
*Dendam Anak Senopati (DAS)*
Saat ini, Alpukat Berbisa, Durian Kubur dan Jengkol Setan dalam kondisi sekarat. Api yang membakar tubuh dan pakaian mereka sudah padam. Mereka mengalami luka bakar parah di atas tujuh puluh persen. Yang paling parah adalah Durian Kubur yang hampir sembilan puluh lima persen.
Pada saat yang sama, Pangeran Arguna sedang tergeletak tidak berdaya di tanah, meski dia masih bisa bergerak dan merintih lemah.
Dan barusan terjadi adu kesaktian yang mementalkan Panglima Kampung Kirak Sebaya dan Salak Gempur menjauhi posisi Arguna.
Alma Fatara dan Manila Sari sedang berlari kencang menuju posisi Arguna. Mereka berdua terpaksa meninggalkan posisinya yang bermaksud menjebak para pendekar 13 Buah Kematian. Namun, posisi mereka kalah dekat oleh Jeruk Iblis yang berkelebat mendekati Arguna dengan kedua tangan menggenggam bola sinar jingga.
Tidak jauh di belakang Jeruk Iblis ada berlari Kates Kematian dan Nanas Neraka.
Sezt sezt!
“Awas, Jeruk!” teriak Nanas Neraka saat melihat Alma Fatara melesatkan dua sinar kuning tipis berwujud sabit besar dari jarak jauh, padahal Jeruk Iblis baru ingin melempar tubuh Arguna dengan sinar ilmu Jeruk Pengantar Kematian.
Sekedar informasi, Nanas Neraka melanggar komitmen kelompoknya, yaitu dilarang bicara sepatah kata pun di dalam misi. Namun, teriakannya sangat darurat demi menyelamatkan rekannya. Entah, apakah dia nanti mendapat hukuman cuci piring atau tidak.
Untuk mencegah Jeruk Iblis mengeksekusi Arguna, Alma Fatara memutuskan melesatkan ilmu Sabit Murka menyerang lebih dulu.
Awalnya Jeruk Iblis tidak begitu memerhatikan kedatangan Alma Fatara dan Manila Sari karena jaraknya masih jauh, dia lebih fokus kepada tubuh Arguna.
Jadi, ketika terdengar teriakan Nanas Neraka memperingatkan, dia cepat alihkan pandangan dan melompat menghindari kedua sinar sabit.
Walaupun sinar kuning sabit melesat sangat cepat, tapi jarak yang jauh membuat Jeruk Iblis bisa menghindarinya.
Meski serangan Sabit Murka bisa dihindari, tetapi itu memberi keuntungan bagi Alma Fatara. Dengan menghindarnya Jeruk Iblis, maka Alma Fatara memiliki kesempatan untuk mendekati posisi Arguna lebih dulu.
Namun, pada saat itu, Kates Kematian dan Nanas Neraka telah tiba di titik bentrokan. Keduanya berpencar berbagi tugas. Kates Kematian berkelebat langsung menuju ke arah Alma Fatara sambil menebaskan tongkat besinya dari atas ke kepala Alma. Sementara Nanas Neraka melesat ke arah Manila Sari dengan senjata dua celurit.
Bekk!
“Huakr!”
Alma Fatara yang berdiri tenang tanpa kuda-kuda, cukup menangkis gebukan tongkat besi itu di atas kepala dengan telapak terbuka tanpa terlihat dia mengerahkan tenaga.
Momentum itu memperlihatkan Alma Fatara begitu keren. Dia seperti seorang suhu sakti yang diserang oleh orang yang baru belajar lompat kodok. Terlebih ketika bentrokan itu terjadi, Alma Fatara memberi senyum ompongnya yang manis berseri.
Mengejutkan, pertemuan tongkat dan telapak tangan membuat Kates Kematian terpental balik ke belakang dengan kepala mendongak, mulutnya terbuka lebar menjerit sambil menyemburkan darah kental.
Kejadian itu mengejutkan Jeruk Iblis, Salak Gempur dan anggota Buah Kematian lainnya yang menyaksikan.
“Wanita sakti”, itulah kesimpulan yang ada di kepala mereka.
“Putri! Kembali ke posisi!” teriak Alma Fatara cepat mengingatkan Manila Sari karena diburu oleh Nanas Neraka yang bercelurit.
Melihat Alma sudah melindungi Arguna, Manila Sari memutuskan berhenti dan patuh. Sebelum Nanas Neraka sampai kepadanya, Manila Sari cepat mencabut pedangnya lalu berbalik kabur, kembali mundur.
Mendengar Alma Fatara menyebut Manila Sari dengan sebutan “Putri”, Jeruk Iblis cepat menunjuk Manila Sari yang sedang dikejar oleh Nanas Neraka. Tunjukan Jeruk Iblis memberi perintah agar rekan-rekannya yang lain menangkap si putri.
