
*Dendam Anak Senopati (DAS)*
Puluhan pecahan batu dari pintu yang hancur melesat dalam wujud besar dan kecil, runcing dan tumpul. Mereka melesat terbawa oleh angin dahsyat dari ilmu Sedot Tiup milik Alma Fatara menyerang Raja Tombak Iblis.
Bsess! Das das das...!
Raja Tombak Iblis yang sudah dilanda kemarahan gegara ejekan Bungkuk Gila, sontak mengerahkan ilmu Sarang Lebah Penolong. Lapisan sinar hijau berpola sarang lebah madu muncul di depan tubuh Raja Tombak Iblis.
Perisai sinar itu menghadang semua batu yang melesat bersama angin.
“Hahaha!”
Namun, di belakang serbuan batu itu juga melesat sosok gadis berjubah hitam bersama tawa terbahaknya yang seperti tawa bapak-bapak.
Set! Bong! Krerek!
Prakr!
Belum lagi semua batu rontok karena terbentur oleh dinding sinar hijau, sebuah benda hitam melesat pula menghantam perisai sinar hijau. Hantaman benda hitam seperti bola itu membuat dinding sinar hijau berubah menjadi dinding kristal hijau.
Seiring benda hitam kembali ke tangan kiri Alma Fatara, tinju tangan kanan Alma menghantam keras dinding perisai.
Terkejut Raja Tombak Iblis melihat perisainya hancur berkeping-keping. Namun, sebelum kekuatan serangan lawan menyentuh dirinya, Raja Tombak Iblis cepat melompat mundur jauh.
“Siuuu!” sorak para penonton dari kedua pendukung melihat kedua petarung sudah bentrok sebagai pembuka.
Sementara Juru Tanding sudah memilih pergi dari arena tarung. Dia masuk ke dalam ruangannya dalam kondisi terluka dalam.
Kini Alma Fatara berdiri di tengah-tengah lantai Kolam Merah dengan kalem, setelah berhasil membuat si kakek merah putih mundur menjauh.
“Waaah! Cantiknyaaa!” pekik banyak penonton lelaki yang norak plus mata keranjang. Mereka tidak malu-malu lagi untuk menampakkan kekagumannya kepada wanita cantik sejelita dan sebelia Alma Fatara.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara sambil melambaikan tangannya ke khalayak ramai di atas. Dia bahkan sampai memutar badan demi melambai kepada semua orang.
“Welleh! Ompooong! Hahaha!” teriak seorang pendekar yang ketinggalan ilmu pengetahuan tentang keompongan Alma Fatara. Dia lalu tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
“Hahaha!” tawa banyak penonton, baik yang sudah tahu, apalagi yang baru tahu.
“Kurang setan ajar! Ternyata gadis itu masih semuda ini!” desis Raja Tombak Iblis setelah melihat jelas kemudaan Alma Fatara. Sosok Alma Fatara sangat jauh dari espektasinya.
“Hahahak! Bandotan Merah sudah dibuat mundur pada serangan pertama! Pertanda bakalan mampus!” ejek Bungkuk Gila yang tahu-tahu sudah ada di pagar, di antara para penonton yang berdesakan.
Kemunculan Bungkuk Gila kembali menyulut kemarahan Raja Tombak Iblis.
“Kakek Ganteng!” panggil Alma Fatara sambil berjalan tenang lebih mendekat kepada Raja Tombak Iblis.
Ketua Kelompok Tombak Iblis itu harus mengabaikan Bungkuk Gila dan fokus kepada Alma Fatara yang sudah berbahaya di awal kemunculannya.
“Aku tidak perlu bercerita lagi kenapa aku membunuh 13 Buah Kematian dan berujung dengan menantangmu, Kek. Aku hanya ingin tahu, siapa itu Tebar Kembang dan kenapa dia ingin menghancurkan Kampung Siluman,” ujar Alma Fatara.
Raja Tombak Iblis tidak langsung menjawab. Dia menatap tajam kepada gadis cantik itu. Matanya sudah tidak menyala merah. Sepertinya tensi kemarahannya agak menurun.
“Jujur saja, Kek. Agar aku mati pun tidak penasaran. Lagi pula apa rugimu jika mengungkap siapa itu Tebar Kembang. Jika Kakek tidak mau memberi tahu, lambat laun pun aku akan tahu. Selama aku belum tahu, aku tidak akan mau mati, karena aku tidak mau mati penasaran. Hahaha!” ujar Alma Fatara lalu tertawa santai.
“Baiklah, akan aku beri tahu. Anggap saja ini adalah syaratmu untuk menuju kematian, Bocah....”
“Eit! Jangan sebut aku Bocah, Kek. Aku lebih tua darimu!” kata Alma Fatara memotong kata-kata Raja Tombak Iblis. Lalu katanya lagi, “Karena Kakek akan mati hari ini dan aku akan hidup hingga usia jauh lebih tua dari Kakek Ganteng. Hahaha!”
“Cukup, Kek. Aku sudah paham sekarang. Terima kasih sudah menjawab rasa penasaranku,” ucap Alma Fatara.
