
*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*
Pasukan Senopati Gending Suro sedang bertempur melawan Pasukan Keamanan Istana yang pro Ratu Tua alias Ratu Warna Mekararum. Para prajurit di kedua pasukan telah berguguran di pelataran Ruang Singa itu.
Para penonton awam cukup bingung melihat pertempuran tersebut, karena warna seragam pasukan itu sama-sama warna biru gelap, sehingga sulit membedakan mana pasukan Senopati dan mana Pasukan Keamanan Istana.
Namun, meski warna seragam kedua pasukan sama, tetapi modelnya berbeda, sehingga yang mengerti akan bisa membedakan dari model pakaiannya.
Saat itu, Senopati Gendi Suro sedang bertarung tanpa senjata melawan Panglima Rakean yang bersenjata tongkat besi.
Sementara itu, Macan Brewok dan Macan Batu belum mendapat lawan yang seimbang. Mereka menghabisi prajurit-prajurit musuh dengan cakaran mautnya.
Berbeda dengan Gampar Seblak yang mengandalkan dua celuritnya dalam menghabisi lawan.
Masih ada ratusan Pasukan Keamanan Istana di depan pintu Ruang Singa yang belum turun.
Dari dalam Ruang Singa, tepatnya di belakang pasukan, sebagian Keluarga Kerajaan berdiri berkumpul menonton pertempuran itu. Sebenarnya beberapa lelaki dari Keluarga Kerajaan gatal ingin turun bertempur di medan perang, tetapi mereka harus mematuhi larangan Ratu Warna Mekararum.
Pada satu kesempatan, Panglima Rakean menusukkan tongkat besinya yang dialiri tenaga dalam tinggi.
Duk! Dug!
“Hukh!”
Untuk kedua kalianya, Senopati Gending Suro mengadu satu tinjunya dengan ujung tongkat. Hasilnya, tongkat itu terdorong keras dan ujungnya yang lain sampai mengenai dada Panglima Rakean sendiri. Hal itu membuat Panglima Rakean mengeluh dengan tubuh terlempar sajauh satu tombak, tapi tidak sampai jatuh.
Baru saja Senopati Gending Suro ingin melancarkan serangan susulan kepada Panglima Rakean, tiba-tiba ....
“Ngik ngik ngik ...!”
Tiba-tiba terdengar suara teriakan-teriakan melengking yang banyak, seperti lengkingan puluhan monyet. Suara berisik yang tidak merdu itu membuat Senopati Gending Suro terkejut dan cepat menengok untuk melihat apa itu.
Bukan hanya sang senopati, para prajurit pasukan yang sedang bertempur pun menyempatkan diri untuk melihat, sampai-sampai pertempuran nyaris berhenti total.
Mereka semua melihat kedatangan puluhan laki-laki berpakaian tidak seragam dan berpenampilan liar dengan rambut gondrong semua. Ada yang berbaju, ada yang tidak berbaju, bahkan ada yang busikit hanya bercawat tanpa malu ria. Yang jelas, mereka bersenjata semua. Pasukan asing itu justru dipimpin oleh seorang emak-emak yang juga memegang pedang dan juga berbaju.
“Ngik ngik ngik ...!”
Pasukan yang adalah Kelompok Lutung Pintar pimpinan Emak Lutung itu, berlari masuk ke halaman Ruang Singa untuk masuk ke pertempuran.
“Berhenti!” teriak satu suara keras membahana tiba-tiba.
Mau tidak mau, Emak Lutung dan pasukannya harus berhenti berlari mendadak dan batal masuk ke pertempuran. Perintah itu juga sontak membuat orang-orang liar itu berhenti menjerit-jerit, sedikit meneduhkan kedamaian telinga.
Kemunculan Kelompok Lutung Pintar membuat pertarungan berhenti. Pasukan Keamanan Istana yang jumlahnya terkuras banyak, bergerak mundur menciptakan jarak dengan pasukan Senopati yang juga semakin berkurang jumlahnya.
Senopati Gending Suro merehatkan dulu adrenalin tarungnya. Dia ingin melihat siapa yang datang dan siapa yang memimpin. Apalagi ada satu suara lelaki yang memegang perintah. Dia ingin tahu siapa orang itu.
__ADS_1
“Bagus, rupanya penjebolan penjara berjalan baik,” ucap Ratu Warna Mekararum di dalam Ruang Singa saat tahu siapa pasukan yang datang.
Drap drap drap ...!
Ternyata di belakang pasukan liar itu masih ada dua pasukan lain yang juga berlari datang. Pasukan pertama adalah pasukan berseragam merah-merah dari Perguruan Pisau Merah. Mereka maju dan berhenti membentuk barisan di sisi kanan Kelompok Lutung Pintar.
Pasukan kedua adalah pasukan berseragam biru gelap, yang dari model bajunya menunjukkan mereka adalah Pasukan Pengawal Raja yang dipimpin oleh Komandan Buto Sisik. Pasukan itu mengambil tempat parkir di sisi kiri Kelompok Lutung Pintar.
Datangnya ketiga pasukan itu jelas mengejutkan Senopati Gending Suro dan pasukannya. Dengan munculnya ketiga pasukan itu, sangat jelas jumlah pasukan Senopati yang tinggal kurang dari dua ratus orang terancam ditumpas habis.
Dari belakang ketiga pasukan baru itu muncul berjalan beberapa orang, di antaranya Pangeran Bugar Jantung, Komandan Gebuk Sewu, Ki Tonjok Gila, Debur Angkara, dan Ayu Wicara.
“Pangeran Bugar Jantung!” ucap Senopati Gending Suro terkejut, karena dialah dalang yang mengkriminalisasi Pangeran Bugar Jantung tanpa sepengetahuan siapa pun. Ceritanya panjang dan berliku, kurang tepat jika diceritakan dalam kondisi darurat seperti ini.
