Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DKT 9: Peran Alma


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*


Pasukan Berkuda Satu yang berjumlah dua puluh prajurit pendekar di bawah komando Gading Margin, menggebah kembali kudanya sambil satu tangan mencabut golok masing-masing.


Mereka bermaksud menyerang Bungkuk Gila yang berdiri bersama Cantik Gelap dan Alma Fatara yang duduk di kuda bersama Manila Sari, Arguna, Lingkar Dalam dan Geladak Badak. Maksudnya bukan satu kuda diduduki bersama, tetapi duduk di kuda masing-masing. Semoga bisa dipahami.


Bungkuk Gila yang sudah siap sejak tadi, segera mengibaskan ranting berdaun di tangannya yang menimbulkan angin kencang berdebu.


Angin badai berdebu itu seketika menghempas rombongan berkuda serta mengganggu pandangan kuda dan penunggangnya.


Kuda yang terdepan jadi menahan larinya dan berubah liar. Insiden saling tabrak kuda pun terjadi yang membuat penunggangnya berjatuhan.


“Hahaha! Serang!” tawa Alma Fatara lalu memberi perintah.


Kompak Alma Fatara, Manila Sari, Arguna dan Lingkar Dalam melompat dari punggung kuda dan berlari di udara lewat di atas kepala Bungkuk Gila. Mereka berempat melesat masuk menerobos kekacauan kuda-kuda dan para penunggangnya.


Jika Alma Fatara bertangan kosong, maka ketiga rekannya terbang dengan pedang di tangan.


Tang ting ting! Tang ting ting!


Set sat set seset! Set sat set seset!


“Akk! Akh! Akk...!”


Pertarungan di tengah keliaran para kuda yang kacau menjadi keuntungan bagi Alma Fatara dkk, di saat para prajurit pendekar itu sibuk jatuh dan mengendalikan kuda mereka.


Sebagai prajurit pendekar, pasukan itu sebagian tetap sigap ketika serangan datang. Adu pedang pun terjadi. Namun, kondisi mereka yang tidak lebih siap, membuat pedang Manila Sari, Arguna dan Lingkar Dalam lebih unggul untuk menyayat dan menusuk.


Beberapa prajurit pendekar terdengar menjerit ketika mendapat tusukan, sayatan atau tebasan pedang.


Manila Sari mendarat di ruang kosong di tengah-tengah kekacauan. Dia yang baru kali ini menghadapi pertarungan kondisi seperti itu, mengayunkan pedangnya bersama pekikannya yang kencang. Dia menyasar prajurit pendekar yang jatuh dari kuda, yang tidak siap untuk menerima serangan.


Tsuk!


“Aaa!” Justru Manila Sari yang berteriak keras saat pedangnya menusuk perut korbannya.


Teriakan Manila bertujuan menutupi kegugupannya karena baru kali ini membunuh orang.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara yang melihat ekspresi wajah Manila Sari saat membunuh, begitu histeris.


Tiba-tiba dari arah samping Manila datang serangan golok dari prajurit pendekar lain yang juga usai jatuh dari kudanya. Manila Sari yang memang insting bertarungnya masih cetek, telat melihat dan menyikapi serangan golok sehingga dipastikan pinggangnya akan terkena.


Namun, Alma Fatara yang sudah pengalaman menjadi pemimpin bagi rekan-rekannya, sudah paham betul tingkat kemampuan orang-orang yang bersamanya.


Alma Fatara dalam pertarungan itu tidak fokus menyerang atau membunuh lawan, tetapi dia memposisikan dirinya bertarung di dekat Manila Sari dan Arguna.

__ADS_1


Ketika ada serangan yang datang mengancam Manila Sari, Alma Fatara pun bertindak dengan mengerahkan Benang Darah Dewa. Senjata pusakanya yang sulit terlihat itu melesat menjerat lengan prajurit pendekar yang hendak membacok Manila Sari.


Prajurit pendekar itu hanya bisa terkejut ketika merasakan ada lilitan tipis yang menahan pergerakan tangannya, membuat bacokannya tertahan.


Alangkah terkejutnya Manila Sari mendapati golok lawan sudah dekat dengan tubuhnya. Secepat kilat dia kibaskan pedangnya merobek perut lawan di saat lawannya itu berusaha menarik lengannya yang tertahan.


“Aakh!” pekik prajurit pendekar yang perutnya robek lebar.


“Aaa...!” Manila Sari yang berteriak lebih kencang dan lebih panjang.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat reaksi putri itu saat membunuh.


Sementara itu Arguna baru berhasil membunuh satu orang. Setelah itu, dia belum berhasil lagi membunuh, karena lawannya sudah bisa menyesuaikan diri setelah kuda-kuda mereka kabur ke sembarang arah.


Peraduan golok dan pedang terjadi sengit dan ujung-ujungnya Arguna justru terdesak karena dikeroyok.


