
*Dendam Anak Senopati (DAS)*
“Pertandingan berikutnya!” teriak Juru Tanding Kolam Merah dengan suara bertenaga dalam, membuat suaranya keras dan menggema di dalam lubang batu raksasa itu.
Juru Tanding Kolam Merah adalah seorang lelaki separuh baya berpakaian serba hitam berwajah sangar dengan kumis panjang melintang, seperti kumis Tuan Takur dari Jepang. Dia selalu pergi ke tengah dasar Kolam Merah sambil membawa papan catatan. Sepertinya dia lemah dalam hal hafalan.
Para penonton atau para pendekar yang bertarung tidak pernah tahu nama aslinya. Mereka hanya mengenalnya dengan sebutan Juru Tanding.
“Pendekar wanita yang sedang hamil cantik bernama Laris Manis dengan pita hijau, menantang mantan suaminya, yaitu Rubi Salangka yang berjuluk Si Ganteng Tongkat Perkasa, tapi lebih terkenal dengan julukan Pendekar Pengawin, dengan pita kuning!” teriak Juru Tanding.
Setelah pengumuman itu, para penjudi segera menentukan pilihan siapa yang akan mereka jagokan untuk menang. Para penonton mengenal Laris Manis sebagai pendekar yang cantik hingga pada tujuh bulan yang lalu, hingga akhirnya dia menjadi istri Rubi Salangka.
Para penonton pun lebih mengenal Rubi Salangka dengan style yang unik dan mudah dicirikan, terlebih dia sudah populer sebagai pendekar tukang kawin. Mereka semua sudah memiliki daftar sejumlah pendekar wanita yang pernah dikawini oleh Rubi Salangka lalu ditinggalkan alias dicerai dengan berbagai metode.
Setelah pengumuman itu, Juru Tanding kembali masuk ke sebuah pintu yang ada di dinding Kolam Merah yang dalamnya tiga kali tinggi badan orang dewasa. Untuk sementara, pertandingan jeda selama tiga kali durasi membelah dan makan durian.
Waktu jeda itu diberikan untuk memberi kesempatan kepada para petaruh memasang taruhannya. Salah satunya adalah Putri Manila Sari. Dia diantar oleh Bambu Jangking untuk memasang taruhan. Karena berdesakan, akhirnya Bambu Jangking menawarkan diri membantu memasang taruhan.
Manila Sari ternyata menjagokan Laris Manis untuk menang dengan mendapat pita hijau, di saat kebanyakan petaruh manjagokan Pendekar Pengawin yang berpita kuning.
“Aku pikir kau akan bertaruh untuk Rubi, Putri,” kata Alma Fatara saat melihat warna pita yang dimiliki oleh Manila Sari.
Di kasir judi, ada beberapa pegawai wanita yang melayani taruhan para petaruh, sehingga urusan pemasangan taruhan bisa cepat selesai. Para pegawai itu bekerja dengan gerakan tangan yang cekatan, seolah-olah pekerjaan itu memang sudah menjadi pekerjaan mereka setiap hari. Uang-uang taruhan yang masuk langsung dilempar begitu saja ke belakang, di mana ada sebuah bak batu besar yang berisi lautan kepeng.
Fiiit!
Salah seorang pegawai kasir judi meniup sebuah peluit bambu setelah para petaruh sudah terlayani semua. Tiupan peluit yang nyaring itu sebagai pemberitahuan kepada Juru Tanding.
Tidak lama kemudian, Juru Tanding kekuar dari pintu di dinding Kolam Merah dan berhenti di tengah arena.
“Kedua petarung, Laris Manis dan Rubi Salangka, keluarlah!” teriak Juru Tanding kencang menggema.
Jegleg! Jegleg!
Dua pintu batu di dinding Kolam Merah yang saling berseberangan terbuka. Maka keluarlah wanita cantik berperut bunting karena hamil. Dia membawa tongkat kayu bagus sebagai senjatanya. Wanita cantik yang terlihat semakin cantik karena kehamilannya itu, menunjukkan wajah yang marah, seolah-olah memendam dendam kesumat kepada Rubi Salangka yang keluar dari pintu yang lain dengan toya pendek di tangannya.
__ADS_1
Berbeda dengan Laris Manis, Rubi Salangka keluar berjalan dengan tersenyum.
“Siuuu!” sorak para penonton ketika melihat kedua petarung sudah keluar dari ruang gantinya masing-masing.
Sementara itu, Juru Tanding berjalan masuk ke pintunya sendiri tanpa memberi sepatah kata pun kepada kedua petarung.
Rubi Salangka melambaikan tangan kepada para penonton di atas sana, seolah-olah dialah bintang pada pertarungan itu.
“Pendekar Pengawin, kau wajib menang, karena kau lebih kuat dan lebih sakti dibanding istrimu!” teriak salah seorang pendekar yang bertaruh untuk Rubi Salangka.
“Benar! Awas jika kau yang mati, Rubi. Aku akan menuntut ganti rugi kepadamu!” teriak pendekar yang lain.
“Perempuan hamil pasti lebih lemah dari sebelum dia hamil. Jangan kalah, Rubi!” teriak yang lain pula.
