
Malam harinya.
Dapur.
Mutia sedang sibuk menyeduh susu hamil dan menyiapkan beberapa cemilan sehat untuk kandungannya agar selalu sehat dan berkembang baik. Ia bertemu dengan Luna disana dan mereka saling bertegur sapa, walau ada rasa segan diantara mereka berdua.
"Kak Mutia, sedang buat apa?" tanya Luna ingin tahu.
"Sedang menyeduh susu hamil," balas Mutia.
"Oh begitu," balas Luna membulatkan bibir, lalu menatap Bi Nonik yang sedang membuat sesuatu. "Bi, tolong buatkan aku susu almond ya. Lalu antarkan ke kamarku," titah Luna tanpa bertanya sempat atau tidaknya.
"Baik Non, tapi setelah saya membuatkan cemilan untuk tuan Drew ya," balas Bi Nonik memberitahu.
Luna berdecak, merasa tidak suka perintahnya dinomor duakan. "Di tunda saja, buatkan dulu susu almondku. Buat susu almond kan tidak terlalu lama," ucapnya tajam.
Mutia menatap Luna yang bersikap semakin seenaknya saja. "Luna, Bi Nonik sedang membuatkan cemilan untuk Drew. Kenapa tidak kau sendiri saja yang membuat susu almondmu?"
Luna menyilangkan kedua tangannya didepan dada dan menatap sinis Mutia. "Kalau aku meminta sesuatu kepada pelayan disini, apa itu salah? Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri Kak? Kau sedang hamil, tapi menyusahkan diri sendiri dan menyia-nyiakan tenaga semua orang yang bekerja di rumah ini," balasnya.
"Aku tidak menyia-nyiakan tenaga siapa-pun yang bekerja disini, karena selama aku mampu mengerjakannya sendiri, maka aku akan kerjakan itu. Kau meminta sesuatu kepada orang yang sedang bekerja untuk tuannya, lalu bagaimana jika Bi Nonik ditegur oleh Drew karena terlalu lama membuat apa yang ia inginkan?" ucap Mutia memberi penjelasan.
Luna mendengus. "Kak Mutia, aku heran padamu. Kenapa kau selalu saja usil padaku? Aku tidak pernah tuh mengkritik atau menegurmu jika sedang berbuat sesuatu. Oh aku tahu, kau pasti selalu saja usil padaku karena kau takut kalah saing denganku. Karena sebentar lagi aku akan menikah dengan Drew dan menjadi nyonya di rumah ini, benar begitu bukan?" tukasnya.
Mutia melebarkan kelopak matanya dan menyebut nama sang pencipta karena perkataan Luna yang begitu santai menuduhnya. "Kau benar-benar pandai sekali berbicara, aku hanya berharap kau bisa menjaga lisanmu itu!"
Keributan kecil di dapur itu, mengundang Bu Magda yang kebetulan sedang mencari Luna dan ia segera menghampiri putrinya itu.
"Ada apa ini? Luna kamu sedang apa disini?" tanya Bu Magda ingin tahu.
"Mama, aku ke dapur ingin dibuatkan susu almond oleh Bi Nonik, tapi kakak iparku ini malah memintaku untuk membuat susu-ku sendiri. Bukankah itu namanya menyia-nyiakan tenaga pekerja disini?" jawab Luna mengadu.
Bu Magda menatapi penampilan Mutia yang berpakaian daster rumahan sederhananya. "Heh! Putriku ini adalah calon nyonya juga disini, jadi tolong berikan dia kesempatan untuk menikmati fasilitas dan juga semua pelayanan yang sudah pasti akan ia dapatkan nanti. Dan mengenai melayani diri sendiri, itu cocok untuk wanita bergaya kampungan seperti dirimu itu!" kritiknya pedas.
Mutia merasa gusar mendengarnya, ditambah kondisinya yang sedang hamil membuat ia hanya bisa mengusap-usap perutnya saja, sambil berkata amit-amit jabang bayi dalam hati.
