Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DAS 23: Gadis Kampung Siluman


__ADS_3

*Dendam Anak Senopati (DAS)*


 


Sesuai arahan dari Kunthul si kekasih kuda, Alma Fatara akhirnya tiba di gapura batu besar yang di bawahnya dilalui jalan besar Kotabatu Niwakmaya. Gapura itu memiliki dua obor besar di tiang kanan dan kiri sebagai penerang.


Di gapura itu tidak ada orang selain Alma Fatara. Malam memang sudah larut.


Sesuai arahan Kunthul, Alma Fatara lalu berbelok kiri, tidak lurus.


Namun, tepat ketika Alma berbelok kiri mengikuti jalan yang belokannya memang ke arah kiri, Alma Fatara melihat sejumlah lelaki sedang berjalan mengawal sebuah pedati beroda empat yang ditarik oleh dua ekor kuda.


Pedati kuda itu memiliki kerangkeng besi besar di belakangnya. Di dalam kerangkeng itu gelap, tetapi dapat dipastikan bahwa yang ada di dalam kerangkeng adalah beberapa orang menusia, bukan sapi apalagi ayam.


Pedati itu dikawal oleh enam lelaki berpakaian merah di kanan pedati dan enam orang di kiri pedati. Sementara di sisi belakang ada enam orang lelaki berpakaian merah lainnya yang berjalan kaki mengikuti. Para pengiring itu bersenjatakan tombak panjang biasa tanpa membawa perisai.


Di belakang dua kuda ada seorang sais. Di sisi kanannya duduk seorang lelaki botak berpakaian merah bagus. Lelaki botak tapi berkumis itu memiliki sebatang tombak besi pendek berekor rantai. Dari gaya duduknya, memberi ciri bahwa dialah orang yang memimpin rombongan itu.


Rombongan itu membawa obor sebanyak delapan buah sebagai penerangan.


Rombongan itu baru saja keluar dari gapura batu lain tapi berbeda model. Jika melihat ke arah gapura, maka sudah bisa terlihat bangunan-bangunan bermodel lapak-lapak yang kosong karena sudah tutup, menunjukkan bahwa itu kawasan pasar.


Alma Fatara memilih berhenti di pertigaan agar tidak beradu arah dengan rombongan tersebut. Namun, jika melihat warna pakaiannya yang merah-merah, Alma Fatara menaruh curiga pada rombongan itu.


Lelaki botak berkumis, sais pedati dan semua lelaki pengiring pedati berkerangkeng itu memerhatikan Alma Fatara. Bagaimana tidak, Alma Fatata yang berdiri tidak jauh di bawah obor batu besar di tiang gapura, terlihat begitu cantik. Kecantikannya terlihat jelas.


Namun meski demikian, di dalam hati para lelaki itu justru dilanda kengerian. Tampilan serba hitam dengan rambut tergerai lurus, membuat Alma Fatara tidak bisa meyakinkan mata para lelaki itu bahwa dirinya adalah seorang wanita manusia biasa, bukan kuntilanak hitam yang cantik menipu.


Alma Fatara pun tidak gentar memandang rombongan itu, terutama memandang para tawanan yang dikurung di dalam kerangkeng. Ketika rombongan itu mendekati gapura batu besar di mana Alma berdiri, semakin jelas terlihat orang-orang di dalam kerangkeng.


Ternyata orang-orang yang ada di dalam kerangkeng adalah enam orang perempuan yang tampak berantakan rambutnya.


“Almaaa!” jerit keras satu wanita di dalam kerangkeng tiba-tiba, mengejutkan Alma Fatara dan semua orang yang mengawal rombongan itu.


“Alma, bebaskan kami! Kami wanita dari Kampung Siluman!” teriak wanita lain di dalam kerangkeng sambil mengulurkan tangannya ke luar kerangkeng.


“Berhenti!” seru Alma Fatara cepat menanggapi permintaan tolong para tawanan perempuan itu.

__ADS_1


“Jalan terus, jangan berhenti!” perintah lelaki botak berkumis kepada sais di sisinya.


“Almaaa! Almaaa!” teriak para wanita di dalam kerangkeng bersahut-sahutan, kali ini sambil menangis karena pedati dan rombongan itu terus berjalan dan berbelok ke kiri, arah lurus dari posisi gapura batu besar.


“Woi! Jika kalian tidak mau berhenti, aku anggap kalian telah menangkap saudara-saudaraku. Jangan menyesal di alam kubur jika kalian mati olehku!” seru Alma Fatara yang kini dibelakangi oleh rombongan tersebut.


