Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DAS 5: Ning Ana Pulang


__ADS_3

*Dendam Anak Senopati (DAS)*


“Hahaha ...!” tawa Alma Fatara dan kelima sahabatnya sambil berkuda dengan kecepatan sedang.


Mereka tertawa seperti orang-orang yang usai meraih kemenangan besar dan kebebasan luas. Namun, entah apa yang mereka tertawakan.


Mereka berenam, tetapi menunggangi lima kuda karena Garam Sakti dan Ning Ana berkuda bersama.


Pada setiap kuda mereka ada buntalan kain yang dibawa. Selain baju bangsawan isinya, juga ada kepeng dan emas perak di dalamnya, bonus dari Istana.


“Kau harus kembali berguru, Ning Ana, agar kau tidak menangis lagi seperti kemarin. Hahaha!” teriak Magar Kepang kepada Ning Ana yang duduk di depan Garam Sakti.


“Aku tidak tega melihat Ning Ana menangis, itu terlalu lucu. Hahaha!” kata Alma Fatara lalu tertawa keras.


“Jangan ajari aku, Paman. Lebih baik Paman belajar cara naik ke panggung!” balas Ning Ana.


“Hahaha!” Meledak tawa Alma Fatara dan rekan-rekannya lagi saat mengingat insiden jatuhnya Magar Kepang saat naik panggung.


Magar Kepang hanya tersenyum kecut.


“Kakang Garam, apakah kau mau ikut pulang atau mau tinggal di Desa Bungitan bersama Ning Ana?” tanya Alma Fatara.


Ditanya seperti itu, Garam Sakti tidak langsung menjawab karena dia bingung.


“Tidak tahu, Alma. Aku bingung!” jawab Garam Sakti akhirnya.


Mereka saat itu sedang berkuda di jalan yang salah satu sisinya adalah sungai yang cukup besar.


Dari Rawa Kabut, setelah Perguruan Pisau Merah, tempat terdekat lainnya adalah Desa Bungitan, desa asal Ning Ana.


Setelah bermalam di Desa Rawabening, pagi harinya mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Desa Bungitan.


Tidak sampai setengah hari, mereka pun tiba di Desa Bungitan. Mereka langsung menuju ke rumah kepala desa yang adalah rumah orangtua Ning Ana.


“Ayaaah!” teriak Ning Ana saat rombongan itu masih berlari mendekati rumah Dugil Ronggeng, Kepala Desa Bungitan.


Dugil Ronggeng yang sedang menggoloki sebatang kayu sambil duduk di sebuah pokok pohon di halaman rumah, dan Ning Asa yang sedang menumbuk beras di sebuah lesung, terkejut mendengar teriakan suara yang sangat mereka kenal. Suara yang lantang tapi tidak merdu.


Suami istri itu sontak menghentikan aktivitasnya dan menengok ke arah suara derap lari kaki kuda yang datang mendekat.


“Ning Ana!” sebut suami istri itu sumringah, lalu segera meninggalkan pekerjaannya dan pergi menyongsong kedatangan Alma Fatara dan rombongan.


Dugil Ronggeng adalah sosok lelaki separuh baya lebih tiga belas tahun yang bertubuh cukup besar dan berotot. Sosoknya masih gagah dengan kumis berumur lima hari setelah dicukur. Saat itu dia mengenakan kemeja hijau gelap tanpa kancing dan motif yang neko-neko.

__ADS_1


Sementara Ning Asa adalah wanita cantik berusia separu baya kurang empat bulan. Meski sudah usia matang, tetapi kecantikannya masih membekas banyak dengan jenis kulit yang putih bersih tanpa deterjen dan pemutih. Hidungnya bangir lagi indah dan bibir bawahnya ada garis belahan yang sama dengan dagunya, mirip model hidung dan dagu Ning Ana yang jelita jika tidak bicara. Sepertinya Ning Asa mewarisi kecantikan putrinya.


Akhirnya rombongan berkuda itu berhenti di halaman rumah Kepala Desa. Dugil Ronggeng dan Ning Asa bertanya-tanya di balik senyuman lebarnya karena melihat putri kecil mereka duduk di depan tubuh Garam Sakti. Kenapa harus satu kuda dengan Genggam Garam, bukan dengan Alma Fatara atau Ayu Wicara yang sama gendernya? Itu pikir mereka berdua.


“Ibuuu! Hihihi!” teriak Ning Ana sambil lebih dulu melompat turun dari kuda, lalu berlari sambil tertawa cekikikan.


Ning Ana berlari menubruk peluk tubuh ibunya.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat pertemuan antara anak dan orangtua tersebut.


“Ayah, aku pulang membawa calon suami! Hihihi!” kata Ning Ana menyampaikan kabar gembira yang justru mengejutkan kedua orangtuanya.


“Hah!” pekik Dugil Ronggeng dan Ning Asa tanpa niat tertawa kemudian.


Sementara itu, Alma Fatara dan para sahabatnya turun dari kudanya masing-masing lalu menambatkan tunggangan mereka dengan aman.


“Paman Dugil, aku membawa pulang putrimu yang nakal itu dengan selamat,” sapa Alma Fatara lalu menjura hormat kepada Dugil Ronggeng.


“Terima kasih, Nak Alma. Pasti Ning Ana sangat menyusahkan,” kata Dugil Ronggeng.


“Hahaha! Benar, sangat menyusahkan,” kata Alma Fatara sembari terus tertawa santai.


“Tapi, apa maksudnya Ning Ana membawa calon suami?” tanya Dugil Ronggeng serius.