"Sudah Nyonya muda, jangan bertengkar hanya karena masalah sepele dan untuk Nona Luna, saya akan segera membuatkan susu almond yang anda pinta," ucap Bi Nonik segera menengahi.
"Hem baguslah kalau Bi Nonik mengerti, tidak seperti dia. Baru menjadi Nyonya belum ada setahun, tapi sudah berani mengatur orang lain," protes Luna.
Mutia menghela nafas panjang, buru-buru dia menghabiskan susu hamil yang ia buat dan segera pergi dari dapur daripada terus berdebat dengan Luna dan juga ibunya.
__ADS_1
Sedangkan Luna dan Bu Magda tersenyum miring, sambil mendengus saat melihat Mutia telah pergi menjauh dari dapur.
"Berani cari gara-gara dia, hadapi dulu Mamanya," gerutu Bu Magda membanggakan diri.
Bersamaan dengan hal tersebut, susu almond untuk Luna telah siap, sekaligus cemilan untuk Drew dalam microwave telah hangat.
"Apa itu Bi?" tanya Luna mengintip, sambil menyesap susu almond hangatnya.
"Ini klapertart dan macaroni scotel untuk tuan muda kedua," jawab Bi Nonik.
Bu Magda mengenggol bahu Luna dan mendekatinya. "Ini saat yang tepat," bisiknya.
Luna mengangguk paham. "Bi Nonik, biar aku saja yang mengantar cemilan ini ke kamar Drew."
"Tapi Non ---"
"Sudah tidak apa, dia adalah calon istrinya Drew. Wajar saja kalau Luna mau memberi perhatian kepada calon suaminya," serobot Bu Magda. "Sekarang lebih baik, kamu buatkan aku susu jahe." Bu Magda menarik Bi Nonik agar melayano dirinya.
Sedangkan Luna segera pergi dari dapur dan menuju kamar Drew, dengan membawa nampan berisi beberapa cemilan.
Hingga tibalah wanita itu di depan pintu kamar Drew, ia membuka tiga kancing piyama bagian atasnya agar terbuka, lalu mengetuk pintu.
Luna tersenyum penuh maksud, lalu masuk ke dalam kamar Drew tanpa menutup pintu kamarnya.
"Ini cemilanmu," ucap Luna manja dan meletakkan cemilan Drew diatas nakas.
Drew lantas menoleh, karena mendengar suara itu bukanlah suara Bi Nonik dan benar saja, orang yang masuk ke dalam kamarnya adalah Luna.
"Keluar dari kamarku!" usir Drew kemudian.
Namun Luna si telinga bebal, tidak mengubris permintaan Drew. Ia justru mendekatkan diri demi menggapai sesuatu. "Sayang, kenapa kau hanya meminta cemilan saja padahal ada aku juga disini?" godanya merayu.
Drew merasa jijik dengan tingkah Luna, yang semakin berani memamerkan kesekksian tubuhnya. Ia pun menarik tangan Luna dan hendak menyeretnya keluar kamar.
Akan tetapi belum sempat Drew menyeretnya keluar dari kamar, Luna terlebih dahulu menarik Drew agar merapat kearahnya dan dengan liciknya gadis itu menjatuhkan diri keatas kasur. Dan tidak lupa membawa Drew agar jatuh bersamanya.
"Ah tolong!!" pekik Luna sambil memegangi tangan Drew agar menyentuh salah satu gunung kembarnya. "Tolong!" pekiknya berusaha mengundang perhatian.
"Lepaskan tanganku dasar wanita ja-lang!" sergah Drew merasa gusar dan berusaha menarik diri agar menjauh. Akan tetapi Luna semakin berusaha keras memegangi Drew agar tidak pergi dari atas tubuhnya.
"Ah tolong!" pekik Luna dan menyelipkan senyuman manis serta kerlingan genit disalah satu matanya.
