Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 94. Titik terang.


__ADS_3

Villa.


Twister dan Sam beserta Drew tengah mengamati video yang sebelumnya telah di rekam oleh Sam, saat ia mengintip kedalam ruangan kepala desa.


"Apa kau mengenalnya Twister?" tanya Sam.


"Tentu saja, dia adalah Tuan Anjas. Daddynya Alia," balas Twister yakin.


"Pantas saja, Alia tidak jadi menikah denganmu. Apa itu sebagai bentuk balas dendam tuan Anjas kepadamu karena kamu membatalkan pernikahan dengannya secara sepihak?" tanya Drew.


"Mungkin, kalau itu alasannya. Lalu kenapa dia mengincar keluarga Sanyoto?" tanya Sam.


Twister menghela nafas panjang dan menatap beberapa wajah asing di dalam foto itu. "Ada orang lain bersama dengan tuan Anjas, kita tidak kenal siapa mereka dan sepertinya bukanlah orang-orang dari pihak pengembang maupun anak buah perusahaan daddy."


"Hem, aku juga belum pernah lihat. Coba kau tanyakan orang-orang tersebut kepada Martino? Setahuku, Martino adalah asisten setia disisi tuan Hans dan telah bekerja lama untuk daddymu itu. Siapa tahu Martino mengenali salah satu dari mereka," saran Sam.


Twister mengangguk setuju, lalu menghubungi Martino dan meminta pria itu melihat secara seksama siapa orang-orang didalam foto yang baru saja ia kirimkan.


Tak berapa lama kemudian, Martino pun membalas pesan Twister dan memberikan informasi sebisa mungkin yang bujang lapuk itu tahu.


Tuan Muda, orang-orang itu bukanlah orang dari pihak perusahaan kita. Setahu saya, disisi tuan Anjas adalah anak buah dari tuan Bams.


Begitulah pesan dari Martino, si bujang lapuk.


Twister terdiam untuk mencerna sesuatu, seakan dirinya menemukan titik terang dan rasa penasarannya selama ini terjawablah sudah. Karena semua yang terjadi ditanah keluarga sederhananya itu, adalah murni tindakan balas dendam oleh beberapa orang.


"Ada apa Twister? Apa yang dikatakan Martino?" tanya Drew.


Twister menghela nafas kasar. "Ternyata semua kasus ini ada sangkut pautnya dengan tuan Bams," balasnya.


Drew melebarkan kelopak matanya dan mulai mengerti sesuatu. "M-maksudmu daddynya Bella?"

__ADS_1


Twister mengangguk. "Benar, aku rasa tuan Bams ingin membalas dendam kepada semua orang, karena selain gagalnya pernikahanmu dengan putrinya, ia juga ingin membalas dendam sebab putrinya masuk penjara setelah insiden penusukan itu terjadi."


"Aku yang menggagalkan sendiri pernikahan itu, tapi kenapa keluarga Tesla yang menanggung akibatnya?" balas Drew tidak habis pikir.


"Itu karena Tesla juga terlibat dalam memberikan keterangan saat kalian berdua menguping pembiaraannya dengan Alia. Apa kau lupa Drew, disaat perdebatan antara Mommy dan Tante Sherly, Bella mencoba menghunuskan pisaunya ke arah Tesla, akan tetapi terhalang oleh diriku saat itu dan Bella masuk penjara karena ulahnya sendiri," balas Twister.


"Jadi bisa dibilang, tuan Bams sedang membalas semua orang yang menyebabkan putrinya dipenjara. Lalu apa kaitannya dengan tuan Anjas? Kenapa dia mau bekerja sama dengan tuan Bams?" ucap Sam.


"Tuan Anjas adalah orang tuanya Alia dan aku tidak jadi menikah dengannya, sebab itulah ia kecewa padaku dan juga daddy," balas Twister menjelaskan.


"Ini semua salahku, tidak seharusnya aku melibatkan Tesla dalam hal ini. Karena diriku juga, keluarga Sanyoto jadi terkena imbasnya," sesal Drew.


"Bukan salahmu, lebih tepatnya salah kita berdua. Terlebih semua ini sudah terjadi dan kita hanya bisa menghentikan semua tindak kejahatan mereka secepatnya agar tidak memperparah keadaan," balas Twister menyadari.


"Dan mungkin saja usaha kita ini adalah satu-satunya cara untuk menolong mereka dari kehancuran dan berharap aksi kita selanjutnya bisa memperbaiki segalanya demi menebus penyesalan yang pernah terjadi pada keluarga Sanyoto," sambung Twister kemudian.


Drew mengangguk setuju. "Kau benar, Twister."


