
"Bawa keluar dua orang ini dari perusahaanku dan jangan biarkan mereka masuk lagi ke dalam perusahaan!" titah Tuan Hans setelah penjaga keamanan tiba di ruangannya.
Pak Sanyoto menghentak tangan-tangan para penjaga agar tidak menyentuhnya, apalagi menyentuh anak gadisnya. "Tidak perlu pegang-pegang seperti itu, dan jangan berani menyentuh anak gadis saya!" gertaknya.
Lalu Pak Sanyoto menatap gusar Tuan Hans. "Kau tenang saja, tanpa disuruh kami juga akan pergi dari sini! Akan tetapi ingatlah perkataan saya ini, saya akan tetap mengurus kasus ini seorang sendiri hingga tuntas!" sergahnya lalu melangkah keluar ruangan.
"Papa," Twister menahan ayah angkatnya agar tidak pergi, apalagi pergi dalam keadaan kecewa seperti ini.
Namun Pak Sanyoto melepaskan tangan Twister dari lengannya. "Sudahlah, Papa sadar tidak seharusnya Papa datang kesini dan Papa rasa tidak ada gunanya meminta apapun dari kalian, karena Papa sendiri adalah orang lain bagimu. Mulai sekarang hubungan keluarga kita telah berakhir dan janganlah panggil Papa padaku lagi!" sebelum akhirnya sadar diri dan melanjutkan langkahnya.
Tesla berkaca-kaca mendengar pernyataan tersebut dan menatap kecewa pada Twister. "Dia hanya butuh keadilan, tapi kau tidak mendukungnya. Memang lebih baik kita tidak berhubungan lagi sejak saat itu, agar tidak ada yang merasa kecewa di kemudian hari seperti hari ini." Ucapnya lalu menyusul sang ayah.
"Tesla! Papa! Kalian hanya salah paham," panggil Twister mengejar.
"Sudahlah Twister, jangan menyusulnya. Kau harus fokus bekerja demi mengejar impianmu," ucap Tuan Hans mengingatkan.
Apalagi Twister bertekad ingin membangun rumah sakit untuk Mutia sebagai hadiah pernikahan, maka dari itu ia harus bekerja keras dan menurut kepada ayahnya.
Tak berselang lama kemudian, Pak Sanyoto mendapatkan telepon dari anak buahnya di desa. Mereka mengabari jika kandang bebek miliknya sedang mengalami kebakaran hebat, hingga beberapa bagian bebeknya mati hangus terbakar.
"Sardi ku bagaimana?" tanya Pak Sanyoto cemas mengingat bebek kesayangannya tengah berada di dalam kandang.
"Belum ketemu Juragan!" sahut pak Muhktar dari ujung ponselnya.
"Cepet temukan si Sardi bebek kesayangan ku itu!" titahnya segera. Karena selain bebek kesayangan, Sardi merupakan bebek pejantan pemilik bibit unggul di peternakannya.
"Baik Juragan!" patuh pak Mukhtar.
Suara riuh dari bebek-bebeknya, serta suara keramaian dari para warga desa yang panik dan menyebut api telah melalap segala sesuatu, bahkan ada yang menyebut tidak bisa diselamatkan lagi begitu jelas terdengar melalui ponselnya.
Tiba-tiba saja ia merasakan sakit yang sangat teramat seperti tertusuk dan menjalar cepat pada bagian jantungnya. Hingga pada akhirnya pria itu pun terjatuh sambil memegangi dadanya yang sakit.
Dan dapat disimpulkan Pak Sanyoto tengah mengalami serangan jantung, karena syok setelah mendapat kabar buruk akibat tekanan batin yang baru saja ia alami.
"Papa! Papa!" pekik Tesla panik, sambil mengguncang-guncang tubuh tambun ayahnya yang mulai hilang kesadaran diri.
...***...
__ADS_1
Setelah kepergian pak Sanyoto dan Tesla dari perusahaan Royce, Tuan Hans melalui Martino segera menghubungi pihak pengembang untuk bertanya mengenai kasus perumahan di kawasan Desa Rawa Bebek, yang telah melibatkan namanya.
Tuan Anjas yang mengetahui perusahaan pusat menanyakan hal itu pun, segera menjelaskan jika keluhan Pak Sanyoto hanyalah bualan belaka dan memberitahu jika kejadian di desa murni masalah lahan antar warga desa yang ingin menjual lahannya kepada orang lain dengan keluarga Sanyoto saja.
"Kami tidak melakukan apapun yang telah dituduhkan oleh pak Sanyoto itu, lagipula kita sudah tidak berurusan lagi dengan desa itu semenjak pak Direktur Utama sendiri yang membatalkannya secara langsung."
"Sudah begitu kita juga telah menarik seluruh pekerja kita disana bahkan orang-orangku juga telah pergi setelah putusan itu disahkan olehnya," jelas Tuan Anjas penuh dusta. Mengingat ia dan Tuan Bams saling bekerja sama untuk menyembunyikan hal tersebut.
