
Kamar kost putri.
Setelah pulang dari jalan-jalan bersama Drew, sekarang Tesla tersenyum sendiri di dalam kamarnya, sambil memandangi boneka bebek lucu nan menggemaskan, hadiah pemberian dari Drew saat di toko boneka tadi.
Aku pernah mendengar cerita, kalau kau itu suka sekali dengan bebek. Bahkan kau pernah mencekik leher bebek sampai bebek itu mati dan ku harap hadiah kecil ini bisa mengobati kerinduanmu pada bebek di desa.
Jadi kalau kau sedang gemas dan ingin mematahkan leher bebek lagi, jadi patahkan saja leher bebek boneka ini.
Begitulah pesan dari Drew yang sampai saat ini teringat dalam benak Tesla.
"Bagaimana aku bisa melukai boneka bebek selucu dan semenggemaskan ini," kekeh Tesla menguyel-uyel wajah boneka bebek itu dengan gemas.
Bersamaan dengan hal tersebut, pintu kamar Tesla terbuka. Marisa dan Tiara mengendap-endap memdekat kearah Tesla yang masih belum menyadari kedatangan mereka berdua.
"Cie cie ... Yang baru pulang dari kencan," goda Maris.
"Waduh lucu banget nih bonekanya, buat aku aja ya Tes," ucap Tiara turut gemas melihat boneka bebek milik Tesla yang lucu.
Tesla merampas kasar boneka bebek miliknya dari tangan Tiara. "Eits tidak bisa, boneka ini punyaku."
Tiara mencebik. "Pelit sekali, mentang-mentang dari ayang. Hihi," godanya.
Marisa terkekeh geli dan mereka berdua menggoda habis-habisan sahabatnya itu.
"Kalau dipikir-pikir kalian berdua cocok," sambut Marisa.
"Iya, tapi kenapa tidak kamu terima saja lamarannya?" tanya Tiara.
"Ya aku sengaja belum menerima lamarannya karena selain aku ingin mengenal lebih dekat dengannya terlebih dahulu, aku juga ingin melihat keseriusan Drew terhadap diriku ini," balas Tesla memberi alasan.
"Hem jadi begitu alasanmu," ucap Marisa.
"Ya begitulah," balas Tesla.
"Tapi, kalau menurutku pribadi. Drew termasuk cowok yang baik dan bertanggung jawab, ya walau ada juga beberapa sifat tidak baik yang bisa dibilang menyebalkan. Seperti sombong dan suka kepedean contohnya," ucap Marisa menurut pengamatannya.
"Benar, terkadang dia juga bersikap angkuh dan sombong. Tapi aku yakin pacarmu itu akan berubah lebih baik setelah menjalin hubungan dengan temanku yang luar biasa ini," timpal Tiara.
Tesla tersenyum dan mencubit perut Tiara. "Kalian bisa saja, ya aku hanya berharap Drew tidak mengecewakanku."
"Amin!" seru Marisa dan Tiara kompak.
"Oh iya, dua bulan lagi kita ada liburan. Katakan sekarang kita ingin berlibur kemana?" tanya Marisa membuka topik perbincaraan yang lain.
"Aku belum kepikiran," jawab Tiara.
"Kalau aku paling pulang ke desa, aku harus membantu Papa mengurus bebek," balas Tesla.
__ADS_1
"Aku pengen ikut denganmu ke desa, tapi sayang aku baru ingat kalau aku dan Tiara harus bekerja lembur untuk persiapan pembukaan restoran Manyu 2," ucap Marisa.
"Oh iya aku baru ingat, untung kamu bilang Mar kalau tidak aku pasti lupa. Sayang sekali kalau kita melewatkan kerja lemburan itu bukan?" ucap Tiara bersyukur sudah diingatkan.
"Iya, cheff Bianca bilang bonusnya bisa 2 kali lipat jika kita turut membantu mempromosikan restoran barunya itu," ucap Marisa.
"Betul! Aku tidak sabar sekali menunggu hari itu tiba, lumayan uang bonusnya bisa untuk biaya semester," sahut Tiara.
"Hem, kalau begitu kerjalah yang rajin."
"Siap calon menantu chef Bianca," goda Marisa dan Tiara tertawa, saat perkataan mereka berhasil membuat Tesla tersipu malu.
...----------------...
Dua bulan kemudian.
Desa Rawa Bebek.
Suasana sibuk tengah melanda peternakan Sanyoto, para pengurus serta pekerja di peternakan saling bahu membahu menyortir bebek-bebek yang telah cukup umur dan siap untuk di jual ke pemotongan daging.
Setelah kebakaran berhasil menghanguskan seluruh kandangnya lebih dari tiga bulan yang lalu. Dan pada akhirnya, peternakan Sanyoto pun sudah bisa melakukan aktifitas kembali seperti biasanya, hingga dapat melakukan pengiriman daging bebek berkualitas untuk yang pertama kalinya.
"Ayo cepat Mukhtar!" seru Pak Sanyoto gemas melihat Mukhtar malas-malasan.
