
Keesokan harinya.
Unit Apartement.
Tesla tengah merenung dan menyendiri di dalam kamar, sambil menatapi pemandangan luar gedung yang begitu tinggi.
Jika hari-hari ada sang kakak yang menyapanya, mulai pagi ini ia harus membiasakan diri untuk tidak mendapat sapaan itu.
"Pagi sayang, sedang apa disana?" sapa Pak Sanyoto lalu duduk di tepi ranjang.
Tesla menoleh dan tersenyum menatap sang ayah. "Pagi, papa ku yang bulat."
"Bagaimana keadaan kamu? Apa sudah baikkan?" tanya Pak Sanyoto sambil menekan lengan Tesla yang sempat diperban.
"Sepertinya sudah baikkan, tuh sudah tidak sakit." Tesla menggerakkan lengannya.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Pak Sanyoto merasa lega.
"Ya, aku sudah tidak sabar ingin pergi kuliah. Disini rasanya bosan sekali," balas Tesla.
"Ya, Papa juga kasian sama kamu. Cuma bisa duduk-duduk diam didalam kamar, sudah seperti bebek kita yang ada didalam kandang saja," ucap Pak Sanyoto mengajak putrinya bergurau.
Tesla tersenyum. "Papa bisa saja ... Ngomong-ngomong, ada dimana mama?" tanyanya.
"Mama dapat telepon mendadak, katanya dibengkel banyak kerjaan menumpuk. Traktor pak Mardi tiba-tiba saja mogok," balas Pak Sanyoto.
Tesla membulatkan bibirnya. "Oh begitu, lalu papa kapan pulang ke desa?"
"Ya sampai kamu sembuh," jawab Pak Sanyoto.
"Aku sudah sembuh kok, papa bisa pulang besok. Kasian si sardi sama si inem, pasti kangen sama papa."
"Jangan pikirkan ketua geng bebek papa itu, mereka malah senang kalau papa tidak ada. Malah tadi ada laporan dari anak buah papa yang jaga kandang, katanya si sardi bawa bini baru ke kandang. Entah bebek dari kampung mana, tapi papa senang. Bisa nambah koleksi," balas Pak Sanyoto bercerita.
Tesla terkekeh mendengarnya. "Jadi kangen ngangon bebek lagi."
"Ya saat kamu pulang berlibur nanti, kamu kan bisa lakukan itu. Tapi ingat, jangan kamu cekik leher bebek papa lagi ya. Nanti mereka pada modar," ucap Pak Sanyoto memperingati.
"Ya enggak dong Pa," balas Tesla.
Bersamaan dengan hal tersebut, pintu unit apartemen mereka berbunyi dan pak Sanyoto segera membukakan pintu.
"Selamat pagi," sapa Martino.
"Selamat pagi, cari siapa ya?" tanya Pak Sanyoto sambil memindai penampilan kedua orang pria yang berpakaian resmi dihadapannya.
__ADS_1
"Boleh kami masuk?" tanya Tuan Hans tidak mau basa basi.
"Jawab dulu pertanyaan saya tadi," balas Pak Sanyoto enggan memberikan ijin.
"Perkenalkan dia adalah Tuan Hans Royce dan kedatangan kami kesini adalah untuk bertemu dengan nona Tesla beserta keluarganya," balas Martino memperkenalkan.
"Oh, kebetulan saya sendiri adalah papanya Tesla. Kalau begitu masuklah terlebih dahulu, kita berbincang didalam." Pak Sanyoto mempersilahkan Tuan Hans dan Martino masuk ke dalam.
"Bisa panggilkan nona Tesla?" pinta Martino.
"Silahkan duduk dulu, biar saya panggilkan," balas Pak Sanyoto mengerti.
Sedangkan Tesla, berusaha bangun dari tempat tidur, ketika mendengar ada tamu yang datang untuk menemui dirinya.
"Jadi ini putrimu?" tanya Tuan Hans menatapi penampilan sederhana Tesla.
"Iya, dia putriku." Pak Sanyoto memperkenalkan Tesla setelah memperkenalkan dirinya sendiri.
"Saya Tesla," sapanya lalu duduk.
Tak mau banyak berbicara, Tuan Hans segera meminta Martino agar menaruh tas koper hitam yang sudah ia siapkan keatas meja dalam ruangan itu dan memberikannya kepada Pak Sanyoto.
"Wah apa ini?" tanya Pak Sanyoto.
Martino membuka koper hitam tersebut dan memberitahukan apa isi didalamnya kepada Tesla dan juga Pak Sanyoto, yang ternyata adalah setumpuk uang kertas pecahan seratus ribu rupiah memenuhi koper itu.
Tuan Hans mengangguk. "Ini uang untuk kalian sekeluarga, sebagai bentuk rasa terima kasihku kepada kalian karena telah menyelamatkan nyawa Twister dan merawatnya selama beberapa tahun di rumahmu."
