
Tuan Hans merasa sedih dan kembali ke perusahaan dengan tangan kosong, ia menatap panjangnya ruas jalan raya. Sambil mengingat perkataan Drew dan juga pria yang mirip dengan Twister.
Tuan besar, aku pekerja baru disini. Kebetulan adikku sedang sakit karena mengalami kecelakaan dan membutuhkan biaya rawat yang sangat tinggi.
Jika anda menutup perusahaan ini, lalu bagaimana dengan nasibku membiayai biaya perawatannya?
Seketika Tuan Hans menangis dan menjadi lemah setelah mendengar perkataan Bagas yang mengiba padanya dan berkata sedang membutuhkan uang untuk biaya perawatan adiknya.
Tidak pernah sekali pun dalam hidupnya ia mengalah untuk orang lain, apalagi dengan alasan kemanusiaan seperti itu.
Lalu Tuan Hans menelisik lebih dalam kedalam hatinya, dimana ia teringat akan sifat nyonya Bianca yang peduli terhadap sesama. Dan hal tersebut membuatnya kembali mengingat akan putra sulungnya yang telah meninggal itu.
Kemudian tiba-tiba saja ia melihat sesosok lain yang mirip dengan putranya sendiri. Bukan hanya mirip secara fisik, namun memiliki sifat dan ciri-ciri yang sama seperti mantan istri dan almarhum putranya.
Tuan Hans menghembus nafasnya panjang, ia merasa hidupnya sangatlah kosong. Putranya sama sekali tidak menganggap keberadaan dirinya hingga detik ini.
Mantan istrinya yang penyayang, lebih memilih pergi daripada harus tinggal seatap dengan madunya.
"Antarkan aku ke restoran Manyu," titah Tuan Hans lemah.
"Baik Tuan," patuh sang supir nyentrik milik tuan Hans.
...----------------...
PT. Oto Motor.
Drew merasa lega, karena sang ayah tidak jadi meluluhlantahkan perusahaannya dan itu semua berkat adanya bantuan dari Bagas, yang meminta Tuan Hans agar tidak menghancurkan perusahaan tersebut.
Entah sebab apa, namun Bagas yakin itu karena sang ayah masih berpikir jika dirinya adalah Twister, sehingga pikirannya menjadi kacau dan hatinya seakan-akan terasa bimbang.
"Hebat sekali, tidak ku sangka Daddy yang begitu keras kepala akhirnya menyerah juga. Berkat kau Daddy mundur tanpa perlawanan, kau memang hebat dan kau telah berhasil. Terima kasih Twister!" seru Drew memeluk Bagas.
"Sudahlah Drew, aku tahu perusahaan ini adalah impianmu. Mana mungkin aku menghancurkan apa yang telah kau bangun dengan susah payah tanpa kehadiran diriku selama ini," balas Bagas.
Sam terpaku mendengar semua percakapan Drew dan juga Bagas, hingga laporan di genggamannya terlepas dan berhamburan di lantai.
__ADS_1
Bagas dan Drew segera mengurai pelukan mereka, lalu bersama-sama menatap Sam yang tengah berjongkok untuk mengutip lembar demi lembar kertas yang terlihat berserakan dimana-mana itu.
"Sam," ucap Drew.
Sam bergegas menghampiri Drew dan memberikan laporan untuknya dengan kedua mata yang memerah.
"Apa kau mendengar percakapan kami yang tadi?" tanya Bagas.
Sam mengangguk dalam tundukan kepalanya.
"Jadi kau sudah tahu siapa Bagas yang sebenarnya?" tanya Drew kembali.
Sam membalasnya dengan anggukan kepala, lalu mengusap air mata yang mengalir deras dikedua matanya itu. "Twister, ku pikir aku telah kehilanganmu untuk selamanya. Aku sempat tidak percaya kalau pria yang berdiri dihadapanku adalah sahabat baikku sendiri," ucapnya terisak.
Bagas merangkul Sam dan berusaha menenangkannya. "Ya Sam ini aku Twister," balasnya.
"Kenapa dan bagaimana itu terjadi? Maksudku, bagaimana kau bisa masih hidup? Lalu siapa pria yang dimakamkan oleh keluargamu waktu itu?" tanya Sam tidak mengerti.
