Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
PKS 25: Memilih Bokong Bagus


__ADS_3

*Pasukan Kerajaan Siluman (PKS)*


 


Saat itu, Bungkuk Gila telah melindungi warga dengan kubah sinar biru. Ia pun berada di antara warga Ibu Kota, tepatnya di antara emak-emak yang sempat gemas geregetan kepadanya.


Di sisi luar, Panglima Tebing Gali sudah menggenggam tombak sinar merah berapi-api. Itu energi padat dari ilmu Tombak Penusuk Dunia, bukan penusuk yang lain.


Di belakang Panglima Tebing Gali ada delapan wanita dari Peri-Peri Pengisap yang dipimpin oleh Peri Tamak. Mereka tidak tahu bahwa dua anggotanya sudah mati di tangan Pasukan Genggam Jagad.


Ratusan prajurit panah dan tombak masih ada yang berbaris di sekeliling area.


Melihat apa yang dilakukan oleh Panglima Tebing Gali, cemaslah semua warga. Suara tawa kakek bungkuk yang wajahnya rusak itu tidak cukup untuk menenangkan perasaan mereka. Meski mereka baru saja tahu, ternyata kakek yang barusan kentut seperti klason bus antarprovinsi itu adalah orang sakti, bukan orang gila.


Set! Blar!


“Aaakk!” jerit sebagian warga saat mendengar ledakan, ketika tombak sinar dilempar oleh Panglima Tebing Gali. Mereka terkejut dan ketakutan, meski hantaman Tombak Penusuk Dunia tidak berhasil menghancurkan kubah sinar.


“Aaak!” jerit Ki Kocol terkejut dan menutup matanya, lalu ia tumbang ke samping. Kepalanya jatuh dipangkuan Muning yang duduk bersimpuh di tanah.


“Ki Kocol! Ki Kocol!” sebut Muning menjadi panik sambil menepak-nepak wajah lelaki separuh abad plus satu tahun itu.


“Hahaha! Ingat waktu aku muda, suka pura-pura pingsan di paha gadis cantik. Hahaha!” kata Bungkuk Gila melihat tingkah Ki Kocol.


Mendengar perkataan dan tawa Bungkuk Gila, Muning seketika berhenti panik.


“Dasar lelaki akal bulus!” maki Muning sambil menarik daun telinga Ki Kocol.


“Ak ak! Sakit, Muning!” teriak Ki Kocol bangkit dari pingsannya yang hanya sandiwara dalam ketakutan.


“Hahaha!” tawa sebagian warga yang melihat kelakuan Ki Kocol dan Muning. Itu cukup untuk menghibur mereka di tengah ketakutan.


“Tenanglah kalian semua, benteng perlindunganku ini sangat kuat, sekuat kentutku. Hahaha!” kata Bungkuk Gila lalu tertawa.


Mendengar perkataan kakek asing itu, para warga hanya tertawa getir dengan mata masih menunjukkan kekhawatiran.


“Kalian tenanglah di sini. Aku mau ke luar dulu. Di sana banyak wanita cantik. Hehehe!” kata Bungkuk Gila kepada para warga.


“Iya, Kek!” ucap para warga itu menurut.


Clap!

__ADS_1


Tiba-tiba sosok Bungkuk Gila menghilang begitu saja seperti terkena kekuatan tongkat sihir. Dia tahu-tahu muncul tanpa suara di belakang para wanita Peri-Peri Pengisap.


“Yang mana bokong paling bagus, ya?” ucap Bungkuk Gila sambil memandangi bokong para Peri-Peri Pengisap.


Ucapannya yang pelan terdengar oleh para wanita cantik itu. Mereka sontak menengok ke belakang.


Dilihatnya Bungkuk Gila sedang memerhatikan bokong-bokong mereka dengan seksama, seperti orang yang sedang memilih buah durian di pedagang pinggir jalan.


“Ak! Kakek Mesum!” pekik Peri Mayang karena bokongnya diremas oleh Bungkuk Gila.


Para wanita itu sontak berbalik. Dua tendangan keras langsung menyerang si kakek.


“Hehehe!” kekeh Bungkuk Gila sambil melompat mundur menghindari serangan kaki dua wanita di antara mereka.


Melihat pendekar bungkuk muncul mengusik para pendekar wanita, pasukan yang sejak tadi tidak ada pekerjaan, segera berlari teratur dan mengepung posisi Bungkuk Gila.


“Jiaaak! Ulaaar! Ulaaar!” teriak beberapa prajurit dari pasukan itu sambil berlari bubar.


Keberadaan ular hitam sebesar batang pohon besar yang tiba-tiba merayap di antara kaki-kaki, membuat para prajurit berlari tunggang langgang ke segala arah. Serasa ingin copot jantung mereka. Masih untung, ular hitam itu tidak melilit mereka atau mematuk.


