Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 124. Permainan drama.


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Setelah selesai melakukan kunjungan kerja di luar kota, Tuan Hans dan juga Twister akhirnya kembali ke rumah. Namun baru saja mereka menapakkan kedua kaki di rumah itu, keduanya dikejutkan dengan suara isak tangis Nyonya Sherly yang sedang menahan Luna agar tidak pergi dari rumah.


"Biarkan aku pergi dari sini Tante, aku tidak mau menjadi beban di rumahmu," ucap Luna menyeret paksa kopernya.


"Jangan tinggalkan Tante sayang, kalau kamu pergi bagaimana dengan Tante disini? Tante merasa kesepian kalau tidak ada kamu," balas Nyonya Sherly menangis tersedu-sedu.


"Tante-kan sudah punya menantu perempuan, ada dua putra tiri dan juga suami yang menemani. Sedangkan aku disini sebagai apa? Aku hanyalah tamu," lirih Luna tidak kuasa menahan sedihnya.


"Kau memang benar sayang, banyak orang didalam rumah ini. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang peduli dan tidak mau dekat dengan Tante, tidak seperti dirimu. Kau mengerti Tante," balas Nyonya Sherly berkeluh kesah.


Melihat kejadian tersebut Tuan Hans sontak bertanya. "Ada apa ini? Kenapa semua orang berkumpul disini, lalu kenapa kalian berdua ribut dan menangis disini?" tanyanya ingin tahu.


Nyonya Sherly segera mendekati Tuan Hans dan menguncang-nguncang lengannya. "Sayang, tolong katakan pada Luna agar ia tidak pergi dari rumah ini."


"Jangan pergi? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Tuan Hans semakin tidak mengerti.


"Sayang, Luna merasa dirinya hanyalah beban di rumah kita dan ia merasa tidak enak hati karena terlalu lama menginap disini. Padahal aku sendiri sebagai tantenya tidak merasa keberatan dengan kehadiran Luna, malah justru aku senang sekali karena adanya Luna di rumah ini aku jadi punya teman ngobrol dan tidak merasa kesepian lagi."


"Tapi dia malah mau pergi, nanti siapa yang akan menemani aku dan mengerti akan diriku ini? Cuma Luna yang selalu menganggap keberadaanku ada di rumah ini," ucap Nyonya Sherly terisak-isak.


Luna menghampiri nyonya Sherly dan memeluk lengannya. "Tante, maafkan Luna. Tapi aku tidak bisa tinggal lama-lama disini, karena aku tidak mau merepotkan semua orang disini dan aku juga tidak mau ada orang salah paham dengan kehadiranku disini."


"Luna jangan dengarkan omongan orang lain, kau sudah Tante anggap sebagai putri sendiri. Sekarang katakan siapa orang yang tidak suka dengan kehadiranmu disini dan memintamu pergi dari rumah Tante?" tanya Nyonya Sherly.


Luna menatap Mutia lalu menunjuk wajahnya dari kejauhan. "Dia Tante, dia yang tidak suka ada aku di rumah ini," tuduhnya.


Semua mata memandang Mutia, termasuk Twister sendiri. Sedangkan Mutia yang dituduh seperti itu berusaha membela diri.


"Aku tidak berkata seperti itu dan kapan aku mengatakannya?" tanya Mutia keberatan dengan tuduhan Luna terhadapnya.


Nyonya Sherly menatap tajam Mutia. "Mutia, salah apa Luna padamu. Setahuku selama dia tinggal disini, Luna tidak pernah usil kepadamu. Tapi apa yang aku dengar ini. Kau malah menuduh yang bukan-bukan kepada Luna dan menyakiti hatinya!"

__ADS_1


"Kau terlihat baik didepan orang, tapi itukah sifat aslimu jika tidak ada suamimu di rumah hah? Kau berlagak seolah-olah nyonya rumah ini dan berlaku seenaknya kepada tamuku!" cerocos Nyonya Sherly memojokkan, sambil mengelus dadanya yang terlihat sesak.


Mutia menggeleng kepalanya. "Aku tidak seperti yang mereka ucapkan ___"


"Alahh! Jangan mengelak kamu, jangan pura-pura sok suci didepan semua orang. Jelas-jelas Luna merasa terusir disini dan kau masih saja tidak mau mengaku dan terus membela diri," serobot nyonya Sherly menyerang.


Mutia menautkan kedua alisnya dan menatap bingung nyonya Sherly, ia tidak sempat berkata apapun untuk membela diri, karena nyonya Sherly selalu mengambil kesempatan itu untuk memojokkannya.


Sementara itu Twister yang melihat istrinya yang merasa terpojokkan pun segera menghampiri dan merangkulnya.


"Aku percaya padaku istriku dan aku yakin dia tidak melakukan apapun yang telah kalian tuduhkan tadi," yakin Twister dan hal tersebut diperkuat dengan anggukan samar dari Bi Nonik dan beberapa pelayan disana.


"Kau suaminya, sudah pasti membela istrimu yang sudah bersalah itu. Kau tidak tahu apa yang sudah dia katakan pada Luna, hingga ponakanku ingin pergi dari sini," ucap Nyonya Sherly.


"Memangnya apa yang sudah istriku katakan sampai kau menyalahkannya?" tanya Twister.


"Istrimu selalu saja ikut campur dengan urusan Luna, dia melarang Luna melakukan ini dan itu didalam rumah ini padahal aku sendiri telah mengijinkannya. Tapi yang lebih parah lagi, istrimu menyalahkan kepergian Drew dari rumah ini karena Luna! Luna memang tamu di rumah ini, tapi dia sangat berarti bagiku," jawab Nyonya Sherly memainkan emosi.


