
*Dendam Anak Senopati (DAS)*
Okelah Rubi Salangka punya ganteng yang menggoda wanita pada umumnya, tapi tidak bagi Alma Fatara. Lelaki mana pun yang tebar pesona dengan harapan Alma akan klepek-klepek, harus siap untuk patah hati, minimal siap kecewa.
Salah satunya adalah Rubi Salangka, yang begitu percaya diri tebar pesona kepada Alma Fatara. Namun, Alma Fatara bukannya tersungkur klepek-klepek seperti kepiting tenggelam, Rubi Salangka justru menjadi seorang pelawak di depan si gadis.
“Beraninya kau menggodaku, Kakang. Kau tidak takut jika kekasihku mengamuk?” kata Alma Fatara sembari terus tersenyum.
“Hah? Kau punya kekasih, Alma?” kejut Rubi Salangka, serius terkejut.
“Hahaha! Kakang pikir aku secantik ini tidak laku dan berharap mendapat biawak rawa seperti Kakang, menyergap mangsa apa saja yang lewat?” tawa Alma Fatara lalu menyudutkan Rubi.
Cklek!
Tiba-tiba pintu di sisi kiri kamar Alma Fatara terbuka dan keluarlah Sabung.
“Hah, gigi bening! Hahaha ...!” pekik Rubi Salangka terkejut, lalu tertawa keras dan berkepanjangan.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara lagi melihat keterkejutan Rubi ketika melihat Sabung dengan menyebutnya “gigi bening”, terlebih ketika melihat kedataran wajah Sabung yang seperti orang tersesat melihat kehebohan dua orang muda itu.
Sabung tidak sedikit pun berniat ikut tertawa, meski Alma dan Rubi heboh tertawa di saat malam semakin larut.
“Ada apa, Alma?” tanya Sabung sebelum kedua orang itu menuntaskan tawanya.
“Kakang Sabung, pemuda rambut rumput ini berani menggodaku,” adu Alma Fatara.
“Hei, berani sekali kau menggoda Alma!” hardik Sabung sambil maju dengan mata melotot dan alis bergerak naik sekali lompatan. Gayanya mirip preman Gang Senggol.
Untuk urusan fisik, Sabung tidak kalah berotot dengan Rubi, terlebih dia memiliki sesuatu yang lebih maju.
“Kau tidak takut dibunuh oleh Alma, hah?!” bentak Sabung sambil melompatkan sekali lagi alisnya.
“Hahaha!” Rubi yang awalnya terdiam dibentak oleh Sabung, jadi kembali tertawa mendengar kata akhir dari pemuda bergigi spesial itu.
Alma Fatara pun tertawa.
“Jika urusan Kakang Rubi hanya itu, pergilah!” kata Alma Fatara mengusir.
“Tapi, apakah dia ini kekasihmu, Alma?” tanya Rubi sambil melirik curiga kepada Sabung.
“Iya, aku kekasihnya! Kau mau apa?!” bentak Sabung galak lebih dulu. Meski dia bukan kekasih Alma Fatara, tetapi dia merasa cemburu dan tidak suka jika junjungan cantiknya digoda oleh lelaki tidak dikenal, meskipun tidak setampan dirinya.
Alma Fatara masih tertawa saja, seperti orang kesurupan setan ketawa.
__ADS_1
Cklek!
Tiba-tiba pintu kamar Manila Sari terbuka dan keluarlah wajah cantiknya. Bukan hanya wajahnya yang keluar, tetapi bersama langkah dan kakinya.
Melebar pula mata Rubi Salangka melihat seraut wajah cantik jelita yang keluar dari kamar peniduran.
“Hmmm!” gumam Alma Fatara panjang melihat reaksi mata Rubi Salangka.
“Eeeh, jangan salah paham, Alma. Aku tetap padamu,” kata Rubi Salangka cepat mengkonfirmasi penilaian Alma.
“Siapa dia, Alma? Kenapa rambutnya aneh seperti itu?” tanya Manila Sari datar.
“Namanya Rubi Salangka. Julukannya Si Ganteng Tongkat Perkasa. Dia jatuh hati kepadamu, sejak melihatmu turun dari kuda,” kata Alma Fatara yang ternyata menganut paham kebohongan juga.
“Eh eh eh, bukan begitu!” sangkal Rubi cepat.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara lalu berjalan pergi tanpa memberi kesempatan kepada Rubi untuk menjelaskan kepada Manila Sari.
Manila Sari yang membawa pedang di tangan kanannya segera mengikuti Alma sembari memandangi Rubi Salangka. Itu bukan pandangan kekaguman, tetapi justru pandangan curiga.
“Jangan berani-berani mengganggu kedua wanitaku!” ancam Sabung sambil menunjuk wajah Rubi Salangka. Dia lalu segera berjalan menyusul kedua “wanitanya”.
