
Setelah menyantap makanan ringan di kantim, Tesla, Drew serta Sam kembali ke ruang rawat inap Twister. Mereka begitu penasaran dengan hasil perbincangan pria itu dengan dokter Mutia.
Namun satu pemandangan menyedihkan terjadi, dikala mereka hanya melihat Twister tertunduk lemas sambil menatap kosong ke sembarang arah.
Dan mereka bertiga yakin, pasti ada sesuatu hal menyedihkan baru saja terjadi diantara perbincangan mereka berdua.
"Twister, mana cahaya ketampananmu itu?" tanya Drew setibanya ia didalam ruangan.
Tesla menepak pundak Drew. "Apa yang kau bicarakan! Kakakku selalu saja tampan," ucapnya berusaha menenangkan hati.
"Twister apa yang terjadi? Kenapa kau berubah lesu seperti itu?" tanya Sam.
Twister tersenyum getir. "Aku terlambat Sam," lirihnya.
Sam menghela nafas panjang, raut wajah sedih pada Twister seakan memberi jawaban akan pertanyaan sedari tadi pada dirinya.
"Twister, aku mengerti apa yang sedang kau rasakan saat ini. Aku hanya berharap kau bisa segera melupakannya," balas Sam.
"Apa maksudnya? Melupakannya? Apa itu artinya cintamu di tolak?" celetuk Drew.
Tesla berdecak kesal mendengar Drew yang sama sekali tidak bisa menjaga ucapannya dan tidak mengerti dengan perasaan seseorang, yang baru saja patah hati.
"Dasar! Apa kau itu tidak bisa menjaga mulutmu ya? Kak Twister sedang bersedih, setidaknya jangan membuatnya semakin sedih!" bisik Tesla penuh penekanan.
"Oh maaf, aku tidak tahu," bisik Drew juga.
Twister terkekeh. "Ya cintaku ditolak, tapi aku tidak menyesalinya karena aku sudah menyampaikan perasaanku ini. Memang menyakitkan, tapi itu lebih baik daripada aku mati penasaran karena tidak sempat mengatakannya sama sekali," balasnya berbesar hati.
Lalu menghela nafas panjangnya. "Aku merasa lega sekarang," sambung Twister.
Tesla berlinang air mata mendengar hal itu. "Kakak, jangan bersedih. Kau kan masih punya keluarga dan teman-teman yang selalu menemanimu," ucapnya memotifasi.
Twister tersenyum dan melirik Drew. "Benar juga, aku punya dirimu. Tesla bagaimana kalau kau jadi kekasihku saja," godanya, karena ingin tahu reaksi Drew.
"A-apa? Kenapa berkata seperti itu? Tapi boleh juga, kau salah satu kriteria pria idamanku," ucap Tesla gugup sekaligus tersipu malu.
Drew tersedak nafasnya sendiri dan tiba-tiba saja hatinya merasa panas ketika mendengar kata-kata tersebut. "Jadi wanita jangan kegatelan, kau sama sekali tidak pantas untuk Twister!" ucapnya sambil menarik lengan Tesla agar menjauh dari sang kakak.
"Twister, jangan pacaran dengan wanita jelek seperti dia," ucapnya kemudian seperti menghasut.
Tesla mendengus kesal. "Seenaknya saja menyebutku wanita kegatelan dan jelek!" geramnya tidak terima.
"Kau memang jelek, suaramu saja cempreng. Sama sekali tidak cocok dengan Twister yang berwibawa dan bersuara lembut," ejek Drew mengolok-olok.
"Kakak, lihatlah adikmu itu. Dia selalu saja mengejekku dan bersikap menyebalkan kepadaku," ucap Tesla mengadu.
__ADS_1
"Drew, jangan berkata seperti itu. Bilang saja kalau kau cemburu kalau Tesla aku ambil," ucap Twister to the point.
"Siapa yang cemburu? Menurutku kalian tidak cocok. Itu saja!" balas Drew mengelak.
"Oh aku tidak cocok dengannya ya, jadi siapa pria yang cocok dengan adikku Tesla ini?" tanya Twister memancing.
"Mana aku tahu, itu bukan urusanku!" Drew melipat kedua tangannya dan memalingkan wajah.
"Tentu saja Tesla cocoknya denganku," serobot Sam merangkul bahu Tesla dan mengangkat kedua alisnya berkali-kali pada Twister.
Drew cemberut dan menyingkirkan lengan Sam dari bahu Tesla. "Jangan Sam! Kau juga tidak cocok sama sekali dengannya!"
"Twister tidak cocok dengan Tesla, dan aku juga tidak cocok dengannya. Lalu siapa pria yang cocok menurutmu Drew?" tanya Sam menjebak.
"Tentu saja aku!" jawab Drew keceplosan.
Sontak saja pernyataan tersebut membuat mata semua orang pun, melebar bulat-sebulatnya, tidak terkecuali Drew sendiri.
"Kau?" Tesla menunjuk Drew dengan tatapan tidak sukanya.
