Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 112. Pulang dari bulan madu


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Mansion Royce.


Mendengar kabar tentang kepulangan putra serta menantunya hari ini setelah menghabiskan bulan madu, Tuan Hans menggerakan seluruh pelayan rumahnya untuk bekerja merapihkan seluruh sudut rumah dengan nuansa baru.


Ia juga memerintahkan agar para pelayan menyiapkan satu kamar khusus untuk ditempati oleh Twister dan juga istrinya dan di dekorasi sebagus mungkin agar menantunya itu merasa nyaman dan betah tinggal di rumahnya.


"Sebelum mereka pulang, aku ingin semua pekerjaan ini selesai!" titah Tuan Hans kepada Bi Nonik.


"Baik Tuan besar!" patuh Bi Nonik lalu bergegas menjalankan perintah.


Tuan Hans bekerja keras sebaik mungkin, melakukan hal yang terbaik agar Twister tidak mengubah pemikirannya lagi, yaitu ingin pisah rumah setelah menikah.


"Buat suasana nyaman disini, aku tidak ingin mendengar keluhan dari mulut Twister ataupun istrinya. Jika aku mendengar sedikit keluhan itu, maka aku tidak akan segan-segan memecat kalian semua!" sentak Tuan Hans tidak main-main.


Sedangkan Nyonya Sherly yang mendengar suaminya tengah berupaya keras menahan Twister beserta istrinya tinggal di rumah besarnya itu pun, hanya bisa mendumel dalqm hati.


Wanita glamor itu hanya bertugas mengawasi setiap pekerjaan para maid agar terlihat sempurna. "Jangan kecewakan putra dan juga menantuku!" ucapnya turut memerintah.


Tuan Hans menatap jam yang melingkar pada pergelangan tangannya. "Aku harus pergi bekerja, tolong kau awasi pekerjaan mereka dan urus semuanya."


Nyonya Sherly tersenyum tipis. "Tentu sayang, aku tidak akan mengecewakanmu."


Tuan Hans tersenyum datar, jika sebelum-sebelumnya ia selalu mengecup bibir ranum istrinya itu, namun entah mengapa semakin hari, seleranya terhadap sang istri semakin berkurang.


"Dia memang cantik, tapi membosankan. Tidak seperti Bianca, yang tiap hari bisa saja membuatku bergairah dan bukan hanya itu saja, keanggunan Bianca membuatku selalu tertarik kepadanya. Huff ... Bodohnya aku," batin Tuan Hans sambil terus melangkah pergi.


Nyonya Sherly berdecih kesal melihat sang suami pergi tanpa cipika cipiki terlebih dahulu dengannya, ia pun melampiaskan kekesalannya itu kepada para pelayan disana.


"Kalau kerja yang benar dasar pelayan rendahan!" makinya tidak jelas dan tak tentu arah kepada siapapun yang berada didekatnya.


Hati wanita itu terasa panas dan iri, setelah melihat ke sekeliling kamar menantunya, yang lebih indah daripada kamarnya sendiri.


"Belum satu hari dia tinggal disini, tapi wanita itu sudah mendapatkan kemewahan setara dengan diriku yang sudah menjadi menantu keluarga Royce selama bertahun-tahun," batinnya mengumpat kesal dan terpaksa harus mengalah pada akhirnya.

__ADS_1


...***...


Beberapa saat kemudian, Twister dan Mutia akhirnya tiba di Mansion. Pasangan pengantin baru itu terlihat bahagia dan kedua wajah mereka berseri-seri sehabis pulang berbulan madu.


Hal tersebut membuat semua orang yang menyambutnya merasa yakin, jika Tuan muda mereka telah mendapatkan haknya sebagai seorang suami dan bulan madu pada majikannya itu berjalan menyenangkan.


"Selamat datang Tuan Twister dan Nyonya Mutia!" sambut semua pelayan rumah kediamanan Royce menunduk.


Hingga bertambah panaslah hati Nyonya Sherly mendengar kata nyonya tersemat pada nama menantunya.


"Selamat datang sayang, bagaimana perjalananmu selama bulan madu di Maldives?" tanya Nyonya Sherly basa basi.


"Lihat saja wajah kami berdua? Bagaimana menurutmu Tante?" tanya balik Twister sambil mendekap istrinya yang tertunduk malu.


Nyonya Sherly menatap Mutia dan tersenyum. "Baguslah kalau begitu, aku senang melihat kalian menikmati bulan madu kalian selama berada disana."


