Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
PKS 21: Penyelamatan di Dapur Umum


__ADS_3

*Pasukan Kerajaan Siluman (PKS)*


 


Di dapur umum di ibu kota Kadipaten Sengat, bukan hanya warga perempuan yang bekerja memasak untuk memenuhi kebutuhan perut Pasukan Tanduk Kemenangan yang merupakan Pasukan Kerajaan Singayam, tapi juga warga lelaki ikut membantu memasak karena kekuarangan tenaga. Salah satu warga lelaki itu adalah Ki Paling, orang paling kaya sekadipaten.


Orang kaya itu sedang mengakut dua ember air dalam jinjingannya. Terlihat dia kepayahan dengan wajah yang berkeringat. Air di embernya sampai tumpah-tumpah.


“Biar aku bantu, Ki!” kata seorang pemuda tampan berkepala agak botak datang mendekati Ki Paling. Dia membawa sekeranjang telur bebek. Siapa lagi orang yang ke kakus pun bawa telur bebek jika bukan si ganteng Tengkorak Telur Bebek, salah satu personel Sayap Laba-Laba Pasukan Genggam Jagad.


“Tidak usah, Nak. Nanti dilihat prajurit,” kata Ki Paling menolak.


“Tidak apa-apa, Ki,” kata Tengkorak Telur Bebek sambil mengambil kedua ember itu setengah memaksa dari tangan Ki Paling. Lalu katanya, “Lihat, aku lebih kuat, Ki. Hahaha!”


“Tapi kau siapa, Nak? Aku tidak pernah mengenalmu sebagai warga Kadipaten Sengat,” tanya Ki Paling curiga.


“Ini dibawa ke mana, Ki?” Tengkorak Telur Bebek tidak langsung menjawab.


“Ke sana, ke tungku sana!” tunjuk Ki Paling ke arah deretan tungku di dapur umum itu.


Tengkorak Telur Bebek lalu membawa dua ember air ke arah tungku.


“Aku pendekar Tengkorak Telur Bebek, prajurit utusan Ratu Siluman,” kata Tengkorak Telur Bebek.


Terkejut Ki Paling mendengar pengakuan itu. Nama Ratu Siluman jelas memberi bayangan yang mengerikan. Namun, Ki Paling merasa Tengkorak Telur Bebek bukan orang jahat.


“Aku ditugaskan untuk membebaskan warga yang ditawan pergi dari sini. Apakah Aki bisa mengajak warga yang di sini pergi lewat semak-semak di sisi selatan?” kata Tengkorak Telur Bebek. “Sebentar lagi, Pasukan Ratu Siluman dan Pangeran Sugang Laksama datang menyerang. Jangan sampai kalian terjebak di dalam peperangan.”


“Hah! Pangeran Sugang Laksamana, Putra Mahkota Kerajaan Singayam?” kejut Ki Paling, terkejut seolah melihat cahaya harapan.


“Dituangkan airnya ke dalam kuali,” kata seorang warga perempuan yang akan memasak banyak daging kuda.


Tengkorak Telur Bebek lalu menuang air di dalam ember. Semuanya. Sementara Ki Paling masih dekat-dekat.


Setelah menuang air di ember itu, Tengkorak Telur Bebek merangkul bahu Ki Paling seperti merangkul sahabat sebaya.


“Di balik semak-semak itu, teman-temanku sedang menunggu untuk membebaskan warga dari tawanan Pasukan Kerajaan Singayam yang jahat ini. Bagaimana, Ki? Apakah kau bisa mengajak semua warga kabur? Kami jamin keamanan kalian,” kata Tengkorak Telur Bebek berbisik-bisik.


“Hei! Kalian!” teriak seorang prajurit tiba-tiba dari luar dapur umum itu.


Teriakan yang keras itu jelas membuat semua warga yang sedang bekerja di dapur umum terkejut dan cemas.

__ADS_1


Prajurit bertombak itu segera mendatangi posisi Tengkorak Telur Bebek dan Ki Paling. Keduanya berbalik.


“Siapa kau?!” bentak si prajurit yang seorang diri kepada Tengkorak Telur Bebek. Dia curiga dengan perawakan pemuda gundul yang seperti pendekar.


“Aku pedagang telur bebek dari Kadipaten Gulangtara. Bukankah Gusti Panglima minta dibuatkan telur bebek mata kucing?” jawab Tengkorak Telur Bebek dengan tenang, tanpa rasa takut di saat Ki Paling dan warga yang lainnya menaruh cemas.


“Dari Kadipaten Gulangtara?” sebut ulang si prajurit dengan kening berkerut.


“Coba Gusti Prajurit lihat keunggulan telurku ini,” kata Tengkorak Telur Bebek sambil mengulurkan tangannya yang memegang sebutir telur bebek, selagi otak prajurit itu sedang loading untuk memahami apa yang terjadi.


Cplok!


