
*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*
“Semua mundur menjauh!” seru Alma Fatara atas pertimbangan bahwa mungkin saja Senopati Gending Suro akan melepaskan bola sinar birunya yang bisa meledak di angkasa.
Maka seluruh pasukan yang mengelilingi pusat pertempuran segera bergerak mundur lebih menjauh. Biarkan saja Mak Lutung bertarung sendirian melawan Gempar Seblak di antara mayat-mayat yang bergeletak. Jangan pisahkan sebelum mau bercerai.
“Ayo, Paman!” seru Alma Fatara sambil memasang kuda-kuda yang serius.
“Amal, kura-kuramu (kuda-kudamu) kependekan! Bokongmu jadi kelihatan kebaratan (keberatan)! Hihihi!” teriak Ayu Wicara lalu tertawa cekikikan di tempatnya.
“Hahaha!” tawa banyak prajurit mendengar teriakan Ayu Wicara yang tidak mereka mengerti sepenuhnya, tetapi yang jelas mereka mengerti perkara bokong dari sudut manapun.
Teriakan Ayu Wicara itu membuat Alma Fatara kembali berdiri tegak menghilangkan kuda-kudanya.
“Hei, Lidah Kusut! Berhentilah teriak-teriak seolah-olah suaramu yang paling merdu! Makanya kalau menyusu ke ibumu jangan sampai lima tahun lima bulan lima hari!” teriak Ning Ana dari teras Ruang Singa mencela teriakan Ayu Wicara.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara dan para prajurit mendengar teriakan barbar Ning Ana.
“Anak Kutu sialan! Baru dua hari berpisang (berpisah), sudah berani kepadaku. Kau mau berkarung (bertarung) denganku, hah?! Maju sini biar aku jilat (jahit) bibirmu!” teriak Ayu Wicara membalas, lalu dia berjalan sambil menyeret pedang besarnya hendak mendatangi Ning Ana.
“Jangan, Ayu Sayang!” kata Debur Angkara sambil buru-buru memeluk pinggang kekasihnya dari belakang agar tidak pergi mendatangi Ning Ana.
“Lepaskan, Kacang Bubur! Anak itu perlu diberi pelacuran (pelajaran)!” ronta Ayu Wicara.
“Siapa yang takut? Akan aku tarik lidahmu sampai tanah biar bicaramu lempeng!” teriak Ning Ana pula emosi sambil mencabut dua pisaunya dan berjalan hendak menemui Ayu Wicara.
“Eh, jangan bertarung dengan teman sendiri!” kata seorang lelaki yang tiba-tiba muncul memeluki pinggang Ning Ana dari belakang.
“Lepaskan! Dia itu teman beracun! Lepas ...,” teriak Ning Ana meronta.
Namun, tiba-tiba gadis belia itu berhenti meronta, karena tersadar bahwa orang yang menahan dengan memeluk pinggangnya adalah seorang lelaki.
“Beraninya kau menyentuhku! Lelaki kurang ....”
Makian Ning Ana terputus saat retinanya menangkap satu visual wajah tampan dan masih muda. Dia tadi melihat wajah itu di antara anggota Keluarga Kerajaan. Wajah pemuda itu tidak lain adalah milik putra Pangeran Bugar Bawah atau kakak dari Putri Manila Sari, yaitu Pangeran Arguna.
Melihat Ning Ana justru terpaku menatapnya, Pangeran yang bukan anak raja itu segera melepaskan pelukannya pada tubuh Ning Ana.
“Eh, maafkan aku, Gusti. Iya, aku tidak akan bertarung. Hihihi!” ucap Ning Ana sambil tersipu malu ala-ala anak cabe-cabean.
Blass!
__ADS_1
“Akk!” jerit Alma Fatara dengan tubuh terlempar jauh ke belakang setelah beradu sakti dengan Senopati Gending Suro.
“Almaaa!” teriak para sahabat Alma Fatara, yaitu Ayu Wicara, Debur Angkara dan Sudigatra.
“Kak Almaaa!” teriak Ning Ana telat.
Di saat Ayu Wicara dan Ning Ana bertengkar. Alma Fatara yang menertawakan keduanya tiba-tiba maju menyerang Adipati Gending Suro.
Pertarungan tangan kosong terjadi sebentar. Ternyata Alma Fatara bisa mengimbangi kecepatan gerak sang senopati.
Namun, tiba-tiba ada ledakan cahaya biru dari telapak tangan sang senopati. Ledakan cahaya itu melemparkan tubuh Alma Fatara cukup jauh dan jatuh berdebam hingga memantul sekali dan dia dalam posisi tengkurap.
Setelah itu, Alma Fatara terdiam.
Semua terkejut melihat Alma Fatara terdiam seperti orang yang langsung mati.
“Hahahak!” tawa kencang Senopati Gending Suro di saat yang lainnya diam terkejut. Ternyata dia masih menyimpan sekeping rasa bahagia.
“Aku bunuh kau, Kecoa Bugil!” teriak Ning Ana murka sambil melempar dua pisau merah sekaligus kepada Gending Suro.
Sebenarnya dua pisau itu tidak akan sampai kepada Gending Suro karena jarak yang kejauhan. Namun, Gending Suro mengarahkan telapak tangan kanannya kepada arah kedatangan kedua pisau, lalu menghentakkan telapak tangannya.
Tindakan Gending Suro itu membuat kedua pisau berhenti dan melayang di udara. Ning Ana terkesiap melihat itu, terlebih ketika dua pisau merahnya tahu-tahu berbalik dan melesat lebih cepat menyerangnya.
