
*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*
Matahari telah lewat pada puncak maksimalnya. Meski hari itu terik, tetapi tidak melayukan semangat para pejabat untuk berduyun-duyun datang menuju Ruang Singa. Para pejabat pemerintahan dan pejabat militer.
Mereka tampil dalam busana dan tampilan terbaiknya, seolah-olah itu adalah hari raya. Pejabat pemerintah mengenakan pakaian lengkap, yakni celana, baju hingga totopong dan perhiasan emas perak. Adapun perwira militer identik dengan tampilan badan terbuka, maklum tubuh mereka berotot kekar-kekar. Jikapun tubuh mereka ditutupi, hanya menggunakan kain selempangan.
Itu dari kalangan Kerajaan. Sementara para pemimpin pasukan dari luar Kerajaan dan para pendekar yang membantu Gusti Ratu Warna Mekararum memenangkan peperangan, juga hadir dalam Sidang Umum di Ruang Singa, bahkan selevel Ning Ana yang hanya menjadi beban bagi yang lain juga ikut hadir dalam sidang.
Ning Ana bertingkah udik. Ini kali pertama dia berada dalam ruang megah yang dihadiri oleh orang-orang hebat menurutnya. Hebat dalam perawakan dan hebat dalam penampilan. Orang-orang itu benar-benar tampil dalam kesempurnaan. Tanpa henti-henti dia terkagum-kagum melihat kegagahan dan ketampanan.
Magar Kepang, Garam Sakti, Debur Angkara dan Ayu Wicara ternyata setali dua tali dengan Ning Ana. Mereka tidak henti-hentinya pula terkagum-kagum melihat para pejabat dan perwira yang hadir. Maklum mereka hanyalah orang-orang dari desa terpencil di pinggir pantai.
Para pejabat dan perwira tidak pula melewatkan dari memerhatikan kelompok adipati dan para pendekar, termasuk para sahabat dekat Alma Fatara. Jika para adipati dan dua pemimpin Perguruan Pisau Merah bisa percaya diri, maka Magar Kepang cs menjadi minder.
Magar Kepang cs merasa merekalah yang paling dekil. Berbeda dengan Ki Tonjok Gila dan Emak Lutung, meski mereka dekil, tetapi mereka masa bodoh.
Ruang Singa hari itu telah di-setting seperti Pendapa Agung Sejagad, dimana ada kursi tahta teruntuk Prabu Marpata dan Permaisuri Palilin. Di sisi lain ada pula sebuah kursi bagus yang posisinya terpisah sendiri di sisi kanan, tapi sejajar dengan tahta raja.
Nang ning nong oek!
Nang ning nong oek!
Sambil menunggu kedatangan Prabu Marapata dan Gusti Ratu Mekararum, para hadirin disuguhi oleh tarian dari para penari Istana yang diiringi dengan irama gamelan.
Ketika para penari memasuki panggung yang tanpa panggung, maksudnya menari di ruang kosong di depan para hadirin, para mata lelaki segera fokus sembari sunggingkan senyum memandangi para penari yang cantik-cantik dengan kemudaan dan dandanannya. Ditambah para penari itu berpakaian dengan bertelanjang bahu dan berkemben setengah dada.
Kecantikan itu terkesan setengah erotis ketika para penari melakukan gerakan-gerakan pinggul yang menggoda. Memang tidak semua para lelaki yang hadir tergoda dengan suguhan pertunjukan hiburan itu, banyak juga pejabat yang ogah melirik wanita lain karena yang ada di rumah lebih cantik dan seksi, apalagi bisa langsung pakai.
Namun, semodel Magar Kepang, Garam Sakti dan Debur Angkara berbeda cerita. Mereka merasa bahwa ini yang namanya benar-benar kebahagiaan hidup di Istana. Semua wanitanya bening-bening, bersih-bersih dan cantik-cantik. Penglihatannya saja bisa bahagia, apalagi jika sudah memiliki rumah dan jabatan di Istana, pastinya bukan hanya mata yang bisa bahagia, semua anggota tubuh mungkin bisa memberi bahagia.
__ADS_1
Sambil menunggu dan menonton pertunjukan para penari yang cantik-cantik dengan gerakan tangan dan tubuh yang gemulai, para pejabat juga mengisi waktu dengan berbincang-bincang sesama di antara mereka.
“Bagaimana bisa kalian berkhianat dan beralih menjadi pasukan Gusti Ratu?” tanya Panglima Belut Ireng kepada dua panglima sepangkatannya, yaitu Panglima Pulung Seket dan Panglima Galagap.
“Jika aku tidak berkhianat kepada mendiang Senopati, pasti kau tidak akan pernah bertanya kepadaku karena aku sudah mati,” jawab Panglima Pulung Seket tanpa lepas pandangannya dari para penari yang bergoyang dengan pinggul-pinggul besarnya. “Kau bisa bayangkan kondisi aku dan pasukanku, empat ribu pasukan yang dipimpin Panglima Utama dibantai habis dalam waktu seratus hitungan belaka oleh Panglima Dewi.”