Namun, tidak ada respon dari orang-orang dalam rombongan yang mulai meninggalkan pertigaan itu.


Ziiing!


Para lelaki berbaju merah itu mendadak terkejut ketika mereka mendengar suara dengingan yang samar di belakang. Mereka segera menengok dan melihat Alma Fatara telah memutar-mutar sesuatu di atas kepalanya yang mengeluarkan wujud piringan sinar biru.


Ziiing!


Alma Fatara kemudian melempar Bola Hitam yang diputar-putar di atas kepala seperti tali lasso seorang cowboy. Piringan besar sinar biru yang muncul dari putaran itu melesat cepat ke samping dengan lintasan memutar.


Ziiing!


Para lelaki itu hanya bisa terkejut dengan mata mengikuti gerakan piringan sinar biru yang dengan cepat melintas berputar, lalu tahu-tahu sudah memangkas kaki depan dua kuda penarik pedati.


“Keparat perempuan siluman!” teriak keras satu lelaki begitu marah.


Kejap berikutnya, sosok lelaki botak telah mencelat dari balik pedati ke udara.


Suus!


Sebola sinar jingga dilesatkan oleh lelaki botak kepada Alma Fatara.


Bzet! Blar!


Bsess! Bzet!


Alma Fatara langsung melesatkan ilmu Sabit Murka yang menghantam sinar jingga dan meledakkannya di udara. Sementara sinar kuning sabit terus melesat menghantam tubuh lelaki botak. Namun, lelaki botak cepat melindungi dirinya dengan lapisan sinar hijau bermotif sarang lebah madu.


Blugk!


Lelaki botak jatuh berdebam di tanah jalanan. Namun, dia cepat bangkit.

__ADS_1


“Seraaang!” teriak lelaki botak berkomando.


“Hiaaat!” teriak para lelaki berpakaian merah dengan tombak-tombak siap tusuk-menusuk.


Alma Fatara melompat maju sekali, lalu masuk ke antara para lelaki dan di sana dia menari penuh kelincahan. Tariannya bukan tari jaipong atau tari samba, tetapi tarian tanpa tangan. Maksudnya dia bergerak tidak mengaktifkan kedua tangannya.


Alma Fatara mengaitkan kedua tangannya di belakang pinggang. Sementara kakinya bergerak lincah yang membuat tubuhnya dengan mudah menghindari tusukan-tusukan tombak.


Tus tus tus ...!


“Aw! Aik! Mak!”


Meski demikian, dua ujung Benang Darah Dewa milik Alma Fatara aktif bertarung tanpa terlihat oleh lawan. Para lelaki itu hanya berjeritan ketika mereka mendapat suntikan-suntikan di berbagai persendian mereka.


Bduk! Tak! Beduk!


Satu per satu lelaki bertombak jatuh terlutut ketika persendian lutut mereka disuntik oleh Benang Darah Dewa. Sebagial lagi harus melepaskan senjatanya jatuh begitu saja ke tanah, ketika tangan dan persendian di siku disuntik Benang Darah Dewa, membuat tangan mereka lemah dan sakit, sehingga tidak kuat untuk menggenggam.


Sek sek sek!


“Aaak! Akk! Akh ...!”


Setelah melumpuhkan mereka semua dalam waktu yang relatif singkat sesingkat-singkatnya, Benang Darah Dewa lalu melilit dua tombak dan mengangkatnya. Kejap berikutnya, kedua tombak itu ditusuk-tusukkan ke dada-dada kaum batangan yang sudah lumpuh. Para lelaki yang sudah besar-besar itu berjeritan ketika mereka ditusuk. Namun, tusukan itu tidak sampai membunuh mereka.


Set! Blar!


Bzet bzet!


Tiba-tiba dari sisi lain datang melesat tombak besi yang bersinar merah menyilaukan mata menyerang Alma Fatara.


Alma Fatara memilih menghindar dengan melompat menjauh untuk menghindari ledakan sinar merah pada ujung tombak. Alma Fatara yang sudah pernah menghadapi senjata tombak bersinar merah itu tahu bahwa pada puncak lesatannya, tombak itu akan meledakkan sinar merah.


Sambil melompat menjauh itu, Alma Fatara melesatkan dua sinar kuning sabit. Cepatnya dua sinar kuning Alma membuat lelaki botak yang menyerang Alma hanya bisa membentengi dirinya dengan ilmu Sarang Lebah Penolong.


Dua sinar kuning menghantam perisai sinar hijau. Dua hantaman itu sangat cukup membuat si botak berkumis terpental.


Meski si botak tidak sampai jatuh, tetapi ada darah kental yang keluar dari celah bibirnya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2