
Pada malam harinya, Drew baru saja tiba dikediamannya dalam kondisi berantakan. Kemeja pria itu bahkan sudah tidak beraturan lagi dan terlihat juga beberapa kancing tidak tersemat, sehingga Drew nampak seperti seorang gelandangan.
Pria itu masuk ke dalam rumah dan berjalan sempoyongan, dengan tangan kanan memegang sebotol minuman beralkohol tinggi. Kedua bola matanya memerah, dan memandang orang-orang disekitarnya dengan penuh kebencian.
Sesekali pria itu meracau tidak jelas dan menangis menyebut nama Tesla, serta memaki ayahnya tanpa henti, hingga menimbulkan kegaduhan di area ruang utama dari rumah tersebut.
Karena bukan hanya berteriak saja, Drew yang mabuk juga melempar barang apapun hingga pecah dan terlempar jauh dari tempatnya berada.
Hal itu tentu membuat semua pekerja disana tidak ada yang berani mendekat, apalagi menghentikan aksi liar Drew yang telah berada diluar kendali.
"Tuan muda, tolong hentikan!" pinta Bi Nonik dari kejauhan. Namun Drew semakin dilarang semakin bertambah pula amarahnya.
"Berisik!" sahut Drew tidak peduli. Ia menenggak minumannya sekali lagi dan berjalan sempoyongan ke arah sofa.
Sementara itu, Tuan Hans bergegas turun ke bawah ketika mendengar ada suara keributan dari lantai pertama rumahnya. Pria itu berubah gusar, melihat Drew seperti binatang liar yang sulit untuk dikendalikan.
"Menyingkir kalian!" sergah Drew memukuli siapapun yang mendekatinya dengan membabi buta.
"Drew!" sergah Tuan Hans.
Drew berhenti memukuli seseorang, lalu menatap sang ayah yang berjalan mendekati dirinya. "Heh! Ini dia si penjahatnya," ucap Drew tertawa seperti orang gila. Lalu menunjuk ke wajah tuan Hans.
"Kau orang tua tidak punya hati! Kau orang jahat, kau tidak pantas disebut sebagai seorang ayah!" maki Drew meluapkan kekesalannya dalam pengaruh minuman keras.
Tuan Hans mengeraskan rahangnya dan begitu marahnua ia terhadap Drew, yang dinilai tidak tahu malu karena masih berani menyentuh minuman haram didalam rumahnya.
"Anak breng-sek!" sarkas Tuan Hans.
"Daddy jangan!" cegah Twister, setibanya ia pulang ke rumah setelah menjemput Mutia dari rumah sakit. Membuat Tuan Hans refleks menarik kembali uluran tangannya.
Drew terkekeh, dan terhuyung-huyung menatap sang ayah yang menatap sengit dirinya. "Kenapa berhenti, pukul saja aku Daddy. Kalau perlu kau bunuh saja aku dengan tanganmu ini," ucapnya mengambil kedua tangan tuan Hans agar bisa memukul wajahnya.
Lalu tak lama setelah itu, Drew pun jatuh ambruk tidak sadarkan diri. Beruntung saat ia terjatuh Twister sudah siap menahan raga Drew, agar tidak tersungkur ke lantai.
"Drew!" pekik Twister dan semua orang yang berada disana turut merasa khawatir.
"Daddy ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa Drew bisa berlaku sampai sekacau ini?" cecar Twister kepada ayahnya.
__ADS_1
Tuan Hans berdecak kesal. "Ini semua gara-gara adik angkatmu itu!" jawabnya menyalahkan. Lalu pria itu pergi dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Twister menatap Drew dan masih belum mengerti dengan apa yang tengah terjadi pada adik kandungnya itu dan apa kaitannya kemarahan dengan Tesla?
"Sudahlah, jangan diam saja. Lebih baik kau membawa Drew ke kamarnya," ucap Mutia agar Drew bisa beristirahat dengan baik.
Twister mengangguk, lalu memapah adiknya itu agar masuk ke dalam kamar terdekat dari tempat mereka berada.
"Apa yang sebenarnya terjadi Bi?" tanya Twister.
Bi Nonik menceritakan semua hal yang ia tahu, yang jelas dari mulut nyonya besarnya yang begitu senang karena hubungan Drew dengan Tesla berakhir, serta keputusan tuan Hans yang akan menikahkan Drew dengan Luna dalam waktu dekat.
Twister menghela nafas panjang dan sulit mempercayai jika tekanan batin yang dialami oleh Drew, akibat kehilangan cinta pertamanya membuat pria itu mengalami depresi berat.
Tapi apapun itu, Twister sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak ikut campur dengan masalah pribadi Drew, agar Drew bisa lebih dewasa dalam menghadapi setiap persoalan yang datang dalam hidupnya.
...----------------...
Kamar kost.