"Capek juragan!" sahut Pak Mukhtar kelelahan.
"Ya sudah istirahat dulu 15 menit!" titah pria bulat itu dan diiringi sorak sorai semangat para pekerjanya.
"Siap juragan!" seru mereka bersemangat.
"Ck ck ck! Tadi katanya kelelahan, bagian disuruh istirahat mereka semua malah punya tenaga buat lari. Kencang pula," gerutu Pak Sanyoto menggeleng.
Ia pun kembali ke rumahnya sejenak, untuk mengisi perutnya yang lapar dan menyandarkan pinggang agar berkurang rasa pegalnya karena berdiri dan membungkuk seharian.
Setibanya Pak Sanyoto di rumah, seperti biasa ia segera menuju dapur mencari piring legendaris. Dan belum sempat ia menuju rak piring bambu khas miliknya itu, ia dikejutkan dengan sesosok gadis cantik yang sedang asyik mengulek sambel membelakangi dirinya.
"Tesla ya?" panggil Pak Sanyoto setengah bertanya dan ragu-ragu, takut wanita jadi-jadian pikirnya.
Sedangkan wanita yang sedang mengulek sambel itu langsung menoleh. "Ya Papa, ini Tesla."
Pak Sanyoto menghela nafas lega, di rumah sendiri ia masih suka takut hal-hal konyol seperti itu. "Oh ternyata itu kamu toh!" ucapnya mengelus dada dan berlalu begitu saja mengambil air minum.
"Ya ini aku," jawab Tesla merasa bingung karena tidak biasanya sang ayah cuek jika bertemu dengannya. "Papa kenapa sih?" batinnya bertanya.
Pak Sanyoto yang telah selesai menenggak air minum refleks membuka lebar kedua matanya dan menoleh sekali lagi, karena baru menyadari jika putrinya itu berada di dalam rumahnya sendiri, padahal yang ia tahu putrinya itu sedang kuliah di kota.
"Tesla! Itu beneran kamu!" pekik Pak Sanyoto mengucek kedua matanya.
__ADS_1
"Iya Pah, ini Tesla. Memangnya siapa lagi?" dengus Tesla membuang wajahnya.
Pak Sanyoto merasa girang, lalu menghampiri putrinya dan memberikan pelukan kasih sayang. "Tesla bagaimana kamu bisa ada disini? Kapan kamu pulang? Tapi bagaimana bisa? Memang kamu sedang libur?" cecarnya bertubi-tubi.
Tesla tersenyum senang, karena sang ayah akhirnya tersadar juga dengan keberadaannya. "Ya, aku sedang libur dan baru sampai tadi." Lalu mengajak ayahnya duduk di kursi makan.
"Kenapa tidak bilang-bilang kalau mau liburan kesini?" tanya Pak Sanyoto.
"Aku sudah telepon rumah, tapi Mama bilang Papa sedang sibuk di kandang. Jadi aku datang saja langsung," jawab Tesla memberitahu.
"Oh begitu, maaf kalau Papa akhir-akhir ini sibuk. Sampai lupa menelepon kamu," ucap Pak Sanyoto meminta maaf.
"Ya tidak apa, aku mengerti. Yang terpenting aku senang melihat Papa dan Mama dalam keadaan baik-baik saja," balas Tesla.
"Terima kasih, terus kamu sedang apa?" tanya Pak Sanyoto.
"Buat sambal untuk Papa makan siang," jawab Tesla.
"Wah untuk Papa?" seru Pak Sanyoto riang.
"Ya, yuk kita makan!" ajak Tesla dan mereka menyantap makan siang berdua dengan sambal dan lauk seadaanya.
...***...
Beberapa saat kemudian.
"Eeggghh ... " Pak Sanyoto bersendawa sambil mengusap perut buncitnya dan bersandar tidak berdaya akibat kekenyangan makan.
Pria itu dibuat kesulitan bangun, ketika Tesla terus saja menyuapinya tanpa henti dengan alasan dirinya sedikit kurusan.
Lalu, disaat bersamaan. Seseorang mengetuk pintu rumahnya.
"Aduh siapa sih itu?" ucap Pak Sanyoto berusaha berdiri. Karena memanggil Tesla juga percuma, karena anak gadisnya itu sedang asyik mencuci piring dibelakang rumah sambil mendengarkan lagu "Sepiring Berdua".
Hingga sampailah Pak sanyoto didepan pintu masuk dan ia segera membukanya, karena si tamu terus saja menggedor pintunya dengan keras.
"Sabar! Kamu mau pintu rumah saya ini ambrol hah!" tegur Pak Sanyoto setelah berhasil membuka pintu dan mulailah nampak batang hidung si tamu tersebut.
Sedangkan si tamu itu sudah tersenyum lebar sedari tadi dan langsung memeluknya tanpa permisi lagi.
"Papa Mertua!" seru Drew. Membuat Pak Sanyoto tercengang dan terheran-heran mendengarnya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1