Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DAD 24: Petunjuk Dari Galian


__ADS_3

*Dendam Anak Senopati (DAS)*


 


Meski sudah menderita luka dalam, tetapi lelaki botak berkumis masih berusaha menyerang Alma Fatara dengan tombak bersinar merahnya.


Blar! Blar! Blar!


Untuk beberapa saat, Alma Fatara melakukan penghindaran menjauhi serangan tombak yang selalu meledakkan sinar merah jika tidak mengenai sasaran.


Hingga pada satu ketika, Alma Fatara maju dengan cepat, merapat kepada tubuh lelaki botak. Dengan pertarungan rapat seperti itu, lelaki botak tidak bisa leluasa meledakkan sinar merah pada ujung tombaknya, karena sinar itu baru meledak jika rantai ekornya sudah menghentak membentang maksimal.


Sebentar Alma Fatara melancarkan serangan tangan biasa bertenaga dalam tinggi. Lelaki botak bisa melakukan perlawanan.


Set set!


“Aakk!” jerit lelaki botak, ketika tiba-tiba pukulan Alma Fatara yang ditangkisnya berubah setajam pedang, padahal tadi tidak.


Alma Fatara membuat dua luka sayatan pada tangan lelaki botak, membuatnya menjerit dan sejenak tertahan dalam bertarung, sehingga memberi ruang bagi Alma Fatara untuk terus menyarangkan serangannya.


Set set! Tus tus!


“Ak! Akk!”


Dua sayatan jari-jari tangan Alma merobek dada lelaki botak. Pada saat yang sama, dua ujung Benang Darah Dewa menusuk persendian kedua tangan lelaki botak, melumpuhkan kedua tangannya yang sudah menderita luka sayatan parah.


Dengan demikian, lelaki botak itu tidak bisa menggunakan tangannya lagi untuk bertarung.


Dak! Bdak!


Alma Fatara cepat menyepak kaki kiri lelaki botak ketika kaki kanan lawannya berusaha menendang. Akibatnya, lelaki botak itu terbanting ke tanah.


“Merunduk kalian semua!” seru Alma Fatara kepada keenam gadis yang ada di dalam kerangkeng besi.


Keenam gadis Kampung Siluman itu segera menekuk tubuhnya serendah-rendahnya di dalam kerangkeng, sehingga mereka harus berdesakan.


Bzets! Ziing!


“Aaa!”


Alma Fatara melesatkan sinar kuning sabit yang langsung memangkas bagian atas kerangkeng besi. Keenam gadis menjerit histeris ketika mendengar dan merasakan bagian kerangkeng ditebas rapi. Mereka ketakutan sejenak.


“Ayo jalan, Kakang!” perintah Alma Fatara kepada lelaki botak yang sudah kembali bangun. Dia menusukkan telunjuknya ke punggung lawannya. “Jika kau tidak ingin mati.”


Maka lelaki botak berkumis itu menurut. Dia berjalan terhuyung sambil menahan rasa sakit yang begitu perih pada luka dalam dan luka sayatan, sementara kedua tangannya pun sudah lumpuh.


Keenam gadis asal Kampung Siluman segera berkeluaran dari kerangkeng dengan kegembiraan. Mereka berhamburan memeluk Alma Fatara seperti fans fanatik bertemu idolanya yang datang dari luar planet.


Alma Fatara membiarkan sais pedati yang berlari kencang menuju ke Pasar Bulieng. Sementara belasan lelaki berpakaian merah ditinggalkan bergelimpangan menikmati kesakitan dari luka mereka tanpa bisa berbuat apa pun lagi.

__ADS_1


“Belok kanan!” perintah Alma Fatara kepada lelaki botak yang kini menjadi tawanannya.


Lelaki botak pun menurut belok kanan dan berjalan masuk ke tempat gelap yang merupakan area tebing batu. Keenam gadis Kampung Siluman tetap mengekor di belakang Alma.


“Nama Kakang siapa?” tanya Alma Fatara.


“Galian,” jawab lelaki botak.


“Mau kalian bawa ke mana saudara-saudaraku ini?” tanya Alma Fatara.


“Ke Ringkik,” jawab Galian.


“Maksud Kakang Kerajaan Ringkik?” tanya Alma lagi.


“Benar.”


“Kepada siapa tepatnya?”


“Tebar Kembang.”


“Siapa dia?”


“Orang yang memberi pesanan untuk membunuhi orang-orang Kampung Siluman dan menculik gadis-gadisnya.”


“Apakah Tebar Kembang punya jabatan di Kerajaan Ringkik?”


“Aku tidak tahu.”


“Tahu.”


“Siapa nama gurumu?”


“Raja Tombak Iblis.”


“Berapa banyak gadis Kampung Siluman yang diculik oleh 13 Buah Kematian?”


“Baru sebelas orang.”


“Lalu di mana Lilia Seharum dan yang lainnya?”


“Sudah dikirim tiga hari yang lalu,” jawab Galian sambil terus berjalan di dalam gelap tanpa cahaya api.


“Lilia Seharum dan empat lainnya sudah dibawa lebih dulu oleh mereka,” kata seorang gadis di belakang Alma yang bernama Siringi.