"Menurutku kau tidak cocok dengan Tesla Drew," sindir Sam.
"Eh! Tidak maksudku, tidak ada pria yang cocok dengannya termasuk aku," ralat Drew cepat. Wajahnya memerah seketika dan itu membuat Sam serta Twister terkekeh geli.
"Hei, dengar ini! Kalaupun kau menyukaiku, aku tidak akan pernah menerimamu!" cebik Tesla mengambek.
"Benar, aku yakin saat kau berumur 20 tahun keatas. Kecantikanmu itu pasti akan semakin bertambah," puji Sam berusaha menenangkan.
"Terima kasih kak Sam, kak Twister. Kalian memang yang paling mengerti dan bisa memahami perasaanku. Tidak seperti dia," isak Tesla sambil menunjuk wajah Drew tanpa mau menatapnya.
"Ya kami memang mengerti dirimu, sudah jangan menangis lagi." Sam menepuk pundak Tesla agar tidak merasa sedih lagi.
Sedangkan Drew meninju udara sekitarnya karena kesal, apalagi melihat Tesla begitu dekat dengan pria lain
...----------------...
Rumah Dokter Mutia.
Seperti biasa Frans mengantar Dokter Mutia hingga ke depan rumahnya.
"Terima kasih," ucap Dokter Mutia sebelum keluar dari mobil Frans.
"Sama-sama, titip salam untuk papa dan mamamu. Maaf kalau aku tidak bisa mampir ke rumahmu karena daddyku baru saja menelepon," balas Frans.
"Tidak apa, nanti aku sampaikan." Dokter Mutia turun dari mobil.
__ADS_1
"Tidak ada ciuman kah?" goda Frans.
Dokter Mutia menghela nafas panjang, kemudian mendekatkan pipinya agar Frans dapat menjangkaunya.
"Kau selalu saja menyodorkan pipimu, aku ingin yang lain," pinta Frans.
"Oh ini," Dokter Mutia mendekatkan keningnya.
"Tidak, aku ingin itu." Tunjuk Frans pada bibir ranum Mutia.
"Tidak Frans, aku tidak mengijinkanmu kalau yang ini," tolak Mutia.
Frans menghembus nafas kasar. "Dasar pelit, ya sudah. Aku pergi," ucapnya mendengus kesal. "Selalu saja menolak dan selalu itu alasannya," cebiknya kemudian, sebelum ia pergi menjauh.
Setibanya di dalam rumah, sang ibu menyambut hangat putrinya yang baru saja pulang ke rumah.
"Mutia, kami sudah pulang. Mana Frans? Kenapa dia tidak mampir dulu?" tanya Ibu Lili mencari sekitar.
"Frans sedang tidak bisa mampir, katanya ia baru saja ditelepon oleh daddynya," balas Mutia.
"Oh begitu, ya sudah tidak apa-apa. Baru saja Mama masak banyak untuk makan malam bersama Frans, tapi sayang sekali dia tidak bisa mampir," ucap Ibu Lili sedikit kecewa.
Mutia menatap semua makanan yang tersaji di meja makan, banyak sekali menu lezat serta mewah tersusun rapi diatas sana. Dan Mutia yakin, sang ibu memasak makanan itu demi menyenangkan hati Frans.
"Sudahlah Ma, taruh saja makanan ini di kulkas. Besok pagi biar aku hangatkan untuk sarapan," balas Mutia.
"Baiklah kalau begitu," ucap Ibu Lily, lalu memasukkan makanan-makanan tersebut ke dalam lemari pendingin.
"Kapan kamu beri jawaban pada keluarganya Frans? Papa merasa tidak enak sama keluarganya, karena kamu selalu saja menunda pernikahan," serobot Pak Tedy, papa dari dokter Mutia.
"Ya tunggu sampai Mutia sukses pah," jawab Mutia.
"Tunggu apalagi, kau kan sudah sukses sekarang ini dengan bantuan Frans. Papa tidak mau daddynya Frans beranggapan kamu sedang mempermainkan putranya," ucap Pak Tedy.
"Ya, papamu benar. Mama juga tidak enak dengan mereka, karena kamu selalu saja menunda pernikahan. Mama jadi takut, keluarga mereka akan mencabutmu dari rumah sakit itu," timpal Ibu Lili.
Mutia menghembus nafasnya panjang. "Aku memang belum siap menikah, itu saja. Tunggulah satu atau dua tahun lagi," balasnya.
"Mau sampai kapan, Nak? Kau sudah cukup umur, apq yang sedang kau tunggu? Menikahlah dengan Frans secepatnya," bujuk ibu Lili.
"Benar, menikahlah tahun ini!" tegas pak Tedy.
"Papa, menikah bukan tentang kecukupan umur saja. Tapi menikah juga harus siap mental, aku merasa belum siap dan aku takut akan mengecewakan mereka jika terpaksa menikah seperti ini," balas Mutia tertekan. Lalu pergi masuk ke dalam kamarnya.
.
__ADS_1
.
Bersambung.