
"Drew!" pekik Tuan Hans memanggil Drew yang telah memacu kendaraannya. "Cepat tahan dia!" titahnya kemudian mengerahkan seluruh anak buahnya untuk menahan Drew agar tidak pergi.
Namun usaha mereka tidak membuahkan hasil, karena Drew telah menghilang begitu tak terlihat, bak hilang disapu angin malam.
"Maaf Tuan besar, kami telah kehilangan jejak tuan muda! Jalan yang gelap menyulitkan kami saat mencari keberadaan tuan muda," ucap salah satu anak buah tuan Hans meminta maaf.
"Dasar tidak berguna! Cepat cari Drew sampai ketemu dan aku tidak mau mendengar alasan apapun dari kalian!" sergah Tuan Hans murka.
"Baik Tuan besar!" patuh mereka lalu kembali melanjutkan pencarian.
Sementara itu Tuan Hans menjatuhkan tubuhnya diatas sofa, sambil memijat pelipisnya yang berdenyut memikirkan sikap Drew yang seenaknya saja dan tidak mau menurut.
Melihat hal tersebut, Mutia segera mendekati ayah mertuanya.
"Daddy, apa kau baik-baik saja?" tanya Mutia mengecek kondisi ayah mertuanya agar tidak drop seperti sebelum-sebelumnya.
"Daddy baik," balas Tuan Hans lemah.
"Daddy, biar ku periksa tekanan darahmu. Kau terlihat pucat," ucap Mutia.
Tuan Hans mengangguk dan membiarkan Mutia memeriksa kesehatannya, disaat seperti ini setidaknya ia memiliki putra dan menantu yang masih bisa diandalkan.
"Daddy maaf kalau aku lancang bicara seperti ini, tapi kejadian hari ini. Aku percaya kepada Drew, dia tidak mungkin melakukan hal tidak baik itu kepada Luna," ucap Mutia sambil mengecek kesehatan yang lain.
"Bukti sudah didepan mata, bagaimana kau bisa berbicara seperti itu," balas Tuan Hans menekankan.
"Daddy, cobalah pikirkan sekali lagi. Terhadap Tesla, wanita yang sangat ia cintai saja Drew tidak berani bertindak macam-macam. Tapi bagaimana dengan Luna Drew bisa bertindak seperti itu? Aku rasa ada kesalahpahaman disini," ucap Mutia berusaha memberi pengertian.
"Kesalahpahaman apa? Daddy hanya melihat Drew melakukan hal tidak pantas kepada Luna, itu saja!" balas Tuan Hans masih bersiteguh pada pendiriannya.
"Daddy, kita tidak melihat kejadian yang sebenarnya saat itu terjadi. Tapi Drew juga telah menjelaskan awal mula kejadian di kamarnya. Walau kita tidak tahu mana yang benar diantara mereka, tapi aku percaya Drew tidak melakukan hal sekotor itu kepada Luna dan Drew juga butuh kepercayaan darimu," ucap Mutia lalu merapihkan peralatan medisnya.
Tuan Hans menghembus nafasnya ke udara, sambil memikirkan sikap Drew yang telah pergi dari rumahnya belum lama tadi. Memang bukan amarahnya yang membuat putranya itu pergi, melainkan rasa ketidakpercayaan dirinya yang membuat Drew kecewa padanya.
"Daddy, setelah ini lebih baik kau beristirahat di kamar dan kurangi beban pikiran, karena tekanan darahmu sedikit menurun hari ini," ucap Mutia menasehati.
"Putraku telah pergi entah kemana dan kau malah memintaku untuk beristirahat dan membuang semua beban pikiranku?" balas Tuan Hans tidak mau dinasehati.
"Daddy, selain menantumu aku juga adalah seorang dokter. Kesehatan seorang pasien adalah tugas dan juga tanggung jawabku, sekarang biar aku antar Daddy untuk istirahat ke kamar dan satu hal lagi, percayalah pada Drew. Dia akan kembali ke rumah jika sudah tiba pada waktunya," ucap Mutia menenangkan hati.
Tuan Hans termenung mendengar hal tersebut, apa maksud dari perkataan menantunya itu, yang mengatakan jika Drew akan pulang ke rumah jika sudah tiba waktunya?
__ADS_1
...***...
Sedangkan disisi lain, Nyonya Sherly, Luna dan beserta kedua orang tuanya tengah berkumpul disatu ruangan yang sama dan sedang membicarakan sesuatu.
"Drew telah pergi, bagaimana denganku?" tanya Luna cemas.
"Ini semua karena ulahmu Luna, harusnya kau tidak berlebihan menggoda Drew." Bu Magda menyalahkan Luna.
"Loh kok Mama jadi nyalahin aku? Ini semua kan idenya Mama, aku cuma menurut saja!" balas Luna tidak terima disalahkan, begitu pula dengan Bu Magda, ia juga tidak mau disalahkan.
"Sudahlah kalian berdua jangan berdebat! Padahal aku sudah bersusah payah menyatukan Luna dengan Drew, tapi rasanya keinginan terbesar itu akan sulit terwujud," ucap Nyonya Sherly.
