Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 41. Logo MTW.


__ADS_3

Apartemen.


Bagas merapihkan salah satu unit kamar kosong yang ada didalam apartemen untuk ditempati oleh Tesla, dengan dibantu oleh Drew agar pekerjaan menjadi lebih cepat selesai.


"Apa ini apartemenmu?" tanya Ibu Tyas kepada Drew.


"Ya, tapi sebenarnya ini apartemen milikku dan juga kakakku," balas Drew sesekali melirik Bagas.


"Oh jadi kau punya seorang kakak, lalu ada dimana kakakmu sekarang? Apa dia bekerja?" tanya Ibu Tyas.


"Dia sedang pergi ke tempat yang jauh dan tidak tahu kapan akan kembali ke rumah," balas Drew.


Bagas lantas terdiam dan menghentikan sejenak aktifitasnya, lalu menoleh ke arah Drew.


Pria itu telah memberi peringatan kepada Drew, dimana ia tidak akan pernah kembali ke rumah, sebelum adiknya itu menghilangkan sifat arogansi serta angkuhnya.


Selain itu Bagas ingin Drew belajar untuk tidak sombong dan lebih menghargai orang lain, hingga benar-benar menjadi pria yang lebih baik dan dapat diandalkan.


"Oh begitu, apa dia bekerja di luar negeri?" tanya Ibu Tyas.


Drew menggeleng. "Tidak juga ... Hanya saja, walau ia berada jauh sekarang ini, ia akan selalu dekat dihatiku," balasnya melirik Bagas.


Bagas menarik senyum tipis dan melanjutkan kembali memasang keperluan untuk Tesla dan Drew senantiasa membantu kakaknya itu.


Tesla merasa tidak enak hati, rasanya ingin sekali ia mengatakan, bahwa Bagas adalah kakaknya Drew dan mereka memiliki hubungan darah. "Kalian adalah kakak beradik, tapi sayang aku tidak bisa mengatakannya padamu Drew," batinnya.


Namun apa yang akan terjadi jika semua itu terungkap, apakah Bagas akan pergi dan kembali kepada keluarga asalnya.


Karena setelah perdebatan kemarin itu, Bagas tidak mengakui dirinya sebagai kakak kandungnya Drew dan Tesla sendiri belum mengetahui, jika Bagas sebenarnya telah memberi tahu kepada Drew jika dirinya adalah Twister.


...***...


Beberapa saat kemudian.


Tesla tertidur setelah meminum obat, lalu Ibu Tyas memberitahu kepada Bagas jika Bella yang telah menyuruh seseorang untuk mencelakai Tesla.


Bagas nampak kesal, setelah mengetahui ada orang yang sengaja mencelakai adiknya itu dan Drew nampak geram dibuatnya.


"Siapa sih sebenarnya Bella itu?" tanya Ibu Tyas.

__ADS_1


"Dia tunanganku," jawab Drew menyela.


"Tunanganmu?" tanya Ibu Tyas.


Drew mengangguk. "Iya, kebetulan Mommyku yang mengundangnya untuk makan siang bersama."


"Lalu kau tahu kejadian Bella disumpal mulutnya oleh Tesla?" tanya Ibu Tyas.


"Iya," jawab Drew.


Ibu Tyas menghembus nafasnya kasar. "Pantas saja wanita itu begitu membenci putriku, ternyata kau punya hubungan dengan si Bella itu dan yang lebih parahnya lagi, kau tidak membela tunanganmu itu dan malah mendukung aksi tidak terpuji Tesla didepan umum," ucapnya lalu menghela nafas panjang.


"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi yang jelas aku tidak ingin melihat putriku celaka lagi," ucap Ibu Tyas


"Maaf, harusnya aku tidak membiarkan Tesla berbuat nekad seperti itu. Dan salahnya aku, aku malah merasa senang saat melihat ia membalas kelakuan sombong Bella saat makan di restoran Mommyku," balas Drew menyadari.


"Bagas, sebaiknya kita melaporkan kejahatan ini kepada polisi," tutur Ibu Tyas memberi saran.


"Tadinya ingin begitu, tapi kita tidak punya bukti. Sudah begitu di tempat kejadian juga tidak terjangkau CCTV. Tapi aku telah meminta bantuan kepada temannya Tesla, untuk menanyakan beberapa warga serta pedagang warung kaki lima disana. Siapa tahu ada yang mengenal atau mengetahui pelakunya," balas Bagas.


Bersamaan dengan hal tersebut, mereka kedatangan dua orang tamu. Yaitu Tiara dan Marisa yang mengunjungi unit apartemen, dimana Tesla kini berada.


