
*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*
Geladak Badak segera pindah posisi mendekat ke teman-temannya. Meskipun dia sudah tua, ternyata dia punya rasa takut sendirian, apalagi menghadapi pengepungan pasukan panah dalam jarak dekat.
Pasukan panah Kotakayu Darabisu tampil terdepan mengepung Alma Fatara, Manila Sari, Arguna, Lingkar Dalam, Geladak Badak, Bungkuk Gila, dan Cantik Gelap.
Di belakang pasukan panah ada pasukan tombak yang jumlah personelnya lebih banyak. Mereka semua berseragam biru-biru.
Di sisi belakang lagi ada seekor kuda yang ditunggangi oleh seorang lelaki beraga kekar dan keras dengan otot yang mekar. Punggawa pasukan yang kepalanya dililit ring perak itu mengenakan pakaian warna biru lebih gelap. Dia menyandang tiga kapak model biasa bergagang kayu. Dia Wakil Panglima Pasukan Keamanan Kotakayu Darabisu, namanya Tejo.
Mata-mata anak panah yang sudah ditarik di busur semuanya menghadap ke arah Alma Fatara dan kawan-kawan. Ketegangan tercipta. Manila Sari, Arguna dan Lingkar Dalam yang lebih tegang. Sementara Alma Fatara dan Bungkuk Gila terlihat tenang, setenang Cantik Gelap yang tidak sedang memikirkan apa-apa.
Adapun Geladak Badak masih siap tarung. Ilmu Rantai Dedemit miliknya masih aktif, hanya tidak terlihat oleh semua mata.
“Kalian ditangkap karena telah membunuh pasukan berkuda Tebar Kembang!” seru Tejo.
“Hei! Kau pikir kami ayam, hah?!” bentak Bungkuk Gila.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara mendengar kemarahan Bungkuk Gila. “Kek, aku punya ayam satu.”
Alma Fatara sambil mencekal lengan kanan Manila Sari. Sang putri yang kembali tegang itu hanya mendelik disebut ayam oleh Alma.
“Aku juga punya! Hahaha!” kata Bungkuk Gila sambil memegang tangan Cantik Gelap. Dia lalu tertawa seru-seruan sendiri bersma Alma Fatara.
“Hei! Dengarkan aku!” teriak Tejo mendelik marah karena merasa diabaikan.
Alma Fatara dan Bungkuk Gila kompak menengok kepada Tejo.
“Hahaha!” tawa terbahak Alma Fatara dan Bungkuk Gila bersama, setelah mereka kompak melototi Tejo di atas kudanya.
“Hahaha!” tawa Tejo akhirnya setelah melihat keompongan Alma Fatara. Padahal awalnya dia ingin marah.
“Woi, Kakang Anu!” panggil Alma Fatara dengan gaya preman.
“Woi! Namaku Tejo, Wakil Panglima Pasukan Keamanan Kotakayu Darabisu!” bentak Tejo. Dia rupanya tidak sudi disebut “Anu”.
“Hahaha! Jabatannya sepanjang ular,” tawa Alma Fatara.
“Lebih baik panjang daripada kau tidak punya!” balas Tejo terpancing seperti ikan.
“Dengarkan baik-baik namaku, Kakang Tejo. Aku Dewi Gigi Alma Fatara, Panglima Perang Pasukan Pembebas Kerajaan Jintamani, wanita paling cantik selautan! Hahaha!” seru Alma Fatara bangga, lalu tertawa jumawa memamerkan keindahan ompongnya yang berseni tinggi.
“Hahaha!” Tejo tidak bisa menahan hasrat tawanya. “Dasar anak baru gede! Berani-beraninya jual sesumbar di Kotakayu Darabisu.”
“Kakang Tejo, apa maksudnya ini?” tanya Alma Fatara untuk mengedepankan dialog.
“Jatuhkan senjata kalian! Kalian kami tangkap!” perintah Tejo.
“Apa salah kami?” tanya Alma Fatara, meskipun tadi sudah diberi tahu.
“Kalian membantai pasukan milik Tebar Kembang....”
“Jika begitu bawa saja kami kepada Tebar Kembang!” kata Alma Fatara memotong kata-kata Tejo.
