Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DKT 28: Alma-Abah Berhadapan


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*


 


Tebar Kembang adalak sosok wanita yang memiliki masalah obesitas. Meski dia orang berkesaktian, tetapi dia tidak bisa mengontrol pertumbuhan lemaknya yang gila.


Besarnya perkembangan tubuhnya, sampai-sampai tubuhnya tidak muat jika harus lewat pintu untuk masuk dan keluar. Jadi, dia memiliki pintu khusus. Pintu khusus itu ada di bawah ranjangnya. Lantai papan di bawah ranjang akan terbuka lebar jika dia mau turun dan naik. Ranjangnya akan menjadi lift manual, yang akan bergerak turun dan naik dengan alat beberapa katrol dan tambang.


Karena itulah, ada beberapa prajurit yang berjaga di bawah rumah, tepat di bawah kamar Tebar Kembang. Mereka selalu siaga untuk mendengar perintah dari Tebar Kembang. Mereka bahkan sering mendengar suara kentut sang majikan.


Namun, tidak akan ada yang berani menertawakan kentut sang majikan jumbo itu jika tidak mau kehilangan kepala.


Setelah ranjang mewahnya turun ke tanah, Tebar Kembang turun dari ranjangnya. Ia berjalan keluar dari bawah rumah dengan dikawal empat pendekar.


Di depan rumahnya, sudah berkumpul pasukan pendekar tingkat menengahnya. Hanya ada beberapa orang yang bisa disebut sebagai pendekar sakti, salah satunya Abah Sakti dan Lidah Untung. Namun, Lidah Untung sudah dalam kondisi terluka.


Pasukan yang disiapkan oleh Tebar Kembang pada petang itu sebanyak tujuh puluhan saja, lebih sedikit dari pasukan keamanan Sarang Betina Ranjang. Pasukan itu terlihat lebih ramai dengan keberadaan banyak obor yang sudah mereka nyalakan, meski kondisi alam belum begitu gelap.


Di depan pasukan sudah tersedia sebuah tandu berwarna ungu, yang mengusung sebuah tempat seperti kasur mini, tapi muat untuk dipakai tidur, tapi tidur bersandar. Pada keempat kayu pikulnyan ada berdiri empat lelaki besar-besar berseragam ungu juga. Sepertinya Tebar Kembang penyuka warna ungu.


Laporan yang datang dari Sarang Betina Ranjang sudah sampai kepada Tebar Kembang. Berita yang sangat membuatnya marah. Tebar Kembang menyikapi berita kematian Raja Betina dan dibubarkannya Sarang Betina Ranjang dengan berteriak-teriak marah yang terdengar ke mana-mana.


Ketika Tebar Kembang datang mendekati pasukannya, para abdi itu semuanya membungkuk menghormat, termasuk Abah yang katanya sakti.


Wusss!


Namun, belum lagi Tebar Kembang naik ke atas tandu, tiba-tiba angin bertiup kencang, menciptakan suasana berisik karena riuhnya dedaunan saling bergesekan.


Tebar Kembang dan orang-orangnya segera melihat alam luas di atas.


“Angin apa itu?” tanya salah satu pendekar ketika mereka melihat keberadaan pusaran angin di langit arah utara.


“Eek!” teriak Lidah Untung sambil menunjuk ke arah pusaran angin yang penuh oleh material yang diterbangkannya.

__ADS_1


“Jelas-jelas itu berpusat di Sarang Betina Ranjang!” teriak Tebar Kembang marah dengan kedua lubang hidungnya melebar karena napasnya kian memburu. Dia lalu berteriak histeris, “Aaakk!”


“Eek! Eek!” teriak Lidah Untung.


“Tulis kata-katamu! Jangan teriak eek terus, kau pikir aku mengerti?!” bentak Tebar Kembang begitu marah.


Dengan wajah yang mewek lagi, Lidah Untung menulis di udara dengan lidi merahnya.


“Sarang Betina Ranjang dihancurkan rata dengan tanah.”


Itu yang ditulis oleh Lidah Untung, yang bisa dibaca oleh semua orang yang bisa membaca.


“Abah Sakti, pergi langsung bunuh perempuan setan itu. Jangan pulang jika kau mati!” perintah Tebar Kembang sangat marah.


“Baik, Majikan,” ucap Abah Sakti patuh.


Tanpa pakai “clap” lagi, tahu-tahu kakek botak itu menghilang seperti termakan angin kencang yang bertiup.


Segera Tebar Kembang naik ke atas tandu yang masih di bawah. Setelah sang majikan memperbaiki posisinya, barulah keempat lelaki besar mengangkat kayu pemikul. Terlihat ketika mengangkat, otot-otot mereka mengeras dan wajah mereka agak memerah karena memang sangat berat. Selain berat karena lemak, mungkin juga berat karena kesaktiannya.


