Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DKT 2: Tuntutan Ratu Tombak


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*


Kehadiran Ratu Tombak Siluman dan Luyut Tumul alias Pendekar Tombak Buta, menciptakan suasana tegang. Kedua orang bertongkat itu berjalan menuju ke depan tangga batu tempat Silbi Aya berdiri di puncaknya. Sementara itu ada empat peti kayu berisi penuh oleh kepeng perak.


Wakil Ketua Kelompok Tombak Iblis dan semua anggota pendekarnya jadi tegang. Mereka lebih awal berfirasat buruk. Mungkin mereka semua tahu, Ratu Tongkat Siluman tidak kalah sakti dan galaknya dengan mendiang suaminya, Raja Tombak Iblis.


“Selamat datang di Sarang Tombak Iblis, Ratu Tombak Siluman dan Pendekar Tombak Buta!” ucap Silbi Aya sebagai ketua baru Kelompok Tombak Iblis.


“Hebat sekali kau, Perempuan Penjual Perempuan!” puji Ratu Tombak Siluman yang berhenti dua tombak dari posisi keempat peti kepeng. “Dalam waktu satu malam kau bisa langsung menguasai Kelompok Tombak Iblis.”


Silbi Aya tidak langsung menjawab, melainkan tersenyum. Dia tidak tersinggung dengan sebutan “Perempuan Penjual Perempuan”. Dia melangkah turun lebih dulu hingga berhenti di belakang keempat peti.


“Itu naluri seorang pengusaha wanita, Ratu. Anggapanmu salah. Aku tidak menguasai, tapi aku bekerja sama dengan kelompok ini. Aku hanya memimpin sebagai ketua. Kelompok Tombak Iblis tetap milik orang-orang Tombak Iblis. Hanya sekarang, aturan main baru telah kami sepakati dan kini akulah ketuanya,” ujar Silbi Aya bersilat lidah.


“Hmmm. Baiklah jika begitu. Aku datang ke sini hanya untuk menuntut bakti dari murid-murid suamiku. Apakah masih ada atau tidak?” kata Ratu Tombak Siluman.


“Mohon maaf, Tetua. Apa maksud Tetua dari menuntut bakti itu?” tanya Rajabali Gali santun kepada istri gurunya.


“Kalian murid-murid suamiku, tapi kenapa kalian tidak menuntut balas atas kematian guru kalian? Terutama kau, Rajabali!” tanya Ratu Tombak Siluman dengan membentak, terutama ketika menyebut Wakil Ketua.


“Maafkan kami, Tetua. Jika Guru saja mati di tangan Dewi Gigi, apalagi kami. Terlebih, Guru tewas dalam pertarungan yang adil,” dalih Rajabali Gali.


“Pecundang kalian semua!” teriak Ratu Tombak Siluman sambil memandang sekilas semua pendekar yang ada di aula besar itu. “Puluhan murid Raja Tombak Iblis, tapi tidak satu pun ada yang menaruh dendam atas kematiannya. Sungguh memalukan. Lebih baik kalian semua mati melawan perempuan siluman itu, tapi dengan penuh kehormatan!”


“Maafkan aku, Tetua. Pastinya para pendekar ini memiliki kehormatan dan rasa bela yang tinggi kepada gurunya. Namun, Tetua Ratu juga harus memahami aturan pendekar yang diterapkan di pertarungan Kolam Merah. Siapa yang mati di sana, maka perkara selesai dengan kematiannya. Terlebih sekarang sebagian besar murid mendiang Tetua Raja terikat oleh aturan Kelompok Tombak Iblis. Mereka wajib patuh kepada ketuanya. Aku sebagai ketua mereka, juga tidak mau rugi harus kehilangan banyak anggota hanya untuk memperpanjang dendam yang seharusnya sudah selesai,” tutur Silbi Aya membela anggotanya.


“Durhaka. Durhaka kalian semua! Betapa malangnya suamiku, bekerja keras mendidik puluhan murid menjadi sakti, tetapi semuanya meludahi kematiannya!” rutuk Ratu Tombak Siluman.


“Aku sarankan, Tetua Ratu segera mengejar Dewi Gigi yang pergi ke Kotakayu Darabisu daripada menghabiskan ludah, tenaga dan waktu di sini,” ujar Silbi Aya.


“Huh!” dengus Ratu Tombak Siluman sembari menatap tajam Silbi Aya.

__ADS_1


“Jika kau mengamuk di sini, aku pun tidak akan segan-segan, Ratu,” tandas Silbi Aya yang memberikan ancaman secara tidak langsung.


“Wanita tidak tahu diri!” teriak Luyut Tumul marah sambil melompat ke depan dan kedua tangan mencabut dua tombak pendeknya seperti mencabut pedang di punggung. Sejak tadi dia memang menahan kemarahan mendengar ketidakberpihakan murid-murid ayahnya.


Dak! Sreeek!


