Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 91. Mulai menyelidiki


__ADS_3

"A-ada apa ini? Twister, kenapa kau diam saja?" ucap Drew geregetan melihat sang kakak tidak peduli seperti biasanya.


Pria itu segera mendekati Tesla dan berjongkok dihadapannya, namun Tesla mendorong Drew agar menjauh darinya.


"Pergi dari sini! Aku tidak ingin melihat kau dan keluargamu lagi!" sentak Tesla tidak mau didekati.


Drew terheran-heran dibuatnya, lalu Sam menarik Drew agar tidak menganggu Tesla untuk sementara waktu. "Biarkan dia sendiri dulu," ucapnya.


Drew menarik dirinya dan berdiri, sambil terus menatap Tesla yang tidak sudi dilihat oleh siapapun dengan hati bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya? Kenapa dia bisa sampai semarah itu kepada semua orang?


Drew menatap Twister yang berdiam diri dan menariknya menjauh dari tempat itu agar bisa bertanya dengan leluasa.


"Ada apa ini Twister? Kenapa dia marah sampai segitunya kepada kita dan memaki keluarga Royce? Lalu kenapa Papanya bisa sampai masuk ke rumah sakit?" cecar Drew peduli.


Jika awal-awal pria itu tidak merasa terusik dengan masalah orang lain, akan tetapi kali ini, hatinya seakan harus tahu dan harus ikut andil dalam setiap kejadian yang ada.


"Ini semua hanya salah paham, mereka berdua telah salah paham kepada keluarga kita. Tapi ini salahku, harusnya aku tidak membuatnya sedih. Harusnya aku mendukungnya dan terus berada didekat mereka," balas Twister.


Kemudian pria tampan itu pun menceritakan awal mulanya terjadinya kejadian tersebut dan menyesali perbuatannya karena telah menyinggung perasaan sang ayah angkat.


Akan tetapi yang lebih membuatnya sedih adalah, dia tidak berada di pihak keluarga itu, disaat mereka sedang kesusahan.


"Aku harus menyelidiki kasus ini!" ucap Twister bersiteguh.


Drew mengangguk setuju. "Aku setuju dengan tindakanmu dan aku akan membantumu memecahkan kasus ini dan mencari dalang dibalik semua yang terjadi," balasnya mendukung.


Sam tersenyum melihat keteguhan hati Drew dan merasa senang karena rasa kepedulian pria itu akhirnya keluar juga. Sam juga berharap agar Drew tidak peduli hanya kepada keluarga yang ia kenal saja, akan tetapi kepada semua orang yang membutuhkan.


"Kalau begitu apa yang kita tunggu, ayo kita ke tempat kejadian perkara!" seru Sam mendukung kedua sahabatnya.


Drew dan Twister tersenyum senang, karena Sam mau turut serta membantunya dalam memecahkan masalah yang tengah menerpa keluarga Sanyoto di desa. Lalu ketiganya pun berembuk untuk menyusun rencana.


"Kalau menurutku, masalah di desa Rawa Bebek ini didalangi oleh sejumlah oknum tidak bertanggung jawab," ucap Sam.


"Kalau didalangi oleh sejumlah oknum, yang menjadi pertanyaannya adalah siapa dan apa tujuannya?" tanya Drew.


"Twister, jika dipikir-pikir. Apa keluarga Sanyoto pernah memiliki musuh atau seseorang yang pernah dirugikan olehnya?" tanya Sam.


Twister berpikir sejenak. "Menurutku tidak ada," balasnya menduga demikian.


"Kalau menurut dari ceritamu, Twister. Aku yakin oknum ini ingin menjatuhkan perusahaan Tuan Hans dan juga keluarga Sanyoto dalam sekali gerakan saja. Akan tetapi, sebelum kita bertindak dan mencari siapa dalang utamanya, sepertinya kita harus menyelidiki terlebih dahulu siapa saja orang-orang yang terlibat didalamnya," usul Sam.


"Hem aku setuju dengan ide Sam," balas Drew.

__ADS_1


"Benar, aku juga setuju. Itu berarti kita harus menyelidiki semua ini dimulai dari desa terlebih dahulu," balas Twister menambahi.


"Iya, kita akan pergi ke desa malam ini untuk mencari orang-orang yang terlibat didalamnya, karena aku merasa mereka akan terus berbuat onar sampai keluarga Sanyoto benar-benar hancur," ucap Sam.


Twister mengepal erat tangannya dan bertekad akan menangkap pelaku kejahatan itu secepat mungkin, lalu memaksa orang tersebut agar memberitahu siapa yang menyuruh mereka berbuat demikian.


"Kalau begitu kita harus bersiap malam ini!" ucap Twister.


"Baiklah, tapi bolehkah kita pergi setelah mengetahui kondisi Papanya Tesla?" tanya Drew peduli.


Twister tersenyum. "Tentu saja, kita akan pergi setelah mendapat kabar dari dokter."


Drew dan Sam mengangguk, lalu tanpa memberitahu semua orang, ketiga pria tampan itu pun bertekad akan pergi ke desa Rawa Bebek untuk mencari pelaku kejahatan yang sebenarnya.


Akan tetapi, mereka harus menunggu kabar dari Pak Sanyoto terlebih dahulu.


Sementara itu Tesla sudah terlihat tenang, ia ditemani oleh kedua temannya dan saling berpegangan tangan seakan menguatkan.


Sam melambaikan tangannya kepada Marisa agar mendekat. "Apa sudah ada kabar?" tanya Sam berbisik kepada Marisa.