Twister mengangguk tanpa membalas satu patah kata pun perkataan Nyonya Sherly, lalu menggandeng istrinya dan mengajaknya untuk masuk ke dalam kamar baru agar bisa beristirahat sebelum memulai aktifitas normal pada esok hari.


Dan sebelum Twister pergi terlalu jauh, ia memberikan satu tas besar berisi cinderamata berupa barang dan juga makanan khas negara tersebut.


"Terima kasih Tuan," balas Bi Nonik menyambutnya dengan sukacita.


"Jangan berterima kasih kepadaku, tapi berterima kasihlah kepada istriku ini. Dia yang ingat membelikan ini untuk kalian semua," ucap Twister memberitahu.


"Terima kasih Nyonya," ucap Bi Nonik bersyukur atas pemberian dari nyonya mudanya. Walau tidak seberapa, namun rasa perhatian tersebut sangat cukup untuk membuat semangat dalam diri mereka kembali.


Setelah sebelumnya semangat itu sempat hilang akibat keluarnya nyonya Bianca dalam rumah tangga keluarga Royce, yang digantikan kedudukannya oleh nyonya Sherly.


Seorang nyonya besar yang lebih mementingkan kesenangan diri sendiri daripada orang lain.


Nyonya Sherly berjalan mendekati dan melihat apa yang dibelikan oleh Mutia untuk semua pelayan rumahnya.


"Barang murahan segini banyak, apa dia tidak mengerti kata memanfaatkan uang? Daripada menghambur-hamburkan uang untuk pelayan rendahan rumah ini, kenapa tidak dibelikan perhiasan, yang bisa memperbaiki penampilan nyonya rumah ini agar tidak terlihat kampungan," sindir Nyonya Sherly.


Wanita glamor itu pun melengos pergi, sebelum semua orang disana membagikan cinderamata tersebut. Lalu semua orang menatap Mutia yang kehilangan senyumannya.

__ADS_1


"Jangan dipikirkan Nyonya muda, Nyonya besar hanya belum terbiasa saja dengan kehadiran orang baru," bujuk Bi Nonik menenangkan.


"Bi Nonik benar, bagi kami dialah orang luar dalam rumah ini. Jika bukan karena dia adalah istri kedua dari Daddy, maka sumpah demi apapun aku sudah menampar wajahnya demi membalas ucapan tidak mengenakkannya pada dirimu," ucap Twister menyemangati.


Mutia tersenyum. "Sudahlah jangan dibahas lagi, aku tidak masalah dengan semua itu. Bagaimanapun juga dia tetap mertuaku," balasnya bijak.


Twister tersenyum mendengarnya. "Kau memang baik hati, tidak salah aku memilihmu," ucapnya mulai genit.


Mutia menahan dada Twister yang terus mendesaknya hingga merapat. "Sayang, tolong jangan mulai lagi. Lihatlah disekitarmu," bisiknya malu.


Twister berhenti mendekatkan wajahnya lalu menatap ke sekitar. "Maaf, aku selalu saja hilang kendali jika berada di dekatmu. Bagaimana kalau kita lakukan hal lain di dalam kamar?" bujuk rayunya.


Mutia menatap Twister yang menatap penuh damba dirinya, lalu ia menghela nafas panjang. "Tidak jangan sekarang, sayang. Aku lelah sekali setelah perjalanan panjang kita," tolaknya.


"Baiklah aku akan memijat seluruh tubuhmu di dalam kamar," balas Twister lalu mengangkat Mutia dan menggendongnya ala bridal style.


"Twister! Turunkan aku," pinta Mutia. Ia buru-buru memeluk erat leher suaminya agar tidak jatuh.


"Katanya kau lelah, makanya aku menggendongmu hingga ke dalam kamar." Twister terus membopong istrinya menuju kamar baru.


Mutia hanya terdiam dan menghela nafas pasrah, karena wanita itu tahu akan kelanjutan dari semangat suaminya.


Sedangkan semua pelayan tersenyum melihat keromantisan tersebut dan kembali bekerja setelah melihat Nyonya Sherly tengah melototi mereka semua.


Wanita paruh baya itu merasa jengkel, karena belum ada sehari pasangan pengantin itu mengisi rumahnya. Semua pelayan berani menebar senyum di rumahnya itu.


"Keluarga Royce butuh dihormati, semua orang harus menunduk saat melihat anggota keluargaku dan bukan diberi senyum seperti itu!" tegas Nyonya Sherly menunjukkan kuasanya.


Karena bagi nenek sihir itu, seorang pelayan tidak berhak tersenyum kepada anggota keluarga Royce dan diberi senyuman oleh seorang pelayan rendahan, itu sama saja menghina keluarga besarnya.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2