“Lalu, untuk apa gadis-gadis ini dikirim ke Ringkik?” tanya Alma Fatara lagi kepada Galian.


“Aku tidak tahu.”


“Wilayah Ringkik itu luas, tepatnya kau bawa ke mana saudara-saudaraku, Kakang?”

__ADS_1


“Kotakayu Darabisu.”


“Nanti sampaikan salamku kepada 13 Buah Kematian yang masih tersisa. Besok pagi aku menantang mereka semua di gapura kedua. Jika ada yang tidak datang, akan aku obrak-abrik sarang kalian di Pasar Bulieng,” ujar Alma Fatara.


“Baik,” ucap Galian.


“Terima kasih atas keteranganmu, Kakang,” ucap Alma Fatara.


Buk!


Alma Fatara lalu mendorong punggung Galian dengan kaki kanannya, membuat lelaki botak itu tersungkur di jalan berbatu.


Di saat Galian mencium jalan berbatu, Alma Fatara mengajak keenam gadis penggemarnya berbalik arah.


“Jika kalian tidak dibunuh di sini, berarti Lilia Seharum dan yang lainnya kemungkinan tidak akan dibunuh, tapi ada maksud lain dari orang yang bernama Tebar Kembang,” kata Alma Fatara kepada para gadis itu.


“Apakah kau datang seorang diri, Alma?” tanya Siringi.


“Aku datang bersama Kakang Sabung dan seorang teman, Kak,” jawab Alma Fatara sambil terus berjalan di jalan yang gelap. “Tapi selama kalian ditawan, apakah kalian mendapat perlakukan tidak senonoh?”


“Tidak,” jawab mereka bersamaan.


“Tapi mereka berjumlah banyak, Alma. Selain para pendekar yang menyerang Kampung Siluman, masih ada banyak pendekar lainnya. Kami pernah melihat mereka berkumpul dengan jumlah ratusan orang,” kata Siringi.


“Apakah kalian pernah mendengar bagaimana aku mengalahkan pasukan Kerajaan Ringkik?” tanya Alma Fatara.


“Pernah. Karena itu kami sangat bermimpi kau datang kembali menolong kami,” jawab Siringi.


“Jumlah pasukan Ringkik saat itu jauh lebih besar, Kak. Jangan khawatirkan aku. Kedatanganku hanya untuk menyelamatkan kalian dan membawa kalian pulang ke Kampung Siluman,” kata Alma Fatara. Tiba-tiba Alma Fatara berbisik, “Sembunyi!”


Mereka pun segera mengikuti Alma Fatara bersembunyi di balik bongkahan batu- batu besar di dalam kegelapan.


Saat itu mereka sampai tidak jauh dari lokasi Alma Fatara menghancurkan rombongan pengiriman pedati kuda. Ternyata di sana sudah banyak orang-orang berpakaian merah dan membawa banyak obor. Ada beberapa pendekar yang bersenjatakan tombak besi pendek yang menggantung di pinggang.


Ada lebih banyak para lelaki berpakaian merah yang bersenjata tombak biasa yang datang. Mereka pun membawa dua pedati biasa yang ditarik oleh seekor kuda. Para lelaki berpakaian merah yang dilukai oleh Alma Fatara digotong naik ke pedati, lalu dibawa pergi menuju ke Pasar Bulieng.


Alma Fatara dan keenam gadisnya memerhatikan dari dalam kegelapan aktivitas di depan sana.


Terlihat ada yang menonjol dalam aktivitas evakuasi itu, yaitu sosok seorang perempuan bertubuh besar karena lebar. Rambutnya disanggul full sehingga leher putihnya terlihat bercahaya oleh bias api obor. Wanita yang tidak berkumis dan berjenggot itu bergerak gerik seperti pemimpin dari semua orang.


Namun, tiba-tiba wanita besar itu menengok ke arah posisi Alma Fatara dan keenam gadisnya bersembunyi.


“Kalian tetap di sini dan jangan ke mana-mana sebelum aku datang kembali!” perintah Alma Fatara berbisik. Dia tahu bahwa wanita bersanggul itu telah menyadari keberadaannya karena aura Bola Hitam yang kuat, juga menunjukkan bahwa wanita itu memiliki kesaktian tinggi.


Alma Fatara segera berkelebat di udara meninggalkan tempat persembunyian. Kelebatan Alma Fatara sejatinya tidak terlihat karena dia berada di dalam gelap, tetapi aura kesaktian Bola Hitam telah membuat dirinya terdeteksi.


“Cakar Panggang! Taring Goreng! Ikut aku!” teriak wanita bertubuh lebar, lalu dia cepat berkelebat ke arah pergerakan aura Bola Hitam.


“Baik, Cantik!” sahut dua lelaki yang juga bersenjata tombak besi pendek yang menggantung di pinggangnya.

__ADS_1


Kedua lelaki yang tergolong masih muda itu segera berkelebat menyusul wanita yang mereka sebut “Cantik”. Entah apakah memang itu namanya atau sekedar pujian agar tidak sering mendapat semprotan.


Maka tinggallah Siringi dan kelima rekannya mendekam bersembunyi di balik bebatuan. Mereka harus benar-benar patuh kepada perintah Alma Fatara karena kotabatu itu sangat berbahaya bagi mereka. (RH)


__ADS_2