__ADS_1
"Siall!!" maki Drew.
Terlebih lagi suara teriakan Luna telah berhasil mendatangkan beberapa orang di dalam rumah itu, termasuk tuan Hans dan nyonya Sherly. Turut hadir juga kedua orang tua Luna menyaksikan adegan tidak senonohh buatan putrinya itu.
"Drew!" sentak Tuan Hans marah sekali.
Drew akhirnya bisa menarik diri dan segera bangun, sedangkan Luna berpura-pura menangis sesunggukkan, seperti seorang gadis yang baru saja dilecehkan oleh seorang pria.
"Apa yang baru saja kau lakukan hah!" sergah Tuan Hans tidak menyangka jika Drew berani melakukan hal serendah itu didalam rumahnya sendiri.
Sementara itu Bu Magda yang menyadari jika Luna sedang memainkan peran pun segera berlari menghampiri putrinya, lalu menyelimuti tubuh Luna yang terlihat sedikit terbuka pada bagian atasnya.
"Sayang, apa yang telah Drew lakukan kepadamu? Kenapa piyamamu bisa sampai terbuka seperti ini?" tanya Bu Magda cemas sekali.
"Aku datang mengantarkan makanan untuk Drew, tapi tiba-tiba dia menarikku dan memaksaku untuk melakukan---" isak Luna tidak melanjutkan perkataannya dan memeluk Bu Magda.
"Itu bohong! Semua yang dikatakan padaku adalah kebohongan! Dia memfitnahku!" ucap Drew tidak terima.
"Dasar pria hidung belang! Sudah melecehkan putriku, kau malah tidak mau mengakuinya! Beraninya kau bilang putriku berbohong!" sentak Pak Bambang melotot marah.
"Yang ku ucapkan adalah nyata, putrimu datang ke kamarku. Membawa makanan yang seharusnya dibawakan oleh Bi Nonik. Lalu tanpa malu dia menunjukkan diri seperti wanita penggoda kepadaku dan menjatuhkan dirinya keatas kasur dengan aku dipaksa berada diatasnya!" balas Drew membela diri dan menyakinkan semua orang.
Luna melebarkan kelopak matanya, begitu pula dengan Bu Magda. Cepat-cepatlah kedua wanita itu berlagak layaknya wanita tertindas.
"Aku nerkata benar, tapi jika kalian semua tidak percaya kepadaku. Lebih baik aku mengakhiri jidupku saja," ucap Luna sambil mencari sesuatu benda tajam dan menaruhnya dipergelangan tangan.
"Jangan Luna!" pekik Nyonya Sherly serta semua orang yang ada disana. "Hentikan perbuatan bodohmu itu, Tante mewakili Drew meminta maaf atas tindakan tidak baiknya."
"Tuan Hans, kau lihat bagaimana ulah putramu sampai membuat putriku trauma seperti itu. Aku tidak mau tahu, pokoknya pernikahan mereka harus segera dipercepat. Karena dengan begitu nama baik kedua keluarga kita tidak tercemar luas hingga ke masyarakat umum!" pinta Pak Bambang.
Tuan Hans menarik udara sebanyak-banyaknya dan menatap Drew serius, kejadian memalukan ini sukses membuatnya terpukul.
"Drew, kau telah mengecewakan Daddy. Awalnya Daddy menyetujui waktu yang telah kau berikan untuk menikah dengan Luna, tapi sekarang tidak lagi. Bulan depan kau akan menikah dengan Luna dan keputusan itu sudah tidak bisa diganggu gugat lagi!" sentak Tuan Hans tidak main-main.
Drew menatap ayahnya dengan tatapan kecewa. "Daddy, kau lebih percaya pada orang lain daripada putramu sendiri. Kalau begitu, cari aku kalau kau bisa!" ucapnya lalu pergi dari rumah tanpa menghiraukan semua orang yang melarangnya didalam sana.
.
.
Bersambung.
__ADS_1