Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 115. Tuan Hans sakit.


__ADS_3

Mansion Royce.


Tuan Hans menyudahi pekerjaannya disaat kedua matanya itu mulai merasa letih, ia menatap jam diatas meja kerja dan memijat pelipisnya karena terasa pusing.


"Sudah jam 2 pagi," gumamnya menghela nafas lelah.


Pria itu pun beranjak dari tempat duduk dan keluar ruangan untuk mengambil air di dapur, akan tetapi rasa lelah akibat seringnya bekerja hingga larut malam, membuat tubuhnya tidak kuat lagi menahan rasa letih.


Hal tersebut membuat tuan Hans merasa lemah, bahkan gelas pada genggaman tangannya terlepas begitu saja dan pecah karena menghantam lantai, hingga menimbulkan suara gaduh dan membangunkan beberapa pelayan disana termasuk Bi Nonik.


"Tuan besar!" pekik Bi Nonik dan beberapa pelayan lainnya.


Mereka pun berbondong-bondong mengangkat raga tuan Hans yang tidak sadarkan diri keatas sofa terdekat, lalu menghubungi dokter pribadi keluarga itu.


"Bu kepala, nomor dokternya tidak bisa di hubungi," ucap cemas salah satu asisten Bi Nonik.


"Kalau begitu aku harus memanggil nyonya muda, kalian tolong jaga tuan besar dan berikan kompres pada dahinya," balas Bi Nonik tidak ada pilihan.


"Baik Bu kepala," patuh si asisten itu.


Sementara itu, Mutia baru saja hendak tidur setelah menyelesaikan tugasnya sebagai seorang istri, yaitu melayani suami perkasanya yang tidak pernah mengerti arti kata lelah bermain.


Bahkan pria itu masih saja merayu dirinya agar mau bermain satu ronde lagi, namun setelah digempur habis-habisan, ia sudah tergolek lemas dan tidak sanggup lagi meladeninya.


"Ayolah sayang, satu kali saja. Jangan tidur dulu, aku masih belum mengantuk," rayu Twister seperti biasanya.


Mutia mencebik dan menenggelamkan wajahnya didalam selimut tebal. "Tidak mau, badanku semuanya pegal dan terasa remuk. Sebaiknya kita istirahat saja ya sayang, karena ini sudah malam," pintanya. "Huh! Seperti tidak ada hari esok saja!" gerutunya kemudian.


Twister mendesaah panjang dan menatap Mutia yang tidak menghiraukannya. Akhirnya pria itu mengerti juga setelah melihat wajah sang istri yang kelelahan.


"Baiklah, kita tidur malam ini. Good night honey," ucap Twister mengecup kening Mutia.


Namun belum sempat pria itu merebahkan tubuhnya, tiba-tiba Bi Nonik menghubunginya. "Apa Daddy pingsan? Baiklah aku akan segera turun," ucap Twister terkejut mendengarnya.


Mutia tiba-tiba saja terbangun, ketika melihat Twister mengenakan piyama tidurnya lagi. "Ada apa sayang?" tanyanya mengantuk.


"Daddy pingsan," balas Twister.


Mutia terduduk dan terkejut. "Apa pingsan?"


"Iya, aku ingin ke bawah sebentar. Kau istirahatlah," balas Twister.


Mutia menolak tidur. "Kalau begitu biar aku memeriksanya," ucap Mutia buru-buru bangun dan segera menggenakan cardigannya.


"Kau ingin apa? Bukankah kau lelah?" tanya Twister menahan.


"Apa kau lupa sayang? Aku adalah seorang dokter, bagaimana aku bisa mengabaikan seseorang dalam keadaan sakit seperti itu. Apalagi dia adalah anggota keluarga kita," balas Mutia berpegang teguh pada prinsipnya sebagai dokter, yang harus siap sedia 24 jam penuh merawat insan yang membutuhkan tenaganya.


"Baiklah, kalau begitu kita harus segera turun dan menemui Daddy," ucap Twister mengerti lalu membantu Mutia membawakan peralatan medisnya.


...***...


"Bagaimana keadaan Daddy sayang?" tanya Twister setelah Mutia selesai memeriksa tuan Hans.


"Denyut nadi Daddy terasa lemah, tekanan darahnya juga rendah dan tubuhnya mengalami demam. Aku yakin Daddy pingsan pasti karena mengalami kelelahan," balas Mutia berdasarkan hasil pemeriksaannya.


