Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 50. Selembar surat.


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Tesla dan kawan-kawannya sedang dalam perjalanan menuju desa Rawa Bebek, dan setibanya mereka di depan tugu pembatas desa dihadapannya itu.


Ketiga gadis tersebut disambut hangat oleh seorang warga desa yang mengenalnya, yang kebetulan memang orang suruhan dari pak Sanyoto.


"Ayo naik," ajak Pak Sobirin, penarik kereta lembu.


"Ya ampun ada kereta lembu disini, kampung kamu keren banget Tesla!" seru Marisa senang dan diikuti oleh kenorakan Tiara.


"Ya dong, ayo kita naik!" balas Tesla.


"Apa ini aman?" tanya Tiara sedikit ragu.


"Tenang saja, aman kok." Tesla menunjukkan bagaimana menaiki kereta lembu itu dan membantu teman-temannya untuk naik ke atas juga.


"Yakin nih kita tidak nyungsep naik beginian?" tanya Tiara khawatir sebab ia punya trauma terjungkal dari kereta lembu seperti ini.


"Itu tergantung amal dan perbuatan, jangan takut nyungsep juga rame-rame." Marisa mencoba memberi ketenangan namun tetap menakuti.


"Tenang saja sudah dimasukan ke dalam asuransi kok sama tuan tanah kalau terjadi apa-apa dengan kalian," serobot Pak Sobirin ikut-ikutan.


"Asuransi?" ucap Marisa dan Tiara berbarengan.


"Iya asuransi diurut sama mak Ijah, yang dibiayai oleh pak Sanyoto secara cuma-cuma," balas pak Sobirin.


Tesla terkekeh mendengarnya, mengingat usia pak Sobirin yang sudah lebih dari setengah abad, namun tetap bisa menghibur anak muda.


"Sudahlah, jangan dipikirkan. Lebih baik kalian berdua nikmati suasana di desa ini," ucap Tesla menenangkan teman-temannya yang pucat pasi dan berpegangan erat di dinding kayu kekar agar tidak terjungkal dan diurut nantinya oleh mak Ijah.


Karena Tesla pernah bercerita kalau pijatan mak Ijah walau ampuh, namun begitu menyakitkan.


"Jangan sampai deh!" batin Marisa.


...***...


Sepanjang perjalanan menuju tenpat tinggal keluarga Sanyoto, Marisa dan Tiara tidak henti-hentinya menatap takjub pemandangan indah nan asri, seluas mata memandang mereka.


"Wah jadi ini kampung halaman kamu Tes?" ucap Marisa menatap takjub.


"Iya," jawab Tesla diiringi anggukan cepat.


"Sejuk, damai dan asri. Kayanya kita bakal betah liburan dan tinggal disini, ya kan Tiara?" ucap Marisa.


"Hem! Benar banget," sambut setuju Tiara.

__ADS_1


"Syukurlah kalau kalian suka dengan desaku ini," balas Tesla.


Sejenak ia teringat akan jalan yang baru saja mereka lalui itu, dimana ia secara tidak sengaja menabrak Drew dengan sepedanya saat mengebut karena terburu-buru.


Dan teringat akan kejadian di telaga, dimana Drew ketahuan mengintip, saat ia sedang membersihkan diri dari lumpur.


"Pak Sobirin, bisa ke telaga sebentar?" tanya Tesla meminta ijin terlebih dahulu.


"Boleh kok cantik, sekalian Bapak mau istirahat sambil kasih si syepi (nama lembu pak Sobirin) ini makan dan minum dulu.


"Disini ada telaga?" tanya Marisa.


"Ada dong, bahkan ada air terjun kembarnya," balas Tesla.


"Wah bagus kalau begitu, kita bisa main air disana!" seru Marisa.


"Ya, sekalian mau mencicipi segarnya air pegunungan," sambung Tiara senang.


...----------------...


PT. Oto Motor.


Sementara itu, Drew menjeda sejenak pekerjaannya saat mendapat panggilan telepon dari dokter yang menangani Tesla. Dokter itu mengabari jika keluarga Sanyoto telah pergi dari apartemen dan tidak ingin dirawat lagi karena merasa sudah sembuh.


Mendengar hal tersebut, Twister merasa heran dan bertanya-tanya. Bagaimana luka bekas tabrakan bisa sembuh begitu saja dalam waktu singkat, bahkan belum genap satu bulan.


"Entahlah, dokter hanya berkata jika si pasien telah meninggalkan apartemen dengan alasan telah sembuh," balas Drew menyampaikan sesuai yang dikatakan oleh dokter.


Twister menghembus nafas kasar dan segera menghubungi nomor Tesla, akan tetapi nomor yang ia tuju selalu saja dialihkan.