Kelapa Berbulu yang bersenjata rantai besi dan Jambu Pembunuh yang bersenjata dua kapak hitam segera berkelebat melaksanakan perintah Jeruk Iblis. Mereka berlari di udara menyusul Nanas Neraka untuk menangkap Manila Sari.
__ADS_1
Di saat Kates Kematian jatuh berdebam di tanah keras karena terkena ilmu Tapak Rambat Daya, plus tertimpa pentalan tongkatnya sendiri, Jeruk Iblis memberi tanda dua jari kepada rekan-rekannya yang masih di belakang, lalu dia menunjuk ke arah Alma Fatara.
Menilai bahwa Alma Fatara adalah wanita sakti yang lebih sakti dari mereka, Jeruk Iblis meminta bantuan dua rekannya untuk mengeroyok Alma Fatara bersama-sama.
Maka datanglah Belimbing Maut yang bersenjata cambuk dan Mangga Duda yang bersenjata tombak garpu mata tiga ke posisi Jeruk Iblis.
Saat itu, Alma Fatara melirik kepada seorang pemuda Kampung Siluman yang sedang bersembunyi di posisinya.
“Sabung! Bawa Pangeran!” teriak Alma Fatara.
“Siaaap!” teriak pemuda bergigi tonggos yang pernah mengejutkan Manila Sari. Dia bernama Sabung. Dia yang tadi dilirik oleh Alma Fatara, padahal saat itu dia sedang bersembunyi sambil memegang tombak kayu.
Karena sudah disebut namanya, Sabung mau tidak mau harus menunjukkan jiwa patriotnya. Dia langsung berdiri dan berlari keluar dari persembunyiannya. Posisinya memang termasuk dekat dari Alma.
Sabung berlari kencang ke posisi Alma Fatara di saat Jeruk Iblis, Belimbing Maut dan Mangga Duda maju bersama-sama.
Sezt sezt!
Bsess! Zeng zeng!
“Hukk!” keluh Belimbing Maut.
Sebelumnya, sebelum ketiga lelaki berpakaian merah itu mendekat, Alma Fatara lebih dulu menyambut dengan dua sinar sabit murka yang fokus menyerang Belimbing Maut.
Belimbing Maut cepat melindungi dirinya dengan ilmu perisai Sarang Lebah Penolong. Lapisan sinar hijau bermotif sarang lebah muncul di depan tubuh Belimbing Maut. Namun, dua hantaman sinar kuning berkekuatan tinggi membuat Belimbing Maut mengeluh dan terjajar tiga tindak.
Meski ilmu Sabit Murka tidak bisa menjebol ilmu perisai Sarang Lebah Penolong, tetapi hantamannya cukup membuat Belimbing Maut menderita luka dalam dan darah keluar lewat celah bibirnya.
Sementara Jeruk Iblis dan Mangga Duda telah menyerang Alma Fatara.
Jeruk Iblis memulai serangannya kepada Alma Fatara dengan lesatan dua pisau terbang beracun. Alma menghindari dua pisau itu dengan cara dia maju menyongsong tusukan tombak garpu Mangga Duda.
Sambil kepalanya mengelak, tangan kiri Alma Fatara menangkap batang tombak dan tangan kanan melancarkan serangan kepada Mangga Duda yang memang berwajah duda.
Pada saat itu, ada yang mengejutkan Jeruk Iblis dan Mangga Dua yang mau tidak mau perhatiannya jadi terpecah.
Dua pisau terbang yang dihindari oleh Alma Fatara mendadak berhenti di udara, lalu berbelok arah seperti diatur oleh remote control.
Set!
Secara bersamaan, kedua pisau terbang itu melesat menyerang Mangga Duda yang sedang sibuk meladeni serangan tangan cepat Alma Fatara.
Daripada terkena pisau racun, Mangga Duda memilih melompat mundur dengan melepaskan tombak garpunya, karena pada saat itu tangan kiri Alma Fatara menggenggam kuat batang tombak. Jika Mangga Duda memilih adu tarik dengan Alma, bisa jadi dua pisau akan menancap di tubuhnya.
Dengan mundurnya Mangga Duda, Alma Fatara yang baru saja mengaktifkan Benang Dara Dewanya langsung melemparkan tombak garpu kepada Jeruk Iblis.
Jeruk Iblis dengan cekatan melompat tinggi ke udara, membuat tombak garpu melesat lewat di bawah kakinya.
Ternyata ketika mengudara, tangan kanan Jeruk Iblis telah menggenggam tombak pendek yang berselimut sinar merah yang cukup menyilaukan. Itu salah satu ilmu andalan kelompok 13 Buah Kematian, namanya Tombak Kerajaan Iblis.
Sejak melihat tombak pendek Jeruk Iblis dinyalakan, Alma Fatara pun langsung menyiapkan ilmu andalannya.