Namun, tindakan Luyut Tumul itu memancing Silbi Aya bertindak pula. Kaki kanannya menjejak ke lantai. Tiba-tiba sebagian kepeng perak yang ada di peti mengudara dengan cepat dan berjemaah. Ada ratusan kepeng yang naik ke atas membentuk tirai yang menghadang laju tubuh besar Luyut Tumul.


“Heaaat!” teriak Luyut Tumul hendak memukulkan kedua tombaknya ke kepeng-kepeng yang mengudara.


Namun....


Seet! Sleb!


Tiba-tiba dari belakang melesat tiga tali sinar ungu yang membelit pinggang, dan kedua lengan Luyut Tumul lalu menariknya kembali ke belakang. Luyut Tumul mendarat dengan terhuyung ke belakang.


Ratu Tombak Siluman telah mencegah putranya untuk bertindak keras dengan ilmu Tiga Garis Nyawa.


Kepeng-kepeng itu kembali jatuh ke dalam peti-peti tanpa ada yang tercecer ke lantai. Padahal jika ditinjau dari hukum fisika hingga hukum rimba, kepeng-kepeng itu seharusnya jatuh berserakan karena tadi di udara mereka seperti mengatur diri membentuk satu lapis tirai kepeng yang luas. Jika mengikuti hukum gravitasi, seharusnya mereka jatuh lurus ke bawah atau sesuai garis lempar.


Para pendekar Kelompok Tombak Iblis tahu bahwa itu tidak lepas dari kesaktian ketua baru mereka. Tampaknya Silbi Aya perlu pamer-pamer kesaktian sesekali agar anggotanya percaya bahwa dia bukan sekedar “katanya” sakti.


“Jangan buang-buang tenaga di sini. Orang-orang ini akan kita urus nanti setelah mengurus pembunuh ayahmu,” kata Ratu Tombak Siluman kepada putra sulungnya.


“Baik, Ibu,” ucap Luyut Tumul dengan tatapan tajam dan napas memburu, seolah-olah menyimpan dendam kesumat.


“Berdoalah kalian agar aku tidak berhasil membunuh Dewi Gigi, agar aku tidak punya waktu untuk membuat perhitungan kepada kalian, Murid-Murid Durhaka!” seru Ratu Tombak Siluman kepada murid-murid mendiang suaminya.


Dia lalu berbalik membelakangi Silbi Aya.


“Kita kembali!” ajak Ratu Tombak Siluman kepada putranya.

__ADS_1


Ibu anak itu lalu melangkah pergi menuju ke luar. Silbi Aya dan anggota Kelompok Tombak Iblis membiarkan mereka.


“Penanggung Kitil, bagikan kepeng-kepeng itu sesuai haknya masing-masing!” perintah Silbi Aya kepada Kitil Sembur. Membagi uang upah adalah pekerjaan Penanggung Bidang Rumah Tangga.


“Baik, Ketua,” ucap Kitil Sembur patuh.


Senanglah para pendekar Kelompok Tombak Iblis. Mereka tidak peduli dengan kemarahan istri mendiang guru mereka.


Silbi Aya memutuskan untuk pergi masuk ke dalam ruangan tempat tadi dia bermufakat. Wakil Ketua dan ketiga Penanggung Bidang lainnya juga ikut masuk. Silbi Aya perlu merundingkan perkara bisnis kelompok tersebut.


Di luar, Ratu Tombak Siluman dan Pendekar Tombak Buta sudah ditunggu oleh empat orang berkuda, dua wanita dan dua lelaki. Tidak ada yang muda. Usianya rata-rata separuh baya, lebih atau kurang sedikit. Ada dua kuda lain yang kosong.


Dari keempat orang yang menunggu itu, satu wanita dan satu lelaki adalah putra Ratu Tombak Siluman, selebihnya satu wanita dan satu lelaki adalah menantu. Semoga bisa dipahami.


“Bagaimana, Ibu?” tanya wanita separuh baya berkulit agak hitam dan cukup gemuk. Dia duduk di kudanya. Pada pelana kuda ada ring khusus untuk menaruh tombak warna ungu berbahan logam. Dia bernama Malam Angan, berjuluk Penari Tombak Ungu.


Malam Angan adalah anak kedua dari pasangan Raja dan Ratu Tombak.


“Kelompok ini sudah di bawah kendali Silbi Aya pemilik Kolam Merah. Semua murid ayahmu telah durhaka. Namun, aku tidak mau membuang tenaga di sini. Lebih baik kita cepat mengejar Dewi Gigi ke Kotakayu Darabisu di Kerajaan Ringkik,” kata Ratu Tombak Siluman.


Dia dan Luyut Tumul lalu naik ke kudanya. Usia tua tidak menghalanginya untuk berkuda.


Keluarga tombak itu lalu melarikan kudanya untuk meninggalkan Sarang Tombak Iblis. (RH)


 


********************


Baca Juga!


__ADS_1


__ADS_2