
*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*
“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat reaksi Pangeran Bugar Jantung yang seperti lompatan kucing saat dikejutkan kecoa, saat mengetahui keberadaan Alma Fatara yang muncul seperti setan bohongan di sisinya.
Bukan hanya Pangeran Bugar Jantung yang terkejut, Komandan Buto Sisik dan pasukannya juga terkejut, sebab mereka tidak melihat kedatangan wanita belia berjubah hitam itu.
“Siapa kau, Nak?” tanya Pangeran Bugar Jantung berusaha tenang demi menutupi keterkejutannya yang kadung terlihat.
“Jangan sebut aku anak kecil, Paman. Aku adalah Dewi Gigi, Panglima Perang Pasukan Pembebas Jintamani. Namaku Alma Fatara, gadis paling cantik di lautan!” koar Alma Fatara jumawa dengan dua gigi ompongnya yang samar-samar terlihat.
Terkejut Pangeran Bugar Jantung mendengar perkenalan lengkap Alma Fatara. Jika benar gadis jelita berusia belasan tahun itu adalah panglima perangnya Ratu Warna Mekararum, sehebat apa dia sehingga bisa didaulat sebagai seorang panglima perang.
“Paman yang bernama Senopati Gending Suro, ya?” terka Alma Fatara dengan tatapan tajam, seperti sedang memandang seorang musuh.
“Aku Pangeran Bugar Jantung, pemimpin pasukan Gusti Ratu,” kata Pangeran Bugar Jantung.
“Jangan bohong, Pamaaan. Jelas-jelas kubu Gusti Ratu ada di gedung itu, tapi Paman justru berdiri di sini. Jujur saja, Pamaaan. Tidak perlu malu-malu. Jika Paman benar Senopati Gending Suro, biar aku bunuh langsung dan perang akan selesai. Jika bukan, jangan mengaku-ngaku,” kata Alma Fatara seperti sedang berbicara kepada anak kecil.
Mendelik emosi Pangeran Bugar Jantung dituding berbohong. Belum lagi dia berkata-kata, Komandan Buto Sisik sudah datang menghardik.
“Nisanak, siapa kau?!” tanya Komandan Buto Sisik.
“Aaah payah. Paman tadi tidak mendengar aku memperkenalkan diri?” tanya Alma Fatara kecewa.
“Dia mengaku Panglima Perang pasukan Gusti Ratu,” kata Pangeran Bugar Jantung.
“Apakah kau yang bernama Alma Fatara, yang menghadapi pasukan Kerajaan di Alas Tiga Air?” terka Komandan Buto Sisik yang sudah mendengar tentang Alma dari Ratu Warna Mekararum.
“Yap! Paman memang dukun yang hebat, bisa menebak siapa aku. Hahaha!” kata Alma Fatara lalu tertawa.
Pangeran Bugar Jantung hanya menghempaskan napas masygul.
“Oh, jadi Paman benar seorang pangeran. Hahaha! Maafkan aku, Paman, sudah menuduhmu yang tidak-tidak,” kata Alma Fatara kepada Pangeran Bugar Jantung sambil tertawa cengengesan.
“Ah, sudahlah, jika kau memang panglima perang Gusti Ratu. Jika kau ingin menghentikan perang, pergilah bunuh Senopati Gending Suro,” kata Pangeran Bugar Jantung yang bermaksud menantang Alma sekaligus membuktikan kata-kata gadis itu.
“Yang mana, Paman?” tanya Alma Fatara sambil melemparkan pandangan kepada pertempuran yang berkecamuk hebat.
“Orang yang bertarung dengan Panglima Rakean adalah Senopati Gending Suro,” jawab Pangeran Bugar Jantung.
“Oooh, jika Panglima Rakean aku kenal,” kata Alma Fatara.
Dia lalu berjalan maju meninggalkan Pangeran Bugar Jantung dan Komandan Buto Sisik.