Set! Swess!
__ADS_1
Maka ketika Jeruk Iblis melesatkan tombak pendeknya dari angkasa pagi, Alma Fatara pun tanpa ragu melesatkan pula sinar emas menyilaukan mata, bahkan membuat Jeruk Iblis sulit melihat sosok Alma di bawah.
Bluarr!
Namun, pertemuan dua kesaktian di pertengahan jarak menciptakan ledakan dahsyat, menunjukkan bahwa lawan Alma pun bukan sekedar pendekar yang suka main keroyokan, tapi juga sakti.
Tubuh Jeruk Iblis yang tidak memiliki landasan kala adu kesaktian, terpental jauh dan jatuh di tanah area dekat benteng. Ledakan itu juga membuat Mangga Duda terjengkang oleh gelombang kejutnya.
Sabung yang baru saja mengangkat tubuh Arguna, harus terdorong dan tersungkur bersama.
Sementara Alma Fatara sendiri harus terdorong tiga tindak dan nyaris jatuh. Untung dia berpegang teguh kepada pendiriannya sehingga tidak sampai terjengkang.
“Sabung! Cepat siram air tubuh Pangeran!” perintah Alma Fatara yang melihat Sabung dan Arguna berbagi jatuh.
Alma juga cepat berteriak kepada Kirak Sebaya yang sudah kembali berdiri dengan agak gontai, efek dari adu kesaktian dengan Salak Gempur sebelumnya.
“Kakek Kirak, lindungi Sabung!”
“Baik!” jawab Kirak Sebaya.
“Tapi kami tidak ada air, Alma!” teriak Sabung.
“Air apa saja. Air kencing pun boleh!” kata Alma tanpa maksud melucu.
Sebutan “air kencing” membuat Sabung terkejut. Sementara Arguna hanya pasrah jika dia memang harus diselamatkan dengan air kencing.
Sabung lalu bangkit kembali dan dengan bersusah payah dia menggendong Arguna yang dalam kondisi kritis dengan kulit berwarna merah dan masih mengeluarkan asap, meski sangat tipis, tidak seperti sebelumnya. Kondisi itu menunjukkan bahwa Arguna menderita rasa panas yang tinggi pada seluruh anggota tubuhnya.
Kirak Sebaya segera berjalan cepat, meski dengan tertatih-tatih, mengawal Sabung demi menjaga nyawa Arguna yang adalah seorang pangeran.
Ceremai Algojo dan Sawo Ganteng segera menghampiri tubuh Jeruk Iblis yang jatuh keras. Mereka melihat kondisi Jeruk Iblis penuh darah di kepalanya. Darah panas keluar dari seluruh lubang di kepalanya.
“Haaakr!” erang Jeruk Iblis dengan mata mendelik maksimal dan tubuh mengejang seperti kayu. Itu bukan gejala untuk berubah menjadi seorang mutan, tetapi itu gejala menuju kematian.
Setelahnya, Jeruk Iblis mengembuskan napas terakhir dengan gaya yang demikian. Rupanya kesaktiannya tidak sanggup menahan kedahsyatan ilmu Pukulan Bandar Emas milik Alma Fatara.
Terkejut Ceremai Algojo dan Sawo Ganteng mendapati kenyataan bahwa pemimpin mereka mati.
Fwiiit! Fwiiit!
Sawo Ganteng cepat bersuit kencang dan panjang sebanyak dua kali.
Suitan itu membuat personel yang lain menengok kepada Ceremai Algojo dan Sawo Ganteng, termasuk Salak Gempur yang berstatus sebagai wakil dari Jeruk Iblis.
Fwiiit! Fwiiit!
Salak Gempur yang telah terluka dalam, meski tidak begitu parah, melakukan suitan bibir yang sama dengan Sawo Ganteng.
Mendengar suitan dari Salak Gempur, para personel Buah Kematian yang masih bisa berdaya segera pergi mengangkat rekan-rekannya yang sudah tidak berdaya. Mereka kemudian berkelebat menuju benteng dan melompat menuruni bukit batu dengan ilmu peringan tubuh yang tinggi.
Namun, mereka meninggalkan dua mayat, yaitu mayat Jeruk Iblis dan Durian Kubur. Durian Kubur tewas oleh luka bakarnya yang parah.
Sementara Alpukat Berbisa dan Jengkol Setan digondol kabur karena mereka masih hidup.
__ADS_1
Bagi mereka, percuma membawa mayat. Daripada menyusahkan diri sendiri, lebih baik menyusahkan orang lain untuk mengurusnya, tanpa peduli apakah mayat rekan mereka akan dibuang atau dikubur.
Namun, kemunduran mereka masih menyisakan tiga rekan di Kampung Siluman, yaitu Nanas Neraka, Kelapa Berbulu dan Jambu Pembunuh. (RH)