
*Pasukan Kerajaan Siluman (PKS)*
Sess! Blar!
Peri Genang, salah satu anggota Peri-Peri Pengisap, yang mengejar pembunuh Gambira, melesatkan satu sinar kuning berekor ke atas salah satu pohon besar. Sebelum sinar kuning itu menghancurkan bagian atas pohon, sesosok wanita berbusur berpakaian merah muda berkelebat cepat seperti gangsing meninggalkan batang pohon.
Set! Bret!
Hebatnya, sambil berputar seperti itu di udara, sosok wanita berpakaian pink bisa memanah Peri Genang dengan tepat.
Terkejut Peri Genang dengan model serangan panah tingkat tinggi itu. Untung, dia refleks berkelit, meski harus mengorbankan bahu kanan bajunya yang tersambar anak panah. Itu membuat bahu kanannya terbuka, memperlihatkan kulit yang kuning langsat seperti kulit langsat. Namun, itu bukanlah perkara besar.
Kini, si cantik Sekar Mekar anggota Sayap Panah Pelangi berhadapan dengan Peri Genang.
“Biarkan aku yang menghadapinya, Sekar!” seru si ganteng Aliang Bowo yang datang setengah berlari ke lokasi.
“Dengan senang hati, Kakang,” jawab Sekar Mekar seraya tersenyum.
Drap drap drap...!
Tiba-tiba di belakang Peri Genang muncul sepasukan panah yang berlari mendekati lokasi.
Set set set...!
Namun, tiba-tiba pula, dari jauh arah belakang Sekar Mekar dan Aliang Bowo melesat sembilan anak panah yang menyambut kedatangan pasukan panah Kerajaan Singayam.
“Aak! Akk! Akk...!” jerit sembilan prajurit panah berseragam hitam itu saat kesembilan anak panah yang datang masing-masing memilih satu nyawa.
Sambutan anak panah itu memaksa pasukan panah berhenti dan segera pasang posisi siap panah.
Set set!
Namun, belum lagi mereka memanah, sekelebatan orang melintas di sisi kanan mereka sambil melesatkan sejumlah senjata berwujud pisau-pisau kecil. Orang itu membawa bendera di punggungnya.
“Aaak! Akh! Akk...!” jerit sejumlah prajurit yang terkena senjata pisau beracun milik Pendekar Tampan Iwaklelet Juling Jitu.
Kemunculan Juling Jitu menjadi pertanda bahwa Pasukan Genggam Jagad sudah tiba.
Serangan dari samping itu membuat perhatian pasukan panah yang berkurang drastis jadi terpecah.
Set set set...!
__ADS_1
Meski demikian, pasukan panah masih sempat melepaskan belasan anak panah kepada Sekar Mekar dan Aliang Bowo. Namun, yang mereka panah bukan pendekar biasa.
Dengan gesit kedua pendekar yang dipanah bergerak menghindari panah-panah yang menyerang mereka.
Set!
“Akk! Akk! Akk!”
Hebatnya Sekar Mekar, sambil melompat menghindari serangan, dia bisa melepaskan tiga anak panah sekaligus yang pastinya membunuh tiga orang juga.
Pasukan panah jadi kacau karena Juling Jitu masuk ke dalam barisan mereka dan bertarung dengan sengit menggunakan dua pisau beracunnya. Satu per satu prajurit panah bertumbangan.
“Ayo, Manis! Kita bertarung!” seru Aliang Bowo kepada Peri Genang yang sempat terpaku karena terkejut dengan kemunculan para pendekar yang tiba-tiba.
Peri Genang memang wanita yang manis. Entah, apakah kemanisannya akan memberi efek tawar kepada Aliang Bowo.
“Akan aku buat kalian menyesal!” teriak Peri Genang lalu maju mendatangi Aliang Bowo dengan serangan tangan bertenaga dalam.
Pertarungan saling jual beli serangan tanpa kembalian terjadi antara kedua orang muda itu.
Sementara Sekar Mekar dengan santai melakukan pembersihan pasukan panah lawan dengan memanahi mereka satu per satu, seperti sedang memetik hasil panen saja.
“Seraaang!”
“Seraaang!” teriak banyak prajurit berseragam hitam sambil berlari dengan tombak siap tusuk apa saja yang bisa ditusuk.
Namun, belum juga pasukan itu sampai ke titik pertempuran, tiba-tiba dari arah barat, tepatnya dari balik rapatnya pohon pisang, terdengar pula teriakan komando lain.
“Seraaang!” teriak Komandan Are Are yang muncul dari balik pepohonan pisang.
“Seraaang!” teriak pasukan berseragam merah gelap yang mengikuti di belakang komandan Pasukan Kadipaten Sengat itu.
