Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 117. Maaf.


__ADS_3

"B-Bianca ... " ucap Tuan Hans gugup.


"Apa aku boleh masuk?" tanya Nyonya Bianca meminta ijin.


"Masuklah," balas Tuan Hans.


Nyonya Bianca melangkah masuk ke dalam kamar tuan Hans, setelah mendapatkan ijin dari sang pemilik ruangan.


Jika menuruti kata hati, sebenarnya ia tidak sudi bertemu dengan mantan suaminya itu dan merasa malas menginjakkan kedua kakinya lagi di dalam rumah yang telah menyimpan banyak kenangan indah masa lalu bersama dengan keluarganya.


Karena semakin banyak memori kenangan yang terputar di dalam rumah itu, maka semakin sakit pula hati nyonya Bianca saat merasakan pengkhianatan yang pernah dilakukan oleh sang mantan suaminya.


Akan tetapi demi memenuhi permintaan Drew tadi malam, yang memohon padanya untuk melihat kondisi mantan suaminya itu walau hanya sebentar saja. Nyonya Bianca berusaha keras menguatkan hatinya untuk bertemu dengan pria yang sangat ia cintai, sekaligus pria yang sangat ia benci dimuka bumi ini.


Nyonya Bianca menatap wajah pucat tuan Hans dan memberikan buket bunga yang sengaja ia untuk diberikan kepadanya. "Semoga cepat sembuh," ucapnya lembut.


Ucapan lembut, namun mampu mengetarkan hati dan seluruh raga tuan Hans hingga lemas.


"Terima kasih, duduklah."


Nyonya Bianca mengangguk, lalu duduk disofa dekat ranjang. Keduanya saling terdiam satu sama lain dan sibuk dalam pikiran mereka masing-masing.


"Darimana kau tahu kalau aku ini sedang sakit?" tanya Tuan Hans memulai perbincangan.


"Drew yang memberitahukannya padaku," balas Nyonya Bianca.


"Drew? ... Jadi kedatanganmu kesini, apa karena permintaan Drew?" tanya Tuan Hans.


"Iya," balas Nyonya Bianca.


"Apa dia datang kepadamu dan meminta hal-hal aneh lagi?" tanya Tuan Hans.


Nyonya Bianca menghela nafas panjang. "Tidak, dia hanya memintaku agar mau menjengukmu walau hanya sebentar."


Tuan Hans menghembus nafasnya ke udara. "Anak itu telah meminta hal yang sulit dan aku yakin kau sangat keberatan dengan permintaannya bukan?"


"Awalnya aku merasa begitu, tapi aku rasa menjenguk orang sakit itu tidak ada salahnya," balas Nyonya Bianca lalu beranjak bangun dari tempat duduknya. "Aku sudah memenuhi permintaan Drew, kalau begitu aku harus kembali bekerja."

__ADS_1


Tuan Hans menggenggam erat buket bunga diatas pangkuannya dan menoleh "Tunggu Bianca," ucapnya menahan Nyonya Bianca agar tidak pergi.


"Ada apa? Ku rasa waktu-ku disini sudah habis Hans dan aku tidak mau menganggu waktu istirahatmu," balas Nyonya Bianca.


"Ku mohon, tunggu-lah sebentar lagi. Setidaknya tunggu sampai Twister dan Mutia pulang ke rumah," pinta Tuan Hans lemah.


Nyonya Bianca menatap tuan Hans yang mengiba kepadanya, dan entah mengapa tiba-tiba saja hatinya merasa kasihan.


"Baiklah, tapi hanya sampai Twister dan Mutia kembali."


"Terima kasih," balas Tuan Hans lembut dan Nyonya Bianca segera memalingkan wajahnya.


Bersamaan dengan hal tersebut, Bi Nonik membawakan makan siang untuk tuan Hans sebelum waktunya minum obat. Dan juga membawakan beberapa cemilan untuk nyonya Bianca. Lalu segera keluar dari kamar itu dan membiarkan keduanya untuk berbincang kembali.


Tuan Hans yang baru sadar dari pingsannya tiba-tiba saja merasakan lapar setelah mencium aroma masakan lezat, lalu berusaha keras mengambil piring diatas nakas yang jaraknya cukup jauh dari jangkauannya.


Melihat hat tersebut, nampaknya hati nyonya Bianca tergugah. Ia refleks mengambilkan piring berisi makan siang itu, lalu memberikannya kepada tuan Hans.


"Terima kasih," ucap Tuan Hans.


