
"Twister," panggil Drew setibanya ia di halaman depan rumah pak Sanyoto.
Twister menoleh. "Drew, kau datang kesini."
"Ya, kau tidak memberiku kabar sama sekali, jadi aku menyusulmu kesini," balas Drew.
Twister menghela nafas panjang dan menggeleng saja.
"Oh iya, kenapa rumah juragan bebek ini ramai dan kau juga hutang penjelasan kepada ku mengenai kedatanganmu kesini, Twister!" balas Drew.
Twister membawa Drew agar menjauh dari rumah pak Sanyoto, untuk menjawab semua pertanyaan adiknya yang sedang penasaran itu.
"Beberapa hari yang lalu, daddy datang ke apartemenmu dan membawa uang untuk keluarga Sanyoto," ucap Twister.
"Datang ke apartemenku? Membawa uang untuk keluarga bebek itu? Untuk apa?" cecar Drew.
"Daddy ingin keluarga Sanyoto memutuskan hubungannya denganku dan mereka sepertinya merasa kecewa sekali akan hal itu," balas Twister.
"Oh jadi begitu, jadi itu alasanmu datang kesini? Lalu kenapa disini ramai sekali dan mereka juga terlihat khawatir?" tanya Drew dirundung rasa penasaran.
"Tesla sakit dan aku yakin luka dalamnya masih belum sembuh sepenuhnya," balas Twister.
"Sudah tahu masih sakit, salah sendiri dia mengakhiri perawatannya." Drew memutar bola matanya jengah.
"Itu bukanlah kesalahan Tesla, jika aku jadi dia mungkin aku akan melakukan hal yang sama," bela Twister.
"Aku jadi teringat sewaktu terluka dulu, mereka tidak pernah mengungkit tentang balas budi atau meminta imbalan apapun padaku, malah mereka menganggapku sebagai keluarga. Dan sekarang saat salah satu dari keluarga ini sedang membutuhkan pertolongan, apa aku harus diam saja?" ucap Twister kemudian.
Drew menghembus nafas kasar dan menyetujui ucapan Twister pada akhirnya.
"Ya terserah kau saja, jadi bagaimana sekarang? Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Drew.
"Aku memutuskan untuk menginap disini selama beberapa hari," balas Twister.
"Apa! Selama beberapa hari?" tanya Drew sedikit memprotes.
"Ya, aku harus merawat adikku sampai dia benar-benar sembuh," balas Twister.
"Lalu bagaimana denganku? Maksudku bagaimana pekerjaanmu yang belum selesai?" keluh Drew.
"Bukankah selama ini kau selalu mengurusi pekerjaan sendiri tanpa keberadaanku disampingmu? Lagipula aku yakin Sam mampu menangangi semua pekerjaan itu selama aku menginap selama beberapa hari disini," balas Twister.
Drew berdecak kesal, memang mereka memiliki Sam yang dapat diandalkan jika mengenai urusan pekerjaan kantor. Namun tetap saja Drew ingin sang kakak yang selalu berada disisinya.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan daddy? Bagaimana kalau daddy sampai tahu kau masih berhubungan dengan keluarga Sanyoto dan masih peduli dengan putrinya? Ketahuilah Twister, daddy pasti marah dan tidak akan menyukainya," balas Drew berusaha mengingatkan.
"Aku tidak peduli dengan itu semua, kau bisa pulang ke rumah kalau takut padanya," balas Twister.
"Baiklah Twister, aku akan menemanimu menginap disini. Tapi apakah bisa kita menginap di villa saja?" ucap Drew merasa keberatan jika menginap di rumah Tesla.
"Aku tidak bawa kunci Villa ku, jadi kita tidak bisa menginap disana. Lagipupa Drew, ini adalah tempat tinggalku setelah melewati masa kritis. Jadi aku betah-betah saja tinggal disini," balas Twister tidak keberatan.
Karena pria itu tahu pasti Drew tidak akan betah tinggal di rumah sederhana tanpa fasilitas mewah, seperti yang ada di villa miliknya itu.
Drew menghela nafas pasrah. "Baiklah, aku akan menginap disini."
"Hem!" sahut Twister malas.
"Kalau begitu aku harus mengubungi Sam dulu dan mengabari kalau kita tidak akan pulang selama beberapa hari," ucap Drew pasrah dan segera menghubungi Sam mengenai keberadaannya saat ini.
...***...
"Bagaimana keadaanmu? Apa sudah baikkan?" peduli Twister sambil menyuapi Tesla sesuap makanan.
