Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 111. Pernikahan Twister.


__ADS_3

Acara bersejarah dan penuh arti sedang berlangsung hari ini, dimana dua hati, dua cinta diikat menjadi satu sebagai pasangan suami istri, yang saling mencintai, saling menghormati, saling setia, saling percaya dan saling menyayangi.


Twister dan Mutia dinobatkan sebagai sepasang suami istri yang sah, setelah keduanya mengucapkan janji suci dihadapan pendeta dan juga saksi-saksi diatas altar pernikahan.


Dan setelah acara pemberkahan pernikahan itu selesai, pesta pernikahan pun digelar secara sederhana didalam sebuah gedung hotel berbintang lima.


Tidak lupa dalam acara berbahagianya, Twister mengumumkan hadiah pernikahannya kepada Mutia, yaitu sebuah rumah sakit yang sebelumnya pernah ia janjikan kepada istrinya itu dan menjadikan Mutia sebagai pemilik sekaligus kepala rumah sakit, yang dinamai sebagai RS. Mutiara Hati.


"Terima kasih," ucap Mutia terharu dan disambut oleh pelukan hangat oleh Twister.


Sungguh pasangan yang membuat siapapun iri atas keromantisan pasangan pengantin baru tersebut, termasuk Drew yang melihat keserasian mereka berdua.


Ia menggenggam erat tangan Tesla dan menatapnya. "Aku berharap bisa menemukan pasangan hidup yang mau bersamaku dalam suka maupun duka. Dan bisa merasakan kebahagiaan seperti mereka berdua," harap Drew.


Tesla tersenyum. "Tentu, kau pasti akan mendapatkannya."


Drew merangkul Tesla dan mereka mengikuti acara pesta pernikahan tersebut hingga selesai.


...***...


Mansion Royce.


Setelah resepsi selesai, Mutia kini telah resmi menjadi menantu keluarga Royce dan ia akan tinggal di Mansion besar tersebut, setelah keduanya pulang dari berbulan madu selama satu minggu di Maldives.


Hati Nyonya Sherly terasa panas, ketika omongan-omongan tidak enak menembus gendang telinganya selama pernikahan putra tirinya itu berlangsung.


Banyak dari mereka yang menyindir kurang meriahnya pesta pernikahan tersebut, serta calon pengantin wanita yang dinilai kurang pantas menjadi menantu di keluarga Royce karena latar belakang keluarganya bukan dari golongan orang kaya dan biasa saja.


Selain itu, sindiran maupun ejekan ia terima dikala Twister memilih nyonya Bianca yang menginginkan agar ibu kandungnya untuk duduk diatas pelaminan bersama dengan tuan Hans dan bukan dirinya.


Sehingga ia merasa tidak dihargai atau dipandang sebelah mata oleh putra tirinya sendiri, maupun oleh keluarga inti kedua belah pihak.

__ADS_1


Lalu bukan hanya itu saja yang membuat nyonya Sherly terbebani hati dan pikirannya, para tamu serta teman-temannya pun sukses menakut-nakutinya dengan kata-kata akan ada nyonya baru dikeluarga Royce selain dirinya. Dan hal tersebut dapat mempengaruhi kekuasaannya suatu hari nanti.


"Dia boleh saja menikah dengan putraku, tapi aku tidak akan membiarkan wanita itu menjadi nyonya di rumah ini! Apalagi menggantikan kedudukanku sebagai nyonya besar dalam keluarga Royce!" geram Nyonya Sherly, sambil melempar apapun benda yang berada di dalam kamarnya itu.


Sedangkan disisi lain, debaran rindu kembali muncul dipermukaan hati Tuan Hans akan sosok wanita yang pernah menjadi bagian dalam hidupnya.


Pria itu mengingat kembali adegan dimana ia bisa duduk bersama diatas pelaminan, sesekali tubuhnya secara tidak sengaja bersenggolan tubuh sang mantan istrinya itu jika ada foto bersama dan juga jabat tangan ucapan selamat.


Seketika tuan Hans kembali mengingat resepsi pernikahannya dengan nyonya Bianca terdahulu, kebahagiaan menyelimuti mereka berdua dan malam-malam indah berikutnya saat tidur bersama.


Tuan Hans menghela nafasnya panjang, mau menyesal pun dirasa percuma. Karena sekeras apapun ia meminta maaf kepada mantan istrinya itu, justru penolakan dan rasa sakit hatilah yang akan ia dapat.


