
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali, Drew bersama dengan Twister dan juga Sam telah pergi mengunjungi balai desa untuk bertemu dengan para warga dan berkumpul bersama dalam membahas persoalan lahan yang akan dibeli oleh perusahaan Drew.
Ditengah perjalanan Tesla berlari menyusul dan segera memanggil ketiga pria tampan itu sebelum mereka masuk ke kantor balai desa dan memulai musyarawahnya.
"Drew!" panggil Tesla.
Drew dan yang lainnya menoleh, ia melihat Tesla berlari semakin mendekat dan tersenyum.
"Drew, tunggu. Ada yang ingin ku katakan padamu," ucap Tesla terengah-engah, sesekali mengatur nafasnya karena lelah berlari.
"Kenapa memanggilku dan apa yang ingin kau katakan padaku?" tanya Drew penasaran.
Twister mengajak Sam agar menjauh. "Drew, bagaimana kalau kami berdua masuk duluan ke balai desa dan menunggumu didalam," ucapnya mengerti jika Tesla pasti ingin mengucapkan terima kasih kepada Drew dan adik angkatnya itu belum menyampaikannya karena malu.
"Ya sudah, kalian duluan saja. "Drew mengangguk setuju. Lalu berganti menatap Tesla. "Ayo cepatlah katakan, aku mau ke dalam."
Tesla tertunduk malu saat ditatap serius oleh Drew. "Maaf, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu," ucapnya pelan.
Drew mendekatkan wajahnya agar bisa mendengar lebih jelas. "Apa? Kau bilang apa tadi?" tanyanya.
"Terima kasih Drew," balas Tesla sedikit mengeraskan suaranya.
Drew tersenyum sumringah dan lantas saja hatinya berbunga-bunga mendengar suara Tesla meminta maaf kepadanya. "Terima kasih untuk apa?" tanyanya semakin mendekatkan diri.
"Terima kasih karena kau mau membantu keluargaku dan maaf aku pernah memakimu," balas Tesla membuang mukanya, saat kedua pandangan mereka tidak sengaja saling beradu.
"Apa kau benar-benar tulus mengatakan itu?" tanya Drew ragu dan ingin Tesla mengatakan hal itu sekali lagi.
"Iya aku tulus," balas Tesla mengangguk.
Drew tersenyum miring, lalu menarik dagu Tesla agar menatap wajahnya. "Coba katakan hal itu padaku sekali lagi dan aku ingin kau mengatakannya dengan menatap mataku," ucapnya meminta.
Tesla berusaha menelan ludahnya yang tercekat dan menatap Drew yang telah mengunci kedua manik matanya, ada perasaan aneh menerpa gadis itu disaat ia kembali melihat senyuman hangat dari pria yang selama ini ia anggap angkuh dan sombong.
Sedangkan Drew menatap lekat wajah gadis yang mampu menghancurkan seluruh sikap buruknya selama ini, sambil menunggu Tesla mengucapkan kata-kata terima kasih darinya sekali lagi.
"Katakan," ucapnya lembut namun sedikit ada konotasi pemaksaan didalamnya.
__ADS_1
Tesla mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali. "Terima kasih karena kau telah membantu keluargaku keluar dari masalah yang terjadi belakangan ini dan maafkan aku karena pernah memakimu di rumah sakit," jawab Tesla gugup, diiringi debaran hebat dalam dadanya.
"Sama-sama," balas Drew tersenyum lembut. Lalu melepaskan dagu Tesla dari cekalan jari tangannya. "Kalau begitu aku masuk dulu," ucapnya kemudian.
Tesla hanya bisa terpaku setelah mendapat tatapan lembut dari Drew, ia mengangguk pelan dan sumpah demi apapun, ia tidak mengerti dengan apa yang baru saja ia rasakan dalam dirinya sendiri.
Kenapa ia sampai terpesona dengan ketampanan pria itu? Bahkan tatapan dari matanya seakan mampu menghipnotis dirinya untuk terus menatap wajahnya.
"B-baiklah," ucap Tesla pada akhirnya tersadar.
Drew membalik badannya dan berjalan masuk ke dalam kantor balai desa, dengan senyuman lebar menghiasi wajah tampannya.
Pria itu juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri, hanya dengan mendengar ucapan sederhana dari gadis desa tersebut, nyatanya mampu membuat hatinya seketika senang dan dapat menumbuhkan jiwa semangat dalam dirinya.
Dengan langkah tegap Drew memasuki ruangan balai desa dihadapannya dan mempersiapkan diri untuk bertemu dengan para warga yang ingin menjual lahan kepadanya.
...***...
Tiga jam kemudian.
Kegiatan musyawarah warga akhirnya selesai juga, setelah menghabiskan waktu selama tiga jam lamanya.
Namun lain halnya dengan Drew, ia begitu cemas dengan keadaan keuangan perusahaannya setelah Sam memberitahu perincian biaya yang harus perusahaan Oto Motor keluarkan dalam pembelian lahan warga desa.
