Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DAS 13: Arguna di Ujung Maut


__ADS_3

*Dendam Anak Senopati (DAS)*


 


Set set set ...!


Ketika para pendekar personel 13 Buah Kematian berlompatan naik ke atas benteng Kampung Siluman, mereka langsung disambut oleh lesatan tabung-tabung bambu pendek dan anak panah api.


Pertama, ada lima pendekar berpakaian merah yang naik dengan cara melompat ringan. Mereka adalah Alpukat Berbisa, Sawo Ganteng, Ceremai Algojo, Durian Kubur, dan Jengkol Setan.


Meski terkejut dengan serangan itu, sebagai orang sakti mereka sigap bereaksi.


Wuss! Tek!


Sawo Ganteng yang berparas memang ganteng berkulit sawo matang dan memegang pedang di tangan kanannya, menggunakan tangan kirinya yang bertenaga sakti untuk menepis dua tabung yang datang kepadanya, membuat dirinya selamat dari minyak. Sementara pedangnya di tangan kanan menebas panah api yang menyerangnya. Intinya, dalam serangan ini Sawo Ganteng selamat.


Tak! Prak!


Pada saat yang sama, Alpukat Berbisa mendapat dua serangan tabung bambu. Dengan menggunakan sisi lebar goloknya, dia memukul tabung pertama sehingga langsung pecah. Tabung bambunya terpental dan pecahan minyak hanya sedikit menyiprati wajah Alpukat Berbisa.


Namun, tabung kedua menghantam dada Alpukat Berbisa sehingga tabung itu terbelah dan minyaknya tumpah di badan dan wajah. Selain tutupnya mudah terbuka, tabung bambu itu memang didesain juga mudah terbelah oleh benturan.


Trak! Tseb!


“Aaak!”


Meski wajah dan badannya terkena minyak, tetapi kecepatan golok Alpukat Berbisa bisa menangkis dua panah api, sehingga tidak sempat mengenai tubuh.


Namun, satu anak panah yang dilepas oleh Arguna melesat lebih cepat dan akurat. Anak panah berapi itu menancap di bahu kiri Alpukat Berbisa. Tidak masalah mau menancap di anggota tubuh yang mana saja, karena api langsung membakar tubuh Alpukat Berbisa.


Dia pun mendarat di tanah benteng dengan menjerit panjang dan tubuh ditancapi satu anak panah.


Bsess!


Ketika naik mengudara itu, Ceremai Algojo langsung melindungi tubuh besarnya dengan lapisan sinar hijau bermotif sarang lebah. Tabung minyak dan panah berapi yang menyerangnya harus membentur perisai sakti bernama Sarang Lebah Penolong. Dengan itu, Ceremai Algojo lolos dari maut.


Prak prak!


Namun, berbeda dengan Durian Kubur yang telak terkena dua hantaman tabung minyak sekaligus karena dia tidak siap dengan pertahanan. Saat di udara itu, dia basah oleh minyak.


Tseb! Plup!


“Aakk ...!”


Belum lagi kedua kaki Durian Kubur mendarat di tanah, satu anak panah api telah menancap di pahanya. Api langsung berkobar menyelimuti tubuh Durian Kubur.


Durian Kubur pun kelabakan karena tidak menemukan cara untuk memadamkan api, selain berguling-guling di tanah.

__ADS_1


Set! Pcrak!


Jengkol Setan dengan tangkas membelah dua tabung dengan sabetan pedang kembarnya, membuat minyak dalam tabung menyiram wajah dan badannya.


Jleg!


Namun, hingga kaki Jengkol Setan mendarat di tanah, tidak ada anak panah api yang menargetkannya. Sepertinya ia lolos dari penargetan tim panah.


Apa yang dialami oleh kelima anggota Buah Kematian itu semuanya terjadi dalam satu waktu yang singkat.


“Mundur!” teriak Lingkar Dalam kepada timnya.


Tim ketapel minyak dan pemanah api segera berlari mundur sebelum para pendekar lainnya muncul dan bisa menyerang mereka dengan mudah. Namun tidak dengan Arguna, dia masih penasaran. Rupanya dia seorang pemanah yang terampil.


“Gusti Pangeran, munduuur!” teriak Lingkar Dalam sambil berlari menuju ke pusat kampung.


Namun, Arguna bergeming. Dengan gerakan yang cepat dan cekatan dia mengisi ulang busurnya dengan anak panah api baru.


Ketika Sawo Ganteng dan Ceremai Algojo segera membantu memadamkan api yang membakar tubuh Alpukat Berbisa dan Durian Kubur, Jengkol Setan memilih berkelebat cepat hendak menyerang Arguna yang ditinggal sendiri.


Set! Tek!


Arguna melepaskan anak panahnya, tetapi dengan tangkas Jengkol Setan menangkis anak panah itu, sehingga api jauh dari menjangkau kulit dan pakaiannya.


Setelah itu, Arguna tidak mungkin lagi mengisi ulang panahnya. Tubuh Jengkol Setan yang bermata lebar sudah melambung cepat ke arahnya dengan kedua pedang membacok keras.


“Aaak!” jerit panjang Jengkol Setan ketika tahu-tahu api berkobar menyelimuti tubuhnya.


Munculnya api ketika Arguna dengan gerakan yang keren mencabut pedangnya dan menangkis kedua bacokan pedang Jengkol Setan di sisi atas. Dari peraduan kuat ketiga senjata itulah muncul percikan kembang api yang mengenai pakaian Jengkol Setan.