Hal yang sama dialami oleh Lingkar Dalam. Dia juga terdesak saat para prajurit pendekar itu mengeroyoknya.


Sebelum dirinya lebih dulu terkena serangan golok-golok pengeroyok, Lingkar Dalam buru-buru mengerahkan ilmu Tali Cekik Nyawa.


Set! Ting!


Seet seet!


Slet! Slet!


Itu bukan tindakan frustasi Lingkar Dalam, karena dari kedua tangannya tiba-tiba melesat tali sinar biru tanpa putus yang berhasil membelit leher kedua pengeroyoknya.


“Aaak!” jerit kedua prajurit pendekar itu sambil tangan kiri memegangi lehernya dan tangan kanan membacok tali sinar.


Namun, tali sinar itu kebal terhadap bacokan. Akhirnya keduanya terbetot keras ketika Lingkar Dalam menarik kencang kedua tali sinarnya. Kedua prajurit itu jatuh terbanting dengan leher yang sudah bebas dari jeratan. Namun, keduanya masih kesakitan memegangi lehernya. Itu membuat mereka tidak bisa melanjutkan pertarungan.


Sreeet!


Sementara itu, dari atas kudanya, Geladak Badak melesatkan ujung rantainya menyerang Gading Margin di atas kudanya.


Tes!


Sigap Gading Margin menangkis ujung rantai dengan kibasan jari tangannya, seperti menepis nyamuk yang terbang di depan hidung.


Uniknya, ujung rantai yang terlempar oleh tepisan, bergerak menyerang lagi seperti kepala ular.


Tes!


Gading Margin kembali menepis ujung rantai sehingga terpental lagi. Kemudian pemimpin pasukan itu memutuskan untuk melompat terbang menuju ke kuda Geladak Badak. Gerakannya bahkan mengabaikan keberadaan Bungkuk Gila dan Cantik Gelap yang ia lewati atas kepalanya.

__ADS_1


Sreeet!


Geladak Badak menyambut kedatangan Gading Margin dengan ujung rantainya yang lain. Namun, lagi-lagi tangan Gading Margin bisa menepis dan melanjutkan serangan tangannya yang kemudian menyala kuning kehitaman.


Akhirnya pertarungan seru antara Geladak Badak dan Gading Margin tergelar sengit. Geladak Badak harus meninggalkan punggung kudanya.


“Tetua Bungkuk, tolong jaga kuda mahalku!” teriak Geladak Badak sempat-sempatnya.


“Tidak mau!” sahut Bungkuk Gila sambil mencebik.


“Awas kalau kudaku hilang!” ancam Geladak Badak di sela-sela pertarungannya.


Bungkuk Gila akhirnya memilih mengajak Cantik Gelap menepi ke pinggir jalan menjadi penonton yang cantik.


Prajurit pendekar yang masih duduk di kudanya menjalankan hewan tunggangannya mengelilingi pertarungan Alma Fatara dan rekan-rekan, sambil mencuri-curi kesempatan untuk menyerang musuh.


Namun, itu tidak banyak berguna untuk melakukan intimidasi. Ketika Manila Sari dan Arguna kewalahan menghadapi pengeroyokan orang-orang yang berkemampuan setara dengan mereka, Alma Fatara bertindak sebagai pembantu teman dan penghalang lawan.


Alma Fatara membantu Manila Sari dan Arguna ketika tersudut sehingga mereka bisa melakukan pembunuhan. Sebaliknya, Alma Fatara menghalangi serangan lawan yang mengancam raga kedua anak bangsawan itu, sehingga kedua sahabatnya selamat.


Cara itu membuat satu demi satu lawan bertumbangan.


Selain itu, Alma juga menjadi pelindung dari serangan membokong yang dilakukan oleh para prajurit yang masih berkuda.


“Akk!” jerit seorang prajurit berkuda saat dia hendak membacok punggung Arguna dari belakang sambil lewat bersama kudanya. Namun pada saat itu juga, satu ujung Benang Darah Dewa melilit pergelangan tangannya dan menariknya jatuh dari kuda.


Blug! Tsuk!


“Aaak!” jerit prajurit itu saat jatuh ke tanah yang langsung ditusuk dengan pedang oleh Arguna.


“Hahaha!” tawa Bungkuk Gila melihat adegan-adegan yang dinilainya lucu.


Tus tus!


Bukan hanya menjatuhkan penunggang kuda, tetapi Alma Fatara juga menusukkan Benang Darah Dewa ke bokong kuda, sehingga sang kuda berlari liar membawa penunggangnya.


Lambat laun tapi pasti, satu demi satu prajurit pendekar itu bertewasan, memberi kejelasan bahwa pertarungan itu akan dimenangkan oleh Alma Fatara dan rekan-rekan.


Di sisi lain, duel sengit terjadi antara Geladak Badak dan Gading Margin. (RH)


 


********************


Baca Juga!

__ADS_1



__ADS_2