Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 46. Kemenangan Drew.


__ADS_3

Matt tertawa puas dan merentangkan kedua tangan, sambil menengadah keatas menatap luasnya cakrawala. Lalu menurunkan pandangannya untuk menatap dua pembalap yang baru saja kalah darinya, dengan seringai diwajah yang menakutkan.


"Itulah akibatnya jika menghalangi jalanku! Dan untukmu The Monster, cobalah tantang aku sekuat mungkin yang kau bisa, karena bagaimanapun caramu melwanku, aku akan selalu menang darimu!!" pekik Matt menggema.


Sementara itu, Drew segera bersungkur. "Oh tidak. Twister bangunlah!" cemasnya seraya menopang kepala sang kakak agar berada diatas pangkuannya.


Sedangkan Bagas alias Twister, masih nyaman memejamkan kedua matanya.


"Cepat panggilkan paramedis!" panggil Drew berteriak.


Pria itu tidak kuasa menahan tangis, karena merasa khawatir akan keselamatan kakaknya. "Ayo Twister bangunlah, jangan tinggalkan aku untuk yang kedua kalinya!" pekik Drew sambil memeluk erat kepala sang kakak.


Momen tersebut membuat semua orang merasa heran, tapi tidak sedikit juga dari mereka yang merasa tersentuh.


Sam terpaku menatapi layar monitornya dan menggeleng. Ia hanya bisa mendengar suara nafas sahabatnya itu dari dalam helmnya.


"Ayo Twister bangunlah. Kenapa paramedis lama sekali datangnya!" gemas Sam.


Bersamaan dengan hal tersebut, tim paramedis berlarian mendekati Bagas dan Drew, dengan membawa sebuah tandu. Akan tetapi baru saja tubuhnya akan diangkat oleh tim paramedis, Bagas perlahan membuka kedua matanya.


Pria itu menolak untuk dibawa ke luar lapangan, karena ada sesuatu yang harus ia selesaikan terlebih dahulu.


"J-jangan bawa aku, aku masih sanggup melanjutkan balapan ini ..." rintih Bagas.


"Sudah Twister cukup, kau tidak perlu melanjutkan balapan ini lagi!" tekan Sam.


Sekuat tenaga Bagas bangkit dan melawan rasa sakitnya, membuat Drew terperangah dan terdiam tidak percaya.


"Mana bisa aku menyerah begitu saja, sementara aku telah berjanji kepada Drew agar bisa membawanya naik ke podium."


"T-twister ... " lirih Drew.


"Kenapa kau diam saja disini, kita harus menyelesaikan pertandingan ..." ucap Bagas merintih kesakitan, sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.


Drew mengangguk-anggukan kepala, walau sedih dan berat hati, tetapi ia tidak dapat menyembunyikan keinginan terbesarnya, yaitu dapat memenangkan balapan bersama dengan sang kakak.


Dengan sigap Drew memapah Bagas untuk berdiri dan menjadikan tubuhnya sebagai sandaran agar bisa berjalan beriringan menuju garis finish.


Momen berharga tersebut, sukses membuat siapapun orang yang melihatnya bersorak sorai karena merasa tersentuh.


Dan setibanya mereka di motor milik The Monster, Bagas meminta Drew untuk menaiki motornya kembali dan menyelesaikan balapan yang sudah sedikit lagi didepan mata.


"Ayo Drew, lajukan motornya dan lewati garis finish ini," ucap Bagas alias Twister meminta.


Drew menatap sang kakak dan memintanya untuk duduk di kursi belakang.


"Duduklah, aku ingin kita bersama melewati garis finish ini!" ucap Drew menepuk-nepuk jok belakang motor balap tersebut.


Bagas tersenyum, lalu menaiki motor itu dengan susah payah, sambil berpegangan erat pada pinggang Drew dan dalam sekali tarikan gas pelan, mereka telah berhasil menyelesaikan pertandingan.

__ADS_1


Mereka turun dari motor dan berpelukan satu sama lain. "Selamat untukmu Drew!" seru Bagas.