Sembari menjerit panjang, Jengkol Setan berusaha memadamkan api pada tubuh dan kepalanya.


Pada saat yang sama, delapan anggota lain 13 Buah Kematian muncul berlompatan dari bawah dan naik ke atas benteng tanpa sambutan serangan seperti kelima rekan mereka.


Mereka terkejut melihat tiga rekannya dibakar api. Beberapa dari mereka segera membantu memadamkan api pada tubuh Alpukat Berbisa dan Durian Kubur hingga api itu padam.


Jeruk Iblis, Salak Gempur, Kates Kematian dan Nanas Neraka cepat melesat kepada Jengkol Setan yang berjuang seorang diri untuk memadamkan api pada tubuhnya.


Sejak melihat kemunculan para pendekar Buah Kematian yang lain, Arguna buru-buru mundur meninggalkan posnya.


Sus sus!


Bsas!


“Aaak!”


Jika Kates Kematian dan Nanas Neraka membantu Jengkol Setan untuk memadamkan apinya, maka Jeruk Iblis dan Salak Gempur mengejar Arguna sambil tangan kirinya yang bebas senjata melesatkan sebola sinar jingga.

__ADS_1


Arguna yang berlari membelakangi arah kedatangan Jeruk Iblis dan Salak Gempur, baru menengok ketika kedua bola sinar jingga itu mengejarnya. Sang pangeran tidak memiliki kesempatan untuk menghindar. Dia hanya mengerahkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuh.


Salah satu sinar menghantam tubuh Arguna, membuatnya terpental beberapa tombak bersama jeritan.


“Kakang Argunaaa!” pekik terkejut Manila Sari yang melihat kejadian itu dari jauh.


Saat Arguna jatuh berdebam dengan tubuh berasap tipis, Manila Sari memutuskan berlari maju melewati posisi Alma Fatara menuju ke posisi kakaknya.


“Putri! Tetap di posisimu!” teriak Alma Fatara terkejut melihat tindakan Manila Sari.


Namun, Manila Sari tidak mengindahkan perintah Alma Fatara. Hal itu membuat Alma Fatara pun cepat berkelebat mengejar Manila Sari.


Melihat Arguna masih bisa bergerak meski sudah dihantam ilmu Jeruk Pengantar Maut, Jeruk Iblis segera berkelebat sambil melesatkan dua pisau terbang berwarna biru gelap menargetkan tubuh Arguna yang masih tergeletak.


Posisi Alma dan Manila yang masih jauh tidak bisa menolong Arguna. Namun, di saat genting itu, sosok berjubah abu-abu berkelebat cepat ke posisi Arguna tergeletak.


Trak! Wuss!


Sosok yang tidak lain adalah Panglima Kampung Kirak Sebaya itu, mendarat di dekat Arguna sambil mengibaskan tongkatnya menepis dua pisau terbang beracun milik Jeruk Iblis.


Setelah menggagalkan pisau terbang, Kirak Sebaya menghentakkan lengan kirinya yang mengirim angin pukulan bertenaga dalam tinggi.


Segulung angin menderu keras membawa serta debu tanah menyerang Jeruk Iblis.


Jeruk Iblis harus menahan diri dan cepat melompat ke samping menghindari angin pukulan.


Fwit!


Jeruk Iblis bersiut nyaring tapi pendek, seolah-olah memberi kode kepada rekan-rekannya.


Ketika Kelapa Berbulu dan Jambu Pembunuh baru bergerak untuk pergi ke titik pertarungan, Salak Gempur sudah berkelebat mendekat lebih dulu kepada Kirak Sebaya.


Bsorss! Zoss!


Beberapa hari sebelumnya, 13 Buah Kematian sudah pernah mengeroyok Kirak Sebaya yang membuat si kakek terluka parah dan nyaris mati. Jadi, ketika mereka melihat si kakek sudah sehat kembali, Salak Gempur tidak mau tanggung-tanggung.


Dia mendarat beberapa tombak di depan lawan dan langsung memasang kuda-kuda. Kedua tangannya dia hentakkan dengan jari-jari mengepal. Maka segaris sinar cokelat bening yang tebal melesat.


Kirak Sebaya pun menyambut dengan tusukan ujung tongkatnya. Seperti seorang penyihir, dari ujung tongkat itu melesat gulungan spiral sinar putih panjang.


Bluarr!


Pertemuan ilmu Lurus Menuju Kematian dan Ludah Tongkat Sakti menciptakan ledakan energi kuat yang mementalkan tubuh Kirak Sebaya. Tubuh tua itu terlempar melewati atas tubuh Arguna, menjauhkan si kakek dari sang pangeran.


Salak Gempur memang terlempar juga sejauh dua tombak dan jatuh menghantam tanah, tetapi Jeruk Iblis justru ganti memburu Arguna, di saat Kelapa Berbulu dan Jambu Pembunuh juga semakin mendekat.


Tidak ada yang lebih dekat posisinya dengan tubuh Arguna selain Jeruk Iblis, yang kedua tangannya sudah memegang bola sinar jingga dari ilmu Jeruk Pengantar Maut.

__ADS_1


“Kakaaang!” teriak Manila Sari cemas bukan main melihat ancaman itu. Jelas dia tidak ingin membayangkan kakaknya mati dengan cepat. (RH)


__ADS_2