
Keesokan harinya.
Aktifitas pekerjaan telah kembali normal, Tuan Hans beserta kedua putranya dan juga Mutia telah bersiap untuk pergi bekerja.
Kesibukan pagi itu pun, membuat meja makan keluarga Royce terlihat sepi. Karena masing-masing dari mereka tidak sempat menyantap sarapan pagi.
Drew menolak menyicipi makanan itu, karena mengingat perkataan ibu tirinya semalam. "Mulai hari ini aku tidak akan memakan apapun dari rumah ini!" ucapnya tegas lalu pergi bekerja dengan naik mobil sendiri.
"Tunggu Drew!" panggil Mutia.
Drew menghentikan mobilnya. "Ada apa kak?" tanyanya.
"Bawa ini," jawab Mutia menunjukkan bekal hasil kreasinya.
"Tidak mau," balas Drew menolak.
"Ini buatan kakak iparmu sendiri, jadi jangan menolaknya," ucap Mutia mengulurkan.
Drew menatap bekal tersebut dan mengambilnya. "Karena ini buatanmu, maka aku akan membawanya."
Mutia tersenyum. "Terima kasih, jangan lupa dihabiskan."
Drew mengangguk patuh, dan Twister senang melihat itu.
"Sayang, kau hanya memberikan bekal untuk Drew. Lalu mana bekal untukku?" tanya Twister sedikit iri.
"Bekal untukmu tentu saja ada," balas Mutia memberikan kotak bekal satu lagi untuk suaminya.
Twister tersenyum senang. "Ayo kita berangkat, aku akan mengantarmu ke rumah sakit terlebih dahulu. Baru setelahnya aku pergi ke perusahaan," ajaknya kemudian.
Mutia mengangguk, lalu ia pun menaiki mobil dan berangkat menuju tempat kerja ke desa Rawa Bebek diantar oleh sang suami.
Sedangkan Tuan Hans telah berpakaian rapih dan memakai jasnya. "Hari ini aku akan pulang malam, baik-baik lah di rumah. Kemarin aku mendengar jika kau menyinggung menantuku dan membuat Twister kesal."
"Kapan? Aku tidak merasa menyinggungnya," balas Nyonya Sherly merasa tidak bersalah.
"Saat mereka baru saja pulang dari bulan madu, kau menyinggung pemberian cinderamata dari Mutia," balas Tuan Hans.
"Aku hanya menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan padanya dan aku sama sekali tidak bermaksud menyinggung atau membuat siapapun marah," balas Nyonya Sherly membela diri.
Tuan Hans menarik lengan istrinya agar mendekat. "Sudah aku katakan padamu Sherly, aku tidak mau kau ikut campur mengenai keluargaku!" tekannya.
__ADS_1
"Aku ini istrimu sayang, kenapa aku tidak boleh ikut campur mengurusi anggota keluargaku sendiri? Lagipula itu semua salahmu, kenapa kau tidak membiarkan mereka pergi setelah menikah? Dengan begitu mereka bisa membangun rumah tangga mereka sendiri, agar tidak ada lagi yang merasa tersinggung dengan ucapakanku atau tidak ada lagi yang merasa terganggu disini!" balas Nyonya Sherly menekankan.
Wanita itu begitu kesal dan tidak habis pikir dengan keputusan sang suami yang ingin kedua putranya hidup bersama di dalam satu atap yang sama walau sudah menjalani biduk rumah tangga.
Akan tetapi keinginan Tuan Hans bukanlah tanpa sebab, ia tidak ingin putranya itu sampai beralih pergi dari kehidupannya dan hidup diluar tanpa pengawasannya.
Selain itu ia tidak ingin Bianca sampai masuk ke dalam kehidupan keluarga kecil Twister, yang bisa saja mengakibatkan ia kehilangan kesempatan untuk menimang cucu asli keturunannya sendiri suatu hari nanti, akibat pengaruh dari sang mantan istri dan tidak memperbolehkan dirinya dekat-dekat dengan keluarga putranya.
"Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan mereka keluar dari rumah ini, karena mereka semua adalah tanggung jawabku!" ucap Tuan Hans bersikeras pada pendiriannya.
"Kalau begitu jangan salahkan aku kalau ada dari mereka yang tersinggung atau merasa tidak nyaman karena ucapanku maupun sikapku di rumah ini!" balas Nyonya Sherly lalu pergi menjauh dari suaminya yang kesal.
"Sherly!" pekik Tuan Hans. Namun istrinya itu tidak menghiraukannya.
...----------------...
Restoran Manyu 2.
Sementara itu di tempat yang berbeda, setelah sang pemilik restoran itu meresmikan restoran barunya sekitar dua hari yang lalu, para pelayan Restoran Manyu 2 terlihat sibuk melayani beberapa pengunjung barunya yang terus saja berdatangan sejak dari tadi pagi.
Tidak hanya para pelayan yang sibuk mondar mandir mengurus tamu, akan tetapi sang pemilik restoran pun turut turun tangan membantu para pegawainya dalam melayani kesibukan di tempat kerja agar tidak keteteran.