"Daddy kelelahan?" tanya Twister lalu menatap bi Nonik. "Bibi apa Daddy selalu bekerja lembur?" tanyanya pada Bi Nonik.

__ADS_1


"B-benar Tuan muda, tuan besar setiap hari selalu bekerja hingga larut malam dan selalu tidur di dalam ruang kerjanya sampai pagi," jawab Bi Nonik jujur.


"Jadi Daddy selalu tidur di ruang kerjanya? Dan bekerja hingga larut malam?" tanya Twister tidak menyangka jika sang ayah melakukan hal tersebut.


"Benar Tuan muda," balas Bi Nonik apa adanya.


"Sejak kapan?" tanya Twister ingin tahu.


"Sejak pernikahan tuan muda kedua gagal, tuan besar selalu mengurung diri di dalam ruang kerjanya dan baru terlihat jika sudah waktunya berangkat kerja," balas Bi Nonik memberitahu.


Twister terdiam sejenak dan merasa prihatin dengan kondisi sang ayah, pria itu merasa yakin jika ayahnya mengalami tekanan batin, sampai melakukan hal tersebut agar beban pikirannya teralihkan.


Namun siapa sangka kerja terlalu berlebihan membuat kondisi tubuhnya yang sudah tidak muda lagi mengalami penurunan kesehatan yang jelas.


Mutia mendekati Twister dan menangkap raut wajah kecemasan pada suaminya itu. "Sayang, kau jangan khawatir. Aku sudah memasangkan infus dan menyuntikkan vitamin ke dalam infusannya. Sebentar lagi Daddy akan siuman," ucapnya menenangkan semua orang.


Twister mengangguk. "Terima kasih, aku bersyukur ada dirimu disini. Jadi Daddy bisa mendapatkan perawatan yang tepat dan cepat."


Mutia tersenyum. "Sama-sama, hanya saja selama beberapa hari kedepan Daddy harus beristirahat total. Sampai kondisi kesehatannya benar-benar pulih," ucapnya memberitahu.


Twister mengangguk mengerti, kemudian meminta semua pelayan agar menjaga dan merawat ayahnya selama istirahat total.


"Kabari aku jika terjadi sesuatu kepada Daddy," ucap Twister sebagai penutup kepada Bi Nonik.


"Baik Tuan muda," balas Bi Nonik.


Twister menatap kesekeliling, dalam kondisi gaduh seperti tadi. Entah mengapa hanya ada dirinya dan Mutia saja yang berada dirumah tersebut.


"Ada dimana semua orang Bi?" tanya Twister.


"Nyonya besar sedang menginap di vila temannya, kalau tuan muda kedua sedang membantu pembukaan restoran barunya nyonya Bianca," balas Bi Nonik apa adanya.


Beruntung ia menyetujui untuk tinggal bersama dengan ayahnya itu walau sempat menolak. Karena jika ia menolak waktu itu dan tidak menyetujui untuk tinggal bersama dalam satu rumah, maka siapa yang akan merawat orang tuanya disaat sakit seperti ini.


"Twister, apa yang sedang kamu pikirkan?" tegur Mutia.


"Tidak ada, bagaimana kalau kau pergi ke kamar dan beristirahatlah. Biar aku disini yang menemani Daddy," ucap Twister.


"Apa tidak masalah? Kau harus istirahat juga," balas Mutia.


"Aku bisa tidur di sofa dan disini banyak pelayan dan Bi Nonik yang membantuku," ucap Twister tidak mengapa.


"Baiklah kalau begitu, jika terjadi sesuatu pada Daddy panggil aku saja," balas Mutia.


Twister mengangguk. "Tentu sayang," balasnya sambil mengecup pipi istri cantiknya.


...----------------...


Kediaman Nyonya Bianca.


Sementara itu Drew mendadak tidak bisa tidur, entah mengapa tiba-tiba ia merasa gelisah dan selalu saja kepikiran dengan keadaan orang rumah.


"Kenapa aku merasa terjadi sesuatu disana," gumam Drew menatap langit-langit kamar.


"Ah itu pasti hanya perasaanku saja, disana banyak orang. Kalau ada sesuatu pasti ada orang yang menolongnya," monolog Drew pada diri sendiri.