Maka ditinggallah Rubi Salangka sendirian seperti orang bego. Namun, dia cepat menepis kebegoan itu dengan segera berjalan berjinjit seperti sedang berjalan di jalanan becek, lalu berlari seperti maling mengikuti Sabung dengan kedua bidadarinya.
Pemakanan di peniduran itu benar-benar seperti restoran dengan set-set meja lesehan yang tersebar rapi. Pemakanan itu luas dan memiliki banyak pelayan berpakaian warna kuning-kuning.
Namun, di waktu itu, kondisi pemakanan cukup sepi. Terlihat hanya ada tiga kelompok orang yang sedang makan. Memang, waktu ramai pemakanan adalah di kala malam tidak lama setelah matahari terbenam.
Kedatangan Alma Fatara, Manila Sari dan Sabung segera disambut oleh seorang pelayan wanita. Mereka duduk bersila di lantai mengelilingi meja papan yang kosong.
“Kakang Sabung, makanan apa yang enak?” tanya Alma Fatara.
“Paha kuda pingit panggang, Alma!” pekik Sabung, sangat bersemangat menunjukkan makanan yang paling enak.
“Daging kuda?” tanya Manila Sari.
“Benar, Pendekar. Anak kuda yang dibesarkan tanpa pernah ditunggangi atau dipakai bekerja, jadi dagingnya sangat lunak,” kata si pelayan.
“Kami pesan makanan itu saja,” kata Alma Fatara yang sudah lapar.
“Baik,” ucap pelayan itu. “Minumannya, Pendekar?”
“Madu cair lebah randu, yang pedas,” pesan Sabung mendahului Alma dan Manila Sari.
__ADS_1
“Itu saja,” kata Alma Fatara.
“Baik,” ucap si pelayan.
Pelayan itu lalu pergi menuju ke bagian dapur pemasakan untuk menyampaikan pesanan pelanggan.
“Kakang Sabung, Kampung Siluman adalah salah satu penjual minyak. Bukankah seharusnya Kampung Siluman menjadi kampung yang kaya?” tanya Manila Sari.
“Ya. Kampung Siluman memang kaya,” jawab Sabung.
“Tapi aku melihatnya biasa saja. Jika kalian kaya, bukankah bisa membayar pasukan perlindungan atau membayar para pendekar sakti, seperti orang yang berada di belakang kelompok 13 Buah Kematian?” tanya Manila Sari.
“Oh, tapi aku tidak tahu mengenai itu. Itu adalah keputusan Kepala Kampung. Aku pernah melihat sendiri bahwa Kampung Siluman memiliki harta benda yang banyak dari penjualan minyak,” jawab Sabung.
“Lalu, Kotabatu Niwakmaya ini milik kerajaan mana, Kakang?” tanya Manila Sari lagi.
“Kerajaan Bulaga. Tapi Kerajaan Bulaga sudah bukan kerajaan lagi semenjak dihancurkan oleh Kerajaan Ringkik. Tapi aku tidak tahu sebenarnya seperti apa,” jawab Sabung.
“Apa yang ingin kau tahu, Putri?” tanya Alma Fatara.
“Jika satu penginapan seperti ini saja memiliki banyak bisnis, berarti penghasilan uang dari satu kota ke kerajaan sangat besar,” jawab Manila Sari.
“Jika kau pulang nanti ke Jintamani, kau bisa mengusulkannya kepada Prabu Marapata atau kepada Nenek Ratu,” kata Alma Fatara. “Tujuan kita ke negeri ini hanya untuk menyelamatkan orang-orang Kampung Siluman. Setelah itu kita akan kembali lagi ke Tanah Jawi.”
“Alma, orang itu lagi!” kata Sabung terkejut sambil menunjuk dengan giginya.
Alma Fatara dan Manila Sari segera menengok ke belakang, ke arah dapur pemakanan.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara pelan saat mereka melihat Rubi Salangka sedang berlari kecil menuju ke meja mereka.
Pendekar muda itu membawa sebuah baki yang di atasnya adalah makanan. Seperti seorang tahanan di penjara yang membawa wadah makanannya sendiri. Sementara batang toya hijaunya dia gigit di mulut.
Rubi Salangka pun tiba di meja Alma dan langsung duduk begitu saja sambil meletakkan bakinya di meja. Dia juga segera melepas toyanya dari mulut.
“Hahaha! Aku ikutan makan dengan kalian. Terima kasih,” ucap Rubi yang didahului dengan tawanya.
“Kau meminta izin atau memberi tahu kami?” tanya Manila Sari dengan tatapan tidak asik.
“Tenang, Cantik. Kau jangan cemburu seperti itu,” kata Rubi Salangka penuh percaya diri.
“Hei! Siapa yang cemburu?!” hardik Manila Sari sewot.
“Tenang, tenaaang!” seru Alma Fatara menengahi. “Jangan sampai acara makan kita jadi pertarungan.” (RH)
__ADS_1