Pada kemudiannya, ular hitam yang sebenarnya adalah jelmaan Mbah Hitam, Tangan Kanan Ratu Siluman, duduk cantik melingkar pada tubuhnya sendiri dengan kepala yang tegak, seolah-olah siap menjadi penonton yang baik.


Kini, perhatian Panglima Tebing Gali, Peri-Peri Pengisap, semua prajurit, dan warga di dalam kubah perlindungan tertuju kepada sosok ular Mbah Hitam. Padahal si ular diam saja, tidak melakukan tarian ular atau atraksi jurus ular. Dia malah menjulur-julurkan lidah bercabangnya, seakan-akan sedang melewek mereka yang memandanginya terus tanpa ada yang naksir.


Seganteng-gantengnya seekor ular, tetap saja tidak akan ada manusia yang jatuh hati.


“Woi woi woi! Aku lebih ganteng dari ular itu, kenapa kalian hanya memandanginya?” teriak Bungkuk Gila kepada para pendekar wanita mencari perhatian.


Panglima Tebing Gali dan pasukannya memendam keheranan. Setelah munculnya kakek aneh yang sakti, kini muncul seekor ular besar yang aneh. Ular itu muncul hanya menakuti lalu diam di tempat duduknya.


“Kakek Tua! Siapa kau sebenarnya?!” seru Panglima Tebing Gali. Siapa tahu orang sakti itu bisa disuruh pergi dengan dialog. Mungkin saja kedua makhluk itu bukan manusia, tetapi jurig penunggu daerah itu.


“Kakek Tua? Sebut aku Kakek Muda!” hardik Bungkuk Gila.


Panglima Tebing Gali yang awalnya mau cara dialog, justru terpancing marah oleh sikap Bungkuk Gila.


“Keparat Tua Bangka! Kau mau cari mati atau mau cari selamat, hah?!” bentak Panglima Tebing Gali membalas.


“Panglima tolol!” maki Bungkuk Gila, kian membuat Panglima Tebing Gali kian murka. “Orang mana yang memilih mati jika masih ada perempuan cantik. Hahaha!”


“Hiaaat!” teriak Tebing Gali sambil melemparkan tangan kanannya.

__ADS_1


Ses ses ses!


Dari lemparan tangan itu melesat cepat tiga sinar merah seperti onde-onde berekor benang.


Bles bles bles!


“Oeeek!” pekik Bungkuk Gila seperti bayi tua, saat ketiga sinar merah itu menembus tubuhnya hingga bolong tiga.


“Keparat sapi! Kesaktian satu kepeng saja sudah bertingkah seperti pendekar dewa!” maki Tebing Gali kesal sendiri melihat fakta bahwa Bungkuk Gila tidak hebat-hebat sekali.  “Baru serangan seperti itu saja sudah mati!”


Bungkuk Gila memang tumbang dan tidak bergerak lagi.


“Aku suka bokong yang ini,” kata Bungkuk Gila yang tahu-tahu sudah menepak bokong Peri Tamak.


Bukan hanya Peri Tamak yang terkejut selaku yang punya bokong, tetapi semuanya, saat melihat Bungkuk Gila dengan seenaknya melecehkan pemimpin Peri-Peri Pengisap itu.


Mereka cepat melihat kepada sosok Bungkuk Gila yang mati. Ternyata mayat kakek bungkuk itu sudah lenyap tanpa berbekas.


“Benar-benar cari mati!” desis Peri Tamak gusar, lalu dia menyerang Bungkuk Gila dengan serangan tangan berwarna hitam.


“Hahaha!” tawa Bungkuk Gila sambil mengelaki semua serangan Peri Tamak dengan mudah.


“Biar aku bantu, Ketua!” seru Peri Mayang yang tadi bokongnya diremas oleh Bungkuk Gila.


Peri Tamak dan Peri Mayang mengeroyok Bungkuk Gila, tetapi tetap saja Bungkuk Gila tidak tersentuh. Bungkuk Gila banyak menggunakan ranting berdaun segarnya untuk menangkis serangan-serangan tangan hitam Peri Tamak dan Peri Mayang.


“Pasukaaaan! Bunuh ular itu!” teriak Tebing Gali kepada pasukannya. Selagi masih ada pasukan, untuk apa kuras tenaga untuk mengatasi musuh.


Karena sudah sejak tadi memandangi si ular hitam, jadi para prajurit pasukan kerajaan itu sudah tidak terlalu takut.


“Panah!” terdengar teriakan komando.


Set set set...!


Pasukan panah pun melesatkan anak panahnya ke satu target, yaitu ular hitam. (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Istrinya dibawa pergi oleh kelompok pembunuh di hari pernikahan. Mampukah Rugi Sabuntel si pendekar gendut mengambil kembali wanita miliknya? Ataukah akan terjadi hal buruk kepada istri cantiknya? Hanya di novel "Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar".


__ADS_1


__ADS_2