“Laris Manis, kau harus bunuh si tukang kawin itu. Aku siap menjadi suamimu demi anakmu!” teriak seorang pendekar separuh baya kepada Laris Manis.
Teriakan itu membuat Laris Manis melirik tajam ke atas, kepada pendekar tersebut. Melihat ternyata pendekar itu sudah bau batu nisan, ingin rasanya Laris Manis muntah janin, tapi itu tidak mungkin.
“Laris Manis, kita sesama wanita. Aku bertaruh untukmu. Aku yakin kau bisa membunuh lelaki seperti itu!” teriak seorang pendekar wanita yang juga ikut bertaruh, tapi bukan Manila Sari.
“Aku hanya meninggalkanmu sebentar, hanya beberapa bulan, tetapi kau sudah begitu benci kepadaku. Bisakah kau cabut tantanganmu kepadaku, Sayang?” seru Rubi Salangka, melakukan upaya terakhir untuk merayu istrinya atau mantan istrinya.
Memang, status hubungan keduanya menjadi tanda tanya. Apakah masih suami istri atau sudah mantan.
“Jika kau meninggalkanku karena urusan kependekaran, aku mungkin bisa memaafkanmu dan hanya menuntut putus hubungan. Tapi kau pergi hanya untuk menikah dengan Dewi Garuk Emas dan menggoda banyak wanita lain,” kata Laris Manis dengan berteriak marah.
“Itu tidak benar. Aku dan Dewi Garuk Emas hanya coba-coba kawin. Dua hari kemudian sudah tidak ada hubungan,” kilah Rubi Salangka, masih dengan wajah berharap.
Namun, Laris Manis telah membuat tongkat kayunya bersinar kuning.
“Pertarungan dimulai!” seru Laris Manis.
Ses ses ses ...!
Laris Manis mengarahkan ujung tongkatnya ke arah Rubi Salangka. Dari ujung tongkat itu menembak beruntun bola-bola sinar kuning menyerang Rubi Salangka.
Dar dar dadar!
__ADS_1
Sambil bergerak cepat menghindari serangan bola-bola sinar kuning, bergeser ataupun melompat, Rubi Salangka juga sesekali menggunakan toya hijaunya memukul beberapa sinar, sehingga menciptakan ledakan-ledakan yang membuat raga diterpa gelombang energi yang tidak enak di kulit, terutama di kulit wajah. Sulit untuk dideskripsikan dengan kata-kata. Mungkin seperti minum teh manis rasa asin.
“Baiklah jika kau tetap keras kelapa, Sayangku! Padahal aku masih mencintaimu!” teriak Rubi Salangka serius.
Sambil terus menghindari tembakan beruntun tersebut dengan gerakan yang sangat cepat, Rubi Salangka maju mendekati Laris Manis dengan langkah zigzag.
Srass!
Ketika jarak mereka berdua tinggal dua tombak, Rubi Salangka menusukkan toya hijaunya. Seperti seorang penyihir, dari ujung toya itu melesat tujuh tali sinar hijau tanpa putus, yang lesatannya memencar lalu menyergap tubuh Laris Manis yang masih dalam posisi menembak.
Cepatnya serangan ilmu Jerat-Jerat Cinta itu sulit dihindari oleh Laris Manis, sehingga tujuh tali sinar hijau kecil melilit tubuhnya sekaligus memasung kedua tangannya.
Penjeratan itu langsung menghentikan serangan Laris Manis.
“Hahaha! Aku menang!” teriak Rubi Salangka sambil bergaya santai karena sudah melihat Laris Manis tidak berkutik dibuatnya.
“Suiii!” sorak para petaruh yang menjagokan Pendekar Pengawin.
“Kau pikir aku begitu lemah, Bajingan!” kata Laris Manis sinis.
Blass! Wuss! Bakss!
“Hukrr!”
Tiba-tiba dari dalam tubuh Laris Manis keluar ledakan cahaya merah yang memusnahkan tali-tali sinar hijau yang melilit. Pada saat yang bersamaan, telapak tangan kiri Laris Manis melesatkan sinar kuning berwujud telapak tangan.
Rubi Salangka yang termakan oleh keterkejutannya karena ilmu Jerat-Jerat Cintanya dengan mudah diatasi oleh ilmu Kerlingan Bidadari, terlambat untuk menghindari ilmu Telapak Manis Maut.
Pemuda tampan berambut jabrik hijau itu terpental ke belakang dengan mulut menyemburkan darah kental.
Ketika Rubi Salangka terlempar, Laris Manis langsung melesat mengejar. Sehingga, ketika Rubi Salangka jatuh menghantam lantai batu kolam, gebukan tongkat bersinar Laris Manis segera menghujaninya.
Taks taks taks ...!
Dengan posisi terlentang seperti kecoa terbalik dan mulut belepotan oleh darah, Rubi Salangka masih bisa menangkis semua gebukan tongkat itu dengan toya hijaunya yang juga menyala seperti neon.
“Ayo! Keluarkan ilmu Lukisan Silumanmu, Bajingan!” teriak Laris Manis seperti orang kesetanan sambil terus menggebuki Rubi tanpa memberinya kesempatan untuk bangun dari posisi tersudutnya. (RH)
__ADS_1