"Lalu, kenapa keluarga Sanyoto bilang kalau dalang kerusuhan disana adalah perusahaan Royce. Bahkan mereka memiliki bukti," ucap Martino menyelidik.
"Jangan percaya, mungkin ada perusahaan lain yang melirik tanah mereka dan kitalah yang terkena imbasnya. Lagipula jangan percaya dengan orang-orang desa itu, bisa jadi mereka mempunyai maksud terselubung dengan memfitnah nama perusahaan kita," balas Tuan Anjas memperkeruh.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih atas penjelasannya Pak Anjas," balas Martino mengakhiri panggilan setelah melihat sang atasan memberi kode berhenti.
Tuan Hans menatap Twister. "Martino sudah menghubungi tuan Anjas, apa sekarang kau percaya kepada Daddy, kalau Daddy tidak melakukan hal yang sudah dituduhkan oleh Papa angkatmu itu?" ucapnya sekaligus memberi bukti.
Twister merasa ragu mendengarnya, karena setahu dirinya keluarga Sanyoto tidak pernah berbohong atau melakukan tipu muslihat agar dapat menjatuhkan seseorang.
Lalu bagaimana dengan kebakaran serta demo yang menyerang rumah pak Sanyoto?
"Apa! Papaku terkena serangan jantung?" ucap Twister terkejut.
"Ya, kabarnya sekarang pak Sanyoto sedang dilarikan ke rumah sakit oleh karyawan kita," balas Martino sesuai apa yang diberi tahu oleh karyawan dibawah sana.
Twister meraup wajahnya kasar dan segera pergi menuju rumah sakit dimana ayah angkatnya akan dilarikan dengan hati gelisah dan berharap tidak terjadi hal buruk kepada ayah angkatnya itu.
...----------------...
PT. Bangun Artha Sejahtera.
Tuan Anjas tertawa saat mendengar kabar jika pak Sanyoto nekad datang ke perusahaan Royce demi melabrak orang yang dianggap sebagai dalang dari kerusuhan di desanya itu.
Selain itu, tuan Anjas juga merasa senang mendengar keadaan pak Sanyoto yang dikabarkan masuk rumah sakit akibat mengalami serangan jantung.
Hal tersebut pun tentu saja menciptakan keretakan hubungan, antara keluarga Royce dengan keluarga Sanyoto. Yang menambah kepuasan hati baginya, karena telah berhasil membuat adu domba.
"Aku tidak peduli siapa yang kalah, tapi yang jelas aku ingin melihat keduanya hancur!" tekan Tuan Bams begitu Tuan Anjas menghubunginya.
__ADS_1
"Satu persatu Tuan Bams, pertama kita melihat kehancuran keluarga Sanyoto dan yang berikutnya adalah keluarga Royce," balas Tuan Anjas bertekad.
"Bagus, buat terus kesalapahaman diantara mereka. Aku ingin kedua belah pihak saling bersitegang," ucap Tuan Bams mengutarakan keinginannya sesuai perintah Bella.
"Tenang saja Tuan Bams, di desa kini sedang terjadi kegaduhan. Aku yakin bukan hanya si Sanyoto itu yang kewalahan, akan tetapi seluruh keluarganya juga dijamin tidak bisa mengatasinya," balas Tuan Anjas.
"Bagus kalau begitu, aku senang sekali! Karena aku puas dengan kinerjamu, maka uang yang ku janjikan akan ku transfer ke rekeningmu dengan segera," seru Tuan Bams.
Tuan Anjas tersenyum senang. "Terima kasih Tuan Bams, aku menunggunya."
Perbincangan itu pun berakhir, akan tetapi rencana mereka tetap berlanjut. Keduanya akan terus membuat perselisihan serta salah paham- salah paham kepada kedua belah pihak, hingga mereka benar-benar hancur.
...----------------...
Rumah sakit.
"Pergi dari sini!" sentak Tesla mengusir semua orang yang datang menjenguknya termasuk Twister.
"Tesla kendalikan dirimu," pinta Twister begitu khawatir dengan keadaan Tesla yang berantakan.
"Jangan menceramahiku, Papaku sedang berjuang dan itu semua karena dirimu!" sergahnya kesal.
"Tesla sadarlah, kau harus tenang," bujuk Marisa dan Tiara memeluki Tesla agar tidak terus memaki dan berusaha menenangkan sahabatnya.
"Papa kesayanganku, dia terkena serangan jantung saat mendengar mata pencariannya hangus terbakar dan mereka malah tidak percaya kepada Papaku!" balas Tesla diiringi tangis pilu.
Twister terdiam membisu, hingga tidak dapat berkata-kata lagi dan membiarkan adik angkatnya itu memaki dirinya sepuas hati.
Dan Bersamaan dengan hal tersebut, Sam datang bersama dengan Drew setelah mendengar jika Twister beserta keluarga Tesla ada di rumah sakit.
Drew melebarkan kedua matanya dan turut bersedih, hatinya merasa pilu saat melihat Tesla menangis sesunggukkan, sambil meringkuk di depan pintu kamar rawat darurat. Menunggu keajaiban dari dalam untuk kesembuhan ayahnya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1