Jika saja waktu dapat diputar, maka dirinya tidak akan mengikuti godaan yang istri barunya itu buat dan perceraiannya dengan nyonya Bianca, tidak akan pernah terjadi.


Mungkin saja, hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena dapat menyaksikan pernikahan putra sulungnya itu bersama-sama dengan sang istri, tanpa ada pertentangan, tanpa ada rasa saling menjaga perasaan atau ketakutan lain dari kedekatannya itu.


"Bianca, walau kau sudah tidak muda lagi. Tapi wajahmu itu tidak pernah berubah, bahkan kau terlihat semakin cantik, aura kelas atasmu begitu terpancar, kau begitu menawan hatiku dan penampilanmu sungguh membuatku terpesona," gumam Tuan Hans, sambil menatap selembar foto pernikahannya dengan Nyonya Bianca terdahulu.


...***...


Bandara.


Sementara itu di tempat lain, Nyonya Bianca masih setia menemani Twister dan Mutia di bandara, hingga keberangkatan mereka tiba sekitar 30 menit lagi.


"Semoga perjalanan kalian menyenangkan dan jangan lupa kabari Mommy jika sudah tiba disana," ucap Nyonya Bianca kepada putra dan juga menantunya.


"Tentu Mom kami akan mengabarimu jika sudah sampa disana," balas Twister.


Nyonya Bianca tersenyum. "Jaga istrimu baik-baik, jangan kecewakan dia dan juga keluarganya."


"Y Mom, aku akan selalu mengingat semua nasihatmu." Twister memeluk ibunya, lalu mengusap air mata yang jatuh dikedua pelupuk mata ibunya itu.

__ADS_1


Tidak lupa ia juga berterima kasih kepada sang ibu karena telah sudi menjadi wali nikahnya, walau menerima banyak pertentangan dari nyonya Sherly dan juga tuan Hans.


Nyonya Bianca menatap Mutia. "Jadilah istri yang baik dan selalu menurut pada suamimu, jika dia salah maka tegurlah dan jika dia benar maka dukunglah."


Mutia mengangguk paham. "Baik Mom, aku akan mengingatnya."


"Bagus, Mommy berharap akan ada kabar baik dalam waktu dekat ini." Nyonya Bianca tersenyum nakal, sambil menatap Twister dan Mutia secara bergantian.


Twister tersenyum miring dan menatap Mutia yang hanya bisa menunduk malu saja, seakan mengerti apa yang diharapkan oleh mertuanya itu.


"Tentu saja, aku juga berharap ada hal baik setelah ini," ucap Twister memeluk Mutia dan mengecup keningnya.


"Sudahlah jangan bersikap seperti itu, aku malu," ucap pelan Mutia.


Nyonya Bianca terkekeh. "Twister tolong jaga sikapmu, kasihan Mutia. Sepertinya dia malu," ucapnya.


Twister terkekeh dan terus merayu istrinya. "Kenapa harus malu, kau akan menjadi milikku malam ini," bisiknya ditelinga Mutia, hingga wanita itu spontan membelalakkan kedua matanya dan berubah panik.


Nyonya Bianca menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Sudahlah Twister jangan menggoda istrimu terus," ucapnya mengerti dengan kegelisan Mutia, karena nanti malam adalah malam pertama wanita itu melakukan hal yang biasa dilakukan oleh suami istri kebanyakan.


Bersamaan dengan hal tersebut, jadwal pesawat mereka berdua telah mendekati jam keberangkatan dan Nyonya Bianca melepaskan putra serta menantunya untuk pergi berbulan madu.


"Selamat berbulan madu," ucap Nyonya Bianca sambil menatap keduanya pergi melangkah hingga jauh kedepan dan pesawat yang ditumpangi mereka lepas landas.


Seketika Nyonya Bianca melepaskan air mata kebahagiaan serta kesedihan secara bersamaan, ia bahagia karena putranya bahagia dan ia sedih mengingat rumah tangganya hancur akibat ulah orang ketiga.


Sedangkan di sudut yang berbeda, tuan Hans menangkap momen itu. Dimana ia melihat Nyonya Bianca begitu rapuh, tapi masih bisa tetap berdiri dengan kedua kakinya sendiri dan berjalan tegap seolah tidak terjadi sesuatu apapun dalam rumah tangganya.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2