“Gending Suro!” teriak Alma Fatara seenaknya. Teriakannya bertenaga dalam sehingga menghentak pendengaran semua orang.
“Hiaaat!”
__ADS_1
Pada saat semua orang terkejut oleh panggilan Alma Fatara sehingga penghentikan separuh pertempuran, Senopati Gending Suro sedang berteriak on fire dengan melompat seperti macan kepada Panglima Rakean. Sementara tinjunya yang membara biru melesat cepat.
Tak! Bug!
“Hugk!” keluh Panglima Rakean saat dia menangkis tinju Senopati dengan palangan batang tongkatnya di depan badan.
Ternyata tinju itu membuat tongkat besi Panglima Rakean patah dan tinju berlanjut menghantam dada sekaligus. Panglima Rakean terdorong keras dengan mulut menyemburkan darah kental.
Sebelumnya, Panglima Rakean telah menderita luka dalam. Hantaman kuat itu samakin memperparah lukanya dan membuatnya sulit untuk bangkit.
Setelah menumbangkan Panglima Rakean, Senopati Gending Suro yang sudah tidak punya senyum segera menengok ke arah jauh, ke seberang pertempuran. Dia melihat sesosok perempuan berjubah hitam berwajah terang sedang berjalan seperti seorang jagoan.
“Hei! Kenapa kalian berhenti bertempur?! Apakah kalian tidak pernah melihat orang paling cantik selautan?!” bentak Alma Fatara kepada pasukan yang berhenti bertempur dan sedang memandangi kedatangannya.
“Hahahak!”
Pecahlah tawa para prjurit yang sedang menonton, termasuk para murid pasukan Perguruan Pisau Merah yang mengenal Alma Fatara.
“Hihihi!” tawa Ratu Warna Mekararum dan Ning Ana mendengar itu, meski mereka tidak melihat keberadaan Alma.
Ning Ana lalu berinisiatif untuk pergi ke luar Ruang Singa dan menerobos pagar betis Pasukan Keamanan Istana yang menutup jalan masuk. Dia ingin menonton langsung pagelaran maut yang terjadi.
Pertempuran kembali dilanjutkan, di mana pasukan Senopati terdesak hebat karena jumlah mereka menyusut drastis. Itu terjadi karena kualitas pasukan Perguruan Pisau Merah dan Kelompok Lutung Pintar di atas para prajurit Kerajaan.
“Gending Suro! Aku akan membalas perbuatan jahatmu terhadap Gusti Ratu Nenek Warna Mekararum. Nyawamu harga pas!” teriak Alma Fatara lagi sambil terus berjalan hendak menerobos ramainya pertempuran.
“Hiaat! Hiaat!” teriak dua prajurit pasukan Senopati sambil berlari datang dari arah kanan dan kiri Alma dengan pedang terangkat siap tebas.
Tus tus tus ...!
“Aaak!” jerit kedua prajurit itu sambil tiba-tiba jatuh terlutut sebelum mereka mencapai Alma Fatara.
Keduanya tumbang oleh tusukan beritme cepat Benang Darah Dewa pada lutut mereka.
Seperti aktris Mega Bollywood yang berjalan di antara puluhan para penari, Alma Fatara berjalan stabil di tengah-tengah orang yang saling bunuh, sambil dia fokus memandang kepada Gending Suro.
Set!
Ketika ada prajurit musuh yang bertarung menghalangi jalannya, seenaknya saja Alma Fatara mengulurkan Benang Darah Dewa dan menjerat leher prajurit itu dari belakang, lalu mengeksekusinya.
“Akk!” Yang menjerit justru murid Pisau Merah yang menjadi lawan si prajurit karena terkejut. Dia mendelik menelan salivanya saat melihat kepala musuhnya jatuh ke tanah lebih dulu daripada badannya.
Dia segera menyingkir, takut jika dia pun dieksekusi tanpa pandang rambut oleh Alma Fatara.