"Tidak perlu anda membayar kami seperti ini, karena keluarga kami sendiri sangat ikhlas merawat Bagas," balas Pak Sanyoto menolak.
"Namanya Twister bukanlah Bagas!" tekan Tuan Hans.
"Dan aku minta setelah kalian menerima uang ini, kalian harus segera meninggalkan apartemen Drew dan segera melupakan hubungan kalian dengan Twister, karena aku tidak ingin putra-putraku memiliki hubungan dengan keluarga orang lain selain keluarga Royce."
"Selain itu, aku juga meminta agar tidak ada dari keluarga kalian yang mencoba menuntut hal-hal lainnya kepada keluarga Royce suatu hari nanti," tutur Tuan Hans menjelaskan.
Mendengar penuturan menyebalkan tersebut, Pak Sanyoto mulai terlihat tidak suka, dan itu terlihat dari gayanya yang mulai memilin-milin kumis tebalnya secara bergantian.
"Dia kira aku ini mata duitan apa!" cebiknya dalam hati.
Dengan tegas pria itu menutup koper berisi lembaran uang tersebut dan menyodorkannya kembali kepada Tuan Hans.
"Ambil saja uangmu ini, karena kami benar-benar tidak butuh uang darimu!" ucapnya kemudian.
"Kalian dari desa dan terlihat sangat sederhana, mana mungkin kalian itu tidak membutuhkan uang!" balas Tuan Hans menolak.
__ADS_1
Pak Sanyoto segera berdiri dari tempat duduknya dan berkacak pinggang, sambil menatap tajam Tuan Hans.
"Hei saudagar kaya, walau kami tinggal di desa dan bergaya sederhana. Tapi percayalah keluargaku sama sekali tidak membutuhkan uang lebih, apalagi uang pemberian dari seseorang yang menganggap kami ini seolah-olah mengharapkan imbalan dari setiap kebaikan yang pernah kami lakukan kepada putramu itu!"
"Papa," cegah Tesla meredam emosi ayahnya dan tidak ingin sampai terjadi keributan.
"Jangan cegah Papa sayang, biarkan papa memberitahu orang kota ini. Kalau kita ini bukanlah pengemis, kita juga bukan orang miskin yang gila uang dan harta benda! Jadi kau ambil uang ini dan segeralah pergi!" ucap Pak Sanyoto terbawa emosi.
"Kau sangat murah hati pak Sanyoto, tapi pantang bagiku mengambil apa yang sudah aku berikan. Jadi aku tidak mau menerima uang ini lagi," tolak Tuan Hans. Lalu menatap sang ajudan. "Ayo Martino kita kembali ke perusahaan," titahnya.
Dan sebelum keluar dari apartemen, Tuan Hans kembali mengingatkan kepada Pak Sanyoto agar mengosongkan apartemennya tersebut secepat mungkin.
"Dasar gila," ucap Pak Sanyoto sambil menatapi koper berisi uang tunai diatas meja.
"Jadi mau diapain uangnya sekarang pah?" tanya Tesla.
"Biarin tinggalkan saja disini, nanti juga ada yang ambil. Lebih baik sekarang kita beres-beres dan papa akan antar kamu ke kost," ucap Pak Sanyoto.
"Ya Pah," balas Tesla menurut.
Mereka berdua pun merapihkan barang-barang pribadi dan pergi dari apartemen Drew, untuk selanjutnya tinggal di dalam kost Tesla sebelumnya.
Sedangkan kembalinya Tesla ke kost Melisa disambut baik oleh teman-temannya dan mereka segera membantu Tesla merapihkan kamar.
"Apa benar kamu sudah sembuh Tes?" tanya Marisa.
"Ya sudah sembuh, tuh kalian bisa lihat kan." Tesla mengerakkan beberapa bagian anggota tubuhnya.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Marisa turut senang.
Semntara itu Pak Sanyoto kembali ke desa untuk mengurus peternakaannya, serta merapihkan rumah karena dalam beberapa hari lagi Tesla dan kawan-kawannya berencana akan berkunjung ke desa demi menghabiskan masa liburan.
.
.
Bersambung.
...----------------...
Next \=\=> Twister mengunjungi apartemen untuk melihat kondisi Tesla, setelah dokter yang merawat gadis itu berkata Tesla tidak ingin dirawat lagi karena merasa sudah sembuh.
Dan didalam apartemen yang sempat ditempati oleh Tesla, Twister menemukan sekoper uang dan juga sepucuk surat dari Tesla.
Apa isi dari surat tersebut dan kenapa Twister sampai mengejar Tesla hingga ke desa?
__ADS_1
Sedangkan Drew yang mengetahui kakaknya pergi, segera menyusul Twister menuju desa Rawabebek dan disanalah awal mula benih-benih cinta Drew kepada Tesla mulai tumbuh.