"Tidak Twister, kemenangan ini bukan hanya milikku saja tapi milik kita semua. Dan aku tidak akan pernah bisa berhasil sampai sejauh ini jika bukan karena bantuanmu. Terima kasih!" seru Drew bersyukur dan merasa bangga dengan sosok pria dihadapannya itu.


Sorak sorai pengunjung kembali menggelegar dan memenuhi sekeliling sirkuit. Momen langka tersebut juga membuat komentator memuji tindakan mengharukan dari The Monster.


"Wah ini termasuk momen langka, dimana The Monster memberi tumpangan kepada pembalap asing demi dapat menyelesaikan pertandingan mereka. Menurutmu bagaimana dengan aksi mereka barusan?" cuap-cuap komentator pertama.


"Tentu saja aksi mereka membuatku tersentuh, seperti banyak irisan bawang disekeliling ruangan ini," balas komentator kedua sambil terisak-isak.


Drew kembali memapah sang kakak dan menuntunnya kembali ke sudut tim suksesnya untuk melakukan pemeriksaan, sambil menunggu keputusan juri mengenai hasil balapan tadi.


Sedangkan Sam pergi membuat aduan atasan tindakan Matt kepada Bagas saat mendekati garis finish, dimana rekaman ulang menunjukkan jika Matt telah melanggar peraturan.


Dan hal tersebut didukung oleh kubu pembalap lain, karena bukan hanya membahayakan satu pembalap saja, melainkan Matt telah berbuat curang kepada semua pembalap demi menggapai ambisinya.


Mereka melakukan rapat terlebih dahulu dan akan memutuskan hasil balapan diakhir acara.


Sementara itu disisi lain, para penonton baik dari penggemar maupun diluar penggemarnya, mereka mulai geram melihat aksi Matt yang menurut mereka tidak memiliki sisi kemanusiaan.


Mereka merasa kecewa kepada sang pembalap profesional andalan mereka itu, yang dinilai tidak sportif dalam melakukan balapan kali ini.


Akan tetapi Matt tidak peduli atas keluhan para penggemarnya, karena ia sendiri sedang merasa puas, setelah berhasil mencatat namanya sekali lagi dalam buku kejuaraan.


Pria itu berjalan menuju komentator, untuk menyampaikan satu patah dua patah kata. Dan menyatakan jika The Monster sudah tua dan tidak memiliki kemampuan untuk bertanding lagi.


Drew mengepal erat kedua tangannya dan menatap Matt dari kejauhan, seakan darahnya mendidih saat mendengar pria tersebut memaki dan menghina tim The Monster.


Lalu Matt berjalan menghampiri tim The Monster dan menarik Drew agar keluar dari ruangannya, kemudian meminta perhatian dari para penonton yang hadir. Agar melihat dengan seksama siapa orang yang tengah berada dibalik seragam tersebut.


"Mohon perhatiannya kesini!" titah Matt kepada awak media dan memintanya untuk mengezoom wajah pria yang akan ia buka helmnya itu.


Drew menolak saat Matt ingin membuka helmnya, namun tim Mattew senantiasa memegangi kedua tangan Drew.


Matt meminjam pengeras suara dan meminta perhatian para penonton. "Lihatlah para penonton, sebentar lagi kita akan melihat siapa penipu yang telah mengaku-ngaku sebagai The Monster!" ucapnya memulai hitungan mundur.


Hingga dalam hitungan terakhir nampaklah wajah Drew terpampang nyata pada layar monitor besar yang berada disirkuit tersebut.


Semua yang hadir disana pun sontak terkejut dan mulai berbisik-bisik membicarakan sesuatu. Siapa gerangan pria itu dan apa alasannya menggunakan nama The Monster.


"Lihat! Dia adalah Drew adiknya almarhum Twister!" ucap Matt memperkenalkan Drew didepan semua orang.


"Sudah ku duga Twister telah tiada, dan yang berada dibalik seragamnya ini adalah seorang penipu. Dia mengaku-ngaku sebagai Twister dan bocah ingusan ini telah menodai nama The Monster sendiri!" ucapnya kemudian.


"Dasar bedebahh!!" maki Drew pada Matt. "Asal kau tahu saja, kakakku masih hidup!"