"Sama-sama," balas Nyonya Bianca. Namun hatinya kembali terenyuh disaat pria itu mengalami kesulitan menyantap makan siangnya akibat tangan yang terpasang infus. "Sini aku suapi," ucapnya menawarkan bantuan.


Rasa rindu dan cintanya kembali muncul, akan tetapi apakah dirinya masih pantas untuk dicintai?


"Jangan berpikir yang bukan-bukan tentang semua perlakuanku ini, karena yang ku lakukan kepadamu kali ini hanyalah semata-mata karena rasa kasihanku padamu," ucap Nyonya Bianca to the point.


Tuan Hans mengangguk lesu, berusaha menyadarkan diri bahwa kedatangan mantan istrinya itu hanya karena memenuhi permintaan Drew.


Dan ia juga harus mengubur dalam-dalam rasa bahagia akan perhatian dari mantan istrinya, yang ternyata hanya bentuk rasa kasihan kepadanya.


"Aku mengerti, tapi setelah apa yang kau lakukan hari ini padaku. Aku tetap tidak boleh mengabaikan sesuatu," ucap Tuan Hans tersenyum. Senyum yang membuat Nyonya Bianca merasa kehilangan.


"Mengabaikan apa?"


"Rasa terima kasihku padamu, terima kasih karena kau mau datang jauh-jauh kesini untuk menjengukku dan terima kasih juga karena kau masih berempati kepadaku. Bahkan kau sampai rela menyuapiku seperti ini," ucap Tuan Hans setelah selesai menerima suapan terakhir dari mantan istrinya.


"Tidak perlu berterima kasih padaku, tapi berterima kasih saja pada Drew," balas Nyonya Bianca sambil meletakkan piring kembali diatas nakas dan memberikan segelas air minum beserta obat kepada Tuan Hans.

__ADS_1


Tak berselang lama kemudian, Twister dan Mutia telah tiba di rumah. Mereka segera melihat kondisi sang ayah dan terkejut mendapati ada nyonya Bianca di dalam kamar itu juga.


"Mommy," ucap Twister tidak menyangka.


Nyonya Bianca berdiri dan memeluk putra sulungnya. "Sayang, kalian sudah pulang."


"Ya Mom, tapi kenapa Mommy bisa ada disini?" tanya Twister.


"Drew yang meminta Mommy untuk menjenguk Daddymu," jawab Nyonya Bianca. "Baiklah, karena kalian sudah pulang ke rumah. Maka Mommy rasa sudah cukup berkunjungnya hari ini," ucapnya pamit.


"Mom tunggulah sebentar lagi, bagaimana kalau kita makan malam bersama?" pinta Twister.


"Sayang tolong mengertilah, Mommy masih banyak pekerjaan di restoran baru. Mungkin lain kali," balas Nyonya Bianca menolak.


"Tapi Mom," ucap Twister merasa tidak rela.


"Mommy harus pergi sayang," balas Nyonya bianca. Seketika ia teringat kembali kejadian dimana ia harus meninggalkan rumah serta kedua putranya dari rumah itu dan hal tersebut membuatnya kembali bersedih.


Sedangkan Tuan Hans yang menyaksikan peristiwa tersebut, tiba-tiba mengingat kembali kejadian beberapa tahun yang lalu.


Jika waktu itu dia tidak masalah dengan kepergian Nyonya Bianca karena telah memiliki pengganti yaitu nyonya Sherly, tapi kali ini sungguhlah lain.


Ia turut merasakan sedih dan juga perasaan menyesal dalam hati.


Bersamaan dengan hal tersebut, Drew tiba di mansion. Tanpa banyak bicara, ia segera membawa ibunya pergi untuk kembali ke restoran, agar tidak terlalu lama berada di rumah ayahnya itu, mengingat luka yang pernah diberikan oleh sang ayah.


"Ayo Mom," ajak Drew dan Nyonya Bianca setuju. "Maaf karena aku meminta hal sulit kepadamu dan maaf juga karena aku telah membuatmu menangis," sambungnya.


"Tidak apa," balas Nyonya Bianca tak mengapa.


"Bianca ..." panggil Tuan Hans sebelum mantan istrinya pergi dan seketika semua orang menoleh kepadanya.


"Maaf ..." lirih Tuan Hans dengan linangan air mata. Ia terdengar terisak dan merasakan sesak saat mengatakannya, sebuah kata yang belum pernah ia ucapkan sewaktu berselingkuh dan menceraikan mantan istrinya itu.


"Maaf karena aku telah membuatmu terluka," ucapnya kemudian.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2