Pria itu keluar dari kamarnya bermaksud untuk mencari udara segar, akan tetapi ia tetap tidak bisa menyingkirkan rasa gelisah dalam hatinya itu.

__ADS_1


Drew akhirnya menghubungi rumah di jam 3 pagi, sesekali berdecih dan mengumpat pada dirinya sendiri. Kenapa ia harus menelepon sepagi itu, hanya karena mengikuti rasa penasaran yang meliputi hatinya mengenai keadaan orang rumah.


Tapi siapa sangka, teleponnya masih dapat terhubung dan diangkat oleh seseorang.


"Hallo, apa ini bi Nonik?" tanya Drew.


"Tuan muda," balas Bi Nonik sedikit terkejut majikannya menelepon.


"Bibi, kenapa masih belum tidur? Apa Bibi sakit?" tanya Drew peduli.


Entah kesambet hantu apa majikannya itu, karena seumur-umur baru kali ini ia bertanya peduli seperti itu kepada seorang pelayan. Di malam hari pula.


Akan tetapi Bi Nonik merasa terharu setelah mendengarnya.


"Bibi baik, hanya saja tuan besar tiba-tiba pingsan tadi," jawab Bi Nonik mengabari.


"Apa pingsan? Bagaimana bisa?" cecar Drew panik. Karena walau sebenci apapun ia kepada tuan Hans, Drew masih tetap peduli kepada orang yang telah merawatnya sejak kecil.


Beda halnya jika Nyonya Sherly yang sakit, sampai langit runtuh pun pria itu bersumpah tidak akan peduli kepadanya.


Bi Nonik menceritakan awal mula kejadian tersebut, dirinya begitu kesal saat mengetahui istri kesayangan daddynya tidak ada di tempat disaat suaminya sedang sakit seperti itu.


Namun ia merasa bersyukur ada Twister dan Mutia yang merawat ayahnya.


"Baiklah Bi, terima kasih. Maaf aku mengganggumu," ucap Drew mengakhiri panggilan itu.


Drew menghembus nafasnya kasar dan menatap kamar disebelahnya yang tertutup rapat, ada rasa penasaran melanda pria berumur 26 tahun itu. Disaat tahu jika kekasihnya tidur bersama teman-temannya didalam sana.


Dengan bermodalkan nekad, Drew mencoba menyelinap ke dalam kamar untuk melihat wajah kekasihnya yang sedang tertidur.


Namun belum sempat ia membuka handle pintu, sebuah uluran tangan tiba-tiba saja mendarat di telinganya.


"Aduh! Akh sakit!" ringis Drew kemudian perlahan memutar lehernya agar bisa menatap siapa orang yang telah berani menjewernya.


"M-mommy," ucap Drew terbelalak.


Nyonya Bianca menatap tajam Drew. "Apa yang kau lakukan disini dan mau apa kamu hem? Mau ngintip ya?" selidiknya curiga.


"T-tidak Mom, Mommy salah paham. A-aku hanya melihat pintunya terbuka, jadi aku mencoba menutupnya kembali," jawab Drew penuh dusta.


Akan tetapi Nyonya Bianca tetap tidak percaya. "Drew jangan macam-macam, mereka adalah tamu Mommy dan mereka semuanya perempuan. Bagaimana tanggapan orang lain saat kau melakukan hal tidak terpuji seperti itu?" ceramahnya.


"M-maaf Mom, aku mengaku salah. Maafkn aku," ringis Drew.


Nyonya Bianca akhirnya melepaskan jewerannya. "Katakan pada Mommy, kenapa kamu belum tidur?"


"Aku tidak bisa tidur," balas Drew jujur. "Lalu kenapa Mommy belum tidur?" tanyanya kemudian.


"Mommy juga sama belum bisa tidur, entah kenapa. Mommy juga tidak tahu," jawab Nyonya Bianca.


Drew kemudian menceritakan kondisi sang ayah kepada ibunya dan menduga jika kejadian tersebut yang membuat mereka tidak bisa tidur dan mengalami kegelisahan bersama.


Nyonya Bianca tertunduk lemas, mau dikata apa lagi. Ia sudah tidak ada hubungan dengan mantan suaminya. "Itu kesalahannya sendiri memilih Sherly daripada diriku," batinnya sakit hati jika mengingat kejadian silam lalu.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2