"Jika ditotal keseluruhannya, perusahaan kita hanya sanggup mengeluarkan biaya sebanyak 70 persen saja. Sedangkan kita masih butuh dana 30 persen lagi untuk menutupi kekurangannya dan itu berarti kita tetap harus meminjam kekurangan dana tersebut kepada perusahaan Royce," jelas Sam.
"Sungguh nilai yang fantastis Drew, tapi apa boleh buat. Semua ini sudah terjadi dan kita juga tidak bisa mundur lagi," timpal Twister.
Drew menghembus nafasnya panjang dan berpikir. "Benar, kita tidak bisa mundur."
"Kalau kita mengandalkan dana dari perusahaan Royce pastilah cukup dan kita masih bisa me-nego mengenai cicilan pembayaran serta bunga yang diajukan tiap bulannya. Akan tetapi, yang jadi permasalahannya sekarang ini adalah, bagaimana caramu melunasi pembayaran di bank Drew? Bunganya cukup tinggi dan lembaga keuangan itu akan memberikanmu denda yang tidak sedikit jika melewati batas tanggal pembayaran," jelas Sam.
Drew lagi-lagi menghembus nafas panjang. "Jalankan saja dulu, selebihnya kita pikirkan nanti. Untuk sekarang hanya itu yang bisa kita lakukan," balasnya tak putus asa.
"Benar, yang terpenting mereka telah tenang dan keluarga Sanyoto telah kembali damai. Kau tenang saja Drew, mengenai kekurangan dana, aku akan membantumu menyelesaikannya. Aku ada terpikir satu hal, dimana aku sedang mencari lahan untuk membangun rumah sakit."
"Selain sebagai bentuk tanggung jawabku setelah Mutia dipecat dari pekerjaannya gara-gara diriku, aku juga bermaksud ingin memberikannya sebuah rumah sakit besar sebagai hadiah pernikahanku dengan Mutia nanti."
"Jadi Drew, mungkin aku bisa membantumu membeli sebagian lahan tersebut untuk pembangunan rumah sakit dengan uang pribadiku sendiri," ucap Twister.
__ADS_1
Drew merasa lega mendengarnya. "Benarkah?"
"Benar! ... Jadi Sam. Tolong hitung lagi berapa total yang harus perusahaan Drew keluarkan setelah kau potong dengan biaya tanah yang ingin aku beli secara pribadi?" tanya Twister.
"Baiklah, berapa luas tanah yang ingin kau gunakan untuk membangun rumah sakit?" tanya Sam.
"25.000 meter²," balas Twister yakin.
"Hanya membuat rumah sakit tipe C di desa, kau sampai mau beli tanah 2,5 hektar?" tanya Sam begitu bingung.
"Rencananya aku bukan hanya ingin membangun rumah sakit saja, aku juga ingin membuat posyandu, taman bermain ramah anak, lingkungan terbuka hijau dan lain-lain," balas Twister.
Sam mengangguk paham. "Oh begitu, aku suka sekali dengan pemikiranmu," pujinya lalu menatap Drew.
"Drew ... Twister telah meringankan bebanmu dengan membeli 2,5 hektar tanah dari total seluruhnya 35 hektar, yang akan ia buat rumah sakit diatas tanah tersebut. Lalu Drew, sisa tanahnya yang 32,5 hektar lagi mau kau apakan?" tanya Sam cukup penasaran.
Drew terdiam cukup lama, ia belum memikirkan akan membangun apa diatas tanah seluas itu. "Entahlah, aku belum memikirkannya."
"Pikirkan saja tempat yang berguna, seperti tempat usaha agar untungnya nanti bisa meringankan jumlah hutangmu kepada Daddy dan juga pihak Bank," saran Twister.
"Aku setuju dengan Twister," seru Sam mengangguk.
"Twister, menurutmu tempat usaha apa yang belum ada di desa ini?" tanya Drew serius.
"Buatlah tempat wisata, hotel, vila dan juga restoran. Disini belum ada tempat wisata keluarga, kau bisa membuatnya dengan membangun restoran, hotel atau vila terlebih dahulu. Karena lokasi berdirinya kita saat ini cukup dekat dengan sirkuit balapan."
"Sudah begitu lokasi ini juga cukup strategis dan memiliki pemandangan alam cukup indah yang bisa menarik minat wisatawan asing maupun domestik," jelas Twister memberi jawaban.
"Kau benar Twister! Sekarang bayangkan Drew, rata-rata pembalap sirkuit adalah turis mancanegara. Mereka pasti membutuhkan tempat hiburan yang cocok untuk melepaskan penat sehabis balapan, sudah begitu para pendukung dan penonton disana pasti akan mengikuti idola mereka berada," timpal Sam setuju.
"Hem, Sam benar. Kebetulan aku punya banyak koneksi saat menjadi pembalap dulu, kurasa mempromosikan tempatmu setelah rampung di arena balap tidak ada salahnya," dukung Twister.
Drew tersenyum senang mendengarnya. "Baiklah, aku akan mengikuti saran kalian," balasnya setuju.
.
.
Bersambung.
__ADS_1