Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 54. Pancake.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Drew membuka kedua matanya dari tidur lelap semalaman, jika dulu saat pertama kali ia datang ke desa tersebut dan menginap didalam rumah sederhana itu dianggap neraka baginya.


Tapi tidak untuk pagi ini, Drew mengucap syukur karena bisa tidur lelap hingga pagi mendatang. Dan itu terlihat dari air liur disamping bibir yang sudah mengering.


"Tumben sekali aku bisa tidur nyenyak di tempat seperti ini, sudah begitu tidak ada nyamuk yang menganggu tidurku."


Karena bagaimana tidak, Twister sudah memasangkan kelambu pada kamarnya agar tidak digigit nyamuk.


"Lebih baik aku mencuci mukaku," gumamnya pada diri sendiri. Namun pria itu dibuat bingung oleh kain berlubang kecil dihadapannya.


"Ini kain apa sih! Bagaimana caraku keluar dari sini?" gerutunya, merasa terkurung karena tidak menemukan jalan keluar.


...***...


Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya didalam dapur. Ketiga gadis tengah membantu ibu Tyas menyiapkan sarapan pagi, dan Pak Sanyoto sendiri sedang membuat tungku api.


Sedangkan Twister kebagian tugas menimba air sumur yang selalu digunakan untuk mandi dan juga kebutuhan bersih-bersih lainnya.


"Semua orang sedang bekerja keras disini, tapi si bawel itu malah masih enak-enakan tidur dikamarnya," gerutu Tesla.


"Iya kau benar, sepertinya sudah menjadi kebiasaan pria itu. Hidupnya selalu saja ingin dilayani dan tidak mau berbaur dengan sesama apalagi membantu orang lain," balas Marisa.


"Jangan berkata seperti itu, lagipula dia adalah tamu disini. Jadi biarkan saja dia menikmati tidurnya dan tidak perlu membantu kita disini," ucap Tiara tiba-tiba berubah bijak, hingga mengejutkan Tesla dan Marisa hingga tersedak nafas bersamaan.


"Udara bersih perdesaan sepertinya ampuh membuat akal dan juga pikirannya seseorang menjadi bersih ya," bisik Marisa pada Tesla.


Tesla menggeleng. "Tidak juga, buktinya ada satu orang yang otaknya masih sulit sekali untuk dijernikan," bisiknya.


"Siapa?" bisik Marisa.


"Drew," jawab Tesla dan mereka cekikikan.


"Kenapa kalian berdua ketawa ketiwi hah? Pasti kalian ini sedang menjelek-jelekkan aku bukan?" tuduh Drew yang baru saja tiba di dapur dalam keadaan kusut, karena sehabis bertengkar dengan kain kelambu.


"Siapa juga yang membicarakanmu, ya kan Marisa?" ucap Tesla.


Marisa mengangguk. "Iya, dasar dia-nya saja yang kege-eran," dukungnya.


Drew mendengus. "Kalian benar-benar membuatku kesal, awas saja jika kalian sudah berada di kota. Aku akan membuat perhitungan dengan kalian, terutama kau!" kecamnya sambil menunjuk wajah Tesla.


Namun belum sempat Drew menurunkan jari telunjuknya, sebuah jeweran mendarat disalah satu telinganya.


"Berani kamu ancam-ancam itik kesayanganku hah! Ni hadapi dulu bapaknya!" kecam Pak Sanyork menjewer gemas telinga Drew, hingga pria itu mengaduh kesakitan.

__ADS_1


"Aduh, sakit!" pekik Drew meringis.


Melihat hal tersebut, para gadis-gadis hanya menertawai Drew. Sedangkan Twister yang baru saja masuk ke dapur sambil membawa kendi air, hanya bisa geleng-geleng kepala, melihat adiknya yang berulah.


"Aduh sakit sekali," ucap Drew mengusap telinganya, setelah pak Sanyoto melepas jurus jewerannya.


"Makanya Drew, kita tidak boleh bertingkah sembarangan di rumah orang lain, apalagi menantang sang pemilik rumah," tegur Twister. Lalu duduk sambil menyeka peluh yang keluar dari tubuhnya yang bertelanjang dada.


"Pakai bajumu nanti masuk angin," ucap Tesla sambil memberikan segelas air.


"Tidak akan," balas Twister sambil menyambut gelas tersebut, lalu menenggaknya hingga tandas. Dan aksi keren serta ketampanan Twister yang tampan itu, nyaris saja membuat Marisa dan Tiara mimisan.


"Oh siallan, dia keren sekali!" seru Marisa setengah berbisik pada Tiara.


"Benar, sudah begitu dia juga tampan. Tesla beruntung sekali bisa menjadi adiknya," timpal Tiara berbisik.