Begitu pula dengan Tiara dan Marisa, kedua mahasiswi magang itu pun turut membantu bekerja meringankan pekerjaan Nyonya Bianca, demi mendapatkan bonus lebih dihari libur kuliah.
"Baik Chef!" patuh Tiara dan Marisa bersamaan, lalu menjalankan tugas mereka sesuai intruksi yang diberikan.
Mereka terus bekerja keras hingga lupa waktu dan tanpa terasa hari sudah berganti malam saja, akan tetapi para pengunjung masih terus berdatangan, karena rasa penasaran mereka yang ingin mencicipi beberapa menu dari restoran baru tersebut.
"Padahal ini jam sudah pukul 10 malam, tapi antusias pengunjung untuk makan disini masih belum berhenti juga," ucap Nyonya Bianca merasa kewalahan.
"Benar cheff, sepertinya kita butuh tenaga tambahan. Jujur saja Marisa sudah capek sekali," timpal Marisa dan disetujui oleh Tiara.
"Tapi siapa yang bisa membantu kita? Mana mungkin aku merekrut karyawan malam-malam begini," ucap Nyonya Bianca berpikir.
"Bagaimana kalau kita telepon saja si Tesla itu biar dia bantu kita disini? Dia sudah pulang dari desa kan?" saran Tiara.
"Kau benar Tiara, Tesla sudah pulang dari kemarin malam," balas Marisa.
"Bagus kalau begitu, mungkin saja dia mau membantu kita. Aku tidak menyangka, semakin malam semakin banyak saja tamu yang datang ke restoranku ini dan kita benar-benar kekurangan tenaga sekarang," ucap Nyonya Bianca berpikir.
"Ya sudah chef biar Marisa telepon dulu Tesla dan tanya dia bisa bantu kesini atau tidak," ucap Marisa.
__ADS_1
"Baikah kalau begitu, kalian hubungilah Tesla dan minta tolong padanya agar mau membantu kita disini. Tapi kalau tidak bisa jangan dipaksa ya, dan aku juga akan mencoba menghubungi Drew. Siapa tahu dia mau membantuku di restoran," ucap Nyonya Bianca lalu mengubungi Drew.
Tak butuh waktu lama permintaan mereka akhirnya membuahkan hasil, Tesla maupun Drew setuju membantu Nyonya Bianca untuk bekerja lembur di restoran dan menjadi pekerja dadakan.
"Daripada aku pulang ke rumah dan bertemu dengan si nenek sihir itu, lebih baik aku menghabiskan malam di restoran bersama ayang embeb," pikir Drew dan merasa lega karena punya alasan untuk menghindari nyonya Sherly.
Sedangkan Tesla sendiri merasa senang karena bisa berkumpul dengan temannya yang sedang sibuk bekerja, setelah bosan sendirian di dalam kamar kost seharian.
Beberapa jam kemudian akhirnya restoran sepi dari pegunjung juga, dan Nyonya Bianca bisa menutup restorannya dengan tenang.
"Terima kasih ya sayang, kalian mau datang dan membantu Mommy disini," ucap syukur Nyonya Bianca berterima kasih.
Sebagai pemilik restoran ia tidak ingin sampai mengecewakan pelanggan barunya, apalagi itu pelanggan dari restoran keduanya. Untuk dari itulah ia terpaksa meminta tenaga tambahan dri Drew dan juga Tesla.
"Tidak apa Tante, aku ikhlas membantu," balas Tesla tersenyum.
"Ya Mommy, kenapa harus sungkan seperti itu. Aku dan calon menantumu ini sudah pasti akan membantu," ucap Drew melirik dan merangkul Tesla dengan mesra.
"Kau bicara apa sih," ucap Tesla merasa malu dengan perkataan Drew. Lalu berusaha melepaskan lengan pria itu dari pinggangnya.
"Kenapa harus malu? Perkataanku benar bukan? Mommy juga sudah setuju dengan hubungan kita," ucap Drew tidak mau melepaskan.
Nyonya Bianca tersenyum dan mengangguk. "Ya Mommy sudah setuju dengan hubungan kalian, tapi sayang sekali Drew, pak Sanyoto sudah menititipkan pesan pada Mommy agar menjaga putrinya dari kemesumanmu."
Drew mencebik. "Apa-apaan itu? Memangnya aku ini pria mesum apa?" dengusnya tidak terima dan Tesla terkekeh melihat wajah Drew yang berubah ditekuk.
"Sudahlah, hari sudah larut malam. Bagaimana kalau kalian semua menginap di rumahku," ucap Nyonya Bianca kepada semua orang.
"Benarkah kita boleh menginap?" tanya Marisa dan Tiara.
"Tentu saja, memangnya kalian mau pulang semalam ini?" tanya Nyonya Bianca menunjuk jam telah menunjukkan pukul 1 pagi.
Tiara dan Marisa menggeleng. "Tidak chef,"
"Ya sudah kalian bertiga menginaplah di rumahku dan Drew kau boleh menginap juga," ucap Nyonya Bianca.
Drew tersenyum lebar, kapan lagi bisa menginap bareng dengan Tesla di rumah sang ibu. "Aku mau menginap Mom," serunya seperti anak kecil.
.
.
__ADS_1
Bersambung.