Melihat si prajurit dipenggal tanpa terlihat senjata yang memenggalnya, orang-orang yang melihat hanya bisa terkejut dan merasa ngeri terhadap sosok cantik jelita belia itu.
Orang-orang yang sedang bertempur jadi menyingkir dan memberi jalan tol bebas hambatan kepada Alma Fatara.
__ADS_1
“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat fenomena tersebut.
“Aura Bola Hitam,” sebut Senopati Gending Suro lirih kepada dirinya. Dia terkejut saat merasakan aura sebuah pusaka yang dikenalnya.
“Wahai pasukan Senopati Gending Suro, menyerahlah atau kalian musnah bersama nyawa kalian. Jika kalian menyerah, kalian akan diampuni tanpa eksekusi dan penjara!” seru Alma Fatara tiba-tiba.
“Kami menyerah!” teriak seorang pajrit dari pasukan Senopati. Dia cepat menyambut tawaran Alma Fatara karena sudah sangat jelas bahwa mereka akan kalah.
“Pengkhianat!” teriak Macan Batu marah, sambil tiba-tiba berkelebat ke dekat kepala prajurit yang sudah berdarah-darah itu. Dia langsung menyerang si pajrit dengan cakarannya.
Ternyata ada satu orang yang sigap menyikapi tindakan Macan Batu.
“Bidak (tidak) akan aku biarkaaan!” teriak Ayu Wicara sambil membabatkan pedang besarnya kepada Macan Batu.
Dari pada terkena tebasan pedang besar itu, Macan Batu memilih menahan serangannya dan buru-buru melompat menjauh. Selamatlah nyawa si kepala prajurit.
“Jangan lari dariku, Ayam!” teriak Ki Tonjok Gila yang sempat ditinggal oleh Macan Batu di saat sedang semangat-semangatnya.
Ki Tonjok Gila berkelebat cepat dengan terjangan kaki yang tidak takut jika mendapat cakaran dari Macan Batu. Dia telah melindungi kedua kakinya dengan ilmu kebalnya.
“Kami menyerah!” teriak prajurit pasukan Senopati yang lain sambil turun berjongkok dan meletakkan pedang.
“Kami menyerah! Kami menyerah!” teriak prajurit pasukan Senopati yang lain, yang kemudian diikuti oleh semua rekan-rekan sesama prajurit, kecuali tiga pendekar yang terus bertarung.
Melihat takluknya pasukannya, Senopati Gending Suro menjadi murka. Dia pun melakukan sesuatu.
Psiss! Psist!
Blar blar blar ...!
“Akh! Akk! Akk ...!”
Senopati Gending Suro melempar sebulat besar sinar biru seperti ketika pertama dia datang. Bola sinar itu kemudian pecah di angkasa, melesatkan sinar-sinar biru kecil dengan cepat ke segala arah, mengenai siapa saja yang tidak kuasa menghindar.
Para prajurit pasukan Senopati, murid Perguruan Pisau Merah dan anggota Lutung Pintar berjeritan saat tubuh mereka hancur oleh sinar biru itu, apakah hancur total atau hanya sebagian atau sedikit saja.
Puluhan orang tewas dan terluka.
Melihat serangan pembunuh massal itu, Alma Fatara tiba-tiba melesat maju kepada Senopati Gending Suro dengan telapak tangan maju memukul.
Puk!
Senopati Gending Suro menyambut telapak tangan Alma Fatara dengan tinjunya. Dua pukulan itu bertemu dan saling mengadu tenaga dalam tinggi.
Hasilnya, Senopati terjajar beberapa tindak, sementara Alma Fatara terlempar mundur sejauh dua tombak, tetapi bisa mendarat dengan mulus.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara tanpa menderita luka dalam. “Tidak bohong kabar yang aku dengar bahwa Paman Senopati itu orang sakti.”
__ADS_1
“Huh!” dengus Senopati Gending Suro menanggapi perkataan Alma Fatara yang dihiasi dengan tawa santai, tapi tidak sesantai di pantai. (RH)