Drew yang kebetulan mendengar bisik-bisik itu, seketika berdecih. "Cih! Selain menyebalkan mereka juga genit."


Beberapa saat kemudian, ibu Tyas memanggil semua orang agar segera berkumpul dimeja makan untuk menyantap sarapan pagi. Dan tak butuh waktu lama, mereka telah berkumpul.


"Makanlah, jangan sungkan." ucap Ibu Tyas menawari Drew yang diam saja menatapi menu sarapan paginya.


"Tapi makanan apa ini? Apa tidak ada roti dan selai kacang? Aku ingin sarapan dengan roti bakar selai dan susu segar saja," pinta Drew enggan menyantapnya.


"Jangan meminta macam-macam Drew, makan saja. Kau harus selalu bersyukur dengan rejeki yang ada dihadapanmu," ucap Twister menasehati.


"Papa, jangan bicara sambil makan. Nanti bisa tersedak," tegur Ibu Tyas.


"Habis, anak ini. Susah sekali dibilangin, sudah ada makanan enak yang mengenyangkan malah minta roti bakar sama selai kacang," tunjuk Pak Sanyoto merasa kesal saja jika melihat Drew.


"Sudahlah, jangan bicara terus. Papa juga makannya pelan-pelan ya, itu lihat nasi sampai berantakan kemana-mana," balas Ibu Tyas sambil mengutip satu persatu bulir nasi yang menempel pada kumis suaminya.


Tesla menatap Drew yang kehilangan selera makan. "Disini kami tidak punya roti dan selai, tapi bahan membuat pancake seperti tepung terigu dan telur ada. Apa kamu mau?" tawarnya.


Drew mengembangkan senyumnya. "Boleh lah kalau begitu, pancake tidak masalah daripada harus memakan nasi dan juga sayur yang mengenyangkan ini," ucapnya lalu beranjak dari kursi.


Pak Sanyoto merasa gemas mendengarnya, sampai-sampai tempe goreng diatas piring, ia jadikan tempe penyet oleh kepalan tangannya sendiri.


...***...


Tesla dan Drew berada di dapur sekarang ini hanya untuk membuat sebuah pancake.


"Tepung, telur, gula," oceh Drew setelah semua bahan terkumpul diatas meja.


"Apa kau yakin bisa membuatnya sendiri?" tanya Tesla.

__ADS_1


"Cih! Hanya tinggal disatukan saja semua bahannya didalam wadah ini, lalu diaduk-aduk sampai rata. Setelah itu dipanggang diatas teflon," ucap Drew sombong.


"Heh! Lagaknya," balas Tesla membiarkan kegagalan itu terjadi.


Dan benar saja, adonan Drew tidak mengembang dengan sempurna, melainkan lebih mirip seperti kulit dadar gulung.


Tesla tertawa saat melihat kegagalan Drew,ia sampai mengibas-ibaskan pancake tipis itu didepan wajahnya.


"Kau bilang ini pancake? Ini mirip seperti kulit lumpia," ejek Tesla.


Gadis itu tergelak, lalu mendorong Drew agar menyingkir dari meja. "Daripada membuang-buang bahanku, lebih baik kamu duduk menunggu saja!"


Drew menghembus nafas kasar, lalu mengalah saja daripada perutnya keroncongan.


"Lihat ini baik-baik," ucap Tesla menunjukkan cara membuat adonan yang benar dan memasaknya diatas bara tungku api.


Drew senantiasa melihat aksi lihai tangan Tesla saat mengaduk adonan, ia berusaha menjadi orang tuli agar tidak mendengar ocehan serta sindirian yang tertuju untuknya.


Namun walau kedua telinga itu ia tulikan, tetap saja hatinya terus menggiring kedua matanya untuk menatapi wajah cantik alami Tesla tanpa sadar.


...----------------...


PT. Oto Motor.


Pagi ini Sam kedatangan tamu tidak diundang, dia adalah Tuan Hans yang datang demi mencari keberadaan Twister dan juga Drew yang tidak pulang ke rumah.


"Ada dimana mereka?" tanyanya to the point.


"Siapa Tuan?" tanya balik Sam.


"Tentu saja putraku, siapa lagi!" sergah Tuan Hans dengan tatapan tajamnya.


.


.


Bersambung.


...----------------...


Next \=\=> Tuan Hans begitu murka saat mengetahui jika kedua putranya kini berada di desa rawa bebek.


Dengan membawa beberapa anak buahnya, pria itu mendatangi desa tersebut untuk membuat perhitungan dengan keluarga Sanyoto.


Apa yang akan terjadi?

__ADS_1


Tunggu di bab selanjutnya.


__ADS_2