Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DKT 6: Pelayan Setia


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*


“Mundur saja kau, Cucu Cantikku!” kata Bungkuk Gila kepada Alma Fatara. “Jangan kotori tanganmu dengan darah-darah kotor mereka.”


“Baik, Kek,” ucap Alma Fatara sembari tersenyum lebar yang memperlihatkan di giginya ada lubang kunci. “Apakah Kakek mau aku pesankan sup sapi betina kuah cumi?”


“Iya, iya. Dua mangkok. Hehehe!” jawab Bungkuk Gila senang.


Alma Fatara lalu berbalik dan pergi masuk ke dalam pemakanan untuk bergabung bersama rekan-rekannya.


Para pengawal yang tadi dihempaskan dengan angin kibasan ranting Bungkuk Gila, telah berbangkitan kembali dan sudah siap tarung lagi dengan perasaan yang ragu.


“Kenapa bukan kau saja yang maju, Anak Cantik?” tanya Bungkuk Gila sambil menunjuk Cantik Gelap.


Ada sekuntum bunga yang mekar di dalam hati Cantik Gelap karena kecantikannya diakui. Namun, rasa gentar lebih mendominasi di perasaan Cantik Gelap. Meski dia belum pernah bentrok dengan Bungkuk Gila, tetapi dia sudah tahu bahwa kakek itu berkesaktian tinggi dan gila.


Apa boleh buat, daripada malu di mata seluruh penonton dan anak buahnya, Cantik Gelap mau tidak mau harus bentrok dengan si kakek demi harga diri.


Sus sus!


Tanpa berkata-kata lagi, Cantik Gelap melompat ke depan sambil melesatkan dua bola sinar jingga dari ilmu Jeruk Pengantar Maut.


Sas! Sas!


Namun, dengan tenangnya Bungkuk Gila menepis dua bola sinar jingga itu dengan ranting berdaunnya. Kedua bola sinar itu musnah ambyar.


Selanjutnya, Cantik Gelap menyerang langsung Bungkuk Gila dengan permainan tombak besi pendeknya yang berantai pada ujung pangkalnya.


Sementara kesepuluh pengawal bertombak yang masih sanggup bertarung, mereka melakukan pengepungan area tarung, tapi hanya sekedar berjaga-jaga sebagai formalitas. Mereka lebih seperti orang yang mengepung orang gila, tapi takut menyergapnya.


Cantik Gelap yang wajahnya tidak gelap itu mengerahkan kemampuan maksimalnya. Setelah permainan hebat tombak besinya tidak kunjung mendapat target tusuk karena Bungkuk Gila terlalu lihai dan cepat, ditambah ranting kayunya sebagai senjata, Cantik Gelap mulai menyalakan tombaknya dengan sinar merah menyilaukan.


Set! Blar!


Pada suatu ketika, saat Tombak Iblis yang dilesatkan dihindari oleh Bungkuk Gila, pada ujung lesatannya tombak itu meledakkan sinar merah, membuat tubuh Bungkuk Gila terlempar tidak terkendali.


Cantik Gelap cepat memburu tubuh Bungkuk Gila yang oleng dengan sebola sinar jingga.


Sus! Sas!


Namun, dalam kondisi oleng, Bungkuk Gila tetap bisa memukul bola sinar jingga hingga ambyar.


Kegagalan itu segera Cantik Gelap tindak lanjuti dengan langkah mendekat sambil melesatkan kembali tombak yang bersinar merah menyilaukan.


Prass!  Syess!


Dengan tangan kanan yang menepis lesatan tombak menggunakan ranting berdaunnya, Bungkuk Gila dengan gerakan tangan kiri berhasil membuat Cantik Gelap tidak berdaya.


Cantik Gelap berdiri tegak mengejang dengan sepasang mata mendelik. Ketika tangkai ranting menepis tombak, tangan kiri Bungkuk Gila menghentak ke depan wajah si gadis. Gerakan tangan kiri yang cepat itu mengeluarkan lima garis sinar kuning yang tipis, menjerat wajah Cantik Gelap seperti menyengatnya.


“Serang!” teriak salah satu pengawal bertombak melihat kondisi Cantik Gelap yang tidak bisa melawan dalam keterpakuannya.


Wuss!

__ADS_1


Namun, belum lagi para pengawal itu maju, ranting Bungkuk Gila sudah mengibas mengirimkan angin keras yang menerbangkan.


“Hahaha! Setelah kau terkena Sihir Benang Setia, kau tidak akan pulang-pulang!” kata Bungkuk Gila.


Setelah dinilai cukup, Bungkuk Gila menghentikan pengaliran energi benang sinar kuningnya ke wajah Cantik Gelap. Dengan berhentinya serangan ilmu Sihir Benang Setia, Cantik Gelap kini berdiri tidak kejang lagi dan tidak mendelik lagi. Namun, wajahnya berubah datar dan pandangannya berubah lurus menerawang, seperti orang melamunkan sang kekasih yang pergi tidak kembali-kembali.


“Hei, kalian!” panggil Bungkuk Gila kepada para pengawal yang sudah kebingungan harus berbuat apa. “Pulanglah kalian semua ke Niwakmaya. Katakan kepada ketua baru kalian, aku pinjam gadis ini untuk aku jadikan pelayan setia!”


Para pengawal itu sejenak saling pandang untuk minta pendapat. Mereka segera mufakat satu suara, yaitu mundur. Mereka segera membantu rekan-rekan yang terluka dan mundur ke pedati. Para pengawal yang terluka dinaikkan ke pedati dan ke dalam kerangkeng. Sementara yang sehat harus berjalan terpincang-pincang mengiringi pedati. Sepertinya perjalanan mereka akan berat.