Pria itu beralih menghubungi pak Sanyoto dan juga ibu Tyas, namun hasilnya selalu saja tidak bisa dihubungi.


Tak patah arang Twister meminta ijin kepada Drew, untuk keluar sebentar agar bisa bertemu dengan Tesla.


Twister mengunjungi tempat kost terlebih dahulu, karena setahu dirinya, Tesla akan kembali ke tempat itu jika sudah sembuh.


Akan tetapi, Twister tidak menemukan Tesla maupun kawan-kawannya di kamar kost.


Hingga pada akhirnya pria itu mengunjungi apartemen Drew, lalu bertanya kepada security yang bertugas disana. Dan sang penjaga keamanan itu memberitahukan kepada Twister, jika tuan Hans pernah berkunjung ke apartemen sebanyak satu kali untuk menemui keluarga Sanyoto.


"Untuk apa tuan Hans datang ke apartemen Drew?" tanya Twister.


"Entah Tuan, tapi tuan besar datang bersama dengan anak buahnya sambil membawa koper hitam," balas security.


Twister menelan ludahnya susah payah dan berpikir jika kepergian Tesla pasti ada sangkut pautnya dengan sang ayah.

__ADS_1


"Baiklah Pak, terima kasih!" ucap Twister.


"Sama-sama," balas pak satpam.


Perlahan tapi pasti langkahnya membawa ia menuju lantai dimana Tesla pernah mendapatkan perawatan, dan dugaannya ternyata benar.


Bahwa koper yang dimaksud oleh petugas keamanan tadi, masih berada didalam kamar tersebut.


Twister mendaratkan bokongnya diatas sofa, sesekali menghela nafas panjang, lalu membuka koper itu yang ternyata memang benar adalah sejumlah uang tunai.


"Papa bukanlah orang yang suka uang pemberian dari orang lain, jadi mana mungkin dia mau menerima uang ini dan aku yakin mereka sangat kecewa sekali saat daddy memaksa untuk menerimanya," batin Twister menduga seperti itu.


Twister mengambil koper tersebut dan saat ia mengangkatnya, selembar kertas yang berada dibawah koper itu terjatuh. Dengan segera Twister mengutipnya dan membaca surat yang ternyata adalah surat tangan dari Tessla.


Teruntuk kak Bagas yang sekarang adalah kak Twister, kalau kak Twister sedang membaca surat dariku ini, berarti kakak telah datang kesini dan mencariku.


Sebelumnya aku minta maaf karena telah pergi tanpa memberitahumu terlebih dahulu, selain itu terima kasih atas uang yang telah ayahmu berikan kepada kami.


Tapi aku minta maaf yang sebesar-besarnya karena tidak bisa menerima uang dari ayahmu ini, karena kau tahu kan sifat papa. Dia tidak suka menerima uang pemberian orang lain, walau itu sebagai bentuk balas budi.


*Dan satu lagi kak Twister, jangan cemaskan aku dan juga keluarga Sanyoto. Karena setelah kau kembali ke keluarga asalmu, ku harap kakak bisa melupakan kami semua.


Aku juga berdoa agar kakak selalu sukses dan hidup bahagia selalu*.


Salam dari adik kecilmu.


Tesla.


Twister meremas surat tersebut, dengan hati yang panas setelah membaca isi pesan yang telah ditulis oleh Tesla. Dan ia menduga sesuatu, ayahnya pasti telah berkata yang tidak baik kepada keluarga Sanyoto, sehingga keluarga itu pergi begitu saja tanpa kabar.


Dan meminta dirinya agar mau melupakan keluarga yang pernah menyelamatkan hidupnya, serta berharap agar mereka menjauh dari kehidupannya.


"Aku yakin daddy yang telah berkata agar mereka melupakanku dan menjauh dari kehidupanku, mereka pasti merasa kecewa sekali," gumam Twister yakin.


Secepat mungkin Twister mengunjungi perusahaan Royce, sambil menjinjing koper hitam berisi uang tersebut dan menyerahkannya kepada sang ayah.


Pria itu juga berniat akan mengunjungi desa Rawa Bebek setelah mengembalikan uang sang ayah, demi meminta maaf kepada keluarga Sanyoto atas tindakan tidak menyenangkan dari ayahnya itu.


.


.


Bersambung.


...----------------...

__ADS_1


Mohon maaf, jika akhir-akhir ini penulis telat update, karena disibukkan dengan acara perpisahan sekolah anal dan ada acara keluarga juga hingga minggu depan.


Terima kasih karena masih tetap setia membaca karya recehku ini.


__ADS_2