"Pria itu seorang pencuri yang tidak sengaja tertabrak olehku, selain itu ia seorang berandal kampung. Jadi warga desa merasa bersyukur sekali saat mengetahui sampah masyarakat didesa mereka meninggal, dan beruntungnya aku, karena pria itu tidak memiliki keluarga, jadi tidak ada yang menuntutku atas kecelakaan yang terjadi padanya," balas Twister menjelaskan.
Bagas menceritakan kepada Drew dan juga Sam, saat Tesla pergi memanggil bantuan kepada warga desa. Kesempatan itu digunakan oleh Twister untuk menghampiri si pencuri tersebut dan memakaikannya jaket serta menyelipkan dompet pribadinya, dengan susah payah.
"Dan alasanku melakukan semua itu adalah karena aku sudah nyaman dengan keluarga baruku," jawab Bagas.
Sam akhirnya mengerti, ia begitu senang jika Twister selama ini hanya sedang bersembunyi saja dibalik nama Bagas.
"Bukankah itu egois? Kau membiarkan adikmu sendiri dalam kesedihannya," protes Sam.
Bagas tersenyum. "Aku sudah meminta maaf padanya, lagipula dia bersama dirimu Sam. Kau sudah tahu sekarang aku ini masih hidup, tapi berjanjilah kepadaku kau akan merahasiakan identitasku ini."
"Baiklah aku akan merahasiakan identitasmu pada semua orang, tapi kenapa? Apa alasanmu melakukan ini semua, Twister?" tanya Sam.
"Tadinya aku tidak ingin muncul dihadapan kalian semua dan melupakan tentang masa laluku, tapi saat aku mengetahui adik-adikku dicelakai oleh orang yang sama. Aku tidak bisa tinggal diam begitu saja," balas Bagas.
"Jadi, kau tahu kecelakaan Drew saat di desa akibat campur tangan Matt?" tanya Sam.
__ADS_1
"Tentu saja, setelah mendengarkan penuturanmu waktu itu. Aku begitu senang dapat bertemu dengan Drew di desa, tapi aku geram saat kau bilang bahwa Matt yang melakukan itu padanya," balas Bagas.
"Jadi kau senang bertemu denganku waktu itu dan itukah alasanmu menyiapkan Villa mewah untukku berikut layanan kamarnya, hanya untuk diriku?" ucap Drew menyela. Ia begitu senang karena Twister peduli padanya waktu itu.
"Ya aku tahu kau pasti tidak nyaman tinggal di desa, mengingat karaktermu yang angkuh dan sombong. Jadi aku mengarahkanmu ke Villa ku saja," balas Bagas.
Drew mencebik saat Bagas berkata dirinya angkuh dan sombong, tapi perlahan Drew tersenyum karena senang dapat berkumpul kembali.
"Aku merasa bersyukur sekali, bagaimana kalau kita merayakan legemniraan ini dengan makan siang di restoran Manyu?" ajak Drew berseru.
Sam setuju begitu juga dengan Bagas, mereka bertiga akhirnya pergi keluar perusahaan untuk makan siang bersama.
...***...
Selama perjalanan menuju restoran, mereka bertiga kembali membicarakan Matt.
"Aku yakin sekali jika Matt ada hubungannya dengan kecelakaan Drew di desa, sudah begitu kecelakaan yang menimpah Tesla juga, aku yakin Matt lah pelakunya," ucap Bagas yakin.
"Kenapa kau yakin kalau Matt yang melakukan itu semua Twist?" tanya Sam.
"Ya, temannya Tesla memberitahuku tentang ciri-ciri pria yang menabrak Tesla dijalan. Pria itu mempunyai logo MTW berwarna emas pada kunci motornya," balas Bagas.
"MTW itu seperti inisal," ucap Sam menerka.
"Mattew!" seru mereka bertiga kompak.
"Masuk akal juga, kalau benar pria breng-sek itu pelakunya. Maka kita harus beri dia pelajaran," ucap Sam sambil menggaruk telapak tangannya yang sudah gatal karena ingin menghajar Matt.
"Matt pria yang cerdik, kita tidak bisa gegabah menunjukkan kekesalan kita kepadanya. Sudah begitu kita juga tidak punya bukti untuk memenjarakan pria itu atas kejahatan yang pernah dia lakukan," ucap Sam.
Bagas terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu. "Sam, bagaimana kalau kita tantang Matt untuk balapan sekali lagi! Disana kita akan membongkar kedok pria itu didepan semua orang!"
.
.
__ADS_1
Bersambung.