Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 32. Mencari tahu.


__ADS_3

Tengah malam.


Drew memarkirkan motornya dibelakang sebuah kos-kosan tempat dimana Tesla berada, pria itu memberanikan diri memanjat dinding setinggi mata memandang, demi dapat meraih jendela pada kamar lantai dua diatasnya itu.


"Oh Tuhan, bantu aku menjadi spiderman dulu sekarang ini," gumamnya sambil memikirkan bagaimana cara merayap di dinding.


"Tunggu, aku bukan cicak!" ucapnya pada diri sendiri, lalu menarik tubuhnya dari tembok.


Sudah kepalang tanggung, karena telah berada ditempat tujuan, Drew terus berusaha memikirkan cara.


Mulai dari menyusun beberapa balok kayu, atau menaiki benda-benda yang menurutnya dapat membantu dirinya untuk naik keatas sana. Lalu dengan bermodalkan nekad, Drew mencoba memanjat kembali, namun hasilnya tetap saja nihil.


"Bagaimana caranya, ayolah Drew!"


Seolah tidak memikirkan waktu dan juga peraturan kost yang berkata tidak mengijinkan seseorang pria memasuki kost putri bagaimana pun bentuknya, Drew tetap nekad memanjat dinding itu dan untungnya perjuangan pria itu membuahkan hasil.


Entah bagaimana pria itu bisa sampai diatas sana, sudah tentu bantuan dari penulislah yang membuat Drew berhasil menaiki dinding rata dihadapannya itu.


Drew menggapai balkon kecil yang berada didekat jendela kaca, lalu mencoba menyeimbangkan diri setelah berhasil berdiri diatas balkon tersebut.


Perlahan tapi pasti, Drew mengedarkan pandangannya ke sekitar dan mulai mengintip ke dalam jendela kamar kost putri satu persatu. Seperti membenarkan julukan dari Tesla untuk dirinya sendiri, yaitu tukang intip.


Akan tetapi rintangan masih saja menerpa dirinya, karena jendela kaca pada kamar yang sedang ia intip semuanya tertutup kain gorden.


"Bodohnya aku!" umpat Drew.


"Ada didalam kamar mana si bebek itu?" gumamnya lagi, masih berusaha mencari-cari.


Hingga nampaklah satu jendela kamar yang sedikit terbuka diujung sana dan Drew segera mendekati.


Seketika ia teringat akan sesuatu di desa, dimana pak Sanyoto pernah berkata padanya, kalau putrinya itu selalu tidur dengan jendela yang sedikit terbuka.


Jangan mengintip putriku ya, dia punya kebiasaan membuka jendela kamar saat tidur.


"Aku yakin itu kamarnya, wanita bodoh mana yang membuka jendela saat tertidur malam seperti ini? Ya cuma dia," gumam Drew tiba-tiba terkekeh sendiri.


Drew menyibak kain hordeng yang tengah berayun akibat terkena hembusan angin malam, lalu tanpa basa basi lagi ia memasukkan kepalanya dan meluncur masuk ke dalam kamar itu, hingga mendaratlah kepalanya terlebih dahulu diatas lantai.


Drew merutuki dirinya sendiri, seharusnya dia lebih kekiri sedikit agar bisa mendarat dikasur yang empuk dan nyaman.


Tapi itu tidak masalah, karena ia sendiri sudah berhasil masuk ke dalam sekarang ini dan bertemu dengan Tesla yang sedang tertidur lelap.


Drew menatapi wajah gadis itu, dan memastikan jika targetnya ini adalah benar, mengingat minimnya cahaya didalam ruangan kamar tersebut.


Dan keraguannya seketika hilang, setelah melihat foto pria paruh baya berbadan bulat serta berkumis tebal didalam bingkai diatas nakas.

__ADS_1


"Hei bebek cempreng, bangunlah ..." bisik Drew diatas telinga Tesla. Sesekali mengusilinya dengan memasukkan ujung rambut wanita itu yang sedang terurai ke dalam lubang telinganya.


Tesla menggeliat dan terkekeh geli, membuat Drew jadi gemas sendiri.


"Hei bangun ..." bisik Drew untuk yang kedua kalinya.


Merasa terganggu, Tesla akhirnya terbangun. Ia mengerjap-ngerjap kedua matanya. "S-siapa ya?" ucapnya dengan suara parau.


Lalu berusaha menjernihkan pandangannya agar bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang berada didekatnya saat ini.


Drew melebarkan senyumannya, hingga membuat Tesla terbelalak dan terkejut setengah mati.


"M-mali__!


Drew segera membekap mulut Tesla. "Sssstt! Jangan berteriak, aku Drew bukan maling. Lihat ini," ucapnya memberitahu dan menyalahkan lampu tidur.


Tesla mendorong Drew agar menyingkir dari atas tubuhnya. "Dasar cabul, menganggu tidur orang saja! Mau apa kamu tengah malam begini menyelinap masuk ke kamar seorang gadis, hah!"


"Ya maaf, aku tiba-tiba menyelinap masuk kesini dan menganggu tidurmu," balas Drew meminta maaf.


