Asisten Hidupku

Asisten Hidupku
Warisan


__ADS_3

Malam hari ada suara ketukan pintu.


“ Iya bentar." kata Chika.


“ Hai Chika.." sapa Dimas dan Refan.


“ Kalian berdua, kirain siapa, Yaudah yuk masuk dulu." kata Chika.


Refan dan Dimas masuk ke dalam.


“ Arga dimana Chik? kok dia bilang tadi mau ke cafe, tapi kita tunggu sampe sekarang nggak Dateng ke cafe juga, apa dia sakit?" tanya Refan.


“ Arga dari tadi cuma dikamar fan, mending kalian samperin aja ke kamarnya." kata Chika.


“ Yaudah kita ke kamar Arga dulu ya." kata Refan.


Refan dan Dimas ke kamar Arga.


“ Hey bro kok Lo malah santai di rumah gini sih, kita nungguin Lo dari tadi di cafe lama banget Lo nggak dateng-dateng, eh malah santai di kamar." kata Dimas.


“ Oh ya kata Chika, dari tadi Lo nggak keluar kamar? kenapa?" tanya Refan.


“ Gue masih kesel sama Chika sama mama." kata Arga.


“ Kenapa?" tanya Dimas.


“ Gara-gara Chika bilang kalo gue semalem berantem, jadi motor gue di sita lagi sama mama." kata Arga.

__ADS_1


“ Pantesan gue tunggu nggak dateng-dateng." kata Refan.


“ Oh ya tadi Lo bilang mau ngomong sesuatu sama kita." kata Dimas.


Saat mereka sedang ngobrol, Chika masuk kamar Arga.


“ Sorry gue ganggu, mau minum apa Dim, fan?" tanya Chika.


“ Apa aja Chik, pasti kita minum kok." kata Dimas .


“ Yaudah kalo gitu." kata Chika, kemudian dia pergi.


“ Lanjutin yang tadi, Lo mau ngomongin apaan?" tanya Refan.


“ Gue mau bahas soal semalem, kok bisa-bisanya mereka berbuat rusuh?" tanya Arga.


“ Awalnya hanya balapan seperti biasa Ar, tapi mereka ajakin taruhan, siapa yang menang akan jadi penguasa di daerah situ, karna kata mereka setiap daerah harus ada yang pegang." kata Dimas.


“ Gue." jawab Dimas.


“ Kenapa Lo mau di ajak balapan sih dim, kalo udah gini gimana? kalo mereka tiba-tiba nyerang kita lagi gimana? masih mending mereka nyerang pas kita bareng-bareng, kalo pas kita lagi sendiri terus mereka datang gimana? emang Lo sanggup Adelin mereka sendiri?" tanya Arga.


“ Ya sorry Ar, gue emang salah, semalem gue nggak mikir ke situ, gue fikir kalo dengan gue lawan mereka dan mereka kalah, mereka bakalan ninggalin tempat kita, bukannya malah gitu." kata Dimas.


“ Yaudah lah, udah terjadi juga, ini juga salah gue, nggak bisa atur geng Fairuz, sampe-sampe geng motor lain bisa tiba-tiba nyerang." kata Arga.


“ Permisi..." kata Chika.

__ADS_1


“ Masuk." jawab Arga.


“ Ini minumannya dim, fan, silahkan diminum." kata Chika.


“ Buat Arga mana?" tanya Refan.


“ Lo mau juga Ar?" tanya Chika.


” Nggak usah Chik, Yaudah mending Lo balik bantu-bantu bibi aja." kata Arga.


“ Yaudah kalo gitu, gue permisi." kata Chika.


Chika keluar dari kamar Arga.


“ Arga kayaknya marah sama gue deh." kata Chika.


“ Kenapa non?" tanya Bibi.


“ Arga bik, kayaknya dia marah sama Chika, karna Chika ceritain ke Tante Winda kalo Arga semalem berantem." kata Chika.


“ Terus kok bisa den Arga marah tuh gimana non?" tanya Bibi.


“ Karna gara-gara Chika cerita dan Tante Winda tau, Motor Arga jadi di sita Tante Winda." kata Chika.


“ Oh gitu ya non, ya mungkin karna den Arga itu sayang sama motornya non." kata Bibi.


“ Ya mungkin sih bik, tapi kalo nggak gitu Arga pasti masih tetep datang ke cafe dan kumpul bareng sama temen-temen geng motornya itu bik, Chika khawatir kalo Arga berantem lagi." kata Chika.

__ADS_1


“ Bibi ngerti non perasaan non Chika, tapi mungkin karna memang geng motor itu bisa dibilang warisan dari papa nya den Arga non." kata Bibi.


“ Warisan? warisan gimana bik? kan geng motor?" kata Chika bingung


__ADS_2