
Masih di kampus.
"Siapa nyonya Sherly?" tanya Pak Tedy ingin tahu.
"Dia adalah ibu tirinya kak Twister," jawab Tesla.
"Ibu tiri? Jadi dia punya tiri?" tanya Pak Tedy mulai cemas. Mengingat cerita dimana-mana jika ibu tiri biasanya kejam.
"Ya," jawab Tesla mengangguk.
"Bagaimana nyonya Sherly itu? Maksud Bapak, bagaimana sikapnya? Apa dia baik?" selidiknya kembali. Pak Tedy hanya ingin memastikan putrinya akan baik-baik saja tinggal di rumah besar keluarga Royce.
"Aku kurang yakin Pak, tapi daripada nyonya Sherly. Aku lebih suka nyonya Bianca ibu kandungnya," balas Tesla.
"Kenapa kamu berkata seperti itu Tesla?" selidik Pak Tedy.
"Ya, karena sikap nyonya Bianca lebih ramah dibandingkan nyonya Sherly dan aku pernah lihat wanita itu sekali. Dia begitu glamor," balas Tesla.
Pak Tedy terdiam sejenak dan memikirkan sesuatu, ia berpikir apakah nyonya Sherly itu menerima Mutia apa adanya.
"Ada apa Pak Tedy? Bapak memikirkan apa?" tanya Tesla melihat dosennya diam saja.
"Oh tidak ada, hanya saja Bapak takut ibu tirinya Twister tidak menerima Mutiq yang sederhana," balas Pak Tedy.
"Tenang saja Pak, kak Twister begitu mencintai dokter Mutia. Aku juga yakin kakakku itu akan menjaga dokter Mutia nanti dan tidak akan membiarkan seseorang berani menganggunya," balas Tesla seakan mengerti apa yang sedang dicemaskan oleh gurunya itu.
Pak Tedy tersenyum. "Kau benar, Twister pasti akan menjaga Mutia."
Tesla mengangguk. "Benar Pak, percayalah kalau kak Twister pasti akan menjaga putri Bapak."
Pak Tedy mengangguk pelan, walau dirinya masih belum sepenuhnya percaya Mutia akan diperlakukan dengan baik oleh mertua tirinya, akan tetapi ia merasa yakin bahwa Twister akan melindungi Mutia dari apapun.
"Terima kasih ya Tesla, karena kamu mau menemani Bapak mengobrol," ucap pak Tedy.
"Sama-sama Pak," balas Tesla.
"Ya sudah kalau begitu Bapak mau kembali ke ruang dosen," ucap Pak Tedy pamit.
"Tentu Pak, kebetulan Tesla juga mau masuk ke kelas," balas Tesla dan mereka berpisah setelah menyudahi perbincangan.
...----------------...
Sore harinya.
Mansion Royce.
Suasana sibuk tengah terjadi didalam rumah mewah tersebut, itu dikarenakan akan adanya acara arisan dari ibu-ibu kalangan atas, yang kebetulan Nyonya Sherly lah sebagai penjamunya untuk perkumpulan bulan ini.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu begitu mahir memerintah layaknya seorang nyonya besar, seakan melupakan statusnya terdahulu.
"Ayo cepatlah! Aku tidak menggaji kalian untuk malas-malasan!" sentak nyonya Sherly saat melihat ada beberapa pelayan rumahnya yang kedapatan duduk sekedar melepas lelah.
"B-baik Nyonya!" patuh beberapa pelayan itu segera berdiri dari tempat duduknya.
"Dasar kalian pemalas! Kalau saja hari ini aku tidak sedang membutuhkan tenaga kalian, maka hari ini juga, aku tidak akan ragu-ragu memecat kalian disini!" sergah Nyonya Sherly kesal.
"Maaf Nyonya kami mengaku salah, kami berjanji hal seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi," ucap salah satu pelayan meminta maaf.
Nyonya Sherly mendengus. "Sudah sana kerja lagi!" gertaknya.
"Terima kasih Nyonya," balas pelayan itu.