"Ya sayang, aku tidak tahu kenapa putra kita pergi dari rumah. Tapi menantu perempuanmu itu menuduh Luna sebagai penyebabnya," balas Nyonya Sherly kembali menuduhnya.


"Daddy, saat Drew tidak kembali ke rumah. Aku segera menelepon Drew untuk menanyakan keberadaannya dan Drew sendiri yang bilang alasan dia tidak mau pulang ke rumah adalah karena adanya Luna disini. Tapi percayalah aku tidak berkata seakan aku telah menuduh Luna yang menjadi penyebab Drew tidak mau pulang," jawab Mutia membela dirinya.


Tuan Hans menghembus nafas kasar. "Drew pergi dari rumah, tapi tidak ada satu pun dari kalian yang memberitahukan hal ini kepadaku. Ada dimana dia sekarang?"


"Maaf Daddy, aku tidak tahu. Drew tidak ingin memberitahukan keberadaan dirinya saat ini," balas Mutia.


"Kalau begitu telepon Drew dan katakan aku ingin bicara dengannya!" titah Tuan Hans kepada Bi Nonik.


"Baik Tuan besar," patuh Bi Nonik. Namun nomor Drew tidak bisa dihubungi. "Maaf Tuan besar, nomor tuan muda kedua tidak bisa dihubungi."


"Kemana anak itu? Tetap hubungi dia lagi dan telepon semua orang-orang yang dekat dengan dia! Kalau perlu obrak-abrik rumah orang yang telah berani menyembunyikan Drew dalam rumahnya!" titah Drew kepada semua ajudannya.


"Om, sebelum Drew pergi dari rumah. Aku memergoki dia sedang video call dengan seorang wanita dan mereka terlihat akrab mengobrolnya. Akan tetapi setelah selesai menelepon, Drew langsung pergi dalam keadaan cemas sambil menghubungi nomor wanita itu lagi dan aku sempat mendengar kalau Drew ingin bertemu dengan wanita itu," ucap Luna.

__ADS_1


Tuan Hans membuka lebar kedua matanya dan tahu siapa wanita yang dimaksud oleh Luna. "Tentu saja, kenapa tidak terpikir olehku siapa wanita yang telah menyebabkan perginya Drew dari rumah."


"Kau benar sayang, mungkin gadis desa itu telah membujuk Drew agar pergi dari rumah kita karena dia takut Drew akan dinikahkan oleh Luna," ucap nyonya Sherly menimpali.


"Daddy, Tesla tidak mungkin menyembunyikan Drew atau bertindak buruk lainnya. Kalau pun memang Drew pergi dari rumah, itu pasti karena ia merasa tidak nyaman berada disini," ucap Twister menatap tajam Luna dan juga nyonya Sherly.


"Aku tidak peduli dengan pendapat kalian semua, karena yang terpenting bagiku saat ini adalah Drew harus segera kembali ke rumah! Dia masih punya hutang padaku dan untuk itu dia tidak boleh pergi dari rumah ini!" ucap Tuan Hans tidak mau tahu.


Dan merasa geram jika sampai dugaannya itu benar, bahwa Tesla-lah penyebab kepergian Drew dan menyalahkan Luna sebagai kambing hitamnya.


"Daddy, kau ayah kandungnya Drew. Seharusnya kau tahu bagaimana sikap putramu itu, apa yang dia suka dan apa yang dia benci. Kau tahu kalau Drew bukanlah tipe pria penurut dan disaat dia tidak nyaman, maka dia akan pergi sendiri walau kau bersikeras melarangnya. Jadi kumohon pikirkanlah baik-baik semua itu dan janganlah menyalahkan orang lain atas kepergiannya, apalagi menyalahkan adikku Tesla."


"Hari ini aku merasa tidak nyaman karena istriku telah dituduh yang bukan-bukan, kalau saja aku tidak mengingat jasamu, maka aku sudah lama pergi dari rumah ini dan melupakan hubungan kita!" tekan Twister lalu mengajak istrinya masuk ke dalam.


Perkataan Twister membuat Tuan Hans berpikir kembali, tapi emosi karena Drew pergi dan kuatnya hasutan dari Nyonya Sherly, seakan menutupi perasaannya untuk menimbang kembali pernyataan tersebut.


"Sayang kau pemilik rumah ini dan kau juga seorang kepala keluarga. Kau punya hak mengatur semua anggota keluargamu dan kau juga berkuasa atas siapa saja yang boleh tinggal di rumahmu, permintaanku hanya satu yaitu aku ingin Luna tinggal disini bersamaku. Sebagai seorang yang mau menemaniku dan juga menjagaku," ucap Nyonya Sherly mengelus dada suaminya.


Tuan Hans mengangguk. "Luna, kau ku ijinkan tinggal disini selama yang kau mau dan sesuai dengan keinginan istriku, kau juga berhak menggunakan fasilitas disini."


Nyonya Sherly tersenyum lebar dan senang karena permainan dramanya dengan Luna berjalan mulus, hingga berhasil membujuk tuan Hans agar terus mempertahankan Luna didalam rumahnya itu.


"Terima kasih sayang, kau memang suami terbaik. Tidak salah aku mencintaimu," pujinya.


"Terima kasih Om," sahut Luna menimpali dan tidak kalah senang dengan pernyataan tersebut.


Hal itu pun membuatnya semakin yakin, kalau sebentar lagi ia bisa menjadi bagian dari keluarga Royce dan menikmati segala kemewahan yang ada tanpa harus bekerja keras.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2