana tiba-tiba sambil tersenyum lebar dan melambaikan tangan tanda menyerah dari tantangan uji nyali. Jika sudah ada Alma Fatara, maka Ning Ana tidak akan gentar kepada siapa pun. “Kau cantik sekali pakai baju itu. Dadamu lebih besar. Hihihi!”
__ADS_1
“Hahaha ...!”
Maka riuhlah tawa para lelaki yang mendengar teriakan Ning Ana yang kurang ajar. Sebagian lagi jadi menahan emosi karena ada peserta Sidang Umum yang buta tata krama dan moral, sebab ini bukan kali pertama Alma berbicara tabu, apalagi kepada Panglima Perang atau pengawal Ratu Tua.
Alma Fatara yang awalnya berniat tertawa oleh panggilan Ning Ana, jadi mendelik cantik menggemaskan tanpa maksud menggemasi semua lelaki.
Bukan hanya Alma Fatara yang terkejut, Prabu Marapata dan Permaisuri Palilin yang belum mengenal Ning Ana juga terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa ada seorang wanita yang bermulut liar hadir dalam Sidang Umum itu.
Akhirnya Alma Fatara tidak jadi tertawa dan diam saja.
“Prajurit, keluarkan wanita itu dari Ruang Singa!” perintah Ratu Warna Mekararum tiba-tiba.
Terkejutlah Alma Fatara dan para sahabat seperjalanannya.
Drap drap drap!
Sebanyak sepuluh prajurit jaga di ruangan itu segera berlari mendatangi Ning Ana yang panik seperti ayam betina mau diculik.
“Hei hei hei! Jangan mendekat atau aku tusuk kalian satu per satu!” teriak Ning Ana sambil mencabut sebilah pisau merahnya, membuat para prajurit menahan langkah.
“Hentikan!” seru Alma Fatara tiba-tiba.
“Mohon izin, Gusti Ratu. Biar aku yang membawa Ning Ana keluar,” ucap Alma kepada sang ratu.
“Lakukan!” perintah Ratu Warna Mekararum.
Alma Fatara lalu melangkah meninggalkan sang ratu dan pergi menuju ke posisi Ning Ana yang masih tegang.
“Lanjutkan tariannya!” perintah Prabu Marapata.
Musik gamelan kebali dilanjutkan. Para penari kembali melanjutkan tariannya dengan kibasan-kibasan selendang yang genit.
“Hahaha! Kau ditakdirkan terusir, Ana,” sapa Alma Fatara kepada Ning Ana yang didahului tawa kecilnya.
“Aku tidak mau keluar, Kak Alma!” tolak Ning Ana.
Wess!
Tiba-tiba Alma Fatara melesat cepat seiring lenyapnya Ning Ana dari tempat berdirinya. Alma membawa Ning Ana melesat terbang menuju ke gerbang Ruang Singa.
__ADS_1
“Hihihi!” tawa Sumirah melihat hal itu.
Mendengar suara tawa Sumirah, Ayu Wicara ingin menghardik wanita cantik itu, tetapi dia lebih dulu dibungkam oleh bekapan telapak tangan besar Debur Angkara.
“Kau mau bernasib seperti Ning Ana?” bisik Debur Angkara mengingatkan.
Ayu Wicara pun harus menahan napas dan emosinya. Sementara Garam Sakti menunjukkan sikap tidak tenang. Ia bingung harus bersikap apa. Karena bingung, akhirnya dia tidak ke mana-mana.
Akhirnya musik gamelan berhenti dan para penari pun bergerak meninggalkan panggungnya.
Gong!
Terdengar suara gong dipukul keras dengan suara yang menggema berulang.
“Sidang Umum dimulaiii!” teriak seorang prajurit yang memang ditugaskan teriak.
Prabu Marapata lalu bangun berdiri dari duduknya dan memandang segenap mereka yang hadir. Ia mengenali wajah-wajah para adipati. Di kalangan pendekar dia hanya mengenal Ki Tonjok Gila dan Emak Lutung, sebab dialah yang menjebloskan mereka ke dalam penjara.
“Wahai para keluargaku, para pejabatku, dan para kisanak dan nisanak yang baru pertama kali aku jumpai, aku ucapkan selamat atas kemenangan kalian dan kemenangan Kerajaan Jintamani yang agung ini!” seru Prabu Marapata. “Ucapan terima kasih yang tidak terhingga tentu saja aku ucapkan kepada Ibunda Ratu. Kehadirannya kembali di tengah-tengah kita jelas adalah berkah dari Dewa Mayapada. Dan aku ucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada Panglima Perang Pasukan Pembebas Jintamani, yaitu kepada Alma Fatara.”
Prabu Marapata lalu menengok memandang ke arah kursi Ratu Warna Mekararum. Semua orang terkejut saat mereka ikut memandang ke sana, sebab di sana sudah berdiri Alma Fatara yang tidak terlihat kapan dia kembali berdiri di sana.
“Hahaha! Bantuanku tidak berarti apa-apa, Gusti Prabu. Bantuanku justru banyak membunuh orang,” ucap Alma Fatara merendah hati.
“Hahaha!” tawa sebagian orang pula.
Mereka tertawa ramai bukan karena mendengar kata-kata Alma Fatara, tetapi karena melihat keompongannya. Bagi mereka yang sudah tahu sebelumnya, hanya tersenyum. Namun, tawa mereka bukan hal yang menyinggung perasaan bagi Alma Fatara.
“Karena Gusti Ratu yang mengangkatku sebagai Panglima Perang, aku mohon kepada Gusti Ratu untuk membebaskanku dan menepati janji-janjiku kepada pasukan Paman Panglima Pulung Seket dan Panglima Galagap,” kata Alma Fatara.
“Baiklah. Namun, apa janjimu kepada kedua panglima itu dan pasukannya?” tanya Ratu Tua.
“Aku lebih banyak membunuh prajurit Kerajaan Jintamani daripada yang aku biarkan hidup mengabdi, dengan demikian pengeluaran kepeng untuk upah akan berhemat lebih banyak dari yang akan dibayarkan. Jadi aku menjanjikan kenaikan upah mereka setengah dari biasanya agar para prajurit mau lebih setia kepada Gusti Ratu,” jawab Alma Fatara lengkap dengan hujjahnya.
“Atas izin Gusti Prabu, aku mencabut jabatanmu sebagai Panglima Perang Pasukan Pembebas Jintamani. Dan janjimu kepada kedua panglima serta pasukannya, aku kabulkan!” seru Ratu Tua. “Namun, tetaplah di sisiku sebagai pendampingku, Alma!”
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Alma Fatara.
“Silakan, Gusti Prabu,” ucap Ratu Tua lempar bola.
__ADS_1
“Wahai para penjaga kemakmuran Kerajaan Jintamani, dengan terlaluinya perang yang membebaskan Jintamani dari benalu, banyak yang perlu diperbaiki dan banyak orang-orang yang harus segera diberi hadiah. Namun, untuk itu semua, aku serahkan pengaturan keputusannya kepada Ibunda Ratu ....” (RH)