“Jatuhkan pedang dan kayu kalian atau kami panah!” perintah Tejo plus mengancam. “Aku tidak mau membuang waktu.”
“Sebentar, Kakang Tejo!” seru Alma kepada punggawa pasukan itu.
Sementara pasukan panah sudah mulai pegal menahan ekor anak panah yang sudah ditarik di busur.
Alma Fatara lalu berbisik kepada Bungkuk Gila.
__ADS_1
“Kakek Gila, apakah kau punya sesuatu untuk menyelamatkan kita?” tanya Alma.
“Punya,” jawab Bungkuk Gila lalu langsung menjejakkan kaki kanannya ke tanah jalanan.
Zing!
Tiba-tiba muncul begitu saja sebuah kubah sinar biru muda yang mengurung posisi Alma Fatara dan rekan-rekan, termasuk kuda-kuda mereka.
“Panah!” perintah Tejo setelah lebih dulu terkejut.
Set set set...!
Legalah para prajurit panah karena akhirnya bisa melepas anak panah yang sejak tadi mereka tahan.
Namun, hujan panah yang datang dari semua arah itu harus berguguran ke tanah setelah terbentur oleh dinding sinar kubah yang besar.
“Hahaha!” tawa Bungkuk Gila.
“Pong pong pong!” ucap Alma Fatara aneh. “Apakah kau masih bisa mendengarku, Kakang Tejo?”
Oh, rupanya Alma Fatara menguji suaranya apakah terdengar hingga ke luar kubah. Kalau istilah di zaman masa depan adalah “tes tes tes!”.
“Berani kalian melawan pasukan pemerintah!” teriak Tejo.
“Kakang Tejo! Kami tidak ada urusan dengan pasukan pemerintah. Urusan kami hanya dengan Tebar Kembang. Dia harus mati!” seru Alma Fatara serius.
“Betul!” pekik Lingkar Dalam yang sudah sejak tadi siap berkalang tanah membuang nyawa, demi perjuangan atas nama Kampug Siluman.
“Kalian telah melanggar hukum dan melakukan banyak pembunuhan di kotakayu ini, kalian harus ditangkap dan dihukum mati!” tegas Tejo.
“Tidak sudi! Weeek!” teriak Bungkuk Gila lalu melewek Tejo.
Lelaki perkasa itu jadi terkejut mendapat ledekan dari seorang kakek-kakek.
“Alma, Alma!” panggil Manila Sari tiba-tiba memotong kata-kata Alma Fatara, membuat gadis ompong itu menengok kepadanya.
“Kenapa?” tanya Alma Fatara.
“Keras kepala, bukan keras kelapa,” ralat Manila Sari.
“Hahaha! Kenapa aku seperti Ayu Wicara,” kata Alma Fatara tertawa.
“Hahaha!” tawa Manila Sari, Arguna dan Lingkar Dalam yang kenal dengan Ayu Wicara nan cantik.
Tawa mereka membuat suasana tegang jadi lebih rileks.
“Aku ulangi, Kakang Tejo!” seru Alma Fatara lagi. “Pilih mana, pemakanan atau kuburan? Karena, jika kubah perisai ini lenyap, maka kalian akan berhadapan dengan malaikat maut!”
“Dia pasti memilih pemakanan, karena dia belum makan usus ayam isi sambal merah! Hahaha!” kata Bungkuk Gila lalu tertawa mengejek.
“Hahaha!” tawa semua orang yang ada di dalam kubah sinar biru muda, meski mereka belum tahu wujud nama makanan yang disebutkan.
Gusarlah Tejo dipermainkan seperti itu.
“Akan kalian rasakan keganasan Badai Api! Hup hup, hiaaat!” teriak Tejo murka, lalu melakukan gerakan tangan yang cepat dan bertenaga.
Sess! Bress!
Tiba-tiba di depan tubuh Tejo yang masih duduk di atas kuda muncul piringan sinar jingga yang berdiri tegak seperti perisai. Dan ketika Tejo menghantamkan telapak tangan kanannya pada dinding sinar jingga itu, tiba dari dinding sinar itu melesat belasan bola sinar jingga yang melesat menghujani kubah sinar biru.