Matt terkekeh. "Kakakmu telah tiada, otakmu sedikit sakit rupanya. Apa perlu ku perjelas jika kakakmu itu kecelakaan karena balapan liar dengan geng motor berandalan!"


"Kau! Kaulah yang telah menjebaknya, kau yang telah membuat kakakku celaka. Aku tidak akan pernah memaafkanmu Matt!" sergah Drew.

__ADS_1


Matt mencungkil telinga dengan kuku kelingkingnya. "Apa aku tidak salah dengar, kau ingin membuat perhitungan denganku. Maka kalau begitu lakukanlah!" tantangnya.


Drew menghembus nafas menggebu dan menatap tajam Matt. "Kau benar-benar pria brengsekk!"


Bersamaan dengan hal tersebut, seorang juri mengambil alih pengeras suara agar bisa memberi pengumuman tentang hasil perlombaan kali ini.


"Kau dengar, sebentar lagi namaku akan dikumandangkan oleh juri sebagai seorang pemenang sejati!" ucap Matt percaya diri.


Namun hasilnya sungguh diluar dugaan, karena isi dari rapat adalah Matt secara sah di diskualifikasi, karena telah melakukan beberapa pelanggaran-pelanggaran saat balapan. Dan menyatakan jika The Monster adalah pemenangnya.


Tentu saja hal tersebut membuat Matt nampak geram dan tidak menerima hasil dari keputusan para juri.


"Mana buktinya!" tantang Matt.


Para juri memberi rekaman ulang dan memperbesar kejadian saat kaki kiri Matt dengan sengaja menendang sisi badan motor pembalap disebelahnya hingga jatuh. Lalu aksi kotor kepada para pembalap lainnya.


Matt nampak bungkam dan tidak menyadari jika aksi kotornya telah terekam oleh kamera pengawas.


"Sialan!!" umpatnya kasar.


Lalu para juri dengan serempak mengumumkan siapa yang menjadi pemenang sahnya.


"Selamat untuk Drew Royce!" seru para juri. Yang ternyata sebelum pertandingan, Sam telah memberitahukan kepada para juri, jika yang mengikuti balapan dengan menggenakan seragam The Monster adalah Drew dan meminta agar para juri merahasiakan kebenaran ini.


"Tidak! Aku tidak menerima hasil pertandingan kali ini!" bantah Matt menolak hasil akhir. Lalu menunjuk Drew dengan tatapan gusarnya.


"Lihatlah! Bagaimana dengan penipu ini? Bagaimana kalian bisa menerima kehadiran penipu ditengah-tengah balapan kita!" ucapnya menghasut semua orang.


Sedangkan para penonton sendiri tidak mempermasalahkan siapa sosok dibalik seragam The Monster, walau mereka sendiri begitu menginginkan sang idola mereka yaitu Twister yang menggenakan seragam kebesarannya itu dan mengikuti jalannya pertandingan.


Namun mereka menyadari sesuatu, yaitu sang idola mereka telah tiada, akan tetapi nama The Monster harus tetap berkibar dan menganggap Drew adalah generasi baru dari The Monster itu sendiri.


Para penonton serempak menyerukan nama Drew Royce dan memberi selamat atas kemenangannya.


Hal tersebut membuat Matt semakin geram, ia menunjukkan sifat asli di depan semua orang. Dimana ia mengambil piala saat salah satu juri hendak memberikan piala tersebut kepada Drew.


"Dia tidak berhak menerima piala ini! Tapi akulah yang berhak!" sarkas Matt.


Lalu mengambil sebilah pisau dari sakunya dan hendak menancapkannya ke dada Drew. "Kau harus mati dan susullah kakakmu ke neraka!"


Drew terbelalak dan berusaha menghindar, orang-orang berlari dari podium untuk menyelamatkan diri dari serangan Matt yang membabi buta.


"Matilah kau seperti aku melenyapkan Twister waktu itu!" pekik Matt keceplosan akibat terpancing emosi. Dan membuat semua orang yang mendegarnya nampak diam tak menyangka.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2