“Ning Ana dan Garam Sakti sudah menjadi sepasang kekasih dan berjanji akan menikah,” jawab Alma Fatara seadanya.


“Apa? Jadi, kau sudah berbuat cabul kepada putriku, Garam Sakti?” tukas Gudil Ronggeng dengan nada agak tinggi dan sorot mata yang marah.


“Te-te-tenang, Ki. Aku tidak berbuat cabul terhadap Ning Ana. Sumpah digigit belut, Ki,” kata Garam Sakti cepat membantah, meski dia tergagap.


Sementara Magar Kepang, Debur Angkara dan Ayu Wicara tertawa kecil menertawakan rekan mereka itu.


“Kena Kacang Karam. Hihihi!” ucap Ayu Wicara lalu tertawa cekikikan.


“Kau jangan mengejek. Kasihan Garam Sakti, sampai tergagap seperti itu,” kata Debur Angkara setengah berbisik.


“Ayah, Kakang Garam tidak pernah memasuki aku atau dadaku diremas!” kata Ning Ana. “Ibu lihat saja, aku tidak hamil, bahkan dadaku masih kecil!”


“Hahahak!” Tertawa terbahaklah Alma Fatara dan para sahabatnya mendengar kata-kata Ning Ana yang tidak punya filter dan stoper.


“Iya, Ki. Justru Ning Ana yang suka remas-remas aku,” kata Garam Sakti polos.


“Hah! Apamu yang diremas-remas, Garam?” tanya Ning Asa, belum lepas dari rasa cemasnya.

__ADS_1


Alma Fatara dan rekan-rekannya yang lain masih saja tertawa melihat drama Kocea itu.


“Tanganku, Nyai,” jawab Garam Sakti.


“Hahaha! Tidak ada hal buruk yang terjadi, Paman, Bibi. Aku yang menjamin bahwa Ning Ana masih bersih, meski dialah yang kegenitan terhadap Garam Sakti,” kata Alma Fatara menengahi.


“Iya, Ayah. Kakang Garam Sakti lelaki yang baik. Makanya aku tidak mau melepaskannya kepada perempuan lain,” kata Ning Ana.


“Kau pergi saja sudah buat masalah. Pergi tidak bilang-bilang. Sekarang pulang juga bawa masalah!” Dugil Ronggeng memarahi Ning Ana.


“Kakang Garam bukan masalah, Ayah. Dia adalah pelindungku. Jika aku melepaskan Kakang Garam, bisa-bisa nanti aku justru dapat calon suami pemabuk atau lelaki yang suka main perempuan,” kilah Ning Ana.


Terdiamlah Dugil Ronggeng dan Ning Asa mendengar omongan sehat putrinya.


“Tapi kau masih terlalu muda untuk menikah. Apalagi calon suamimu sebesar gajah seperti ini,” tandas Dugil Ronggeng.


“Kakang, mereka baru tiba dari perjalanan jauh, mereka pasti lelah dan lapar. Lebih baik kita berbincang di rumah,” ujar Ning Asa.


“Belut itu!” sahut Ayu Wicara tiba-tiba.


“Betul, bukan belut!” ralat Magar Kepang.


“Siapa yang bilang belut, Macan. Aku itu bilang belut tadi,” rutuk Ayu Wicara dengan lirikan sinis.


“Iya, Nak Alma. Mari, kita berbincang-bincang di teras,” ajak Dugil Ronggeng.


Untuk sementara pembahasan tentang hubungan Ning Ana dan Garam Sakti terputus.


Mereka pun bisa duduk santai di teras, tapi dalam kondisi saling diam, tidak ada yang berbicara. Itu terjadi lantaran Ning Asa meminta Alma dan rekan-rekan tidak bercerita lebih dulu, selagi dia sedang bolak balik menyuguhkan penganan dan minuman.


Setelah penganan dan minuman sudah tersaji lengkap di tengah-tengah mereka, barulan obrolan dilanjutkan kembali.


Orang yang jadi juru kisah adalah Magar Kepang. Lelaki seumuran Dugil Ronggeng itu bercerita dengan berapi-api, sampai-sampai dia tidak sempat untuk memakan hidangan di saat rekan-rekannya sibuk mengunyah.


Dugil Ronggeng dan Ning Asa mendengarkan cerita itu dengan serius dan seksama. Mendengar cerita itu, muncul rasa bangga pada keduanya terhadap partisipasi putri mereka dalam perang pembebasan Kerajaan Jintamani dari pemberontakan.


“Aku akan melanjutkan berguru di Perguruan Pisau Merah sampai aku dewasa dan menjadi sakti, Ayah. Kakang Garam akan pulang dan menunggu aku sampai sudah pantas menikah,” ujar Ning Ana tentang kelanjutan masa depannya.


“Oh, baguslah jika demikian. Ayah sangat mendukung,” kata Dugil Ronggeng lega.


“Jika di desanya Kakang Garam mengkhianatiku, aku akan datang membunuhnya dan membunuh wanita yang merebut calon suamiku,” ujar Ning Ana yang membuat ayah dan ibunya terbeliak. “Oh iya, Ayah, aku membawa harta yang banyak dari Kerajaan Jintamani!”


Ning Ana segera bangkit dan berlari pergi ke tempat kuda-kuda ditambatkan.

__ADS_1


“Ning Ara ke mana, Paman?” tanya Alma Fatara yang sejak tadi tidak melihat keberadaan gadis tercantik di desa itu.


“Sedang pergi memetik cabai di kebun temannya,” jawab Dugil Ronggeng. (RH)


__ADS_2