“Aakh!” jerit si prajurit kesakitan saat wajahnya tahu-tahu dihantam oleh telur bebek di tangan Tengkorak Telur Bebek. Dia merasakan begitu sakitnya saat kulit dan daging wajahnya terbakar oleh sifat telur tak biasa itu.


Terkejut Ki Paling dan semua warga melihat si prajurit tumbang sambil menjerit dan memegangi wajahnya.


“Hoi! Apa itu?!” teriak satu prajurit lagi yang posisinya agak jauh dari kejadian. Dia cepat berlari besama satu rekannya menuju ke dapur umum.


“Ki, cepat ajak semuanya pergi!” perintah Tengkorak Telur Bebek kepada Ki Paling.


“Iya!” ucap Ki Paling jadi tegang.


Dia cepat mengajak semua warga di dapur umum itu.


Karena panik dan tidak mau jadi tersangka yang disalahkan, para warga itu segera meninggalkan pekerjaannya dan berhamburan berlari menuju ke semak-semak di sisi selatan.


Set set!


Cplok cplok!


“Aaak! Aaak!” jerit dua prajurit yang berlari datang, ketika wajah mereka mendapat hantaman telur bebek mentah. Keduanya langsung tumbang sambil memegangi wajahnya yang terbakar oleh zat kimia dari telur.


Suara jeritan prajurit itu ternyata memancing kedatangan sepuluh orang prajurit bertombak.


Warga yang sampai di semak-semak mendadak berhenti karena melihat kemunculan seorang gadis cantik jelita berpakaian kuning, yang melompat naik ke atas pohon. Mereka takut itu adalah musuh, karena Pasukan Kerajaan Singayam juga memiliki pendekar wanita.


“Jangan takut, lewat sini!” seru gadis berpanah yang tidak lain adalah Yuyu Serindu, anggota Sayap Panah Pelangi.


“Lewat sini, Ki! Kalian akan aman, Percayalah!” panggil Kolong Wowo dari balik semak-semak itu.


Set set set...!

__ADS_1


Yuyu Serindu kemudian menunjukkan kehandalan panahannya. Seperti mesin, dia melakukan pelepasan panah dan mengisi ulang dengan sangat cepat.


Sepuluh anak panah dia habiskan yang semuanya memanahi sepuluh prajurit yang menyerbu Tengkorak Telur Bebek.


Bantuan itu membuat Tengkorak Telur Bebek terkejut plus senang. Dia menengok di saat para prajurit berseragam hitam itu bertumbangan dengan panah di leher dan di dada.


Yuyu Serindu hanya memberi senyum kepada pemuda tampan itu.


“Bidadari yang selalu membuat rindu,” ucap Tengkorak Telur Bebek kepada dirinya sendiri. Ia pun tersenyum bahagia sendiri.


Setelahnya, dia segera berlari menuju ke semak-semak, menyusul warga yang menyelamatkan diri.


Tidak ada prajurit lagi yang datang ke tempat itu. Tinggallah dapur umum yang sepi dengan api tungku yang menari-nari bahagia membakar kayu bakar.


Tidak berapa lama, barulah muncul tiga prajurit yang terkejut melihat teman-teman mereka mati di sekitar dapur umum yang telah kosong.


“Cepat lapor kepada Gusti Panglima!” perintah satu prajurit kepada prajurit lainnya.


“Kenapa aku? Kau saja yang melapor!” bantah prajurit yang diperintah.


“Biar adil, kita lapor bersama!” kata prajurit ketiga.


“Setuju!” seru kedua prajurit yang saling suruh tadi.


Maka, ketiga prajurit itu segera berlari menuju ke kediaman Adipati Patok Anggara yang manjadi markas Panglima Tebing Gali dan para perwiranya.


“Lapor, Gusti Gembira!” ucap ketiga prajurit itu ketika menemui tangan kanan Panglima Tebing Gali.


“Namaku Gambira, bukan Gembira!” hardik Gambira mendelik, membuat ketiga prajurit itu kena mental lebih dulu. “Ingat itu!”


“Iya, Gusti!” ucap mereka jadi takut, takut dihukum ketok kepala.


“Ada apa? Katakan!” tanya Gambira.


“Para prajurit di dapur umum semuanya mati, Gusti,” lapor salah satu dari prajurit itu.


“Apa?!” pekik Gambira. Dia pun kian marah, “Siapa yang membunuh mereka?!”


“Mereka dibunuh oleh prajurit panah, Gusti,” jawab salah satu prajurit yang mengandung kesimpulan.


“Keparat! Beraninya pasukan panah memberontak!” teriak Gambira.

__ADS_1


“Hei, Gambira! Jangan berisik, Gusti Panglima sedang bergairah!” hardik seorang prajurit penjaga pintu rumah. Padahal teriakannya juga berisik.


Terkejut Gambira mendapat hardikan seperti itu. Sebagai seorang tangan kanannya Panglima, dia tidak terima dihardik seperti itu, apalagi di depan ketiga prajurit yang sedang dia marahi. (RH)


__ADS_2