Blar blar blar...!
__ADS_1
Ledakan-ledakan keras terjadi di sisi luar kubah sinar biru, menciptakan kebisingan dan juga mengguncang semua orang dan kuda yang ada di dalam kubah sinar.
Kuda-kuda menjadi panik, tetapi tidak bisa lari ke mana-mana.
“Hahaha!” tawa berkepanjangan Bungkuk Gila melihat usaha gagal Tejo.
Bungkuk Gila lalu mengulurkan tangan kanannya yang tidak memegang ranting berdaun.
“Manila, Arguna, Lingkar, pegang tanganku!” perintah Bungkuk Gila bernada serius, tanpa tawa dan raut bergurau.
Manila Sari dan kedua pemuda tampan itu tidak langsung melakukan perintah Bungkuk Gila. Mereka saling pandang tanpa kata.
“Jangan sampai bentengku keburu hancur, kalian akan menyesal nanti,” kata Bungkuk Gila, masih serius.
Arguna menjadi orang pertama yang maju memegang tangan kanan Bungkuk Gila. Tidak terjadi apa-apa. Kemudian Manila Sari dan Lingkar Dalam juga menggenggam tangan Bungkuk Gila.
Blar blar blar...!
Kembali hujan bola sinar jingga melanda lapis luar kubah sinar biru milik Bungkuk Gila.
Zerr zerr zerr!
“Akk!” pekik Manila Sari terkejut.
Terkejut ketiga orang muda yang memegang tangan kanan Bungkuk Gila. Ada aliran energi yang masuk ke tangan mereka dan menyengat, tapi hanya membuat kaget, tidak menyakiti apalagi membuat lemas. Namun, ketika terkejut, mereka tidak bisa menarik lepas tangan mereka.
“Jika kalian punya tenaga dalam, kirim balik dengan tenaga yang lebih besar,” kata Bungkuk Gila.
Maka ketiganya segera mengirim balik energi milik Bungkuk Gila dengan tenaga dalam mereka.
Zerrr!
Ketika mengirim balik energi itu dari tangan masing-masing, ketiganya terkejut, karena muncul aliran listrik sinar ungu kecil pada tangan-tangan mereka.
Tiga energi itu masuk ke tangan Bungkuk Gila yang kemudian dikirim balik lagi oleh si kakek masuk ke tiga tangan yang menggenggamnya.
Manila Sari, Arguna, dan Lingkar Dalam merasakan energi yang masuk ke tangan mereka lebih besar dari sebelumnya. Namun anehnya, mereka juga jadi memiliki tenaga dalam yang lebih besar untuk mengendalikan energi listrik itu.
Aliran listrik ungu kian membesar dan semakin banyak menggurita.
“Lakukan lagi!” perintah Bungkuk Gila.
Zerrrzz!
Ketika ketiganya kembali mengirim balik, listrik sinar ungu meledak dan menjalari tangan ketiganya hingga bahu. Namun, mereka tidak merasakan tersengat, tapi merasakan itu adalah energi besar milik mereka dan bisa mereka kendalikan. Ledakan itu juga membuat pegangan mereka semua terlepas dari tangan Bungkuk Gila.
“Itu ilmu Genggam Petir yang aku turunkan kepada kalian,” kata Bungkuk Gila setengah berbisik.
“Hah!” kejut ketiganya mendengar itu.
Kompak ketiga orang muda itu turun berlutut menghormat di depan kaki Bungkuk Gila.
“Terima kasih, Guru!” ucap mereka serentak dengan wajah tersenyum gembira.
“Hahaha!” tawa Bungkuk Gila, Alma Fatara dan Geladak Badak.
“Nanti kalian akan terbiasa menggunakannya,” kata Bungkuk Gila.
“Terima kasih, Guru!” ucap mereka bertiga lagi.
“Hahaha!” tawa Bungkuk Gila lagi bersama Alma dan Geladak Badak.
__ADS_1
Blar blar blar...!
Belasan ledakan di luar kubah sinar biru kembali mengguncang mereka, kali ini terasa lebih kuat. (RH)