“Jadi kau sudah siap mati dengan tenang?” tanya Raja Tombak Iblis dengan senyun tua yang mengejek.
“Hahaha! Salah, Kakek Ganteng. Aku sudah siap membunuh dengan tenang,” ralat Alma Fatara yang didahului dengan tawanya.
Merasa dipermainkan oleh gadis ompong dua itu, semakin murkalah Raja Tombak Iblis, matanya sampai menyala merah seperti lampu lalu lintas.
“Tidak ada ampun bagimu, Bocah! Tidak peduli jika kau masih ingusan! Hiaaat!” teriak Raja Tombak Iblis lalu melesat maju seperti menghilang karena saking cepatnya bergerak. Sementara kedua tangannya masing-masing berbekal sebola sinar jingga dari ilmu Jeruk Pengantar Maut.
Namun jangan salah, nanti tidak naik kelas! Ilmu Jeruk Pengantar Maut Raja Tombak Iblis kadar kekuatannya tidak sama dengan ilmu para muridnya. Tentunya lebih dahsyat.
“Jiaaak!” pekik Alma Fatara terkejut melihat kecepatan gerak si kakek yang tahu-tahu sudah sampai di depannya.
Dia pun terpaksa bergerak maksimal untuk mengimbangi gerak tarung Raja Tombak Iblis. Alma Fatara berani bertarung jarak dekat, padahal dia sendiri dan para pendekar lain tahu bahwa itu sangat berbahaya baginya. Raja Tombak Iblis bisa saja tiba-tiba melesatkan bola sinar jingga di kedua tangannya dari jarak yang begitu dekat.
__ADS_1
Raja Tombak Iblis berusaha menempelkan bola sinar itu kepada anggota tubuh Alma yang mana saja. Jika terkena, maka anggota tubuh Alma Fatara bisa meledak.
Namun, gerak elak Alma terlalu cepat, sehingga menampilkan pertarungan tingkat tinggi yang sulit dilihat jelas oleh mata pendekar biasa, apalagi mata yang rabun.
Sus!
Pada satu kesempatan, Raja Tombak Iblis melesatkan satu bola sinar jingga di tangan kanannya dari jarak yang sangat dekat. Namun, Alma Fatara benar-benar menunjukkan kelasnya, meski dia tidak pernah sekolah formal.
Walaupun tembakan itu dari jarak yang begitu dekat, Alma Fatara bisa menyelamatkan tubuhnya dari terkena tembak, seolah-olah dia bisa membaca arah gerakan Raja Tombak Iblis.
Si kakek pun sampai terkejut melihat kenyataan yang tidak diduga-duganya. Namun, dia menduga dan berkeyakinan bahwa selamatnya Alma Fatara hanyalah suatu keberuntungan. Karena keyakinan itulah, Raja Tombak Iblis kembali mencobanya.
Set! Sus! Set! Sus!
Terkejut Raja Tombak Iblis. Ketika dia menghentakkan tangan kanannya untuk menembak Alma Fatara dari jarak dekat, sudah ada benang merah yang melingkari lengannya dan melakukan penarikan juga. Pencekalan Benang Darah Dewa itu membuat tembakan Jeruk Pengantar Maut jadi mencong, tidak lurus.
Hal yang sama terjadi ketika Raja Tombak Iblis juga menghentakkan tangan kirinya. Ada benang merah yang nyaris tidak terlihat lebih dulu melilit di lengan kiri sang raja tombak. Pencekalan itu juga memberi hasil yang sama, yaitu membuat tembakan bola sinar jingga tidak lurus.
Set set set...! Beg!
“Hukh!”
Di kala gerakan kedua lengan Raja Tombak Iblis terbatas oleh cekalan Benang Darang Dewa, Alma Fatara bergerak memasukkan serangan kedua tangannya yang setajam pedang.
Alma Fatara merobek-robek badan depan Raja Tombak Iblis, membuat semua penonton terkejut, bahkan Alma sendiri terkejut.
Jika penonton terkejut karena melihat serangan Alma Fatara bisa bersarang telak pada badan Raja Tombak Iblis, maka Alma Fatara terkejut karena ternyata kakek itu kebal. Hanya pakaian Raja Tombak Iblis yang tercabik-cabik oleh ketajaman jari-jari Alma Fatara.
Karena agresi tangan pedangnya gagal, Alma memilih menutup agresinya dengan satu tinju keras ke dagu Raja Tombak Iblis.
Tubuh si kakek sampai terhentak ke belakang dan termundur tiga tindak.
“Hahahak! Bangkotan Merah jadi orang gilaaaa!” teriak Bungkuk Gila senang bukan main melihat pakaian depan Raja Tombak Iblis yang compang camping.
“Hahaha!” tawa sebagian penonton mendengar ejekan Bungkuk Gila, termasuk Alma pun tertawa.
Sementara itu, Raja Tombak Iblis benar-benar merasa dipermalukan di depan banyak orang. Sudah berulang kali dia ditertawakan banyak penonton. Namun apa hendak di kata, kondisi sudah kadung menjadi bubur kacang merah.
__ADS_1
Kesaktian Alma Fatara benar-benar membuat Raja Tombak Iblis terkejut. (RH)