"Lalu bagaimana kamu bisa masuk ke dalam kamarku ini? Apa kau tidak baca larangan di depan sana, hah!" dengus Tesla kesal.


"Aku masuk lewat jendela dan aku tidak peduli pada larangan itu karena ada urusan mendesak yang harus segera kutanyakan padamu," balas Drew sambil menunjuk jendela kamar yang terbuka.


"Tidak jangan usir aku, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu. Please ..." pinta Drew memohon, ia mengiba bahkan tidak ragu merangkapkan kedua tangannya kepada Tesla.


Gadis itu pun menghela nafas panjang dan duduk di tepi kasurnya. "Ya sudah cepatlah, apa yang ingin kau tanyakan padaku?" tanya Tesla sesekali menguap karena rasa kantuk yang menerpa.


"Sebelumnya berjanjilah padaku, bahwa kau akan menjawab dengan jujur setiap pertanyaan yang ku ajukan nanti," ucap Drew.


Tesla berdecak kesal sambil enatap heran pria dihadapannya itu. "Ya sudah, apa yang ingin kau tanyakan? Cepatlah, aku ngantuk sekali."


"Apa Bagas itu adalah kakak kandungmu?" tanya Drew to the point.


Tesla melebarkan kelopak matanya. "Apa yang sedang kau tanyakan itu? Tentu saja Kak Bagas adalah kakak kandungku," balasnya.


"Apa kau menjawabnya dengan jujur?" tanya Drew memastikan.


Tesla mengangguk. "Tentu saja aku menjawabnya dengan jujur! Aku sudah menjawab pertanyaanmu itu, jadi sekarang cepatlah pergi dari sini!" balasnya, lalu mendorong Drew agar keluar dari kamar.


Drew berubah lesu dan keluar dari kamar kost putri dengan langkah kaki yang goyah. "Apa kau yakin dan tidak salah menjawab hem?" tanyanya kembali dengan kepala masih menyembul dari luar jendela.


"Tentu saja! Cepatlah pergi!" balas Tesla dan mendorong kepala Drew agar pergi dari kamarnya.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih atas waktunya dan maaf karena sudah menganggu waktu tidurmu," ucap Drew lalu ia benar-benar pergi.

__ADS_1


Tesla memegangi jantungnya yang terus saja berdegub kencang. "Kenapa dia tiba-tiba menanyakan hal itu? Apa hubungan Drew dengan kak Bagas?" ucapnya bertanya-tanya.


Seketika Tesla kembali mengingat segelintir kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana ia bertemu dengan dua orang pria yang tergeletak di pinggir jalan saat sedang mengejar seorang pencuri bebek.


Ia bergegas menghampiri kedua pria tersebut, namun salah satu pria telah meninggal dunia, dengan wajah rusak parah dan darah disekujur tubuhnya akibat tertabrak motor dan wajahnya tertubruk tiang pembatas.


Akan tetapi satu pria lagi masih dalam keadaan bernafas, namun mengalami luka cukup serius. "Tolong bawa aku menjauh dari sini," ucapnya sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.


Tesla menyadari jika kedua orang tersebut tengah mengalami kecelakaan, dimana pria yang meninggal adalah pencuri bebeknya.


Dan yang ia tolong lalu dibawa pulang ke desa mengaku bernama Bagas.


Bagas menolak dibawa ke rumah sakit dan memilih melakukan perawatan tradisional di desa, bahkan ia merasakan urutan tangan legendaris dari mak Ijah kala itu karena mengalami patah tulang.


Sejak saat itu keluarga pak Sanyoto merawat Bagas dan menganggapnya sebagai putra sendiri karena Bagas memintanya diperlakukan seperti itu.


Bagas juga tidak ingin membahas masalah keluarganya atau apapun tentang masalah pribadinya. Namun Bagas selalu berkata, ia senang berada dan tinggal di desa.


...***...


Tesla menghembus nafasnya panjang setelah mengingat kejadian tersebut dan perlahan merangkak naik ke atas kasur, lalu memejamkan kedua matanya untuk kembali beristirahat.


Sedangkan Drew masih duduk terdiam diatas motornya, sesekali memikirkan suatu hal yang masih mengganjal didalam hatinya itu.


Entah mengapa ia merasa ragu dengan jawaban Tesla mengenai kakak kandungnya.


"Apa benar yang dikatakan olehnya tadi?" batin Drew masih ragu.


...----------------...


Apartemen.


Setibanya di unit apartemen, Drew kembali memikirkan mengenai siaran ulang dimana Bagas dapat menandingi kemampuan Matt diatas sirkuit tadi.


Ia kemudian membandingkan kemampuan Bagas dengan kemampuan Twister, entah mengapa dia merasa kalau Bagas dan Twister adalah orang yang sama. Hanya saja memang ada sedikit perbedaan diwajahnya itu.


Jika wajah Twister begitu mulus seperti orang bule, berbeda dengan kulit Bagas yang berwarna kecoklatan serta wajah Bagas yang memiliki luka jahitan didahi dan sedikit bengkok pada hidungnya.


"Darimana dia mendapatkan luka jahitan itu? Apa lebih baik aku bertanya langsung saja pada Bagas?" gumam Drew terus ingin mencari tahu.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2