"Terima kasih ya," ucap Tesla yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"Sama-sama, cepat sembuh ya Tes. Kita kangen sama bacot cempreng kamu," gurau Marisa diiringi tawa yang lainnya.


"Dia memang bebek cempreng," celetuk Drew.


Tesla mencebik. "Kalau suaraku cempreng memangnya kenapa?" dengusnya kesal.


"Kami tetap putri Papa yang paling cantik," serobot Pak Sanyoto membela dan menjitak kepala Drew karena telah berani membuat putrinya kesal.


Setelah gurauan tersebut, tidak lupa sebelum kembali ke kos, Marisa memberi tahu Bagas tentang ciri-ciri pria yang sebelumnya telah menabrak Tesla.


"Kalau tidak salah, ada bapak pemilik warung sekitar sana yang sempat melihat pria mencurigakan bolak balik seperti menunggu seseorang di warungnya."


"Bapak itu juga bilang, wajah pria itu lumayan tampan, tubuhnya juga tegap, lalu kunci motornya seperti ada logo motor balap dan berinisial MTW," balas Marisa sesuai yang ia tahu dari si bapak warung.


"MTW siapa dia?" tanya Drew.

__ADS_1


Bagas terdiam dan sedang berpikir, seperti sudah tidak asing lagi saat mendengar logo MTW. "MTW ... Apa itu Mattew? Tapi apa hubungan Matt dengan Bella?" batinnya.


"Ada apa Bagas? Apa kau mengetahui sesuatu?" tanya Ibu Tyas.


Bagas menggeleng. "Tidak Ma," balasnya masih belum yakin dan perlu menyelidikan lebih lanjut.


"Papa tidak mau tahu, kita harus segera mencari siapa pelakunya. Kasian anak Papa, sudah dicelakai orang dan menderita seperti ini." Pak Sanyoto kembali sedih.


"Jangan khawatir, cepat atau lambat orang jahat itu pasti tertangkap." ucap Bagas menenangkan. Lalu menatap jam dipergelangan tangannya. "Drew, Sepertinya kita harus kembali ke perusahaan."


Drew mengangguk. "Ya kau benar, kasihan Sam sendirian mengurus produksi."


"Ma, Pa. Kami harus pergi bekerja," ijin Bagas.


Ibu Tyas dan Pak Santoyo tersenyum. "Ya, hati-hati."


Drew merasa iri saat melihat Bagas mendapatkan perlakuan hangat dari keluarga orang lain, tapi apa boleh buat, mereka memang tidak pernah mendapatkan kehangatan seperti itu dari dalam keluarga sendiri.


Karena sejak kecil, ayah mereka selalu menekankan nilai tinggi dalam pelajaran dan lebih mengedepankan prinsip hidup menjadi pribadi yang mandiri, namun mengabaikan pentingnya kasih sayang dari kedua orang tua.


Yang menjadikan mereka sebagai mesin kebanggaan keluarga dengan hati yang kosong, tanpa perhatian dan juga kasih sayang keluarga.


Drew teringat kembali, dimana dirinya harus melihat Twister di didik dengan sangat ketat agar bisa menjadi penerus perusahaan yang dapat diandalkan, hingga pada akhirnya sang kakak tidak kuat lagi dan memilih menjadi seorang pembalap motor karena ingin hidup bebas dijalanan.


Namun keinginan Twister berujung diusirnya dia dari rumah dan Drew merasa sedih akan hal itu.


Setelah Twister pergi, giliran Drew yang dibebankan tanggung jawab perusahaan serta kewajiban lainnya.


Pria itu diberikan apapun yang ia mau, agar tidak mengijuti jejak Twister. Namun gelimangan harta menjadikan dirinya sombong dan juga angkuh. Karena beranggapan segala sesuatu dapat dibeli dengan uang.


Ia mengijuti keinginan sang ayah, hingga mendapatkan kepercayaannya. Lalu secara diam-diam mengikuti balapan motor, untuk menyalurkan hasrat dan keinginan yang selama ino terpendam.


Drew juga pernah bergabung dengan geng motor dan terjerumus ke lingkaran hitam, seperti balap liar dan meminum minuman keras. Bahkan uang yang ia dapatkan dari sang ayah digunakan untuk berjudi.


Namun aktifitas buruk itu akhirnya terhenti, setelah Twister datang untuk membawanya keluar dari lembah sesat dan Drew memberi satu syarat, yaitu Twister harus kembali ke rumah.


"Drew," ucap Bagas menepuk pundak Drew agar berhenti melamun.


"Ya, maaf. Ayo kita jalan," ucap Drew, lalu memacu kendaraannya.

__ADS_1


__ADS_2