Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 65. Mendatangi.


__ADS_3

Malam harinya.


Restoran Manyu.


Sementara itu, ditempat yang berbeda. Nyonya Bianca menutup restorannya dikarenakan sudah waktunya untuk tutup.


Namun ada satu hal yang membuatnya bingung, dimana hari ini tidak ada pengiriman daging bebek utuh dari peternakan Sanyo bersaudara.


"Ini sudah malam, tapi kenapa kiriman bebek kita hari ini tidak datang Kris?" tanya Nyonya Bianca bertanya-tanya kepada satu pegawai yang biasanya memesan daging bebek.


Karena tidak biasanya peternakan Sanyo bersaudara melewatkan pengiriman daging bebeknya.


"Tadi saya telepon, katanya sedang ada masalah di kampung. Pengiriman mereka dihalangi oleh para pendemo," balas Kris sesuai dengan informasi yang ia dapatkan dari pekerja di peternakan.


"Pendemo? Apa maksudnya itu?" tanya Nyonya Bianca.


"Tidak tahu chef, hanya itu saja yang mereka katakan. Selebihnya tidak diberi penjelasan kenapa mereka didemo sama warga sekitar," balas Kris.


Nyonya Bianca mengangguk. "Begitu ya, tapi pengiriman besok bisa kan Kris? Soalnya stok daging kita sudah mulai menipis," ucapnya.


"Mereka bilang diusahakan Chef," balas Kris.


"Ya sudah kalau begitu, semoga saja masalah mereka cepat selesai." harap Nyonya Bianca kemudian menutup restorannya.


Sementara itu Tiara dan Marisa bergegas memberitahu Tesla atas apa yang mereka dengar saat pulang bekerja paruh waktu di restoran Manyu.


Dan Tesla segera menghubungi keluarganya yang ada di desa, melalui panggilan video call.


Melihat banyaknya koyo yang menempel di pelipis dan di kening sang ayah, membuat Tesla yakin, jikalau keluarganya itu tengah mengalami masalah besar dan memusingkan.


"Papa, apa yang terjadi? Aku dengar pagi tadi warga desa mendemo keluarga kita, apa itu benar? Lalu kenapa papa tidak beritahu Tesla?" tanya Tesla mencari tahu.


Pak Sanyoto menghela nafas panjang, entah bagaimana putrinya itu bisa mengetahui masalah yang sedang dia alami secepat ini.


"Ya benar, cuma masalah lahan mereka yang mau dijual untuk pembangunan rumah elit. Tapi lahannya itu tidak bisa dijual kalau lahan kita tidak dijual juga," balas Pak Sanyoto menjelaskan duduk perkaranya.


"Lalu bagaimana hasilnya? Apa papa juga mau menjual lahan kita?" tanya Tesla kembali.


"Entahlah, papa juga bingung. Para warga ingin menjual lahan mereka untuk mendapatkan uang agar bisa dijadikan modal kerja dan mengubah nasib, tapi papa juga tidak bisa menjual lahan kita karena banyak pekerja kita yang menggantungkan nasibnya diatas lahan kita ini," balas Pak Sanyoto, sesekali memijat pelipisnya yang berdenyut.


"Perusahaan mana yang melirik lahan kita pah?" tanya Tesla.


"Tidak tahu, tapi kalau papa tidak salah dengar kata dari salah satu pihak pengembang yang menawar lahan kita itu adalah PT. Bangun Artha Sejahtera begitu," balas Pak Sanyoto seingatnya.

__ADS_1


"Sayang ini sudah malam, kepala papa sakit dan papa ingin istirahat. Kamu juga istirahatlah," lanjutnya.


"Baiklah Pa, semoga masalah di desa kita segera berakhir," balas Tesla lalu menutup panggilan video callnya dengan sang ayah.


"Bagaimana Tes? Apa benar yang kami berdua dengar kalau papamu itu didemo oleh warga desa?" tanya Marisa ingin tahu.


Tesla mengangguk. "Ya benar," balasnya lemah. Sambil menceritakan kondisi desanya disana.


"Papa mu pasti sedang bingung sekarang ini, tapi apa yang harus diperbuat? Kita juga tidak bisa membantu," balas Tiara.


"Sepertinya aku harus bicara kepada PT itu dan mencabut keinginannya membangun perumahan disana," ucapTesla berencana.


"Kamu sudah gila ya Tes, PT itu perusahaan besar. Mana mau dia menuruti keinginan dari mahasiswi bau kencur seperti kita. Apalagi keinginanmu itu tidak membawa keuntungan bagi perusahaan mereka," ucap Marisa mencegah.


"Tapi ini satu-satunya yang bisa aku lakukan, aku harus bicara kepada pemilik perusahaan itu agar membatalkan rencana pembangunannya," ucap Tesla bersikukuh.