Sementara itu di Sarang Betina Ranjang.


Semua bangunan kayu yang sebelumnya ada di tempat luas itu, kini telah tidak ada karena semuanya dicabut naik mengudara oleh angin tornado dalam kondisi hancur. Bukan hanya bangunan kayu, pohon-pohon pun tercerabut dari tanah. Seperti kiamat kecil.


Bungkuk Gila memantau dari tempat yang cukup jauh dengan didampingi oleh kedua pelayan setianya yang tidak memantau. Dia tidak mau tersambar angin dan terbang ke langit.


Brokr! Brokr!


Ada dua pohon besar yang jatuh dari langit ke dekat posisi Bungkuk Gila, membuat kakek itu terkejut dengan mengangkat kaki kanan dan kirinya bergantian.


Alma Fatara yang sedang mengatur pergerakan pusaran anginnya, tiba-tiba melihat sesosok bayangan berpakaian hitam di dalam keremangan petang. Sosok berkepala botak itu berdiri kokoh dengan pakaian berkibar kencang. Hebatnya, rambut kakek botak itu tidak berkibar meski angin begitu kencang.


“Eh, setan botak dari mana ini? Hebat juga,” ucap Alma Fatara sembari memandang sosok lelaki botak yang berdiri tujuh tombak darinya. “Jiahahaha!”

__ADS_1


Alma Fatara tertawa terbahak saat melihat baju hitam si kakek lepas tersedot angin yang pusarannya mendekati si kakek. Kini kakek yang tidak bukan adalah Abah Sakti itu, bertelanjang dada. Masih untung celananya tidak ikut robek dan tersedot oleh angin dahsyat itu.


Alma Fatara memilih untuk memadamkan anginnya, tidak menyerang Abah Sakti. Pergerakan angin itu berhenti mendekati Abah Sakti.


Brakr! Brok! Brek!


Sebentar kemudian, terjadilah hujan material dari langit yang jatuh secara random. Beberapa material jatuh tepat ke posisi Abah Sakti.


Namun hebatnya, semua meterial yang jatuh ke kepala Abah Sakti, hancur sebelum mengenainya. Sebatang pohon besar pun terbelah-belah di udara sebelum menimpa kepalanya.


“Wow! Hahaha!” terpukau Alma, tapi kemudian justru menertawakan Abah Sakti.


Seiring terjadinya hujan material kayu, pohon, dedaunan hingga kepeng, pusaran angin tornado mereda dan perlahan hilang.


“Jadi ini gadis sakti yang menghancurkan mata air kepeng Majikan Tebar Kembang,” ucap Abah Sakti sambil berjalan mendekati posisi Alma Fatara yang tertawa- tawa.


Abah Sakti tidak tersentuh sedikit pun oleh hujan berbagai material yang melanda tempat itu. Pokoknya dia tampil keren, meski saat itu sudah tidak berbaju, memperlihatkan kulit badannya yang sudah kendor.


“Apakah kau kakeknya Tebar Kembang, Kek?” tanya Alma Fatara.


“Kau keterlaluan, Bocah....”


“Eit! Jangan sebut aku Bocah, Kek. Aku Dewi Gigi. Namaku Alma Fatara. Gadis paling cantik di lautan! Hahaha!” seru Alma main potong perkataan Abah Sakti.


Jika Alma Fatara bukan seorang sakti, mungkin Abah Sakti sudah main gaplok saja karena kata-katanya dipangkas di saat sedang asik-asiknya berbicara. Abah Sakti harus sedikit sabar menghadapi anak cantik itu.


“Tidak ada orang ompong itu cantik!” rutuk Abah Sakti.


“Yah, Kakek kurang wawasan. Buktinya ada aku. Hahaha!” kata Alma Fatara yang tidak berhasil membuat Abah Sakti tertarik untuk ikut tertawa, tidak seperti Baling Bangba yang lebih asik karakternya.


Bagg! Broks!


Alma Fatara terkejut. Tiba-tiba tubuh Abah Sakti hilang dari posisinya seiring terdengar tabrakan dua daging dan tulang.

__ADS_1


Sekejap kemudian, sebatang pohon besar yang tertidur di tanah patah karena dihantam oleh tubuh tua Abah Sakti.


“Setan botak peot! Hahaha!” maki Bungkuk Gila yang tahu-tahu sudah berdiri tidak begitu jauh dari posisi Abah Sakti yang tadi ditabraknya tanpa terlihat karena terlalu cepatnnya. (RH)


__ADS_2