"Kenapa harus takut? Mereka sudah bertunangan, jadi sudah pasti mereka akan menikah cepat atau lambat," ucap Pak Bambang.
"Drew punya sifat keras kepala dan susah sekali diatur, membujuk Drew adalah hal yang paling sulit dilakukan. Bahkan bisa dibilang mustahil, apalagi membujuk Drew untuk melakukan hal-hal yang tidak ia sukai. Awalnya aku sudah lega karena Drew telah setuju bertunangan dan menerima pernikahan ini, walau jarak waktu yang cukup lama. Tapi tidak ku sangka akhirnya jadi rumit begini," keluh Nyonya Sherly.
"Jadi bagaimana dong, Tante?" rengek Luna mengguncang-guncang lengan Nyonya Sherly.
Nyonya Sherly terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu. "Selama ini, Drew selalu menurut kepada tiga orang saja dalam hidupnya. Yang pertama ibu kandungnya, Twister dan yang satu lagi ..."
"Satu lagi siapa Tante?" tanya Luna.
"Tesla?"
"Ya, Drew sangat mencintai wanita itu dan sudah jelas Drew akan menuruti setiap permintaan yang dia berikan. Kita bisa minta tolong kepada Tesla dan meminta Drew agar kembali ke rumah melalui permintaannya," balas Nyonya Sherly.
"Kalau begitu aku akan menemui Tesla besok pagi dan meminta tolong padanya agar Drew segera pulang ke rumah," ucap Luna semangat.
Nyonya Sherly berdecak kesal menatap Luna. "Jangan terlalu terburu-buru, belum tentu dia mau membantu kita."
"Tenang saja, aku akan memohon dengan lembut padanya, kalau bisa aku akan mengiba dan menangis padanya, agar dia mau menuruti permintaanku," ucap Luna yakin usahanya akan berhasil.
"Tidak boleh! Enak saja kamu mau mengiba seperti pengemis begitu!" ucap Bu Magda tidak setuju.
"Mama, tidak ada jalan lain, yang penting Drew pulang ke rumah dulu," balas Luna membujuk.
Bu Magda menghela nafas panjang. "Baiklah kalau begitu, kau coba saja temui dia."
Luna tersenyum. "Baik, aku akan menemui Tesla besok pagi."
...----------------...
__ADS_1
Keesokan paginya.
Kampus.
Setelah mengumpulkan informasi dari beberapa orang dan juga berbagai tempat, Luna akhirnya berhasil menemukan keberadaan Tesla dan juga tempat kuliahnya.
Ia menunggu dengan sabar, sambil memegangi foto bergambar wajah Tesla didalam genggaman tangannya, sesekali mendengus kesal.
"Siall! Masih kuliah saja sudah punya wajah cantik seperti ini, pantas saja Drew tergila-gila padanya," celoteh Luna meremas habis foto tersebut.
Dan tak butuh waktu lama, penantian Luna akhirnya berakhir, setelah orang yang ia tunggu akhirnya datang juga. Ia pun segera menghampiri Tesla yang baru saja ingin masuk ke tempat kuliah dan menariknya agar menjauh.
"Lepas! Siapa kamu?" ucap Tesla bertanya dengan tatapan tidak suka karena lengannya ditarik tanpa ijin.
"Tesla, apa kau benar Tesla?" tanya Luna.
"Ya aku benar Tesla, kau siapa?" tanya Tesla menarik lengannya.
"Kenalkan aku Luna, aku tunangannya Drew." Luna mengambil kedua lengan Tesla dan mengoyangkannya seperti berjabat tangan.
Tesla terdiam sejenak dan menatapi penampilan Luna, lalu ia teringat akan wanita yang pernah ia lihat saat melakukan video call dengan Drew.
Tesla menarik kedua lengannya. "Oh jadi kau orangnya yang bernama Luna, tunangannya Drew. Mau apa kau kemari?"
"Tesla, ada yang ingin ku bicarakan padamu. Tapi jangan disini, tolong ikutlah denganku," pinta Luna.
"Apa kau tidak lihat kalau aku ini seorang mahasiswi? Dan aku harus segera masuk ke kampus, karena sebentar lagi jam kelasku akan dimulai. Jadi tidak perlu bertele-tele, katakan saja disini. Karena kalau tidak, aku harus pergi sekarang juga," balas Tesla dingin.
"Tesla, Drew pergi dari rumah dan aku percaya hanya kau wanita yang bisa membawa Drew kambali pulang," mohon Luna mulai berakting sedih dan menceritakan segala kejadian kemarin malam.
Tentang Drew yang ingin merenggut kehormatannya, membuat Tesla seketika membulatkan kedua mata.
Sejenak Tesla menatap wanita yang tengah menangis dihadapannya itu, untuk mencari kebenaran pada kedua manik matanya. Terlebih saat mantan kekasihnya itu melakukan perbuatan tidak baik.
"Aku mohon Tesla, hanya kau yang bisa membujuk Drew agar mau pulang ke rumah dan bertanggung jawab atas apa yang pernah ia lakukan kepadaku," isak Luna sesekali melirik Tesla yang tengah terdiam dengan ekor matanya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1