Nyonya Sherly kembali melihat pekerjaan para pelayannya yang lain dan mencicipi beberapa cemilan serta beberapa hidangan sebelum di tata diatas meja.
"Siapa yang membuat ini?" tanya Nyonya Sherly, sambil mengangkat sepotong kue kecil manis dengan buttercream diatasnya.
"S-saya Nyonya," jawab juru masak yang kebetulan dipanggil olehnya.
Nyonya Sherly meloloti juru masak itu, lalu melempar makanan tersebut hingga mengenai seragam juru masaknya.
"Apa kau benci padaku? Sudah berapa kali aku katakan, bahwa jangan menghidangkan cemilan bergula serta berlemak seperti ini lagi! Apa kau ingin membuat para tamuku menjadi orang gendut dan memiliki kolesterol karena memakan semua ini hah!" sentaknya marah.
"M-maaf Nyonya, saya tidak berani. Kalau begitu biar saya ganti cemilannya," balas juru masak itu.
"Baik Nyonya," patuh juru masak itu, lalu membawa cemilan manis dan menggantinya dengan cemilan sehat.
Tak berselang lama kemudian, satu persatu ibu-ibu arisan kelas atas mulai berdatangan ke rumah Nyonya Sherly dan nyonya rumah itu pun menyambut para tamunya dengan sangat ramah namun tidak merendah.
"Selamat datang kalian di rumah besarku ini," ucap Nyonya Sherly seperti biasa menunjukkannya.
"Terima kasih Nyonya Royce," sahut para tamu Nyonya Sherly.
Beberapa saat kemudian, para tamu telah hadir untuk mengikuti acara arisan di rumahnya itu. Tidak ketinggalan Nyonya Marlyn yang duduk disudut rumah, seakan dikucilkan oleh para wanita sosialita, karena kehidupannya telah susah sekarang ini.
"Aku pikir setelah suamimu dipenjara kau tidak berani datang keacara ini Nyonya Marlyn," ucap Nyonya Sherly seperti menyindir.
"Walau aku sudah tidak berjaya seperti dulu, tapi aku tidak pernah lupa akan kewajibanku. Ini aku bayar uang arisan bulan ini dan ini aku bayar arisan untuk dua bulan kedepan," balas nyonya Marlyn menyodorkan sejumlah uang.
"Barang mewah apa yang kau jual sampai bisa membayar uang arisan ini Nyonya Marlyn?" sindir Nyonya Sherly dengan bertanya.
"Terlepas darimana aku mendapatkan uang itu, itu bukanlah urusanmu wanita ja-lang!" umpat kesal Nyonya Marlyn.
Disebut wanita ja-lang Nyonya Sherly pun merasa tidak terima, dengan kasar ia merampas jus jeruk diatas meja dan menyiramnya ke wajah Nyonya Marlyn.
Sontak nyonya Marlyn berdiri dari tempat duduknya, dan mengusap wajahnya yang kini telah basah berlumuran jus jeruk. Bukan hanya wajah yang basah, baju bagian atasnya pun ikut lengket dan bernoda karena terkena minuman bervitamin C tersebut.
__ADS_1
"Heh! Itulah akibatnya jika kau berani menyebutku wanita ja-lang," ucap nyonya Sherly memberi pelajaran.
Nyonya Marlyn nampak kesal dibuatnya. "Dasar wanita ja-lang! Kau pelakor! Perebut suami orang! Jika aku tahu akan begini jadinya, dimana kau bertingkah kurang ajar padaku dan menjadi wanita tidak tahu malu yang lupa dengan semua jasa-jasaku seperti ini, harusnya aku tidak membantumu mendapatkan tuan Hans saat itu!" sergah Nyonya Marlyn, tidak lupa melemparkan semangkuk salad buah ke wajah Nyonya Sherly, hingga wanita itu pun berubah naik pitam.
"Agh siaall! Beraninya kau mengotori wajah dan dress mahalku!" sentak nyonya Sherly merasa jijik dengan lumuran saus salad pada dress mewahnya.