Mereka meninggalkan pemimpinnya yang berdiri diam seperti orang-orangan sawah. Sukmanya seolah-olah dicuri orang.


“Hehehe!” kekeh Bungkuk Gila melihat kepergian para pengawal Kelompok Tombak Iblis.


Dia lalu beralih memandangi Cantik Gelap sambil terbungkuk-bungkuk karena dia memang bungkuk. Seperti seorang kakek cabul, Bungkuk Gila memandangi Cantik Gelap dari ujung kaki sampai ke puncak kepala.


“Ayo ikut!” ajak Bungkuk Gila sambil memukulkan ujung ranting berdaunnya ke kepala Cantik Gelap, tapi pelan.


Cantik Gelap lalu berjalan mengikuti Bungkuk Gila pergi ke pemakanan. Dia berjalan dengan pandangan mata lurus ke depan.


Dak! Bleguk!


Ketika menaiki tangga tiga undak di pintu masuk pemakanan, Cantik Gelap tersandung dan jatuh tersungkur di lantai pemakanan.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara dan rekan-rekan melihat kekonyolan itu.


Bukan hanya Alma The Gang yang tertawa, pelanggan pemakanan yang lain juga ikut tertawa.


Meski dalam pengaruh Sihir Benang Setia, Cantik Gelap tetap mengerti cara bangun.


Kakek bungkuk itu lalu menggandeng tangan kanan Cantik Gelap yang tetap memandang lurus, seperti seorang supermodel yang sedang berjalan di jalanan kucing.


“Cie cieee! Hahaha!” sorak Alma Fatara lalu kian tertawa melihat kemesraan dua insan beda usia itu.


“Hahaha!” tawa Bungkuk Gila saat tiba di meja Alma dan kawan-kawan. Dengan bangga dia menunjukkan Cantik Gelap yang seperti gadis bego.


“Hebat sekali kesaktianmu, Kek,” puji Manila Sari.


“Hahaha! Sekarang kau jatuh hati kepadaku, Cantik,” kata Bungkuk Gila geer.


Manila Sari mendelik dan buru-buru menelan ludahnya sebelum dia muntah mendengar kata-kata Bungkuk Gila.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara.


“Ayo duduk, Sayang!” ajak Bungkuk Gila kepada Cantik Gelap.


Cantik Gelap turun duduk di sisi meja yang kosong. Dia duduk bersebelahan dengan Bungkuk Gila. Di depan mereka berdua sudah tersedia dua mangkok sup daging sapi betina dengan kua berwarna hitam pekat sepekat malam tanpa kunang-kunang.


“Pantas Kakek pesan dua mangkok, ternyata ini maksudnya,” kata Alma Fatara baru paham.


“Bungkuk Gila, kau bermaksud mencabuli murid Raja Tombak Iblis ini?” tanya Geladak Badak.


“Aku itu orang benar. Mulutku bisa kurang ajar, tetapi tanganku jangan sampai. Tidak seperti kau, Badak,” bantah Bungkuk Gila. “Tapi, apakah kalian tahu siapa namanya?”

__ADS_1


“Cantik Gelap, salah satu penanggung di Kelompok Tombak Iblis,” jawab Geladak Badak.


“Mulai sekarang, namamu adalah Cantik Terang,” kata Bungkuk Gila.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara.


“Cantik Terang!” panggil Arguna kepada Cantik Gelap.


Cantik Gelap menengok kepada Arguna, tetapi pandangannya lurus menerawang mencoba menembus kepala pemuda tampan itu.


“Cantik Terang!” panggil Manila Sari pula.


Cantik Gelap cepat beralih menengok memandang kepada Manila Sari tanpa ekspresi.


“Cantik Terang!” panggil Lingkar Dalam juga.


Cantik Gelap kembali cepat menengok ke wajah Lingkar Dalam.


“Cantik Terang!” panggil Alma Fatara dan Geladak Badak bersamaan.


Ternyata panggilan bersamaan itu membuat Cantik Gelap bingung, sehingga dia menengok kepada Bungkuk Gila.


“Hahaha!”


Hal itu seketika membuat Alma Fatara dan rekan-rekan tertawa terbahak-bahak.


“Hei, kalian jangan mempermainkan Cantik Terang sayangku!” hardik Bungkuk Gila.


Alma dan yang lainnya hanya tertawa.


“Ayo dimakan supnya. Ini enak sekali, Cantik,” kata Bungkuk Gila.


 Cantik Gelap segera melaksanakan perintah tuannya.


Sruuup! Gluk gluk gluk!


“Hekr!”


Di saat Cantik Gelap menyeruput supnya dengan rakus tanpa henti, tiba-tiba dia tercekat mendelik karena ada potongan daging yang menyumbat di kerongkongan. Bungkuk Gila cepat menepak keras punggung atas si gadis.


Pak!


“Uhhuk!” sentak Cantik Gelap dengan mulut melesatkan sepotong daging yang mengenai wajah Arguna di seberang meja.


“Hahaha!” pecah kembali tawa mereka dengan Arguna hanya merengut mengusap wajahnya.


“Pelan-pelan sayangku,” kata Bungkuk Gila lembut kepada Cantik Gelap.


“Hihihik!” tawa Manila Sari yang juga geli melihat tingkah sok bucin kakek bungkuk itu. (RH)


********************


Baca Juga!

__ADS_1



__ADS_2