
Restoran Manyu.
Nyonya Sherly telah tiba di depan restoran bintang 4 dengan rating 4,9 yang terkenal akan olahan daging bebek pekingnya itu.
Ia berdecih kesal, saat melihat kedua putra tirinya tengah bersenda gurau dengan ibu kandungnya sendiri.
"Wanita ja-lang itu, tidak dapat hati suamiku malah mencoba mengambil hati kedua putraku!" dengusnya kesal, sambil melangkah masuk ke dalam restoran menuju tempat dimana Drew dan Twister tengah duduk bersama.
Nyonya Bianca seketika menurunkan senyumannya, setelah melihat kedatangan Nyonya Sherly.
Sedangkan Drew dan Twister menoleh bersamaan kearah dimana sang ibu tengah memandang.
"Untuk apa Nenek sihir itu datang kesini?" gumam Drew.
Nyonya Sherly tersenyum dan berdiri diantara kedua putra tirinya, sambil memegang salah satu pundak Drew dan juga Twister yang ingin bangun.
"Tunggu sebentar sayang, Mommy baru saja datang. Bagaimana kalau kalian berdua duduk terlebih dahulu dan menemani Mommy sebentar," ucap Nyonya Sherly.
Drew memutar bola matanya malas dan menepis lengan nyonya Sherly dari pundaknya.
"Maaf Tante, kami berdua baru saja selesai makan siang dan harus kembali ke kantor karena ada pekerjaan penting," ucap Drew beranjak dari tempat duduknya.
"Benar, kami sudah terlalu lama berada disini dan sekarang waktunya untuk kembali bekerja," timpal Twister bangun juga.
"Kenapa kalian berdua bersifat acuh seperti itu pada Mommy mu sendiri? Walau aku ini hanyalah ibu tiri kalian, tapi aku sendiri telah menganggap kalian sebagai putra kandungku," ucap Nyonya Sherly memelas.
"Drew, Twister. Yang dibilang oleh nyonya Sherly ada benarnya juga, walau dia bukan ibu kandung kalian, setidaknya hormatilah dia sama seperti kalian menghormatiku," ucap Nyonya Bianca membujuk kedua putranya agar tidak pergi.
Drew dan Twister saling bertatapan, pikiran mereka seperti terhubung satu sama lain. "Bagaimana kalau kita mengerjai si nenek sihir ini," batin Drew seperti itu dan Twister senang melakukannya.
"Baiklah, tapi kami tidak bisa berlama-lama." Drew duduk kembali ke tempat duduknya dan begitu juga Twister.
"15 menit atau setengah jam lagi sepertinya tidak masalah," ucap Twister.
Nyonya Bianca mengulas senyum senang. "Baguslah kalau begitu, Sherly kau ingin makan apa?" tanyanya melayani.
"Apa saja," balas Nyonya Sherly tersenyum dan menatap kedua putra tirinya dengan maksud tertentu.
"Baiklah, kalau begitu aku akan membawakan makan siang untukmu sekalian dengan minumannya," ucap Nyonya Bianca.
Nyonya Sherly menarik senyum. "Terima kasih, kau sangat baik Bianca."
"Tidak perlu memujiku seperti itu," ucap Nyonya Bianca lalu pergi ke dapur.
__ADS_1
Kini tinggallah mereka bertiga duduk bersama, Nyonya Sherly mencoba membuka suaranya.
"Drew sayang, bulan depan adalah pernikahanmu. WO kita bilang, jadwal untuk mencoba gaun dan jas pengantin akan dilakukan lusa hari," ucap Nyonya Sherly.
Drew menghembus nafasnya malas. "Ya, lusa nanti aku sibuk. Jadi aku tidak bisa pergi," balasnya tanpa menoleh dari layar ponsel.
"Baiklah kalau kamu sibuk, biar nanti Mommy yang suruh desainernya ke rumah atau mengunjungi kantormu," balas Nyonya Sherly berusaha agar tidak membuat Drew kesal.
"Terserah kau saja," balas Drew datar.
Nyonya Sherly menarik senyum tipis, kemudian menatap Twister yang tengah bermain ponsel juga.
"Twister, dihari pernikahan Drew kau akan bertunangan dengan wanita pilihan daddymu. Katakan pada Mommy, kau ingin acara pernikahan dengan konsep seperti apa nantinya?" tanyanya.
"Belum kepikiran, nanti aku akan diskusikan dengan mommy Bianca setelah aku melihat calonku," balas Twister enggan.
Karena bukan tanpa sebab, ia belum tahu bagaimana kepribadian dari sosok wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak.
Selain itu Twister juga ingin sang ibu kandunglah yang membantunya mempersiapkan pernikahan dan lain sebagainya. Karena menurut Twister, hanya Nyonya Bianca sendirilah yang paling mengerti dirinya.