"Itu belum seberapa, harusnya aku melemparimu dengan kotoran sapi!" balas Nyonya Marlyn berapi-api.
Karena bukan tanpa sebab wanita itu begitu benci dengan Nyonya Sherly, yang telah ia anggap sebagai sahabat dekat sendiri.
Disaat dirinya susah dan belum menjadi istri dari suami orang kaya, ia jugalah yang membantu memberikannya sesuap nasi. Bahkan ia sendiri jugalah yang mendekatkan sahabatnya itu dengan tuan Hans, karena nyonya Sherly selalu merenggek kepadanya dan mengeluh terus akibat capek hidup susah.
Lalu, disaat sahabatnya itu telah berhasil hidup enak. Dan dirinya kini telah berada dibawah dan hidup susah tanpa anak dan suami disisinya. Sahabatnya itu tidak mengerti arti dari kata menolong orang yang pernah menolongnya dikala susah.
Suasana panas itu akhirnya dihentikan oleh beberapa pelayan yang berada disana, karena sang pemilik rumah telah menapakkan kedua kaki di tempat terjadinya keributan.
Pria itu menatap gusar kearah dua wanita yang saling bersitegang. "Apa-apaan ini! Sherly" sentaknya tidak terima.
Nyonya Sherly lantas menoleh dan membelalakkan kedua matanya, lalu dengan cepat ia menghampiri sang suami yang baru saja pulang sehabis bekerja.
"Sayang, lihatlah aku. Ini semua gara-gara wanita itu!" tunjuk Nyonya Sherly pada Nyonya Marlyn dan mengadu.
"Ini bukan salahku Tuan Hans, tapi istrimu duluan lah yang memulainya! Kalau tidak percaya tanya saja kepada orang-orang yang ada disini!" sahut Nyonya Marlyn membela diri.
"Jangan percaya, justru dialah tamu yang tidak tahu terima kasih. Aku menyapanya dan dia malah memancing emosiku," balas Nyonya Sherly menuduh.
"Istrimu sangat pintar memutarbalikkan fakta Tuan Hans, dialah yang memancing emosiku karena berani menyinggung suami dan juga anak yang masuk ke dalam penjara. Padahal aku sudah berusaha keras melupakan segalanya dan datang memenuhi kewajibanku membayar arisan."
"Tapi apa yang aku dapat, istrimu yang pernah menjadi sahabat dekatku seakan tidak mengenal dan menghormatiku lagi sebagai seorang wanita. Dan perlakuannya padaku hari ini menunjukkan kualitas istrimu itu sebagai wanita tidak bermoral."
"Apa kau tidak malu punya istri seperti itu, aku yakin suatu hari nanti dia akan membuatmu malu dimuka umum!" ucap nyonya Marlyn terus menyulut api emosi pada suami mantan sahabatnya.
Tuan Hans mengeraskan rahangnya dan teringat akan kelakuan nyonya Sherly baru-baru ini, dimana istrinya itu berani mendatangi kantor dan menunjukkan buku rekening untuk meminta kekurangan uang belanja pribadinya secara terang-terangan, yang membuatnya malu saat itu juga.
Ia pun menatap Nyonya Marlyn yang basah akibat terkena siraman air, lalu berganti menatap istrinya.
"Kau benar-benar membuatku malu! Kau tidak hanya merusak nama baikku, tapi kau juga merusak reputasi keluarga Royce!" sentak Tuan Hans murka.
"S-sayang, kenapa kau jadi marah dan membentakku ___"
"Diam! Jika kejadian seperti ini terjadi lagi, atau hal lain yang dapat membuat keluargaku malu. Maka sumpah demi apapun, aku akan mengusirmu dari rumahku ini! Mengerti!" bentak Tuan Hans lalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Sayang!" Nyonya Sherly lalu menatap tajam Nyonya Marlyn yang tersenyum smirk padanya. "Itu belum seberapa Sherly, aku bisa melakukan hal lain yang akan membuatmu di usir oleh suamimu sendiri!" kecamnya lalu pergi dari rumah itu
.
.
__ADS_1
Bersambung.