“Beruntung kau, Belut Ireng. Aku dengar Panglima Dewi hanya menghancurkan gerbang bentengmu,” kata Panglima Galagap sembari melirik rekannya itu. “Jika kau masih penasaran, dia akan senang hati jika kau ajak bertarung. Jika kau masih merasa sebagai panglima yang belum tersentuh, sadarlah. Gusti Senopati saja bisa diakhiri tidak sampai satu malam.”
“Ya, ya, ya. Aku bisa memahami kondisi kalian,” kata Panglima Belut Ireng memilih damai.
“Kakang Garam!” panggil Ning Ana pelan dengan wajah merengut karena melihat kekasih besarnya itu begitu antusias menonton tarian, sampai-sampai dua bibirnya terbuka sedikit.
“Hmm!” Garam Sakti hanya menyahut dengan gumaman tanpa menengok melihat wajah kekasih kecilnya.
“Kakang Garaaam!” Kali ini Ning Ana berteriak kencang.
Teriakan Ning Ana tidak hanya mengejutkan Garam Sakti dan rekan-rekannya, tetapi juga mengejutkan semua orang, sampai-sampai beberapa penari lupa dengan gerakan tariannya karena terkejut.
“Apakah karena bibirku bengkak lalu Kakang lebih suka memandang para penari itu? Aku juga bisa menari seperti mereka. Apakah perlu aku buka baju dan menari di depanmu?!” tanya Ning Ana berteriak-teriak.
“Hahaha ...!” Meledaklah tawa sebagian orang mendengar kata-kata Ning Ana.
Kondisi itu seketika membuat Garam Sakti pucat dan berkeringat. Dia merasa malu karena menjadi pusat perhatian orang-orang besar. Berbeda dengan Ning Ana yang cuek, buktinya dia berani menari telanjang di muka umum jika kekasihnya meminta.
“Hei, Kutu Ingusan! Aku mau lihat keberanianmu buka baju lalu menari seperti para penari itu. Aku berani bertaruh, tidak akan ada yang selera! Hihihi!” teriak Sumirah dari posisi yang agak berjauhan dari kelompok Magar Kepang. Saat ini dia memang sedang bermusuhan dengan Ning Ana.
“Diam kau, Buaya Kakus!” bentak Ning Ana sambil menunjuk ke arah Sumirah. Seperti anak remaja yang menantang wanita dewasa. “Ingat, kita akan bertarung. Akan aku kuliti kulit buayamu agar terbongkar bahwa kau sebenarnya adalah seekor tokek. Weeek!”
Ujung-ujungnya Ning Ana melewek kepada Sumirah.
__ADS_1
“Hahaha!” tawa para pejabat mendengar itu. Baru kali ini mereka melihat ada pertengkaran dua mulut wanita di dalam Sidang Umum. Apalagi kata-katanya sangat tidak bermoral.
“Para Nisanak! Hentikan pertengkaran kalian!” seru Pangeran Bugar Jantung menghardik dari barisan terdepan di kelompok Keluarga Kerajaan. “Kami minta kalian untuk sementara jaga kesopanan di dalam acara agung ini.”
“I-iya, Gusti Pangeran,” ucap Ning Ana setelah menelan salivanya. Wajahnya kian merengut.
“Su-su-sudah, jangan cemburu. Aku hanya menonton saja, tidak akan ikut menari bersama mereka,” kata Garam Sakti berbisik untuk menenangkan Ning Ana.
“Kau itu jangan sembayangan (sembarangan) bicara di acara sakral seperti ini, Ning Anu,” kata Ayu Wicara.
“Diam kau, Keong Racun!” hardik Ning Ana kepada Ayu, tapi suaranya tidak sekencang tadi.
“Aku peringatkan kalian. Kalian berdua jangan ada yang bicara jika tidak ditanya!” ancam Magar Kepang kepada dua wanita yang lidahnya sama-sama bermasalah itu. Magar Kepang menggunakan senioritasnya untuk memberi perintah.
“Gusti Prabu dan Gusti Permaisuri tibaaa!” teriak prajurit di sisi dalam memberi pengumuman.
Seketika itu juga gamelan berhenti dan para penari pun berhenti bergerak di tempat.
“Sembah hormat!” teriak prajurit itu lagi ketika langkah kaki Prabu Marapata dan Permaisuri Palilin terlihat memasuki ruang sidang yang luas.
Serentak para pejabat dan perwira bergerak turun berlutut dengan dua lutut, lalu duduk bersimpuh sambil mempertemukan kedua telapak tangan di depan dahi yang menunduk dalam.
Para pendekar segera mengikuti apa yang dilakukan oleh para pejabat, termasuk para sahabat Alma Fatara.
“Hormat sembah kami, Gusti Prabu, Gusti Permaisuri! Kasih sayang Dewa Maya Pada kepada Gusti Prabu dan Gusti Permaisuri!” ucap para pejabat Istana maupun para pemimpin kadipaten serentak.
Sementara para pendekar hanya bisa diam tanpa berucap karena mereka memang belum tahu aturan Istana.
“Gusti Ratu Warna Mekararum tibaaa!” teriak prajurit yang sama. “Sembah hormat!”
__ADS_1
“Hormat sembah kami, Gusti Ratu! Kasih sayang Dewa Maya Pada kepada Gusti Ratu!” ucap para pejabat lagi dalam posisi yang masih bersimpuh. (RH)