Orang-orang yang mengenali sosok Pangeran Bugar Jantung hampir semuanya terkejut melihat kemunculannya, kecuali Ratu Warna Mekararum yang memerintahkan operasi pembebasannya.
Pangeran Bugar Jantung berdiri diam memandangi situasi pertempuran yang terhenti itu. Dia sedang membaca peta kecil yang tergelar di halaman Ruang Singa.
Sebelum dipenjara, Pangeran Bugar Jantung adalah Menteri Perang yang membawahi Senopati Gending Suro.
“Aku ambil alih komando pasukan Gusti Ratu Warna Mekararum!” teriak Pangeran Bugar Jantung tiba-tiba, mengejutkan Panglima Rakean dan pasukannya. Lalu perintahnya, “Pasukan Keamanan Istana mundur!”
Pasukan Keamanan Istana yang bertempur langsung dengan pasukan Senopati segera bergerak mundur. Para prajurit rekan yang terluka dibantu mundur.
Langkah itu membuat pasukan Senopati di tinggal di tengah-tengah bersama para mayat yang bergelimpangan tanpa nyawa.
“Menyerahlah, Gending Suro!” seru Pangeran Bugar Jantung sambil berjalan lebih maju, memperpendek jarak dengan Senopati.
“Menyerah? Hahaha!” Senopati Gending Suro justru tertawa. Lalu teriaknya, “Bahkan seorang diri pun aku sanggup membunuh kalian semua!”
Pangeran Bugar Jantung lalu berteriak kepada pasukannya, “Pasukan Perguruan Pisau Merah, Kelompok Lutung Pintar, jika kalian bisa menghabisi pasukan Senopati, hadiah besar akan aku berikan kepada kalian!”
“Yeee!” sorak bersemangat pasukan Perguruan Pisau Merah.
“Ngik ngik ngik ...!” jerit-jerit Kelompok Lutung Pintar kegirangan.
Sementara para prajurit Pasukan Pengawal Raja pimpinan Komandan Buto Sisik hanya mendelik karena mereka tidak ditawari.
“Serang!” perintah Pangeran Bugar Bawah.
“Majuuu!” teriak Komandan Gebuk Sewu yang berlari maju lebih dulu.
“Seraaang!” teriak pasukan merah-merah dengan kedua tangan telah memegang pisau merah beracun. Mereka mendahului Kelompok Lutung Pintar.
“Seraaang!” teriak Emak Lutung kencang.
“Ngik ngik ngik ...!” teriak Kelompok Lutung Pintar sambil berlari beramai-ramai menyerbu ke arah pasukan senopati.
__ADS_1
“Panah!” teriak seorang kepala prajurit dalam pasukan Senopati.
Set set set ...!
Ceb ceb ceb ...!
“Akk! Akk! Akk ...!”
Belasan prajurit panah yang masih tersisa, cepat melesatkan anak panahnya kepada pasukan seragam merah yang datang.
Namun, para murid Perguruan Pisau Merah sudah terbiasa menghadapi serangan pisau yang kecepatannya seperti anak panah. Maka, mereka dengan sigap bisa menghindari serangan anak panah, meski ada satu dua murid yang tidak bisa menghindar dengan sempurna.
Apesnya pasukan Senopati, pasukan Perguruan Pisau Merah beramai-ramai melesatkan pisau-pisau mereka yang kecepatannya secepat anak panah.
Puluhan prajurit pasukan Senopati berjeritan ketika mereka dihujani pisau-pisau beracun.
Dan akhirnya kedua pasukan bertemu, beralih ke dalam pertempuran bersosoh.
Komandan Gebuk Sewu langsung mengambil lawan dari kalangan pendekar, yaitu Macan Brewok.
Emak Lutung bertarung sebentar membunuhi prajurit musuh, lalu kemudian bertemu dengan Gampar Seblak.
Di udara berlari sosok Ki Tonjok Gila dan mendapati Macan Batu sebagai lawan.
“Kacang Bubur, bagaimana?” tanya Ayu Wicara kepada kekasihnya.
“Asalkan bersamamu, mati pun aku akan tetap gagah berani,” jawab Debur Angkara.
“Hihihi! Kalau mandi (mati) aku tidak mau bersama. Kacang saja mandi sendiri,” kata Ayu Wicara lalu berlari maju sambil menyeret pedang besarnya yang berat.
Debur Angkara segera mencabut dua Golok Seria lalu berlari menyusul Ayu Wicara masuk ke dalam pertempuran.
“Hiaaat!” teriak Panglima Rakean sambil melompat menyerang Senopati Gending Suro dengan tongkat besinya.
Pertarungan dua pemimpin pasukan itu kembali berlanjut.
Tinggallah Ratu Warna Mekararum, Keluarga Kerajaan, Pasukan Keamanan Istana, dan Pasukan Pengawal Raja menjadi penonton yang gatal, gatal ingin ikut terjun menghabisi pasukan Senopati.
“Ada apa ramai-ramai, Paman?” tanya Alma Fatara yang tahu-tahu sudah berdiri di sisi kiri Pangeran Bugar Jantung, sambil sama-sama memandangi pertarungan yang berlangsung.
“Kambing goreng!” pekik Pangeran Bugar Jantung terkejut dan refleks melompat kecil ke samping kanan menjauhi sosok wanita berjubah hitam di sampingnya.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat reaksi orang tua itu. (RH)
*******************
Catatan: Coba cek lagi Bab 44, apakah Anda sudah membacanya. Sebab, sebelumnya ada kesalahan dalam memasukkan chapter. Terima kasih.
__ADS_1