Marisa dan Tiara hanya bisa menghela nafas panjang. "Baiklah, kami akan mendukungmu."


...----------------...


Keesokan paginya.


PT. Bangun Artha Sejahtera.


"Pantas saja, ternyata daddynya Drew ada sangkut pautnya dengan semua ini," gumam Tesla. Karena ia begitu yakin saat melihat nama pada dinding batu, bertanda tangan Hans Royce dengan tinta emas.


Tidak mau banyak membuang waktu Tesla segera meminta ijin kepada resepsionis untuk bertemu dengan pimpinan perusahaan tersebut.


"Kalau ingin bertemu dengan pak Direktur, anda harus membuat janji temu dengan beliau. Karena hari ini kebetulan pak Direktur sedang tidak ada ditempat," balas si resepsionis itu.


"Kalau boleh tahu, ada dimana bapak Direktur sekarang ini?" tanya Tesla.


"Maaf anda ini siapanya? Kami tidak bisa memberitahu keberadaan pak Direktur Anjas kepada orang asing," balas si resepsionis hati-hati.


"Bilang kepadanya aku adalah putri dari desa Rawa Bebek, yang desanya sedang dibuat kacau oleh perusahaan ini!" sergah Tesla tidak main-main.


"Maaf Nona, tapi kami hanya menjalankan perintah atasan saja. Mohon mengerti," balas si resepsionis kemudian memanggil penjaga keamanan gedung.


Tak berselang lama kemudian, seorang wanita cantik menghampiri meja resepsionis dan segera menghentikan keributan.


"Ada apa ini?" tanya Alia.


"Maaf Nona Alia, wanita ini datang mengamuk dan bersikeras agar bisa bertemu dengan Pak Direktur," jelas si resepsionis.

__ADS_1


"Daddyku sedang tidak ada disini, jika ingin bertemu dengannya, maka buatlah janji. Karena daddyku bukan orang pengangguran!" ucap Alia tegas.


"Kau pasti putrinya bukan? Kalau begitu beritahu aku ada dimana daddymu sekarang ini," tanya Tesla.


Alia menatap Tesla yang menatap tajam dirinya. "Kau gadis keras kepala, baiklah. Daddyku ada diperusahaan pusat. Perusahaan Royce," balasnya tanpa ragu.


"Oh jadi begitu, baik. Terima kasih," balas Tesla. Sambil menghentak kedua tangannya agar lepas dari cekalan satpam, lalu pergi dari perusahaan itu tanpa menoleh lagi.


Disisi lain, Tiara dan Marisa segera menghampiri Tesla yang baru saja keluar dari perusahaan.


"Bagaimana Tes?" tanya Marisa.


"Orangnya tidak ada, tapi aku tahu ada dimana dia sekarang ini." balas Tesla.


"Dimana? Terus kamu mau menemui dia gitu?" tanya Tiara.


"Tentu, aku harus bertemu sekarang juga," balas Tesla bersikukuh.


"Tapi Tes, kita ada jam kuliah. Kalau pergi ke tempat lain, aku takut waktunya tidak akan cukup," ucap Marisa memberi pengertian.


"Tapi desaku juga penting, aku harus bicara kepada pimpinan perusahaan itu agar desaku terbebas dari masalah. Mereka harus menghentikan rencana pembangunan didesa, atau paling tidak jangan libatkan lahan orang tuaku!" ucap Tesla merasa geram dan menggebu-gebu.


"Tapi Tes, kita hanya orang kecil. Mana mungkin kita bisa menghentikan perusahaan besar seperti mereka," ucap Marisa mulai khawatir.


"Benar, memangnya kau akan kemana lagi Tes?" tanya Tiara.


"Aku ingin ke perusahaan Daddynya Drew, karena Direktu PT itu ada disana dan aku ingin bicara dengannya sekalian. Kalian lebih baik pergi kuliah saja, karena aku tidak mau melibatkan kalian dalam masalah ini," balas Tesla ingin pergi sendiri.


"Tapi Tes, kamu sendirian. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada dirimu?" tanya Marisa cemas.


"Jangan khawatirkan aku, aku akan kembali ke kampus tepat waktu. Sekarang aku harus pergi," balas Tesla kemudian memberhentikan taksi didepan jalan raya.


Marisa dan Tiara saling menatap, dengan wajah cemas tentunya.


"Bagaimana ini Tiara? Masa kita harus diam saja," ucap Marisa bingung.


"Kita telepon kak Bagas saja dan bilang kalau Tesla sedang ke perusahaan daddynya itu," saran Tiara dan hal tersebut disetujui oleh Marisa.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2