"Pertama kita berikan bantuan logistik kepada para warga desa sebanyak data yang telah diberikan oleh pak Kades, lalu bukti ini aku akan meneruskannya kepada pak Bupatii, agar beliau mau mencopot jabatan pak Kades. Dengan begitu desa ini, bisa terbebas dari pejabat korupp."


"Kemudian, aku juga akan memberikan video keterlibatan tuan Anjas kepada daddy agar memecatnya dari perusahaan, karena dinilai telah menyalahgunakan kekuasaan serta kewenangannya dalam memimpin," balas Twister memberitahu.


"Aku setuju dengan rencanamu, satu video bisa menggulingkan dua kekuasaan. Akan tetapi Twister, bagaimana dengan para warga desa yang telah dijanjikan oleh tuan Anjas untuk dibeli tanahnya. Karena aku yakin sekali, para warga tetap akan bersikeras menjual lahan mereka, walau kau berhasil menyelamatkan lahan keluarga Sanyoto," ucap Sam bertanya.


Twister terdiam sejenak dan berpikir, sesekali menghela nafasnya panjang. "Itulah yang menjadi tugas bagi kita, apa yang harus kita lakukan? Menjual lahan adalah hak warga itu sendiri dan kita tidak bisa melarang mereka dalam menjual lahan mereka masing-masing, terlebih mereka mempunyai sertipikat kepemilikan yang sah."


"Akan tetapi, siapa yang ingin membeli lahan mereka disaat semuanya telah berakhir? Sedangkan tuntutan dari para warga yang ingin menjual lahan masih terus berjalan. Para warga pasti akan menyalahkan kita karena telah menggagalkan usaha mereka dalam menjual lahan," balas Twister berpikir keras.


"Kalau begitu, biar aku saja yang membeli semua lahan mereka," balas Drew.


Sam melebarkan kelopak matanya. "Jangan bodoh Drew! Lahan sebanyak dan seluas itu, bagaimana perusahaanmu mampu membelinya? Sudah begitu kau ingin apakan lahan seluas itu?" cegahnya agar Drew tidak berbuat nekad.

__ADS_1


"Ya karena hanya itu saja satu-satunya cara, yang bisa aku lakukan sebagai bentuk pertanggung jawabanku kepada keluarga Tesla agar mereka kembali tenang dan tidak tertekan lagi," balas Drew.


Twister menghela nafas panjang dan menatap Drew yang tengah serius dengan ucapannya. Hal bodoh apa yang sedang dipikirkan oleh adiknya itu, sampai-sampai ia ingin menghancurkan bisnis impiannya sendiri.


"Aku senang kau peduli Drew, tapi pikirkanlah sekali lagi. Apa kau yakin akan mengorbankan usaha impianmu selama ini?" tanya Twister.


"Ada seseorang pernah bilang kepadaku, tanggung jawab serta kewajiban adalah hal utama yang harus di penuhi daripada menjalankankan pekerjaan hanya sekedar hobi saja. Seperti yang ada dibab 86 itu," balas Drew memperjelas.


Twister terpaku mendengarnya, ia tidak menyangka jika Drew akan mengerti arti dari tanggung jawab secepat ini.


"Baiklah, terserah kamu saja. Aku pasti akan mendukungmu," balas Twister mendukung apapun langkah sang adik.


"Terima kasih," balas Drew senang.


Mereka bertiga pun sepakat akan membantu keluarga Sanyoto dalam memperbaiki keadaan desa, terutama kandang bebek yang terbakar miliknya itu, tentu hal itu dilakukan setelah mereka selesai menangkap pak Kades beserta antek-anteknya.


...***...


Sementara itu, Ibu Tyas mendatangi Vila Bagas setelah mendapat pesan dari pengurus kebun, yang meminta dirinya untuk datang kesana.


Ia beserta teman-temannya merasa senang, karena melihat Bagas alias Twister berada ditengah-tengah mereka.


"Sayang ada apa memanggil mama?" tanya Ibu Tyas. Banyak sekali pertanyaan pada kepada wanita paruh baya itu kepada Twister, namun ia lebih dulu menanyakan intinya.


Twister menjelaskan sesuatu mengenai bukti yang ia dapatkan hari ini melalui Sam kepada ibu angkat beserta rekan-rekannya. Lalu ia juga memberitahu jika malam ini, pak Kades akan melalukan hal lain yang bisa jadi merugikan keluarga Sanyoto.


"Keparatt si Kades itu! Pantas saja laporan Mama tidak pernah ditanggapi olehnya, ternyata dia adalah dalang kerusuhan dan teror di kediaman kita! Awas saja dia, Mama tidak akan melepaskannya malam ini!" geram Ibu Tyas bertekad. Lalu wanita itu pun membuat rencana untuk menjebak pak Kades bersama dengan rekan-rekannya.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2