"Papa Tesla belum sadar, tapi jantungnya sudah berdetak normal." balas Marisa.


Drew, Twister dan Sam menghela nafas lega. "Jadi tinggal menunggu Papa Tesla sadar saja kah?" tanya Sam kembali.


"Aku ingin minta tolong kepadamu Marisa, tolong jaga Tesla dan temani dia." Ucap Twister.


"Sudah pasti Kak, tapi kenapa berkata seperti itu? Apa kalian tidak mau menemaninya?" tanya Marisa aneh.


Drew menjelaskan kepada Marisa, mereka ingin pergi ke desa Rawa Bebek untuk melakukan penyelidikan sendiri serta membantu Ibu Tyas disana, yang kini tengah seorang diri.


"Baiklah kalau begitu, ku doakan semoga kalian berhasil mencari pelakunya," ucap Marisa.


"Terima kasih," balas Twister.


Tak berselang lama kemudian, dokter mengatakan jika Pak Sanyoto telah sadar dan pria itu pun segera dipindahkan ke dalam ruang rawat inap mengingat kondisinya yang masih lemah dan butuh perawatan lanjutan.


Twister yang berada dikejauhan pun merasa lega mendengarnya dan ia berjanji akan mencari orang-orang yang telah berani mengusik ketenangan keluarganya, walau keluarga Sanyoto sendiri telah memutuskan hubungan keluarga padanya.


...----------------...


Desa Rawa Bebek.


"Pak Kades, kerja Bapak bagaimana sih? Kenapa laporan saya belum ditanggapi juga?" tegur Ibu Tyas kesal karena tidak ada tindakan nyata dari aparat keamanan desa mengenai teror dan juga semua kejadian yang terjadi pada keluarga maupun peternakannya.

__ADS_1


"Sabar Ibu Tyas, semua butuh proses," balas Pak Kades mencoba menenangkan.


"Mau sampai kapan Pak Kades saya bersabarnya? Apa sampai keluarga saya gila hah!" gertak Ibu Tyas mulai tidak sabar.


"Tenang Bu, para hansip dan keamanan desa kita masih melakukan pencarian dan penyelidikkan disekitar desa kita demi mencari pelaku keonaran terhadap keluarga Ibu Tyas sendiri," balas Pak Kades.


Ibu Tyas mendengus kesal mendengarnya dan tidak sabar dengan penanganan Pak Kades yang dinilai tidak serius.


"Saya tidak mau tahu Pak Kades, pokoknya Bapak harus segera menemukan pelaku semua ini. Saya tidak mau pelaku keonaran ini terus melakukan tindak kejahatan yang merugikan, terutama kepada keluarga saya!" sergah Ibu Tyas menatap tajam.


"Begini saja Ibu Tyas, Ibu pulang dulu saja dan berjaga di rumah. Jika ada kejadian tidak mengenakan lagi, segera beritahu kami. Kami usahakan secepat mungkin menangkap pelakunya," balas Pak Kades.


"Selalu saja jawaban Pak Kades seperti itu, tapi sampai detik ini Pak Kades tidak memberikan kabar baik kepada saya ataupun suami saya!" sentak Ibu Tyas.


Wanita itu pun geregetan dengan sikap santai Pak Kades, hingga pada akhirnya Ibu Tyas pergi dari rumah Pak Kades dan bersumpah akan mencari pelaku yang telah berani cari gara-gara kepada keluarganya.


"Sepertinya aku harus bertindak sendiri dan jika aku berhasil menemukannya, maka aku pastikan sendiri orang-orang itu tidak akan bisa berdiri lagi!" geram Ibu Tyas merasa gemas dan tidak sabar ingin mendapatkan pelakunya untuk dihajar.


Sedangkan disisi lain, Drew dan Twister beserta Sam sedang dalam perjalanan menuju Desa Rawa Bebek, demi mencari sendiri pelaku kejahatan yang telah merugikan keluarga Sanyoto.


"Teror rumah, kebakaran kandang baru dan kandang lama, serta demo pagi tadi. Sepertinya dilakukan oleh orang dalam yang sama," duga Sam.


"Hem, aku berpikir seperti itu juga." Twister mengangguk setuju.


"Apa maksudnya ada campur tangan orang dalam?" tanya Drew tidak mengerti.


"Pikirkanlah Drew, jika pelakunya bukan orang dalam, bagaimana mereka bisa tahu jika kandang bebek itu milik keluarga Sanyoto, karena setahuku disana banyak kandang bebek yang bukan milik keluarga Sanyoto saja."


"Lalu rumah Pak Santoyo juga. Apa mungkin mereka tahu dengan sendirinya jika bukan ada seseorang yang memberitahu letak rumah Sanyoto itu?" balas Sam menjelaskan isi pikirannya.


"Benar, jangankan orang lain, aku sendiri masih suka terbalik mana kandang milik Papa dan mana kandang bebek milik warga lain disekitarnya, karena bentuknya yang sama. Apalagi itu dilakukan pada waktu gelap di pagi hari dimana matahari belum muncul," timpal Twister.


"Masuk akal, jadi kita selidiki orang dalam di desa itu terlebih dahulu." Drew mengeluarkan isi kepalanya.


"Menurutmu Twister, siapa yang pertama kali harus kita curigai?" tanya Sam.


Twister memutar otaknya dan teringat sesuatu dimana ada satu orang yang mungkin terlibat dalam kasus ini.


"Kepala Desa," ucapnya.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2