Nyonya Sherly tersenyum getir. "Oh kalau begitu baiklah, terserah kamu saja sayang. Tapi jika kau butuh sesuatu atau ada hal lain yang kurang, kamu bisa memberitahu Mommy."
"Tentu saja," balas Twister.
"Silahkan dinikmati," ucapnya ramah.
"Terima kasih," balas Nyonya Sherly tersenyum.
"Sama-sama," balas Nyonya Bianca lalu pergi.
"Bianca, kau ingin kemana? Kenapa tidak menemani kami semua disini," ucap Nyonya Sherly meminta.
Entah apa tujuannya, namun Drew yakin si nenek sihir itu ingin mempermalukan ibu kandungnya seperti saat sebelumnya.
"Maaf Sherly, aku tidak bisa menemanimu. Karena aku harus kembali bekerja," balas Nyonya Bianca.
"Bianca, aku minta duduklah terlebih dahulu. Pekerjaanmu masih ada anak buahmu yang mengerjakannya bukan? Lagipula ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan mengenai masa depan anak kita," ucap Nyonya Sherly terus mendesak.
Nyonya Bianca menghela nafas panjang. "Baiklah," balasnya lalu duduk bersama.
Nyonya Sherly tersenyum senang, ia pun mulai membicarakan masa depan kedua putra tirinya bersama dan meminta pendapat mengenai calon pendamping Drew yaitu Bella kepada Nyonya Bianca.
"Bianca, bagaimana menurutmu tentang Bella?" tanya Nyonya Sherly.
__ADS_1
"Menurutku Bella adalah gadis yang baik," balas Nyonya Bianca, lalu disambut decihan oleh Drew.
"Iya Bella adalah gadis yang baik, dia juga sangat cantik. Sangat serasi sekali dengan Drew putra kita," ucap Nyonya Sherly.
Drew merasa gemas mendengarnya, namun Twister senantiasa menahan Drew agar tidak emosi.
"Bella memang memiliki paras yang cantik dan tubuh ideal, tapi itu bukanlah hal penting. Karena memiliki hati baik serta rendah hati dan menghormati kedua orang tua adalah yang paling utama," balas Nyonya Bianca. Karena dia tahu betul sifat buruk Bella saat makan bersama di restorannya.
"Kau bicara apa Bianca, tentu Bella memiliki sifat seperti yang kau katakan tadi. Dia sangat menghormati aku dan suamiku sebagai mertuanya," balas Nyonya Sherly bangga.
Wanita paruh baya itu juga menekankan posisinya sebagai nyonya Royce serta kekuasaannya didalam keluarga itu.
"Ah maaf Bianca, aku terlalu banya bicara. Sampai lupa menyantap makanan yang sudah kau sajikan ini," ucap Nyonya Sherly setelah puas berkata dirinya sangat penting bagi keluarga Royce.
"Tidak apa," balas Nyonya Bianca berubah lesu. Karena perkataan Nyonya Sherly seperti menunjukkan dirinya tidak penting bagi masa depan kedua putranya.
Twister menangkap raut wajah sedihnya itu dan dengan segera ia menenangkan ibunya.
"Mom, aku belum melihatmu makan banyak hari ini. Bagaimana kalau aku menyuapimu beberapa suap makanan lagi," ucap Twister.
"Benar, kau juga belum makan makanan penutup," timpal Drew.
Kedua pria tampan itu segera mengurusi ibu kandungnya dihadapan Nyonya Sherly dengan rasa kasih sayang dan bentuk cinta mereka kepada Nyonya Bianca.
"Kau Mommy ku selamanya akan seperti itu, tidak ada yang bisa menggantikan posisimu didalam hati kami berdua walau ada wanita lain yang berusaha keras menjatuhkan dirimu," ucap Twister menunjukkan kasih pedulinya.
"Benar, kau mommyku tersayang. Bagaimana wanita lain bisa menjadi mommyku," tegas Drew menimpali dan menyeka sisa makanan di bibir Nyonya Bianca dengan kasih sayang dihadapan ibu tirinya.
Twister tersenyum dan Drew juga merasa puas melihat si nenek sihir itu mulai gelisah karena cemburu tidak mendapatkan perhatian apalagi kepedulian dari kedua putra tiri mereka, seperti kepedulian mereka kepada ibu kandungnya.
"Aku rasa aku sudah kenyang," ucap Nyonya Sherly menurunkan sendok garpunya.
Twister menoleh. "Syukurlah kalau kau sudah kenyang," balasnya tersenyum.
"Kalau begitu aku akan pulang ke rumah," ucap Nyonya Sherly meminta perhatian kedua putra tirinya.
"Kau bawa supir kan? Maaf kami tidak bisa mengantarmu," balas Drew tanpa menoleh dari sisi ibunya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1