Sepanjang pulang dari kampus, hingga malam menjelang tiba, Tesla tidak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Kejadian tadi pagi selalu saja teringat dalam benaknya. Apalagi perkataan tuan Hans yang mampu membuatnya terluka cukup dalam.
Ia pun memilih menyendiri di dalam kamar dan tidak mau diganggu atau apapun itu walau kedua temannya kerap membujuk dirinya untuk bertemu, agar bisa menghiburnya yang tengah bersedih hati.
Wanita itu menghapus semua kenangannya bersama Drew, mulai dari foto-foto kebersamaannya yang berada didalam ponsel. Sampai membuang barang-barang pemberian Drew agar ia bisa melupakan mantan kekasihnya itu secepat mungkin.
Akan tetapi bagaimana cara menghapus kenangan indah yang pernah mereka lalui? Beberapa kenangan yang telah tersemat didalam hati dan juga pikirannya?
"Aku harus segera melupakan Drew, lagi pula apa yang bisa aku harapkan darinya? Dia sudah punya calon pendamping dan mereka pasti akan segera menikah," keluh kesah Tesla menyadarkan dirinya sendiri. Sesekali menangis sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya.
Sementara itu kedua teman Tesla merasa sedih melihat teman baiknya mengurung diri di dalam kamar.
"Apa yang harus kita lakukan? Dia tidak berhenti menangis sejak dari tadi pagi," ucap Marisa.
"Mau diapakan lagi, dia ingin sendiri saat ini. Lebih baik kita tidak menganggunya," balas Tiara mengajak Marisa agar pergi, karena mereka berdua harus pergi bekerja paruh waktu di restoran Manyu.
Marisa mengangguk, lalu meninggalkan kamar Tesla dengan menyematkan secarik catatan kecil berisikan pesan agar tetap semangat dan selalu tersenyum.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya kedua wanita itu telah tiba di restoran.
"Loh mana Tesla?" tanya Nyonya Bianca merasa ada yang kurang.
Tiara dan Marisa saling bertatapan, seakan bingung harus memberitahu putusnya hubungan Drew dengan Tesla, atau tidak.
"Kenapa? Ada apa dengan kalian? Apa terjadi sesuatu?" cecar Nyonya Bianca penasaran.
"Chef, Tesla sedang sakit. Dia tidak bisa datang hari ini," balas Marisa takut jika jujur. Karena ia tidak mau ayahnya Drew yang jahat itu sampai datang ke restoran ini dan menyakiti hati nyonya Bianca.
"Oh begitu, pantas saja kalian berdua terlihat tidak semangat. Ya sudah, masuklah. Kalian harus bekerja, sebentar lagi kita akan masuk jam sibuk," ucap Nyonya Bianca lalu kembali pada pekerjaan.
Sedangkan Tiara mencubit lengan Marisa. "Kenapa kau berbohong? Kenapa tidak beritahu saja kondisi Tesla yang sebenarnya pada chef Bianca?"
Marisa menarik Tiara agar menjauh dari kerumunan orang-orang. "Bukannya aku tidak mau jujur Tiara, coba kamu pikirkan sekali lagi. Bagaimana kalau kita memberitahukan kejadian tadi pada chef Bianca? Chef Bianca pasti merasa sedih dan dia juga pasti tidak akan menerima perbuatan mantan suaminya terhadap Tesla yang semena-mena itu," bisiknya.
"Kau benar, apalagi Nyonya Bianca begitu berharap kalau Drew dan Tesla bisa selalu bersama selamanya. Bagaimana perasaannya kalau sampai tahu mereka sudah tidak mempunyai hubungan lagi? Apalagi sampai tahu hubungan putranya putus itu karena ulah mantan suaminya sendiri," balas Tiara membenarkan.
"Hem, mereka bisa bertengkar hebat lagi seperti dulu dan ibu tirinya Drew itu, pasti dia yang pertama kali menyalahkan kita karena mengadukan hal ini kepada chef Bianca," ucap Marisa.
"Ya kau benar, ada baiknya kita sembunyikan masalah ini terlebih dahulu. Setidaknya sampai semua keadaan kembali tenang," ucap Tiara dan Marisa setuju dengan hal tersebut.
...----------------...
Keesokan harinya.
Drew terbangun dan mulai mengerjapkan kelopak matanya, sambil menekan kedua pelipisnya karena merasakan sakit pada bagian kepalanya itu, akibat pengaruh minuman beralkohol tadi malam.
Sesekali pria itu mendesis dan menyipitkan kedua matanya, menatap ke sekeliling ruangan yang terasa asing baginya.
"Dimana ini?" lirihnya berusaha mengingat kembali kejadian tadi malam.
"Selamat pagi," sapa lembut seorang wanita dibalik muka pintu.
.
.
__ADS_1
Bersambung.