Terkejut pasukan berseragam hitam karena mereka yang ingin menyerang, justru diserang.
Dan yang lebih membuat pasukan berseragam hitam down mental tempurnya adalah munculnya delapan senjata piringan emas, yang terbang di atas para prajurit kadipaten yang berlari.
Set set set...!
Sebelum kedua pasukan itu bertemu, kedelapan piringan warna emas itu lebih dulu menyembelihi para prajurit kerajaan.
Serangan piringan terbang itu membuat panik pasukan tombak, sehingga ketika pasukan kadipaten yang jumlahnya ratusan orang tiba menyerang, pasukan kerajaan tidak begitu siap, meski secara kualitas mereka seharusnya lebih unggul.
Kedelapan piringan emas melesat balik setelah melakukan pembantaian pembuka. Sebanyak empat wanita cantik muncul berkelebat di udara dan menangkap dua dua piringan terbang milik mereka. Mereka tidak lain adalah anggota Lima Dewi Purnama.
__ADS_1
Duet Juling Jitu dan panah Sekar Mekar membuat pasukan panah bisa dihabisi. Selanjutnya, Juling Jitu yang sedang on fire itu melanjutkan bergabung bersama Komandan Are Are dan pasukan kadipaten.
Selanjutnya, keempat anggota Lima Dewi Purnama bergabung dalam pertempuran untuk mempercepat menghabisi pasukan kerajaan.
Pak!
Sementara itu, pertarungan antara Peri Genang dan Aliang Bowo masuk ke tahap lebih serius yang berujung dengan peraduan dua pukulan telapak tangan. Kedua pendekar itu saling terdorong mundur, menunjukkan bahwa tingkat tenaga dalam mereka tidak jauh berbeda.
Namun, ada yang tidak diketahui oleh Peri Genang, yaitu adanya sinar hijau di telapak tangannya setelah bentrokan pukulan itu. Sinar hijau itu tidak terlihat oleh mata Peri Genang tapi terlihat oleh Aliang Bowo karena dia yang memasangnya ilmu Jerat Ledak-Ledak tersebut, ilmu yang paling sering digunakan oleh murid-murid mendiang Jerat Gluduk.
Blar!
“Aaak...!” jerit panjang Peri Genang saat tiba-tiba tangan kanannya pecah meledak, hancur hingga pergelangan tangan. Dia sampai terhuyung hendak jatuh.
Jeritan Peri Genang membuat Juling Jitu dan keempat anggota Lima Dewi Purnama menengok sekilas melihat apa yang terjadi.
Set!
“Aak!” pekik Peri Genang lagi, saat dua anak panah Sekar Mekar tahu-tahu telah menancap di leher dan dadanya. Padahal dia belum banyak mengeluarkan ilmu kesaktiannya.
Peri Genang pun tidak bertahan lama untuk bertahan hidup.
“Kau sadis juga, Kakang,” kata Sekar Mekar kepada Aliang Bowo yang membuat pemuda tampan itu terbeliak.
Sekar Mekar lalu berkata lagi kepadanya.
“Jika aku yang sadis tidak mengherankan, karena kami sama-sama wanita,” katanya, lalu berlalu seiring munculnya beberapa anggota Sayap Panah Pelangi.
“Sekar, ayo beralih membantu yang lain!” ajak Senyumi Awan.
Sekar Mekar pun meninggalkan tempat pertempuran itu bersama ketiga rekannya.
“Memangnya apa salahku?” tanya Aliang Bowo kepada dirinya sendiri, sambil memandangi mayat Peri Jenang yang bersimbah darah dan sudah tidak cantik lagi karena matanya mendelik dengan mulut menganga berisi darah.
Dari arah selatan muncul rombongan pasukan berkuda yang dipimpin langsung oleh Alma Fatara, Ratu Kerajaan Siluman.
“Munduuur!” teriak seorang prajurit berseragam hitam kepada pasukannya yang tinggal belasan orang. Dia tidak mau memilih bertahan sebagai prajurit setia setelah melihat kemunculan pasukan berkuda.
Belasan prajurit berseragam hitam buru-buru mundur untuk menyelamatkan diri, meninggalkan puluhan mayat rekan-rekan mereka.
Pasukan kadipaten segera bekerja membersihkan jalan dari halangan mayat, karena ada kereta kuda yang juga butuh lewat dengan lancar.
Kuda Alma Fatara dan Pangeran Sugang Laksamana bisa lewat dengan lancar menuju ke pusat Ibu Kota. Dalam pasukan itu tidak terlihat keberadaan Mbah Hitam dan pasukan pendekar wanita, yaitu Sayap Pelangi. (RH)
__ADS_1