Saking cepatnya, sampai-sampai Ning Ana hanya terpaku siap mati. Namun, tiba-tiba pula tubuhnya tertarik ke samping dan jatuh pada pelukan seorang lelaki. Hal itu membuat kedua pisau kehilangan target dan menancap di tameng seorang prajurit Pasukan Keamanan Istana yang berbaris di sisi belakang.
“Ehhem!” dehem Pangeran Bugar Bawah selaku ayah dari Pangeran Arguna.
Pangeran Arguna terkejut saat melihat wajah ayahnya. Buru-buru dia melepas tangannya dari tubuh dan tangan Ning Ana, sampai-sampai tubuh gadis belia itu terhempas begitu saja ke lantai.
“Hahaha!” tawa para prajurit Pasukan Keamanan Istana, karena adegan drama cinta simpanse itu tergelar di depan mata mereka.
“Amaaal!” teriak Ayu Wicara sambil berlari ke posisi Alma Fatara tengkurap.
“Almaaa!” teriak Debur Angkara pula sambil berlari bersama kekasihnya.
Kondisi Alma Fatara itu bahkan mendorong Sudigatra melompat keluar dari dalam Ruang Singa, meninggalkan Ratu Warna Mekararum.
Set!
Enam pisau terbang dilesatkan oleh Sudigatra kepada Senopati Gending Suro. Berbeda dengan lemparan Ning Ana, lemparan pisau Sudigatra sebagai pemimpin Perguruan Pisau Merah pasti sangat sampai.
Wus!
__ADS_1
Namun, Senopati Gending Suro cukup mengibaskan tangan kanannya yang membuat keenam pisau itu terhempas ke samping.
Setelah itu, Sudigatra langsung menyerang Senopati dengan dua pisau merah di genggaman. Sang senopati pun meladeni Sudigatra yang terlihat jelas level kependekarannya.
Pertarungan yang saling mengandalkan gerak cepat terjadi. Kedua lelaki beda usia itu sama-sama tangguh. Kedua pisau Sudigatra belum juga menemukan sasaran, demikian pula pukulan dan tendangan Senopati belum menghatam sasaran. Bertarung dengan dua pisau tidak membuat Sudigatra lemah pertahanan.
Blass!
Senopati Gending Suro tiba-tiba meledakkan cahaya biru dari telapak tangan kanannya. Namun, Sudigatra rupanya sudah mewaspadai serangan yang sebelumnya membuat Alma Fatara terkapar itu.
Sudigatra sangat cepat bergerak memutari tubuh Gending Suro, ketika melihat gelagat ilmu Pecah Cahaya Langit dikeluarkan. Ledakan cahaya biru itu tidak mementalkan siapa pun.
Sementara Sudigatra yang berada di belakang lawan, cepat membokong menikamkan kedua pisau beracunnya.
Namun, tanpa melihat, sang senopati bisa menggerakkan tangannya ke belakang menangkis tangan Sudigatra, lalu cepat berbalik dan balas menyerang dengan tendangannya. Sudigatra mampu menangkis serangan kaki dengan kaki pula.
Pertarungan itu untuk sementara berlangsung alot.
Di sisi lain, Ayu Wicara cepat membalikkan tubuh Alma Fatara untuk memastikan apakah dia mati atau pingsan. Masalahnya, tidak terlihat tanda-tanda pergerakan napas pada badan Alma.
“Amal, jangan mandi (mati). Akan ada pertumpahan darah antara aku dan Ning Anu (Ana) jika kau mandi (mati). Kebab (sebab), tidak ada orang yang menikahkan (memisahkan) kita!” ratap Ayu Wicara. Sambil menangis kadal dia membalikkan tubuh Alma Fatara hingga terlentang.
“Weeek!” lewek Alma Fatara sambil menjulurkan lidahnya.
“Setan urap (kurap)!” maki Ayu Wicara terkejut sambil refleks tangannya menepak wajah cantik Alma Fatara yang telah bersenda gurau dan bersandiwaraa.
Pak!
“Akk!” pekik Alma Fatara karena wajahnya dipukul spontan oleh Ayu. Dia pun batal tertawa.
“Aku sudah mengais (menangis) sepenuh mati (hati) merayapimu (meratapimu), tapi kau dasar kutang (kurang) ajar, Amal!” maki Ayu Wicara marah dan ngambek.
“Hahahak!” Kali ini Alma Fatara wajib tertawa sambil bangun dari rebahannya.
Sebagian besar orang hanya tersenyum melihat drama yang dibuat pendekar wanita yang mengaku panglima perang paling cantik di lautan itu.
Suara tawa Alma Fatara jelas mengusik pendengaran Senopati Gending Suro. Dia sempat melirik Alma Fatara yang bangkit sambil tertawa menertawai Ayu Wicara.
“Perempuan gila!” desis Senopati Gending Suro lalu menghentakkan kedua lengannya untuk membunuh Sudigatra.
Wuss!
Segelombang sinar merah tipis yang sangat panas menerpa Sudigatra yang sigap pasang ilmu perisai.
__ADS_1
Sebuah kubah sinar kuning lebar muncul di depan tubuh Sudigatra dan membendung gelombang panas sinar tipis. Ilmu Perisai Sakti sanggup menangkal serangan Senopati Gending Suro.
“Paman Gendeng! Ayo kita lanjutkan pertarungan kita, tadi aku hanya bercanda, jangan diambil hati! Hahaha!” seru Alma Fatara sambil berjalan mendekati titik pertarungan. “Terima kasih, Paman Sudigatra. Berikan Paman Gendeng kepadaku!” (RH)