Tesla tersenyum manis dan mengangguk pelan. "Sudah," balasnya.
Sementara itu Drew melihat kejadian tersebut di depan pintu kamar Tesla, dengan hati yang memanas. "Cih! Dasar manja sekali, sudah besar tapi makan saja masih disuapi," gerutunya.
"Apa sih! Kalau mau masuk, masuk saja! Tidak perlu mendorong orang lain seperti itu! Kau membuat baju ku ini jadi bau orang susah!" sergah Drew menatap Marisa yang berdiri.
"Ini juga mau masuk ke dalam, lagian kamunya saja yang salah. Berdiri didepan pintu kamar orang dan menghalangi jalan masuk," balas Marisa membela diri.
Lalu berjalan masuk ke dalam kamar sambil membawakan gelas berisi air minum dan juga obat untuk Tesla, tanpa menghiraukan keberadaan Drew.
"Dasar orang su--"
"Drew!" tegur Twister sebelum Drew berkata tidak sopan.
"Mau apa kamu datang kesini?" tanya Twister berhenti sejenak menyuapi Tesla makan.
"Twister, kau adalah kakakku. Berhentilah menjadi kakak untuk orang lain, seharusnya kau sekarang ini sedang makan malam bersamaku dan menemaniku berbaring di kamar. Bukannya didalam kamar si bebek cempreng ini dan menyuapinya makan," protes Drew merasa iri.
"Wew iri," Marisa sempat-sempatnya meledek Drew sebelum kabur dan seger menghampiri Tiara yang berada di dapur.
Drew mendengus kesal. "Lihat kelakuan gadis-gadis disini, sungguh menyebalkan sekali. Jika mereka bukan wanita, pasti sudah ku hajar satu persatu."
"Kalau kami cuma seorang wanita memangnya kenapa? Aku tidak takut jika harus melawanmu seorang diri, mari sini!" Tesla yang merasa kesal kepada Drew, segera memasang kuda-kuda bertarungnya.
__ADS_1
"Eh ternyata berani juga ya dia menantang diriku ini!" ucap Drew kesal.
Twister menghela nafas panjang, sambil memijat pelipisnya yang berdenyut karena melihat tingkah kedua adik beda jenis dihadapannya itu.
Dan karena saking kesalnya pria itu melihat pertengkaran keduanya, Twister yang geregetan membenturkan kepala Drew dan Tesla hingga beradu satu sama lain.
"Aduh!"
"Auww!"
Pekik Drew dan Tesla sambil mengusap kening mereka yang memerah.
"Twister!"
"Kak Bagas!"
Protes keduanya kepada Twister, yang sekarang ini tengah berkacak pinggang menatap tajam mereka.
"Kenapa? Apa benturan tadi kurang? Apa kepala kalian ingin dibenturkan lagi pada dinding disebelah sana!" sarkas Twister.
"Tidak mau," Drew dan Tesla menggeleng bersamaan, lalu menatap sinis satu sama lain.
"Ini semua salah si bebek cempreng itu!" gerutu Drew pelan tapi cukup terdengar oleh Tesla.
"Kau yang salah dan membuat kak Bagasku marah!" balas Tesla tidak terima.
"Kalian berdua sama-sama salah, bertengkar seperti anak kecil saja. Kalau kalian masih saja bersikap keras kepala seperti ini, maka aku tidak akan sudi lagi dipanggil kakak oleh kalian. Dan kalian tidak berhak menjadi adik-adikku lagi!" kecam Twister.
"Dan untukmu Drew, jika kau masih saja menunjukkan sikap arogansi serta sikap angkuhmu itu, maka lebih baik kau pergi saja dari sini!" sambungnya.
"Twister, perkataan bodoh apa itu? Kau kakak kandungku, tapi kenapa kau selalu saja membela wanita ini terus!" protes Drew.
"Aku tidak membela siapapun diantara kalian, karena dimataku kalian berdua adalah sama. Dan aku minta kepada kalian berdua agar segera berbaikkan," balas Twister menuntut.
Sedangkan disisi lain, Pak Sanyoto melihat keributan kecil didalam kamar putrinya yang terbuka itu, sambil memakan cemilan kacang rebus.
"Ma, ambilin kacang rebus lagi dong! Lagi seru nih adegannya!" panggil Pak Sanyoto yang sedang santai seperti sedang menonton drama televisi.
.
.
Bersambung.
__ADS_1